Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pesan Terakhir


__ADS_3

Dokter Atha yang paling bersedih saat ini. Mendengar Zain semalam tidak pulang ke rumah. Dia berpikir Zain benar-benar menuju langit untuk menyongsong jodohnya.


Pikiran Dokter Atha, Zain mengakhiri hidupnya karena putus asa. Mengulang-ulang membaca pesan dari Zain tadi sore. Memahami pesan yang dikirim dengan teliti.


Sekarang ini Dokter Atha baru menyadari pesan itu adalah pesan terakhir darinya. Menyesali mengapa mengabaikan pesan itu dari kemarin. Kini bingung harus bagaimana hanya penyesalan yang ada di dalam hati.


Dokter Atha hanya melihat dari kejauhan orang tua Zain yang gelisah saat berbincang dengan Alfian dan Papi Alfarizi. Dia tidak berani mendekat atau mengakui, jika Zain pergi karena dirinya.


Yang paling sibuk saat ini adalah Julio, Surya dan Leo. Mereka sedang berusaha menghubungi siapapun yang pernah berhubungan dengan Zain. Terutama yang beralamat di sekitar daerah Jakarta, Bekasi dan Bogor.


Dokter Atha terus merasa bersalah. Hatinya selalu mengutuki apa yang di lakukan selama ini kepada Zain. Perasaan dan hatinya saat ini baru merasa sejalan, hanya sayangnya orangnya sekarang tidak ada.


Rania yang memperhatikan kakaknya dari tadi gelisah. langsung mendekati dan duduk di sebelahnya, "Kak ...?"


"Dik Rani." Dokter Atha langsung memeluk erat Rania.


Rania memeluk Dokter Atha dengan erat sambil mengusap punggungnya. Dia tidak menyalahkan ataupun mengatakan sesuatu. Hanya dengan pelukan Rania bisa merasakan apa yang di rasakan oleh kakaknya.


"Semua Kakak yang salah, Dik." Dokter Atha mengambil napas panjang setelah melepaskan pelukannya.


"Apa maksud Kak Atha?"


"Kemungkinan Dokter Zain pergi karena Kakak."


"Mengapa Kakak bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Lihatlah ini, Dik. Dokter Zain mengirim ini tadi sore!"


Rania langsung membaca pesan WA dari Zain yang ada di ponsel kakaknya. Saat di baca sekilas maksud pergi menyongsong jodohnya ke langit berarti harus mengakhiri hidupnya. Tidak mungkin pergi ke langit dalam keadaan hidup.


"Maksud Kakak, Bang Zain sudah ...?"


Belum sempat Rania melanjutkan ucapannya. Dokter Atha terisak dan memeluk Rania lagi, "Bagaimana ini, Dik?"


Rania mengusap kembali punggung Dokter Atha, "Kak ... tenang dulu, Rani yakin Bang Zain orangnya tidak mudah putus asa. Kita harus berpikir positif."


"Dik Rani memahami pesan terakhir dia, bagaimana?"

__ADS_1


"Sepertinya dia akan mengakhiri hidupnya sih." Rania menjawab dengan ragu pertanyaan kakaknya.


Kembali Dokter Atha memeluk Rania dan semakin terisak dan sangat merasa bersalah. Alfian yang dari tadi memperhatikan percakapan istri dan kakak tirinya. Dia langsung menghampiri mereka sambil berlari kecil.


"Sayang, ada apa dengan Kak Atha?"


"Abang duduklah sini dekat Rani!"


Mengapa Kak Atha menangis?"


"Sebentar, Bang. Kakak boleh ya pesan WA dari Bang Zain, Rani tunjukkan kepada Bang Al?"


Di jawab anggukan oleh Dokter Atha sambil menunduk. Alfian langsung membaca pesan itu denga cepat. Bukannya bersedih tetapi Alfian justru tersenyum devil.


"Apa yang Kak Atha pikirkan tentang Zain sampai menangis?" tanya Alfain.


"Dia akan mengakhiri hidupnya," jawab Dokter Atha lirih.


Alfian semakin tergelak mendengar kejujuran kakaknya. Kini semakin terlihat jika kakaknya sangat mencintai Zain. Tatapan mata yang sayu dan sedih sangat mudah dibaca saat ini.


"Percaya sama Al, Kak. Tidak mungkin Sung Go Kong Kakak itu akan mengakhiri hidupnya, Kakak tahu dia memang hampir putus aja karena cintanya Kakak tolak, tetapi Al yakin dia masih berusaha untuk mendapatkan cinta Kakak."


"Al juga tidak tahu, Kak. Sebaiknya kita cari dulu."


Dokter Atha menunduk sambil mengambil napas lega. Ada secercah harapan jika laki-laki yang menghilang akan muncul dalam waktu dekat. Agar hatinya tenang dan tidak merasa bersalah lagi.


"Ya sudah, Kakak berangkat ke rumah sakit saja. Nanti kalau ada kabar dari Zain, Al kabari Kakak!"


"Iya ...." Dokter Atha beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah untuk bekerja.


"Kak Tunggu ...!" teriak Alfian.


"Ada apa lagi, Dik."


"Jika nanti Zain ketemu, lebih baik Kakak bisa berdamai dengan hati dan mengakui perasaan Kakak pada Sung Go Kong."


Dokter Atha hanya mengangguk lemah. Berbalik badan dan keluar rumah. Cinta memang bisa di hindari, tetapi hati tetap saja tidak bisa di pungkiri.

__ADS_1


Dengan perasaan setengah hati, Dokter Atha menyelesaikan tugasnya. Walau hatinya sudah melayang hilang entah ke mana. Pekerjaan tetap harus di lakukan apalagi demi kesehatan banyak orang.


Sudah setengah hari ini seluruh keluarga mencari keberadaan Zain. Menghubungi teman, sahabat mantan pacar bahkan semua teman sekolah tidak ada yang tahu keberadaan Zain saat ini. Bahkan Papi Alfarizi meminta bantuan pihak yang berwajib temannya secara pribadi.


Dari teman Papi Alfarizi, mobil Zain di temukan di pertigaan antara Bogor menuju Bekasi. Mobilnya terparkir di pinggir jalan, tidak ada kunci mobil dan pintu tidak terkunci. Dengan mudah pihak yang berwajib membuka dan memeriksa mobil Zain.


Sayangnya tidak di temukan Zain di dalam mobilnya sendiri. Masih ada tas kerja yang tergeletak di jok mobil bagian belakang. Ada juga tas pinggang milik Zain saat dipakai acara aqiqah si Kasep Al kemarin.


Saat di periksa tas itu, ada ponsel yang mati. Ada dompet yang sudah raib KTP dan kartu ATM black cart miliknya. Tidak ada jejak atau petunjuk keberadaan Zain saat ini.


Ponsel di periksa, ternyata kartu ponsel yang ada di dalamnya juga sudah raib. Hubungan semua terputus tidak bisa menghubunginya sama sekali. Kekhawtiran keluarga semakin menjadi setelah ditemukannya mobil milik Zain.


Mendengar mobil di temukan, Alfian dan Dokter Atha meluncur di TKP. Menggunakan satu mobil dan di kemudikan oleh Julio. Melihat semua yang di lakukan petugas saat memeriksa mobil Zain.


Dokter Atha kembali bersedih dan merasa bersalah. Padahal setelah Alfian memberikan nasehat tadi dia sedikit tenang. Bahkan Alfian yang awalnya yakin Zain baik-baik saja kini dia juga ikut khawatir.


Saat ini keluarga yang ada di TKP sedang menunggu pihak yang berwajib. Mereka sedang memeriksa dengan teliti mobil milik Zain. Semua di teliti dan di periksa dengan seksama.


Dari ban mobil milik Zain ternyata ada paku besar yang menanjap di ban bagian depan. Kemungkinan Zain turun untuk memeriksa ban itu. Di lihat dari jejak sepatu dari depan mobil bagian depan.


Hati Dakter Atha semakin tidak karuan dan berpikir yang negatif. Berpikir dia di rampok atau di culik juga sempat melintas di pikiranya. Bahkan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Kembali pihak berwajib memeriksa dashbord mobil bagian depan. Mereka berjongkok saat ada melihat ada noda darah di dashbord dekat ban mobil yang tidak terkena paku. Mereka langsung mengambil sedikit darah itu menggunakan cotton buds.


"Ada noda darah di sini!" teriaknya.


BERSAMBUNG


Shobat semua yok mampir di Novel temen author ini rekomen banget lo



Belenggu Pernikahan Semu


Author: teh ijo


Pernikahan tanpa cinta, tak selamanya berakhir dengan bahagia.

__ADS_1


Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.


Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?


__ADS_2