Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Teori Obat Mujarab


__ADS_3

"Di mana putri tirinya Cek Kokom katanya dia yang membeli rumah ini, dia harus bertanggung jawab atas kerugian kami!"


Neng mengerutkan keningnya mendengar seorang ibu yang menyebutkan anak tiri Cek Kokom. Yang di maksud ibu itu pasti dirinya sendiri karena Cek Kokom berarti ibu sambungnya. Neng langsung mendekati ibu yang berbicara paling lantang.


"Bu, saya putri tirinya Mak Kokom, apa yang harus saya pertanggung jawabkan?" tanya Neng.


"Begini ... begini ... aku?"


"Tunggu ... aku yang ngomong saja!"


"Enak aja aku yang ngomong karena yang paling banyak di hutangi saya!"


Para ibu itu tidak ada yang mau mengalah semua ingin berbicara dan saling berebutan mendekati Neng. Alfarizi jadi emosi takut istrinya terdorong oleh ibu-ibu yang mulai emosi karena berebutan. Alfarizi langsung menarik Neng dalam pelukannya, "Tunggu dulu ibu-ibu, jangan berebutan, sebenarnya ada apa?"


Para ibu-ibu spontan terdiam setelah melihat wajah Alfarizi. Mereka tersenyum dan langsung sok aksi membetulkan dandanan dan merapikan bajunya, "Hai tampan, uangku tidak di ganti tidak apa-apa asalkan kamu sama aku." rayu ibu muda yang berambut pirang.


"Jadi menantuku saja, nanti aku berikan modal usaha," celetuk wanita paruh baya.


"Hai ganteng, aku baru janda tiga kali lo, sama aku aja yok!"


Mereka semakin berisik karena melihat wajah Alfarizi yang tidak seperti orang indonesia kebanyakan. Ibu Ani dan Umi Anna hanya tertawa lepas melihat tingkah ibu-ibu yang terlihat lucu dan absurd. Neng juga hanya tersenyum mendengar suaminya di rayu oleh ibu-ibu.


"Stop kalau masih berisik dan tidak ada yang mau mengalah, saya panggilkan polisi saja!" Alfarizi kesal karena mendengar rayuan ibu-ibu, dia teringat ketika muntah saat di peluk oleh Mamanya putri.


"Yeee ganteng-ganteng kok galak sih Abang!"


"Cukup ibu-ibu, katakan ada apa?" tanya Neng lagi.


"Begini, Cek Kokom memiliki hutang kepada kami, sudah bertahun-tahun tetapi tidak di lunasi sampai sekarang." Ibu yang paling tua akhirnya bercerita.


"Baiklah akan saya ganti, berapa hutang Mak ...?" Neng tidak sempat melanjutkan ucapannya karena di potong oleh Ibi Ani.

__ADS_1


"Tunggu Neng Mitha, sini duduk dulu biar Ibu yang berbicara dengan mereka. Ibu-ibu apakah bisa memberikan bukti hutang dari Cek Kokom, akan kami ganti sesuai nominal sekarang jika ada bukti?"


"Ada Bu tetapi rumah," jawab ibu muda yang katanya janda.


"Baiklah, kami tunggu satu jam di sini karena kami juga akan mempersiapkan uangnya terlebih dahulu, bagaimana setuju?" tanya Umi Anna ikut memberikan usul.


"Ya Bu, kami pulang dulu."


Sekitar dua jam masalah yang di timbulkan Cek Kokom di masa lalu bisa di selesaikan oleh Neng tanpa ada kendala. Alfarizi hanya menyediakan uang saja, dia lebih memilih tidak berurusan dengan ibu-ibu. Dia hanya selalu protektif memeluk istrinya agar tidak di ganggu oleh mereka.


Rumah masa kecil Neng sekarang ini di percayakan oleh Bibi Tinah untuk bisa di jaga sampai Junaidi yang akan bertanggung jawab untuk merenovasi. Sore harinya sebelum pulang, seluruh keluarga mampir di rumah Encang Ginanjar. Kembali berkonvoi pulang ke rumah masing-masing.


Satu minggu berlalu tanpa terasa hari Jum'at sore setelah meeting dengan klain di kantor pusat Jakarta, Alfarizi berniat mengajak Neng untuk nonton di bioskop berdua. Sayangnya saat pulang dari Jakarta hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Banyak jalan raya yang tergenang dan banjir membuat dia pulang terlambat. Badannya juga harus basah saat membeli bahan bakar di pom bensin karena hujan di sertai angin.


Sampai di rumah pukul delapan malam badannya menggigil kedinginan, mandi saja tidak berani. Meletakkan tas kerja di samping tempat tidur dan dua tiket diatas tas kerjanya. Alfarizi hanya berganti baju dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Neng yang baru saja keluar dari kamar mandi heran melihat suaminya langsung berada di tempat tidur padahal baru pulang kerja, "Papi, mengapa langsung tidur ini masih sore, belum mandi dan makan malam?"


"Dingin banget Honey, Papi tadi kehujanan saat di pom bensin."


"Rencananya Papi mau ngajak nonton malam ini, sepertinya tidak jadi lain kali aja."


Neng memeriksa dahi Alfarizi, suhu badannya panas tetapi tangannya terasa dingin, "Jangan memikirkan nonton kalau badannya tidak sehat, Mami buatkan teh jahe hangat sebentar ya, biar badannya Papi hangat."


Alfarizi langsung menarik tangan Neng, "TIdak usah Mami, Papi hanya butuh pelukan hangat saja, kemarilah peluk Papi!"


Neng naik ke tempat tidur merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Memeluknya dengan erat dan memakaikan selimut satu lagi agar lebih hangat. Sesekali Neng mengusap telapak tangan dan pipinya aga Alfarizi merasa hangat.


"Papi, makan dulu yok, setelah itu minum obat!" ajak Neng mulai khawatir setelah satu jam memeluk suaminya tetapi dia masih merasa kedinginan.


"Tdak aaah Honey, Papi tidak sakit hanya kedinginan saja, ada obat mujarab yang bisa menghilangkan rasa dingin Papi."

__ADS_1


"Apa itu, Pi?"


Alfarizi mulai mencium bibir Neng dengan lembut sambiil tersenyum devil, sampai Neng hampir kehabisan pasoan oksigen, "Obat mujarab apa sih Papi, kok malah mengajak bergoyang?"


"Kalau senjata onta arab bergoyang otomatis keringetan dan tidak dingin lagi, Mami. Kalau tidak percaya ayo kita praktekkan!"


"Dasar modus!"


Alfarizi hanya tersenyum devil melanjutkan aksinya mengajak senjata onta arabnya bergoyang. Bukan Alfarizi namanya kalau tidak bisa membuat Neng terbawa suasana ikut menikmati aksi goyangan suaminya. Setelah keduanya mencapai puncak negeri diatas awan rasa dingin hanya berkurang sedikit.


"Honey, masih belum hilang semua dinginnya, apakah boleh minta tambah lagi obat mujarabnya?"


"Eeee ini maaah bukan obat, tetapi doyan."


"Ha ha ha, Mami tahu aja, salah sendiri mengapa Mami selalu membuat Papi kecanduan."


Akhirnya Neng bisa memuat Alfarizi mengucurkan keringat dengan deras setelah senjata onta arabnya bergoyang untuk ke dua kalinya. Badan yang awalnya menggigil kedinginan sekarang menjadi panas dan berkeringat. Teori obat mujarab Alfarizi yang nyeneh tetapi berhasil dengan baik.


Sabtu pagi Umi Anna dan Abi Ali akan kembali ke Riyadh, Alfian merengek ingin ikut opa dan omanya karena baby Faiz juga ikut ke sana bersama ke dua orang tuanya, "Mami ... Papi, Al mau ikut Oma dan Opa, baby Faiz juga ikut."


"Baby Faiz lama tinggal di sana Nak, sedangkan Al Senin harus sekolah dan Papi juga belum sehat betul," jawab Neng.


"Mami dan Papi ikut juga, kita pulang minggu malam, boleh ya Papi, please!"


Alfarizi yang belum sehat betul justru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pada istrinya, "Mami tidak apa-apa ayo kita ikuti putra kita ke Riyadh, asal obat mujarabnya jalan terus!" bisik Alfarizi di telinga Neng.


"Dasar modus ...!"


BERSAMBUNG


********

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya di novel teman author



__ADS_2