
Pukul sepuluh pagi Junaidi dan wakil security Pak Min berkunjung di mall untuk melaporkan penyelidikannya selama tiga hari ini. Penyelidikan tentang Rangga Siregar, Dokter Mario, dan wanita muda yang sering di panggil Mamanya Putri sudah selesai. Mereka duduk saling berhadapan Alfarizi, Surya, Junaidi dan Pak Min.
"Saya bercerita mulai dari Dokter Mario, Tuan," kata Junaidi.
"Ya silahkan," jawab Alfarizi singkat.
"Sekitar satu bulan setelah resepsi pernikahan Anda, dia diusir dari kediaman Nyonya Sinta karena menggelapkan uang perusahaan keluarga untuk judi. Dia di pindah tugaskan dari rumah sakit swasta yang ada Jakarta ke rumah sakit swasta yang ada di Bekasi sini karena melangggar kode etik kedokteran."
"Melanggar kose etik kedokteran apa itu?" tanya Surya.
"Dia menampar pasiennya karena tersinggung dengan perkataan mereka yang mengatakan bahwa Dokter Mario bahasanya kasar."
Alfarizi mengerutkan keningnya teringat saat pernikahan waktu itu melihat pasangan Sinta dan Mario terlihat bahagia. Apalagi akan hadir momongan mereka yang ke dua. Marta juga terlihat sangat bahagia mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
"Saya lanjutkan cerita tentang Rangga Siregar."
Junaidi bercertita ternyata ibu kandung dari Mario dan ibu kandung Rangga Siregar adalah saudara kandung. Ibu Rangga menikah dengan orang Sumatera sedangkan ibu mario menikah dengan orang Jakarta asli. Hanya nasib keluarga Mario yang kurang mapan hidupnya dibanding keluarga Rangga.
Dua bulan setelah perjanjian tanda tangan antara keluarga Rangga Siregar dengan Ummi Anna. Di kabarkan istri dari Rangga Siregar meninggal dunia karena serangan jantung. Umur istri Rangga tiga puluh lima tahun saat meninggal dunia.
Keluarga dari istri Rangga Siregar banyak yang curiga jika dia tidak meninggal dunia karena serangan jantung. Banyak yang curiga ada sesuatu yang di lakukan suaminya sampai istrinya meninggal dunia. Sayangnya tidak ada bukti yang bisa di temukan untuk menuduh suaminya.
Saat meninggal dunia istri Rangga sempat di visum di rumah sakit swasta tempat Dokter Mario tugas. Sampai sekarang tidak ada lagi yang menyelidiki meninggalnya istri Rangga Siregar. Mereka sudah ikhlas menerima bahawa dia sudah penghadap Ilahi Robbi.
"Maaf Tuan, menurut saya ada kerjasama antara Dokter Mario dan Rangga Siregar di balik meninggalnya istri Rangga itu," pendapat Pak Min.
"Apakah Pak Min mempunyai bukti untuk ini?" tanya Alfarizi kemudian.
"Tidak Tuan, tetapi cerita dari keluarga mereka satu hari sebelum istri Rangga Siregar mengalami serangan jantung, Rangga Siregar mengajak makan malam istrinya di restoran bersama Dokter Mario."
__ADS_1
"Pak Min, saat makan malam itu apakah istri dari Dokter Mario juga ikut?" tanya Surya.
"Tidak Bang, mereka bercerita hanya bertiga saja saat itu."
"Surya, ini tugasmu selidiki tentang meninggalnya istrinya serangga itu, kamu mulai dari restoran saat mereka makan malam!" perintah Alfarizi dengan tegas.
"Tega banget sih, Tuan. Tiga minggu lagi saya mau menikah masih harus bekerja keras gitu?" Surya mengerucutkan bibirnya setelah tuannya memberikan tugas yang sulit untuknya.
"Tidak lama Surya, mungkin satu minggu selesai itu kalau kamu bisa bekerja sama dengan orang kepercayaan Ummi Anna, kamu ingat dia, kan?'"
"Anda betul Tuan, baiklah saya kerjakan tetapi jangan lupa bonusnya untuk tambah acara resepsi!" Surya sangat antusias setelah Alfarizi mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Kembali Junaidi bercerita bahwa dua bulan lalu Rangga Siregar menghilang selama satu minggu tanpa kabar. Sudah di laporkan oleh ke dua orang tuanya pada pihak yang berwajib. Hari kedelapan dia pulang dengan membawa wanita belia berumur sembilan belas tahun. Wanita muda itu baru lulus SMA dan berasal dari Bandung.
"Saya izin ke Bandung untuk menyelidiki istri baru Rangga Siregar, Tuan," kata Junaidi.
"Mengapa kamu harus ke sana, berikan alasan yang logis!" perintah Alfarizi.
"Maksud kamu ada yang kamu curigai, Jun?" tanya Surya.
"Iya Bang, kemungkinan istri barunya Rangga Siregar adalan anak tiri dari Ayah Asep," jawab Junaidi sambil melirik Alfarizi.
"Apa ...!" teriak Alfarizi kaget kemudian menutup mulutnya.
Teriakan Alfarizi membuat semua kaget sambil memegangi dadanya. Tidak menyangka tuannya akan bereksi dengan berlebihan. Apalagi melihat Alfarizi menutup mulutnya mereka semakin bertanya-tanya.
Saat Alfarizi teringat dengan mama tirinya Putri memeluk pinggangya kemarin. Perutnya langsung mual seperti diaduk padahal saat ini perutnya terasa lapar. Awalnya hanya mual tetapi lama-lama dia tidak tahan karena perutnya semakin mual.
"Awas ... permisi sebentar!" Alfarizi langsung berlari menuju kamar pribadinya memuntahkan isi perutnya tanpa sisa.
__ADS_1
Muntah sampai terasa pahit di mulut seperti biasanya. Hari ini pertamma kali Alfarizi muntah tanpa di dampingi istrinya. Biasanya saat ada dia selalu di pijit tengkuknya untuk mengurangi rasa mual.
Keluar dari kamar mandi dan kembali bergabung dengan mereka yang menatap Alfarizi yang heran. Mereka masih bingung karena belum ada yang tahu jika Neng sedang hamil. Surya tahunya baru kemungkinan karena saat berkunjung kemarin belum periksa ke Dokter.
"Apa yang terjadi dengan Anda, Tuan?" tanya Surya.
"Istriku positif hamil, tetapi aku yang ngidam. Kemarin aku sempat bertemu dengan dia dan dengan sengaja dia menabrakkan badannya kearahku aku langsung muntah di badan dia."
"Ha ha ha ...." Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Selamat Tuan," ucap mereka bergantian.
"Ya terima kasih, Jun kamu boleh berangkat ke Bandung aku beri kamu waktu dua hari. Surya aku beri waktu satu minggu dan untuk Pak Min kembali ke kantor pusat selama Junaidi ke Bandung.
"Siap Tuan!" jawab mereka serempak.
Setelah pertemuan itu Alfarizi berniat pulang ke rumah lebih cepat. Hari ini Neng berada di kantor konfeksi AA saja dan tidak berniat keluar rumah.
Alfarizi baru menjalankan mobilnya sampai perempatan lampu merah. Jalan yang arah rumahnya macet total dan sudah sekitar satu jam yang lalu. Dia akhirnya terjebak tidak bisa maju ataupun mundur lagi.
Alfarizi keluar dari mobil dan ingin bertanya ada apa yang sedang terjadi. Bertanya kepada orang yang ada di dalam mobil di depannya, "Permisi Pak, apa yang terjadi kok macet seperti ini?"
"Di depan sana ada tabrakan dua mobil dari arah yang berlawanan, ternyata dua mobil itu pasangan suami istri, suaminya bersama dengan satu laki-laki, mereka mabuk berat kata saksi mata suaminya sengaja menabrakkan mobilnya kearah istrinya," cerita sopir paruh baya.
"Mengapa sampai sekarang masih macet total, Pak?"
"Istrinya ternyata sedang hamil tua, dia langsung meninggal di tempat beserta anak yang di kandungnya, putri pertama mereka yang sedang duduk di jok belakang selamat tetapi terluka parah."
"Bagaimana denga suami dan satu temannya, Pak?"
__ADS_1
"Itu yang saya belum jelas, salah satu dari mereka kakinya patah dan tulangnya hancur, entah yang memakai seragam dokter atau yang memakai jas hitam, beritanya masih simpang siur."
"Dokter ..?"