
Sore hari ini Neng masih duduk termenung di brankar tempat tidur rumah sakit. Dia masih di infus di tangan kirinya, setelah memberikan ASI kepada putranya Alfian dan Al bersama Ibu Ani pulang untuk mandi dan mengambil ganti baju. Untuk mengisi waktu luang akhirnya Neng menyibukkan diri untuk menggambar desain dan sketsa baju berbagai macam model, terutama baju khusus untuk anak laki-laki menggunakan kertas HVS dan pensil yang sengaja dibawa oleh Ibu Ani agar Neng tidak memikirkan hal-hal mengingatkan pada masa lalu.
Datang Dokter Harry tidak memakai seragam dokter, menggendong putranya Zain. Dia juga menggandeng istrinya yang cantik dengan rambut panjang sepinggang dan putra pertamanya yang berumur lima tahun.
"Selamat sore Neng Geulis Abang datang," kata Dokter Harry sambil tersenyum.
Neng tersentak kaget saat melihat ada dokter Harry bersama keluarga masuk, "Eee selamat sore,"
"Adikku Mitha perkenalkan dia istriku Ria, Bang Zaqi dan Si kecil Zain," Dokter Harry memperkenalkan keluarganya.
"Salam kenal Kak Ria, namaku Mitha,"
"Hai Mitha apa kabar?" sapa Rianti sambil cipika-cipiki dengan akrab.
"Aku baik Kak,"
Setelah bercengerama sebentar, Dokter Harry dan kedua putranya pamit dan keluar ruang rawat inap. Sengaja membiarkan Neng dan Ria berbincang dari hati ke hati. Wakaupun suaminya tidak bercerita tentang masalah pribadi Neng, Ria bisa membaca bahwa Neng mengalami masa sulit yang susah di lupakan seperti dirinya saat masih duduk di bangku SMP.
"Maaf Mitha, walaupun suamiku tidak bercerita tentang dirimu aku mengerti kamu sedang mengalami masa sulit saat ini,"
Neng menatap sendu wajah Rianti yang tersenyum, awalnya Neng ragu untuk mengangguk, "Apakah wajahku terlihat menyedihkan Kak?"
Rianti tertawa renyah mendengar pertanyaan Neng yang lugu dan wajahnya masih polos. Rianti menarik kursinya duduk di samping brankar tempat tidur Neng.
"Aku dulu pernah mengalami hal yang mengerikan saat SMP," Rianti mulai bercerita tentang masa lalunya.
"Apa itu Kak?" tanya Neng singkat.
"Saat aku kelas 7 SMP Ibuku menikah lagi dengan laki-laki yang ujurnya 10 tahun lebih muda dari Ibu, tetapi setelah dua bulan tinggal bersama kami di rumah, saat Ibu sedang ke pasar, Ayah tiriku mencoba menggagahi aku saat aku tidur,"
"Terus Kak, apa yang terjadi?"
"Ayah tiriku aku tendang burungnya dengan sekuat tenaga,"
"Waow, apakah Kak Ria tidak takut saat itu?"
__ADS_1
"Sangat takut, tetapi aku nekat, naah sejak saat itu aku tidak berani sendirian di rumah sampai hari itu Ayah tiriku nekat masuk menyusul aku saat aku sedang mandi di kamar mandi,"
"Ibunya Kak Ria kemana?"
"Itulah untungnya Mitha, saat aku menjerit sekuat tenaga, Ibuku pulang karena handphonenya ketinggalan, padahal ayah tiriku sudah mulai kesetanan saat melihat aku belum mengenakan sehelai benangpun,"
"Syukurlah, Kak Ria terselamatkan?"
"Memang selamat, tetapi --- !"
"Ada apa Kak?"
"Aku sudah sempat melihat ular besar milik Ayah tiriku, aku menjadi trauma, hampir tiga bulan aku mengalami syok, tidak sekolah, tidak keluar kamar, tidak berinteraksi dengan dunia luar sama sekali,"
"Apa yang terjadi dengan Ayah tiri Kakak?"
"Ibuku menuntut cerai, pernikahan itu hanya bertahan tiga bulan saja, walaupun Ayahku tidak di penjara dia kembali ke kampung halaman,"
"Bagaimana Kak Ria bisa bangkit dari depresi saat itu?"
"Maksud Kak Ria apa, aku tidak faham?"
"Aku harus melakukan terapi lagi dengan suamiku setelah pernikahan satu tahun, kami baru bisa melakukan malam pertama,"
Seketika Neng termenung, mengingat malam pertama dirinya bersama Tuan Al. Malam itu adalah malam yang sangat kelam baginya, karena melakukan dengan terpaksa. Yang lebih parah lagi suami sirinya itu membayangkan melakukan dengan istri sahnya.
"Mitha, mengapa melamun, waaah ini gambar sketsa kamu, bagus banget?" tanya Rianti setelah melihat ada kertas gambar sketsa yang berada di samping bantal.
"Iseng aja Kak, dari pada aku berpikiran negatif,"
"Ini bagus sekali lho, perlu dikembangkan ini, mengapa kamu tidak kuliah lagi aja di kampusku, walaupun aku sudah punya anak dua aku semangat kuliah lagi,"
"Di kampus Kak Ria ada jurusan disainer fashion?"
"Ada dong, sekarang masih menerima mahasiswa baru gelombang kedua, nanti aku antar kamu daftar,"
__ADS_1
"Iya Kak, aku mau daftar kuliah, mohon bimbingannya ya Kak!"
"Tentu mulai sekarang aku juga akan menganggap kamu adikku sendiri."
Dua Minggu setelah pertemuan antara Neng dan Rianti. Mereka semakin dekat dan saling mendukung. Bercerita dari hati ke hati, tetapi Neng tetap tidak pernah memberi tahukan kepada siapapun tentang identitas dari Papinya Alfian.
Hari Senin ini Rianti mengantar Neng untuk mendaftarkan kuliah di salah perguruan tinggi swasta yang tidak jauh dari kota mereka tinggal. Setelah Neng mendapatkan ijin dari Ibu Ani mereka berangkat membawa mobil sendiri. Rianti memakai mobil mewah miliknya hadiah ulang tahun dari suaminya Dokter Harry, sedangkan Neng memakai mobil pic-up andalannya.
Sampai di kampus banyak mata yang memandang Neng dengan heran. Seorang wanita cantik tetapi tidak malu menggunakan mobil pic-up sebagai kendaraannya. Neng hanya melenggang pergi tanpa merasa canggung.
"Mitha, coba lihatlah banyak mahasiswa melihat kamu, coba tadi pakai mobilku saja!" kata Rianti sambil berjalan menggandeng tangan Neng.
"Biarkan saja kak, aku lebih nyaman memakai mobil miliķu sendiri,"
"Disini banyak mahasiswa yang kaya dan sok kaya, terkadang mereka suka nyinyir,"
"Ayo kita langsung daftar aja, aku belum terbiasa meninggalkan putraku Al terlaku lama,"
Perlahan namun pasti konfeksi milik Neng mulai berkembang. Kini karyawannya berjumlah 15 orang, Neng mulai kuliah mengambil jurusan sesuai cita-citanya. Selama kuliah konfeksi bisa berjalan dengan lancar karena Mpok Atun yang mewakili Neng mengawasinya.
Di kampus Neng jarang berbaur dengan teman kampusnya. Neng memilki teman akrab bernama Desi Susanti gadis dari desa yang kuliah sambil bekerja serabutan. Tekat Desi untuk meraih cita-citanya sangat besar karena ingin merubah ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Hampir satu semester berlalu Neng hanya menghabiskan waktu untuk belajar. Bekerja mengurus konfeksi, dan merawat Al dengan penuh kasih sayang. Neng hanya duduk di perpustakaan atau di kantin di sela-sela waktu senggangnya saat di kampus.
Neng menikmati seblak di kantin kampus sendirian saat istirahat karena Desi sedang berada di perpustakaan untuk meminjam buku. Ada dua mahasiswa memperhatikan Neng dari kejauhan. Hampir dua bulan ini salah satu dari mereka sering memperhatikan Neng secara diam-diam saat di kantin atau di perpustakaan.
Desi datang bergabung duduk disamping Neng sambil membawa satu mangkuk bakso pesanannya, "Mitha lihatlah, cowok yang duduk di meja ujung itu memperhatikan kamu terus dari tadi!"
"Kamu ini sempat-sempatnya melirik cowok, cepat makan baksomu nanti dingin!"
"Apakah kamu tidak penasaran lihatlah, cakep lo orangnya?"
"Ogah, aku malas, buat kamu saja silahkan di bungkus!" jawab Neng singkat.
"Kamu nich parah, nasi kali di bungkus."
__ADS_1