Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Undangan


__ADS_3

"Rani betul, kami saja yang bayar. Sini catatan dari dia!" Alfian mengambil catatan dari tangan Doni.


Alfian mentransfer jumlah uang sesuai dengan catatan laki-laki tua menggunakan ponsel. Sebelum mentransfer meminta nomor rekening milik penerima. Memanfaatkan E-banking tidak sampai dua menit uang sudah berpindah ke rekening penerima.


"Silahkan di cek sudah di transfer sesuai catatan?" kata Alfian setelah uang masuk sesuai nomor dan jumlah uang yang di minta.


"Ok terima kasih."


"Mulai sekarang Anda sudah tidak ada hubungannya denga Rani Atau Ibu Titin, Anda mengerti?"


"Aku juga sudah malas berhubungan dengan wanita itu, aku permisi!" Laki-laki berperut buncit langsung meninggalkan rumah Titin Suhartin.


Setelah selasai dengan surat perjanjian dan pembayaran hutang. Doni mengambil undangan yang berada di dalam tasnya. Menyerahkan undangan itu kepada Titin Suhartin.


"Ini undangan buat kamu, ini hanya karena Rani masih menghormati kamu sebagai ibunya, Minggu depan dia akan mengadakan resepsi pernikahan."


Titin Suhartin mengambil undangan dari Doni. Di bacanya pelan-pelan undangan yang sangat mewah berwarna merah berpadu dengan kuning dan hitam. Matanya terbelalak lebar setelah dibaca adalah keturunan konglomerat terkenal.


"Ini benar suami Rani ...?" Titin Suhartin menutup mulutnya tidak melanjutkan ucapan karena Syok.


Endang Kusnandar langsung memajukan badannya mendekati Titin Suhartin, "Ingat elu sudah menandatangani surat perjanjian, jika elu melanggar perjanjian itu elu bakalan masuk bui!"


"Kalian curang, mengapa ...?"


Kali ini Doni yang memotong ucapan Titin Suhartin, "Tidak ada kata curang untuk meghadapi wanita seperti kamu, kami tidak main-main kalau kamu berulah disamping akan aku jebloskan ke penjara uang menantuku untuk bayar hutangmu juga akan aku perkarakan. Kamu mengerti?"


Dengan terpaksa Titin Suhartin mengenngguk. Melirik Rania yang sedang dipeluk oleh Alfian. Perlahan mendekatinya berniat untuk meminta dukungan putrinya.

__ADS_1


"Rani, maafkan Ibu. Apakah boleh Ibu ikut ...?"


Rani juga memotong ucapan ibunya agar tidak terpancing dengan rayuannya. "Ibu harus menaati perjanjian itu. Nanti akan Rani tranfer uang setiap bulan untuk keperluan Ibu, tetapi jika Ibu melanggar perjanjian itu, transfer akan Rani hentikan." Rania berbicara tegas seperti pesan Endang Kusnandar sebelum bertemu ibunya.


Kembali Titin Suhartin mengangguk tidak berdaya. Tidak ada yang mendukung dia saat ini. Pikirannya melayang membayangkan keluarga Alfarizi Zulkarnain yang tajir melintir.


Tidak menyangka menantunya lebih kaya dari laki-laki tua yang akan dijodohkan Rania dulu. Sambil memandangi Rania dan Alfian yang selalu menempel pada putrinya. Rania terlihat bahagia di kelilingi oleh orang yang perduli padanya.


Drama menghadapi Titin Suhartin berakhir dengan baik. Semua dapat diatasi dengan baik berkat cara dan saran dari Endang Kunandar. Permasalahan bisa di selesaikan jika dikerjakan bersama termasuk mengatasi seorang Titin Suhartin.


Selama dua bulan lebih persiapan acara resepsi pernikahan Alfian dan Rania hampir selesai. Saat keluarga masih berada di villa untuk liburan. Undangan di sebar secara serentak ke seluruh keluarga, kolega, rekan bisnis, teman dan tetangga rumah.


Kabar itu langsung meledak bak roket yang melesat pesat di media sosial, media cetak dan televisi. Hari ini yang banyak di cari pewarta adalah Alfian dan Rania. Kehidupan pribadi mereka sebelum menikah di perbincangkan di sana.


Hanya identitas dan nama Rania yang masih samar. Tidak disebutkan dengan jelas latar belakangnya kecuali saat Rania tinggal bersama Abah. Tidak di beritakan saat Rania tinggal bersama ibunya.


Titin Suhartin juga tidak berani cuap-cuap di media mengakui Rania sebagai putrinya. Dia sudah di ancam oleh dua mantan suaminya sebelum undangan di sebar. Doni dan Endang Kusnadar mengancam jika Titin Suhartin bercerita di media, mereka mengancam akan menjebloskan penjara dengan tuduhan ingin menjual purtinya sendiri.


Yang paling sibuk hari ini setelah Papi Alfarizi dan Mami Mitha konfrensi pers adalah Julio dan Zain. Mereka banyak di buru pewarta karena sahabat dari Alfian. Para pewarta ingin mengetahui latar belakang dari calon menantu sang konglomerat.


Zain dan Julio hanya menjawab sama seperti Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Mereka akan di ceritakan setelah selesai acara resepsi. Dua mempelai sendiri yang akan menceritakan kepada para pewarta.


Hanya Putri Siregar yang selalu mengejar Zain dan Julio tanpa lelah. Sore ini saat mereka sedang duduk di kafe melepas penat. Putri Siregar datang bergabung dengan mereka.


Putri Siregar masih penasaran karena merasa dirinyalah yang paling pantas bersanding dengan Alfian. Dia mendengar dan melihat berita jika istri Alfian dari kalangan biasa. Dia masih berusaha untuk bisa menggantikan istri dari Alfian.


"Elo tidak lelah ya selalu di tolak Al?" Kesal Zain bertanya kepada Putri Siregar sesaat dia duduk di depannya.

__ADS_1


"Tidaklah ... karena seharusnya guelah yang paling layak mendampingi Al," jawab Putri Siregar dengan percaya diri.


"Coba sebutkan apa saja mengapa elu yang paling layak?" Julio gantian bertanya.


"Gue sebutkan ya, gue cantik, berpenampilan modern, pendidikan tinggi dan yang penting lagi hanya gue yang bisa mengerti tentang Al karena gue mengenalnya dari sekolah TK."


"Memang jika dilihat dari penampilan elu memang nomor satu, bagaimana dengan yang lain?" tanya Zain lagi sambil tersenyum devil.


"Elo kan dokter Zain, masalah itu bisa dioprasi menjadi Virgin lagi," jawab Putri sekenanya.


Julio menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Putri yang menggampangkan tentang kesucian seorang wanita, "Elu gila ya, kesucian elu buat main-main!"


Zain yang notabene seorang dokter hanya tersenyum dan ikut menggelengkan kepalanya. Dia tahu betul jika itu benar adanya, tetapi operasi itu sebagian besar karena bukan sengaja. Operasi sering dilakukan karena kecelakaan atau hal yang khusus.


"Elu tidak mungkin di setujui oleh medis karena elu sudah melakukan berkali-kali. operasi tidak sembarangan hanya karena ingin virgin lagi." Zain menjelaskan dengan gamblang.


Julio mendengar perdebatan antara Putri dan Zain jadi membayangkan pertemuan unik antara Alfian dan Rania. Mereka pernah dalama keadaan polos tanpa benang sehelaipun. Mereka masih bisa menjaga kesucian sampai menikah resmi dan di restu orang tua.


Julio semakin mengagumi sikap Alfian yang kini sangat mencintai Rania. Kagum karena Alfian bisa menerima Rania apa adanya. Bisa mencintai setelah menikah dan tanpa pacaran terlebih dahulu.


"Operasinya tidak di sini tetapi di Belanda, Zain."


Zain langsung tergeletak karena meragukan kemampuan Putri. Di luar negeri memang bisa dilakukan operasi semacam itu. Hanya saja akan memerlukan biaya yang sangat tinggi.


"Memang elu sanggup membiayai operasi itu sendiri?"


"Bisa dong, gue merayu Al dulu agar mau menjadi calon suami gue!"

__ADS_1


"Gila lu!" teriak Zain.


"Mimpi lu!" teriak Julio.


__ADS_2