Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Bojomu Rawuh


__ADS_3

"Sabar Al sabar, dari dulu dia selalu tertutup orangnya, positif thingking aja, dia terbiasa mengatasi masalahnya sendiri, semua di pendam sendiri, sekarang tugasmu mencari dan menyusulnya, semangat!" monolog Alfarizi sambil mengusap dadanya saat berjalan keluar dari lingkungan sekolah Alfian.


Alfarizi hanya berdiri di samping pintu mobilnya kemudian mengambil ponsel yang yang ada di sakunya. Ingin mengubungi Alfian tetapi dia tidak tahu alamat kengkap kampung halaman, yang dia tahu hanya kota Ngawi. Ingin menghubungi Ibu Ani atau Neng pasti sedang berduka dan akan susah menghubungi mereka.


Harapan satu-satunya hanya Desi sang asisten. Alfarizi langsung menghubungi Surya karena belum sempat menyimpan nomer ponsel milik Desi. Kebetulan posisi Surya ada di kantor mall akan bisa langsung nendatangi Desi di Butik AA.


"Ya Tuan ada apa?" tanya Surya saat menerima telepon dari tuannya.


"Coba kamu ke Butik AA, tolang tanyakan alamat kampung Ibu Ani, sekarang!"


"Siap Tuan."


Alfarizi hanya duduk di kemudi mobilnya, dia masih berada di depan sekolah Alfian. Dia masih memikirkan bagaimana cara menyusul istri dan putranya di kampung. Hanya dalam sepuluh menit Surya menghubungi tuannya, "Ya Surya, bagaimana?"


"Kata Desi, Dokter Harry yang tahu persis alamatnya, Tuan; karena Dokter Harry pernah kesana sekali."


"Baiklah, kamu ajak Desi ke rumah sakit sekarang, kita ketemu di kantornya Dokter Harry!"


"Ya Tuan, kami berangkat sekarang."


Alfarizi sampai rumah sakit hanya setengah jam saja, karena menyetir kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sampai di ruang Dokter Harry kebetulan tugasnya hampir berakhir. Dia bersiap-siap untuk berganti shif dengan Dokter yang masuk sore.


"Harry ...." panggil Alfarizi tanpa mengetuk pintu langsung nyelonong masuk.


"Eee kamu Al, ada apa?"


"Apakah kamu tahu hari ini Mitha ke kampung ada saudaranya yang meninggal?"


"Ya tahu, tetapi bukan Mitha yang mengabari tahu melainkan Ibu Ani, bukankah seharusnya kamu mengenal bagaimana sifat Mitha, dia sangat tutup dan tidak mudah percaya pada orang?"


Alfarizi hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. menjawab pertanyaan Dokter Harry dengan menganggukan kepalanya saja. Rasanya hampir putus asa dan bingung harus bagaimana cara mendekati Neng agar dia mau kembali padanya.


"Aku mau menyusul mereka Harry, aku minta alamatnya?"


"Ya seharusnya kamu menyusul sekarang, takutnya keduluan si Rangga Siregar itu!"


"Apa maksudmu Harry, apakah dia masih mengikuti istriku?"


"Sesaat kamu menggendong Mitha kemarin dia ingin mengejarmu, mungkin kalau tidak di tarik oleh security pasti dia akan menggedor pintu kantormu!"

__ADS_1


"Kurang ajar dia!"


"Dia mengatakan padaku sebelum kalian resmi menikah dia akan tetap mengejar Mitha, dia selalu berhasil memiliki wanita yang di inginkannya."


"Tidak dengan istriku, minta di ekspor ke Antartika dia!"


"Sudahlah, kamu pulang sana dan packing kalau mau nyusul mereka, alamat aku kirim lewat WA!"


Surya dan Desi datang di ruang kerja Dokter Harry dan mengetuk pintu, "Tok ... tok ...tok."


"Masuk ...!" teriak Dokter Harry dari dalam.


"Surya, Desi cepat duduklah!" perintah Alfarizi.


"Ya Tuan, apa rencana Anda sekarang?" tanya Surya setelah duduk di kursi yang biasa dipakai duduk oleh pasien.


"Desi Coba kamu ceritakan sebelum Mitha berangkat ke kampung?" titah Alfarizi langsung to the poin.


"Baik Tuan, Pukul tujuh pagi Ibu Mitha mendapat panggilan telepon dari Bude, mengabarkan jika Mbah Kakung meninggal dunia."


"Siapa itu Mbah Kakung, Desi?" tanya Surya penasaran.


"Beliau adalah suami pertama Ibu Ani, dan ayah kandung dari Bude, selama ini Bu Mitha selalu mengirim uang bulanan Mbah Kakung untuk biaya hidup sehari-hari."


"Saya langsung menjemput Ibu Ani, mengambil koper milik Bu Mitha dan Alfian yang sudah dipersiapkan satu minggu yang lalu, kemudian dari butik langsung ke sekolah dan berangkat ke bandara."


"Mereka naik pesawat jam berapa?" tanya Dokter Harry.


"Pesawat pukul sembilan Tuan, kemungkinan pukul dua belas mereka sudah sampai kampung, pesawat turun di bandara Adi Sumarmo Solo, dan dua jam perjalanan sampai kampung."


"Apakah kamu sudah mendapatkan kabar sekarang ini dari mereka?" tanya Alfarizi lagi.


"Kemungkinan mereka masih di pemakaman, Tuan; tadi pagi Bu Ani bercerita rencana jenazah akan di makamkan pukul dua siang."


"Ada satu lagi Tuan yang harus saya laporkan!" Surya menyela perkataan Desi.


"Katakan ...!"


"Saat kami keluar dari mall saya melihat Rangga Siregar masuk mall dengan terburu-buru menuju butik."

__ADS_1


"Berarti dia juga baru tahu kalau Mitha pulang kampung, kemungkinan dia ingin memastikan keberadaan Mitha di butik, " Penadapat dan analisa Dokter Harry.


"Ya sudah biarkan saja itu Serangga, Surya kamu belikan tiket Solo sekarang,"


"Ok tunggu sebentar Tuan, aku lihat tiket online!"


Surya berselanjar mencari tiket penerbangan Jakarta-Solo. Semua maskapai sudah di cek oleh Surya. Hanya ada satu penerbangan yang masih tersisa kursinya tetapi pada penergangan terakhir yaitu pikul sembilan malam.


"Tiket penuh Tuan, hanya ada satu penerbangan yang masih ada tiketnya tetapi pukul sembilan malam."


"Kelamaan Surya, aku tidak mau, takutnya si Serangga itu menemukan istri dan putraku."


"Sebaiknya, menyewa helikopter saja, Tuan; Anda akan lebih cepat sampai!" Ide brilian Surya.


"Setuju, kamu memang selalu di bisa andalkan, kamu urus sekarang, aku pulang dulu mau ambil koper."


"Laksanakan Tuan."


Sementara di kampung, rombongan dari keluarga Ibu Ani pulang dari pemakaman berjalan dengan gontai. Rasa kehilangan orang yang sangat di hormati dan di cintai sangatlah berat. Semua masih dalam keadaan berkabung.


Bagi Neng, Mbah Kakung sudah seperti ayahnya sendiri. Ketulusan hati, ajaran dan nasehat beliaulah Neng bisa tegar dan bisa mendidik putranya dengan baik selama ini. Neng rela mengirim uang setiap bulan untuk kebutuhan Mbah Kakung demi kencukupi kebutuhan sehari-hari dan untuk keluarga yang lain.


Setiap tahun Neng, Alfian dan Ibu Ani selalu berkunjung di kampung sehingga mereka juga pandai berbahasa jawa. Neng sangat di sayangi oleh masyarakat sekitar tempat tinggal Mbah Kakung. Neng sering membagikan uang zakatnya setiap tahun di sana saat hari raya tiba.


Sore ini keluarga Bude sedang berkumpul bergotong royong di dapur. Rencananya sampai tujuh hari ke depan setiap malam akan mengirim doa untuk Mbah Kakung. Para ibu menyiapkan hidangan makan untuk masyarakat yang akan mengirim doa.


Neng, Ibu Ani dan Ibu-ibu yang lain sedang sibuk di dapur bergotong-rayong membuat hidangan sederhana untuk nanti malam. Bude dan suaminya Pakde duduk di ruang tamu masih menemui para tamu yang datang silih berganti untuk mengucapakan bela sungkawa. Masyarakat di kampung sangat terasa kekeluargaannya, sampai kampung sebelah juga banyak yang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa.


Datang satu tamu yang lain dari yang lain di antar ojek pengkolan. Dia menarik koper dengan penampilan baju stelan jas berwarna biru dongker. Tidak satupun masyarakat mengenalinya, wajahnya yang keturunan Arab membuatnya beda dari yang lain.


"Permisi ...."


"Ya mau cari siapa, mukanya seperti orang saudi onta Arab?" tanya Pakde sambil tersenyum.


"Saya suami Mitha dan Papinya Alfian, Pak."


Bude yang kaget langsung berteriak memanggil adik angkatnya, "Mitha ...!"


"Injiih Mbak ...!" teriak Beng dari dapur.

__ADS_1


"Bojomu rawuh!"


" ... ?"


__ADS_2