Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
MP A & Z


__ADS_3

Zain tersenyum karena merasa menang. Tangannya yang dari tadi bergerilya berhasil membuat Atha mengajaknya ke kamar sekarang. Dengan beralasan untuk berganti baju dan mandi.


Baru masuk kamar, bahkan Atha belum sempat mengunci pintu. Zain langsung menarik Atha dalam pelukan. Menciumi wajahnya tanpa henti.


Atha tergelak karena geli, "Abang sabar dulu, Atha mau mengunci pintu!"


Zain menggeser tubuhnya mendekati pintu tetap memeluk Atha. Tangan kanan mengunci pintu, tetapi tangan kiri melingkar sempurna di pinggang. Tidak membiarkan sedikitpun dia lepas dari dekapan.


Mulutnya bergerilya entah ke mana mulai dari telinga, leher, pipi sampai berakhir di bibir. Zain seolah sedang kecanduan Atha. Terus saja menyerang dengan bibirnya menyusuri setiap lekuk wajah Atha.


Atha jadi tergelak karena banyak rasa gelinya daripada sensasi lain. Berusaha mendorong tubuh dan kepala suaminya, "Abang tunggu dulu, Atha geli!"


"Dari tadi siang Atha selalu membuat Abang gila." Zain kembali menyusuri ke seluruh wajahnya.


"Maaf ... tapi Atha belum mandi, belum ganti baju!"


"Tidak perlu mandi Atha masih wangi," jawab Zain kembali menciumi pipi dan telinganya.


"Bang ... Atha geli!" Atha tertawa sambil mendorong kepala Zain agar menjauh.


"Baiklah Abang mau ini saja," Sekarang Zain mencium bibir Atha dengan lembut. Sesekali mengabsen dan bergerilya di setiap rongga yang ada di dalam mulut.


Atha mulai terbawa suasana lembut sentuhan Zain. Dia mulai terbuai dan mulai mengikuti cara Zain mengabsen dan menyusuri rongga mulut Zain. Zain sangat menikmati Atha yang bisa belajar cepat.


"Waaah pintar istri Abang, cepat banget belajarnya. Mau sekali lagi dong!"


Mereka berdua mengulang seperti yang di lakukan tadi. Sekarang Atha mulai bisa mengimbangi Zain beraksi. Zain sangat menyukai cara Atha belajar.


"Darling, sekarang Abang mau pindah boleh, 'kan?"


"Pindah ke mana ?"


"Pindah ke sini!" Zain agak menunduk menciumi leher jenjang Atha.


Atha memejamkan mata merasakan sentuhan bibir Zain yang memberikan tanda kepemilikan di sana. Tanpa sengaja tangan Atha meremas rambutnya sambil merasakan sensasinya. Setiap sentuhan Zain sangat di nikmati oleh Atha.


"Darling, tidak jadi ganti baju?"


"Iya jadi dong, tunggu ya Bang. Atha ganti baju dulu!"


Saat Atha akan mendekati lemari, Zain menarik tangannya, "Berdiri di sini, Abang yang akan membuka baju Atha!"


"Eee tapi, Kak!"

__ADS_1


"Darling ... diam dulu, Abang sedang konsentrasi nich!"


Dari mulai resleting yang ada di punggung di buka oleh Zain. Warna kulit yang putih terlihat dari atas ke bawah. Ada pennutup gunung kembar yang masih tersangkut kaitannya.


"Apakah ini di buka juga, Darling?"


"Abang ... malu iiih!"


"Mengapa harus malu, bukankah tadi siang Abang sudah mendaki dan menikmati puncaknya?"


Wajah Atha memerah seperti tomat karena masih malu. Mamilih memejamkan matanya saat tangan Zain menyendal kaitan kecil itu sampai terlepas. Zain yang berbinar saat perlahan gaun di turunkan sampai jatuh di kaki Atha.


Zain menarik penutup gunung kembar dan melemparnya entah ke mana. Atha masih dalam posisi berdiri dan memejamkan mata. Tidak berani membuka mata dan tidak berani melihat apa yang sedang di lakukan Zain.


"Darling, buka dong matanya?" Zain berbisik di telinga Atha.


Atha perlahan membuka mata. Awalnya hanya melihat wajah Zain yang tersenyum. Saat melihat agak ke bawah sedikit ternyata suaminya sudah tanpa benang sedikitpun.


"Abang ...Kok?"


Zain langsung memeluk Atha dengan erat. Dengan sengaja senjata kujang di gesekan di segitiga yang masih dikenakan oleh Atha. Tangan dan bibir Zain mulai bergerilya bersama.


Atha hanya terpaku berdiri sambil menikmati sentuhan tangan dan bibir Zain. Selalu saja dia bisa merasakan sensasi demi sensasi yang baru pertama kali di rasakan. Lebih memilih memejamkan mata lagi agar sensasi itu semakin terasa.


Saat tangan Zain satu lagi mempermainkan ujung gunung kembar yang tidak di nikmati. Atha semakin menggeliat dan semakin menikamati sensasi yang lebih menggila. Tanpa sadar Atha memeluk kepala Zain dengan erat seolah meminta Zain semakin bermain di sana.


Saat keduanya mulai larut dalam sensasinya. Zain membimbing Atha untuk mendekati tempat tidur. Sekarang mereka bermain di atas tempat tidur.


Mengulangi lagi dan lagi bermain di puncak gunung kembar yang membuat Zain mabuk kepayang. Baru hari ini mengenalnya, tetapi sudah menjadi favoritnya.


"Darling," panggil Zain saat Atha masih terdiam menikmati aksinya.


"Ya ... ada apa, Bang?"


"Tolong kenalan dulu dong!" Zain menarik tangan Atha di bimbingnya untuk memegang senjata Kujang yang sudah terbangun sempurna.


Atha mengelus dan memegang kujang dengan lembut. Di tekan dan di elus perlahan. Tanpa di duga sekarang Zainlah yang merasakan sensasi yang menggila.


"Terus, Darling," bisik Zain sambil menikmati sentuhan tangan istrinya.


Masih ada satu penutup di diri Atha. Penutup segitiga masih terpasang sempurna, "Boleh Abang buka ya, Darling?" Atha mengangguk.


Zain menurunkan segitiga awalnya menggunakan tangan. Setelah sampai lutut, di dorong menggunakan kakinya. Sampai segitiga itu terlepas sempurna.

__ADS_1


Zain mengelus perlahan gua kecil yang ada di tengah diantara dua kaki. Sambil mulutnya masih bermain di tempat favorit. Semakin lama semakin terbawa suasana.


"Boleh Kujang masuk ke gua kecil ini, Darling?"


"Hhmm ...." Atha hanya berdehem sambil memejamkan mata.


Saat ini Zain behadapan langsung pada Atha yang ada di bawahnya. Perlahan Zain membawa senjata kujang masuk di gua kecil perlahan. Sampai kujang itu menancap sempurna Zain terdiam dan memandang wajah istrinya, "Apakah sakit, Daarling?"


"Sedikit perih, Bang."


"Lobangnya sempit banget, Darling. Sabar ya ... tahan sedikit kalau sakit!"


Atha hanya meringis saat Zain diam tetapi kujang sudah masuk sempurna. Perlahan tapi pasti kujang bergerak sedikit demi sedikit. Rasa sensasi kini mulai memuncak lagi dan lagi.


Suara mulut Atha yang mengalun syadu terdengar. Dengan di sahut teriakan kecil Zain menambah semangat Kujang digerakkan. Awalnya gerakan hanya perlahan kemudian di percepat.


Sampai dikecepatan maksimum keduanya mengalami pelepasan berdua. Seolah saat ini ke duanya berada di titik puncak nirwana. Rasanya ke dua badan melayang di atas awan.


Zain langsung tumbang berbaring disamping Atha. Napas mereka masih terengah dan peluh mengucur deras membasahi badan. Senyum ke duanya mengembang masih saling bertatap mata.


"Terima Kasih, I love you so much. Darling." Zain mengecup kening Atha.


Atha menarik selimut tebal yang ada di bawah kaki. Menutup tubuh ke duanya yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya, dan di peluk erat oleh Zain, "Love you too."


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir Shobat


ini di sebelah, seru juga lo setiap hari up juga


mampir jangan lupa



Noah Devandra adalah pemuda sederhana yang hanya tinggal bersama ibunya. Memiliki kekasih sejak SMA Farissa Zainal yang cantik dan anggun. Rissa adalah putri seorang konglomerat pengusaha batu bara di kotanya.


Setelah lulus SMA Noah bekerja menjadi pelayanan mall. Sedangkan Rissa kuliah jurusan hukum. Saat Noah ulang tahun mereka melakukan kesalahan yaitu berhubungan terlarang.


Karena ingin bertanggung jawab, Noah bertekat melamar Rissa. Orang tua Rissa meminta mahar yang sangat besar sebagai syarat. Mereka juga menghina Noah karena dia hanya pelayanan mall.


Di hina anak haram dan miskin, Noah sakit hati dan bertekat menjadi orang sukses dengan merantau ke ibu kota. Satu bulan kemudian Rissa dinikahkan paksa dengan pemuda lain. Hanya sayangnya Rissa hamil dari hubungan terlarang dengan Noah dan suaminya menuntut ganti rugi uang mahar yang sudah dikeluarkan.


Lima tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dengan situasi yang berbeda. Bagaimana kisah cinta mereka, apakah mereka akan bersatu kembali?

__ADS_1


__ADS_2