
Neng kaget dan merasa miris, pikirannya melayang terbayang saat dia di nikahkan paksa saat baru selesai wisuda, "Apakah Esih juga di nikahkan secara paksa oleh Ayah?"
"Tidak Nona, Esih menikah atas kemauan sendiri, saat dia masih duduk di kelas sebelas SMA dia menikah siri dengan seorang duda dan diizinkan tetap sekolah sampai lulus. Setlah lulus dia memilih berpisah karena suaminya akan menikah lagi dengan gadis lain."
"Mengapa sekarang bisa menikah dengan Rangga Siregar?" tanya Alfarizi lagi.
"Rangga Siregar sengaja datang ke Bandung untuk mendekati Esih, kemungkinan ingin membalas dendam dengan Anda melalui Esih," jawab Junaidi ragu-ragu.
"Apa maksudnya balas dendam Aa?" tanya Neng.
"Begini Nona, Rangga Siregar selalu berhasil mendekati dan merayu wanita manapun, dia akan menggunakan berbagai cara agar incarannya berhasil, saat dia mendekati Anda dan tidak berhasil, dia menyelidiki dan mencari ayah Anda sampai Badung."
"Apakah Ayah Asep tahu kalau saya di sini, Aa?"
"Tidak Nona, Ayah Asep tidak mengetahui tentang rencana Ranagga Siregar, yang tahu hanya Esih dan Mak Kokom."
"Maksudnya?" taya Alfaiizi penasaran.
"Begini Tuan, awalnya keluarga Nona tidak mengetahui tentang berita pernikahan Anda, Rangga datang menemui Mak Kokom dan Esih bahwa Nona sudah sukses sekarang, Rangga berjanji akan menunjukkan tempat tinggal Nona setelah Esih bersedia menikah dengannya."
"Kalau sudah tahu mengapa Esih tidak langsung menemui aku, mengapa malah ingin bertemu Papi?"
"Rangga menjanjikan uang 3 M untuk Mak Kokom dan Esih jika bisa merebut Tuan Al dari Nona, akan menambah 2 M lagi jika Esih bisa menikah secara resmi dengan Anda, Tuan."
"Gila itu serangga, berarti serangga itu tetap masih ingin merebut istriku?"
"Ya Tuan, jika Anda sudah bisa di rebut oleh Esih, Rangga akan mendekati Nona lagi."
"Dari mana Aa tahu jika rencana ini Ayah Acep tidak tahu?"
"Sudah dua tahun yang lalu Ayah Asep dan Mak Kokom bercerai, sekarang ini tidak ada yang tahu keberadaan Ayah Asep. Mak Kokom hidupnya pas-pasan hanya mengandalkan uang kiriman dari Rangga Siregar setiap bulannya untuk kebutuhan sehari-hari. dan satu lagi Mak Kokom pernah jatuh dari motor dn kakinya sudah tidak normal lagi sehingga tidak bisa bekerja."
__ADS_1
Neng mengambil napas panjang dari dulu tidak ingin bertemu dengan ayahnya sendiri. Sekarang ada rasa iba di hati setelah mendengar cerita dari Junaidi. Dia jadi teringat saat sendiri keluar dari kampung untuk mengadu nasib ke kota tanpa ada tujuan pasti.
Neng teringat saat Ayah Asep memiliki uang 2 M, beliau terlihat bahagia. Menikah dengan orang kota, rumah dekat villa dijual pindah ke Bandung. Mengapa sekarang hidup istrinya pas-pasan lagi apa yang sebenarnya terjadi gumamnya dalam hati.
"Mami ...mengapa melamun, apa yang Mami pikirkan?"
"Tidak ada Papi, Mami masih bingung saja."
"Apa yang membuat kamu bingung, Neng. Semua perbuatan akan mendapatkan konsekwensi masing-masing kecuali orang bertaubat dan menyesali perbuatannya, ingat hanya Allah yang maha pengampun dan maha sempurna." Lilis menasehati dengan bijak.
"Iya Lilis... terima kasih."
"Jun kamu tahu, Esih dan Rangga menikah siri atau menikah resmi?"
"Mereka menikah secara siri Tuan, Esih sendiri yang menolak menikah resmi."
"Begini saja Aa, sekarang ini Rangga pasti akan di penjara dalam waktu lama, tolong temui Esih, ancam saja dia akan di jebloskan ke penjara juga kalau tidak pulang ke Bandung, dengan tuduhan ikut membantu kejahatan suami sirinya. berikan dia uang untuk modal dagang, jangan bilang uangnya dari aku, bilang saja uang ini dari keluarga istrinya Rangga yang telah di bunuhnya!" perintah Neng.
"Siap Tuan."
"Iiih Papi tidak ada pasalnya bertemu Al di tanggap polisi, palingan kalau ketemu Papi, dia dapat sisa nasi padang lagi kayak kemarin,"
"Sisa nasi padang, apa itu Nona?" tanya Junaidi.
"Papi pernah bertemu dengan Esih sekali, dia menabrak Papi dengan sengaja kemudian memeluk Papi, eee Papi muntah di badan Esih, muntahannya nasi padang yang baru Papi makan," cerita Neng sambil tertawa diikuti oleh Junaidi dan Lilis.
Dua hari berlalu Alfarizi hanya memantau perkembangan kasus Rangga Siregar, Dokter Mario dan Esih Suprihatin. Mendapatkan laporan dari Junaidi jika Esih pulang ke Bandung karena ketakutan dua hari berturut-turut di panggil polisi sebagai saksi. Esih menemui Rangga di rumah sakit meminta cerai dan pulang ke Bandung dengan membawa uang yang di berikan Neng padanya.
Hari ini Alfarizi mendapatkan kabar baik dari mantan ibu mertuanya bahwa Marta sudah sadar dari komanya. Ibu juga bercerita ternyata Dokter Mario mempunyai dendam tersendiri dengan Alfarizi karena sering di bandingkan oleh Sinta. Sinta selalu mengatakan peyesalannya menikah dengan Mario.
Dulu setiap bulan Sinta selalu diberikan uang belanja dengan jumlah yang fantastis dari Alfarizi. Tetapi setelah menikah dengan Mario, setiap bulan Mario selalu meminta uang kepada Sinta untuk berjudi. Yang terakhir Dokter Mario menggelapkan uang perusahaan konfeksi milik orang tua Sinta juga untuk berjudi.
__ADS_1
Dokter Mario di usir dari rumah Sinta karena menggadaikan serifikat rumah satu-satunya yang mereka miliki sekarang. Dengan terpaksa hamil tua Sinta tetap bekerja sebagai pengajar sekolah modeling untuk membayar hutang judi suaminya.
Selesai mendapatkan cerita dari mantan ibu mertua datang Surya menghadap ingin melaporkan tentang Dokter Mario dan Rangga Siregar, "Tuan, permisi."
"Ada apa Surya?"
"Saya mendapatkan berita dari rumaah sakit."
"Katakan apa yang terjadi dengan mereka?"
Surya bercerita bahwa Rangga Siregar berhasil melewati masa kritisnya dan operasi berjalan lancar. Setelah sadar Rangga hanya termenung dan termenung, terancam di hukum seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya. Istri sirinya meminta cerai dan kembali ke Bandung. Di tuntut harta gono-gini oleh orang tua dari istri yang telah di bunuhya.
Beda lagi dengan Dokter Mario, setelah tersadar kakinya di amputasi, istri dan calon bayinya meninggal dunia. Dia sering tertawa sendiri di kamar rawat inap. Terkadang dia menangis saat mengingat dan menyebut nama Marta putrinya. Sering turun dari tempat tidur ngesot berteria-teriak ingin bertemu dengan Marta putrinya.
"Apakah dia tidak tahu jika Marta sekarang ada di Australia dan sekarang sudah sadar dari komanya?" tanya Alfarizi setelah Surya selesai bercerita.
"Tidaak Tuan, dia mengira Nyonya Sinta, Marta dan calon bayinya tewas dalam kecelakaan itu."
"Siapa yang menjaga Mario dan Rangga di rumah sakit?"
"Mereka di jaga oleh polisi, bahkan agar Dokter Mario tidak sering turun dari tempat tidur tangannya di borgol dengan branker tempat tidur."
"Apakah keluarga mereka tidak ada yang menjenguknya?"
"Mereka dibatasi waktunya, dan satu lagi Tuan, besok pagi Dokter Mario akan di pindahkan ke rumah sakit jiwa."
BERSAMBUNG
******
Promo novel teman yang rekomen ya shobat
__ADS_1