Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Mual Lagi


__ADS_3

"Bau serangga Mami...!"


"Papi mengapa muntahnya kearah situ?"


Kembali Alfarizi mengeluarkan menu nasi padang yang ada di dalam perutnya tanpa sisa, "Huueeek ... huueek!"


Muntah Alarizi kembali mengnai badan wanita muda itu. wanita muda itu sampai memundurkan badannya, menutup mulutnya sambil kakihya melompat lompat sambil berteriak, "Aaaah, Abang ganteng mengapa muntah di gaun baruku, Teteh harus tanggung jawab ya?"


Neng mengerutkan keningnya mendengar Mama Putri memanggil dirinya Teteh dan memanggil suaminya Abang Ganteng. Jika mendengar dari logat dan cara bicaranya dia berasal dari jawa barat. Dan jika di lihat cara berpakaian dan wajahnya dia baru berumur 19 tahun baru lulus sekolah menengah atas.


"Maafkan suami saya Teteh, sekali lagi maaf." Neng membantu membersihkan badan wanita itu menggunakan sapu tangannya yang diambil dari kantong sakunya.


"Sudah tidak usah Teteh, saya mau ke kamar mandi saja." Dia langsung pergi meninggalkan Neng dan Alfarizi.


Alfarizi berjalan menjauhi wanita muda itu menempel di tubuh Neng membelakanginya sambil memegangi perutnya. Setelah dia berjalan ke kamar mandi Alfarizi mulai berbalik badan.


"Papi, apakah masih mual?"


"Tidak Mami, sudah berkurang tadi perut Papi seperti diaduk, siapa wanita ganjen itu tadi, Mami?"


"Dia Mamanya Putri, kemarin waktu Mami dan Alfian mau berangkat menyusul Papi ke Riyadh dia datang ke rumah."


"Mami menemui dia?"


"Tidak, Ibu Ani yang menemuinya."


"Ngapain dia ke rumah, Mi?"


"Ibu Ani bercerita Putri mengembalikan buku milik Al yang tertinggal di sekolah."


Alfian keluar kelas pertama diantara teman-temannya. Dia langsung berlari menghampiri ke dua orang tuanya, "Mami ... Papi."


"Ayo langsung pulang saja!" Alfarizi langsung melenggang berjalan terburu-buru menuju mobilnya.


Neng dan Alfian menyusul Alfarizi ke mobilnya yang berada di parkiran depan sekolah luar pagar pinggir jalan. Neng sesekali melihat ke belakang tepatnya arah kamar mandi. Mencari sosok wanita muda yang tadi terkena muntahan Alfarizi.


"Mami mencari siapa sih dari tadi menengok ke belakang?"


"Itu Nak, Mama Putri."

__ADS_1


"Mami sudah bertemu dengan Mama Putri?"


"Iya tadi barusan."


"Di mana sekarang orangnya Mi, kok tidak kelihatan?"


"Lagi ke mamar mandi, ayo naik Al!"


Alfarizi yang mulai merasa mual lagi saat mendengar istri dan putranya membicarakan wanita muda itu langsung menyahut, "Sudah jangan membicarakan orang terus, perut Papi mual lagi nich!"


"Papi sakit, seharusnya tidak usah jemput Al istirahat di rumah saja?"


"Papi baik-baik saja tidak usah khawatir, Al."


Alfarizi tidak kembali ke kantor setelah mengantar Alfian dan Neng, padahal pekerjaan menumpuk segunung. Memerintahkan Surya untuk mengantar berkasnya ke rumah akan di kerjakan di rumah saja. Memilih bekerja dari rumah sambil bisa modusin istrinya saat sewaktu-waktu senjata onta arabnya minta bergoyang.


Hingga menjelang makan malam Alfarizi berada di ruang kerja dari makan bakso, mandi bahkan sempat sekali bergoyang dengan onta arab bersama Neng juga di ruang itu saja. Keluar dari ruang kerja saat makan malam bersama dengan Alfian dan Ibu Ani. Sore tadi dia reques nasi lauk opor ayam, sambal terasi dan kerupuk makanan favorit seperti biasa.


Sebelum memulai makan Alfarizi bertanya kepada Ibu Ani tentang SIM yang akan di buat oleh Doni, "Bagaimana SIM Bang Doni Bu, apakah sudah selesai?"


"Belum Nak, Doni masih mengurus surat pindah domisili terlebih dahulu."


"Rencana mau memakai alamat rumah sini, Bolehkan Nak?"


"Tentu Bu, tidak masalah, kalau perlu apa-apa jangan sungkan ngomong aja ya Bu!" jawab Alfaarizi dengan tegas.


"Tentu Nak, terima kasih."


Neng mengambil piring Alfarizi mengisi nasi, "Papi mau opor ayamnya berapa potong?"


"Dua potong seperti biasa."


"Silahkan Papi!"


Neng meletakkan menu nasi opor ayam di depan Alfarizi. Alfarizi langsung menutup mulutnya karena bau opor ayam perutnya merasa mual seperti diaduk dengan cepat, "Hhhmm Mami, Papi mual lagi jauhkan opor ayamnya Papi tidak jadi makan!"


"Papi kenapa dari tadi siang mual terus, apakah Papi masuk angin, Mami ambilkan minyak gosok ya?"


Sambil terus menutup mulutnya tangan Alfarizi memberi kode dengan melampaikan tangan. Berdiri dan berlari menuju wastafel yang berada di samping kompor memuntahkan bakso yang dimakannya tadi sore. Neng berlari mendekati suaminya dan memijit tengkuknya dengan lembut.

__ADS_1


"Papi kecapean ini, seharian tidak istirahat sama sekali."


Alfian membawakan air putih hangat yang diambilkan oleh Ibu Ani, "Ini Papi minum air hangat biar tidak mual kata Nenek!"


"Terima kasih Al." Alfarizi langsung menghabiskan air hangat dalam satu tegukan.


"Ayo kita duduk lagi, tapi jauhkan opor ayamnya, Papi tidak ingin makan itu lagi!"


"Ok ayo Al, kita makan sekarang!"


"Iya Mami."


Ibu Ani hanya memperhatikan tingkah Alfarizi yang aneh. Memperhatikan Neng yang khawatir melihat suaminya muntah. Dia juga melihat Alfian yang memberikan perhatian lebih kepada papinya.


Selain opor ayam ada menu Cah kangkung dan udang bumbu saus padang. Alfarizi yang biasa tidak suka cah kangkung jadi bersemangat ingin memakannya, "Mami, Papi makan pakai cah kangkung dan udang saja!"


Alfian hampir tidak percaya karena papinya mau makan sayuran itu, biasanya dia memilih yang lain selain sayur kesukaan maminya, "Papi yakin mau makan cah kangkung sayur kesukaan Mami?"


"Iya Al, Papi lagi pingin makan makanan kesukaan Mami."


"Baiklah, sini Mami ambilkan nasi dan cah kangkung, pakai udang saus padang juga, Pi?"


"Iya ...."


Hanya Alflian dan Ibu Ani yang makan nasi dan opor ayamnya. Alfarizi dan Neng makan menu cah kangkung dan udang saus padang dengan lahap.


Ibu Ani menjadi heran tentang perubahan sikap Alfarizi yang tiba-tiba aneh. Belum berani mengutarakan apa yang di lihatnya hanya diperhatikan saja. Kecurigaannya hanya dipendamnya dalam hati, berniat akan melihat perkembangan dua atau tiga hari kedepan.


Keesokan harinya seperti biasa Alfarizi saja yang mengantar Alfian sekolah. Alfarizi menggandeng putranya sampai dalam kelas. Kebetulan bersamaan datang Putri dan mamanya menyusul Alfarizi dengan cepat.


Alfarizi melihat orang yang sama seperti kemarin langsung menutup mulutnya. Jarak mereka masih sekitar tiga meter yang awalnya Mama Putri tersenyum manis. Akhirnya cemberut dan menghentikan langkahnya trauma takut terkena muntahnya lagi.


"Al, Papi tinggal ya, Nak."


"Ya Papi hati-hati!"


Alharizi berjalan setelah balik badan, kembali melihat Mama Putri yang tidak jauh darinya membuat perutnya mual kembali. Bergegas dia meninggalkan kelas dengan langkah panjang sambil menutup mulutnya. Mama Putri yang memasang senyum termanisnya jadi menghentakkan ke dua kakinya seperti anak kecil.


"Aaah, Emak bagaimana aku bisa mendekati dia, setiap dia melihat aku dia malah mau muntah padahal aku sudah memakai parfum terbaik dan paling mahal?"

__ADS_1


__ADS_2