Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tuntutan Cek Kokom


__ADS_3

Wajah cemas di tunjukkan oleh Neng, Encang Ginanjar dan Alfarizi setelah mendapat kiriman rekaman vedio dari Roy. Menduga Ayah Asep mendapatkan panggilan dari mantan istri atau anak tirinya. Tidak berpikir jika di penjara hanya waktu tertentu saja para tahanan bisa menghubungi keluarga.


"Apa yang harus kita lakukan agar laki-laki gemblung itu tidak bertemu dengan wanita ular, Al?" tanya Encang Ginanjar.


"Tunggu dulu, Cang. Ayah akan pergi ke mana?"


Surya tersenyum mendengar Encang Ginanjar menjuluki mantan suami istri dengan nama yang unik. Surya masih berkonsentrasi berkomunikasi dengan Roy menggunakan pesan WA. Hanya dalam waktu sepuluh menit Roy mengirim vedio kembali.


Dalam rekaman vedio itu Ayah Asep menjalankan angkotnya menuju rumah sakit swasta yang ada di Bogor. Roy di turunkan di depan rumah sakit dan tidak di pungut ongkos angkot. Ayah Asep mempersilahkan Roy melanjutkan perjalanan dengan angkot lain karena ada keperluan mendadak.


"Tunggu Tuan, Ayah Asep menuju rumah sakit yang ada di Bogor. berarti telepon tadi bukan dari mantan istrinya yang saat ini ada di penjara, rekaman vedio saya kirim ke Anda," kata Surya sambil mengirim rekaman itu ke Alfarizi.


"Syukurlah, Ayah tidak menuju ke sini!" Neng mengusap dadanya merasa lega.


Dalam laporan Roy, Ayah Asep menyusul teman sesama sopir yang menjenguk sopir yang sedang melakukan operasi hernia. Para sopir memberikan sumbangan tambahan dana yang di kumpulkan dari sopir angkot. Ayah Asep di minta menyerahkan sumbangan itu karena dia yang paling di segani oleh sesama sopir.


Sampai hari Minggu sore Surya terus memantau keberadaan anak buah yang berada di Bogor. Selalu di laporkan setiap ada perkembangan yang penting kepada Alfarizi dan Encang Ginanjar. Tentang Ayah Asep yang kemungkinan belum mengetahui jika mantan istrinya yang di tahan di kantor polisi.


Hari Minggu malam Alfarizi memutuskan untuk pulang ke Bekasi. Alfian Senin harus sekolah, Neng ada janji bertemu dengan pasangan muda yang akan memesan gaun pengantin. Kasus tentang mantan istri Ayah Asep akan di serahkan kepada pengacara.


Tiba di Bekasi pukul sepuluh malam, mereka langsung beristirahat di kamar masing-masing. Neng memberikan ASI terlebih dahulu pada Elfa baru beristirahat seteah Elfa terlelap. Alfarizi masih fokus pada ponselnya saat Neng masuk kamar, dia langsung menuju kamar mandi tanpa menyapanya.


"Mami, mau ke mana?"


"Pasar," jawab Neng asal.


"Eeee galak banget sih?"

__ADS_1


"Lagian sudah tahu kearah kamar mandi, malah tanya."


Alfarizi meletakkan ponselnya di samping bantal. Turun dari tempat tidur dan mengikuti Neng yang akan masuk kamar mandi, "Papi ngapain ngikuti Mami?"


"Mau menemani Mami ke kamar mandi."


"Mulai modus ya. Mami tidak minta di temani, sana Papi kembali saja!"


Alfarizi tersenyum simpul karena istrinya jutek. Mengira dia masih marah gara-gara semalam, Maka itulah Alfarizi berusaha untuk merayu dengan keras. Sambil cemberut pura-pura sedih, "Mami masih menghukum Papi ya, mengapa jutek banget sih?"


"Eleeh-eleeh, mukanya jadi jelek kalau cemberut." Neng mencubit ke dua pipi Alfarizi dengan gemas.


"Iiih Mami, lebih baik Mami cubit, pukul juga boleh asal jangan di hukum, please!" Kembali Alfarizi memohon.


Neng hanya tersenyum meraih punggung tangannya dan di ciumnya berkali-kali, "Mami tidak marah, cuma kesel saja sedikit. sudah di cabut hukumannya, senang sekarang?"


"Papi lebay dasar raja drama, sudah aah Mami mau ke kamar mandi."


Alfarizi tersenyum dan berbalik badan kembai ke tempat tidur merebahkan tubuhnya. Kembali memeriksa ponsel untuk melihat laporan dari Surya atau Junaidi. Waktu sudah malam sehingga sudah tidak ada lagi laporan dari mereka.


Neng datang sudah dengan mememakai baju tidur panjang tanpa lengan. Duduk di kursi meja rias untuk membersihkan wajahnya dan memakai krim malam seperti biasa. Alfarizi memandang Neng tanpa berkedip pada setiap gerakan Neng.


"Ada apa lagi, Papi. Melihat Mami sampai segitunya?"


"Tidak apa-apa, Papi hanya sedang mengagumi kecantikan istri Papi yang sangat sempurna saat tidak memakai make-up."


"Gombal, dari tadi mau apa sih Pi, merayu terus?"

__ADS_1


"Coba Mami lihat sini, dari tadi pagi dia hanya tidur sebentar, asal lihat Mami bangun lagi. Apalagi melihat Mami sedang membersihkan wajah dia langsung on lagi!"


"Iya Papi tunggu sebentar lagi."


Malam ini Alfarizi kembali mengajak Neng bergoyang. Senjata onta arabnya terpuaskan bermain dua ronde. Tanpa di ganggu oleh tangisan Elfa.


Hari Senin pagi ini Neng dan Alfarizi melakukan pekerjaan seperti biasa. Hanya setiap satu jam sekali mendapatkan notivikasi laporan dari Roy tentang perkembangan kegiatan Ayah Asep. Sampai jam istirahat tiba Roy mengabarkan Ayah Asep melakukan kegiatan seperti biasa tidak ada kegiatan yang mencolok.


Laporan dari pengacara hari ini mulai melakukan laporan dan tuntutan terhadap empat orang yang kemarin malam membuat keributan di depan rumah Neng. Pengacara bercerita bahwa Cek Kokom selalu berteriak kepada petugas untuk di lepaskan. Setelah pengacara menemui Cek Kokom dia baru tidak berani lagi berteriak karena di ancam akan lebih berat lagi hukumannya.


Setelah istirahat Encang Ginanjar mengutus salah satu temannya untuk berkujung menemui Cek Kokom untuk membeli rumah yang ada di dekat rumah Neng. Menawarkan dengan harga dua kali lipat dari pembelian awal. Dengan cepat Cek Kokom menyetujui harga yang di tawarkan dan menjual rumahnya.


Hanya dalam setengah hari rumah milik Cek Kokom sudah perpindah tangan menjadi milik Encang Ginanjar. Bahkan tanpa sepengetahuan Cek Kokom jika yang membeli rumahnya adalah kakak iparnya sendiri. Setelah tanda tangan notaris uang langsung di transfer ke rekening milik Cek Kokom.


Sebenarnya tuntutah hukuman untuk Cek Kokom tidak terlalu berat. Tujuan Alfarizi dan Encang Ginanjar hanya ingin menggertak dan membuat jera. Untuk sementara akan di biarkan sekitar satu atau dua minggu di penjara.


Setelah satu minggu berlalu pengacara Alfarizi menemui Cek Kokom. Menawarkan solusi agar Alfarizi menarik tuntutannya. Pengacara mengajukan syarat yang harus di setujui olehnya agar bisa bebas.


Tanpa di duga Cek Kokom juga mengajukan tuntutan kepada pengacara Alfarizi. Dia meminta untuk bisa menghubungi Ayah Asep sebelum menyetujui persyaratan yang akan diajukan. Pengacara meminta waktu dua hari untuk membicarakan dengan Alfarizi.


Surya yang mendapatkan laporan dari pengacara langsung melaporkan kepada Alfarizi, "Tuan, laporan dari pengacara sudah saya kirim melalui email Anda, silahkan di baca dulu!"


Alfarizi langsung membuka membuka email dari Surya. Setelah membaca tuntutan dari Cek Kokom, Alfarizi menjadi emosi dan kesal, "Memang benar apa yang di katakan Encang Ginanjar, mantan istri Ayah Asep memang wanita ular. Surya hubungi Encang Ginanjar sekarang, kita meeting online saja!"


"Siap Tuan, laksanakan."


Jangan lupa mampir juga ya novel baru milik author di sebelah. Trims

__ADS_1



__ADS_2