Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
kenalan Yok!


__ADS_3

Sore itu juga Julio Said pergi ke villa dengan menggunakan motor gedenya. Berharap bisa menemukan ayah mertua dari bosnya dalam waktu singkat. Dengan tekat, semangat dan kerja keras semoga semua akan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar tanpa halangan.


Semua tamu perpamitan pulang saat waktu mulai senja dan matahari mulai ke peraduan. Bertepatan suara notifikasi ponsel Alfian berdering mengagetkan Alfian yang melamun. Bergegas membuka pesan WA yang ternyata dari Oma Anna.


"Abang di mana?, Oma dan Opa pergi ke Bekasi, mungkin akan menginap di rumah Auntie Isya selama dua hari." Tulisan pesan dari Umi Anna.


Alfian tersenyum mengembang setelah membaca pesan WA dari omanya. Dari tadi dia melamun memikirkan bagaimana cara meminta izin dan berpamitan tidak bisa pulang malam ini. Dia tidak ingin berbohong kepada orang tua, tetapi sekarang masalahnya teratasi dengan adanya kedua oma dan opanya pergi ke Bekasi.


Dari tadi setelah akad nikah, Alfian masih belum beranjak dari tempat sofa yang di duduki. Abah dan Rania sudah mandi dan membersihkan diri dari tadi. Alfian masih termenung menyusun strategi dan langkah selanjutnya untuk bisa mengajak istri dan kakek untuk bertemu mami dan papi.


Abah ikut duduk di depan Alfian, "Mandi dulu Bang, masuk aja kamar Neng Rania di sebelah sana!" perintah Abah sambil menunjuk kamar yang ada di samping ruang keluarga.


"Sebentar Kek, baju Abang masih ada di mobil."


Rania yang baru keluar dari kamar mendengar perbincangan mereka, tangannya langsung menengadah mendekati Alfian, "Mana kunci mobilnya, Rani yang ambil koper Tuan!"


"Iiis mengapa memanggil dengan sebutan itu terus, ini kuncinya ... kopernya ada di sampin kemudi." Alfian mengerucutkan bibirnya karena Rania belum bisa merubah kebiasaan cara memanggilnya.


"Ha ... ha ... ha ... jangan panggil tuan dong Neng, panggil Abang Al biar terlihat romantis!" Abah tertawa lepas dengan keluguan Rania.


"Abah ini, Rani sudah terbiasa memangginya Tuan, susah kalau harus menggantinya." Bibir Rania ikut monyong seperti Alfian dan berlalu keluar rumah.


Abah jadi teringat saat dulu ketika bertemu dengan Papi Alfarizi pertama kali. Abah ingat betul walaupun beliau sudah menjadi menantunya tetapi harus tetap memanggil tuan. Demikian pula dengan putrinya walauapun sudah menjadi istri, putrinya harus memanggil dengan sebutan tuan.


Sampai Rania kembali dari halaman rumah dan masuk kembali. Abah masih termenung dan melamun mengingat masa lalu. Rania memandang wajah dua laki-laki beda generasi yang sama-sama sedang termenung.


"Abah ... ada apa melamun?"


Abah tersentak kaget karena panggilan Rania, Alfian juga terbangun dari lamunannya. Keduanya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Rania, "Eee mengapa tidak ada yang menjawab, sudahlah ayo Tuan silahkan mandi dulu, Rani akan menyiapkan makan malam!"


Tanpa sadar Rania mengulurkan tangannya mengajak Alfian masuk kamar. Alfian hanya tersenyum di gandeng Rania dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan menarik koper kecil. Sampai di kamar Rania baru tersadar telah menggangandeng Alfian dan melepaskannya dengan cepat.


"Maaf Tuan, Rani tidak sengaja."


"Mengapa tidak sengaja?" tanya Alfian cepat.

__ADS_1


"Karena setiap malam itu yang Rani lakukan saat Tuan Halu pulang kerja tapi hanya dalam khayalan."


"Ha ha ha jadi dalam khayalan Rani, setelah pulang kerja Rani selalu melayani suami yang akan mandi. Di mandikan sekalian tidak?"


"Sudah besar mandi sendiri dong, sana masuk kamar mandi. Rani persiapkan bajunya di tempat tidur!"


Rani mengangkat koper milik Alfian di tempat tidur berniat membuka koper. Alfian langsung memeluknya dari belakang membuat Rani kaget dan salah tingkah, "Apakah tidak pernah membayangkan kita mandi berdua?"


"Tidak ... Rani takut sama kurma jumbo, Tuan."


"Kenalaan dulu yok?"


"Ogah, Rani takut."


"Kurma jumbo Abang sudah jinak lo!"


"Awas Rani masak dulu ...."


"Ha ha ha!"


Alfian masuk kamar mandi sambil tersenyum, rasanya seperti mimpi sekarang sudah memiliki istri. Istri yang masih di rahasiakan dari keluarga ataupun sahabatnya sendiri. Masih merencanakan strategi yang akan di ambil untuk bisa menyatukan mami dan ayah kandungnya.


Alfian kaget setelah masuk di kamar mandi Rania yang berukuran kecil. Haya ada shower dan ember kecil selain WC jongkok yang terletak di ujung kamar mandi. Terlihat sederhana tetapi bersih dan wangi dari pengharum ruangan beraroma vanilla.


Sambil membersihkan diri, Alfian jadi teringat Mami Mitha, pengharum beraroma vanilla adalah salah satu pengharum kesuakaan mami. Ternyata tidak hanya pendirian dan kesederhanaan saja yang hampir sama antara Mami Mitha dan Rania. Sampai selera pengharum kamar mandipun ke duanya juga memiliki kesamaan.


Keluar kamar mandi Alfian hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja. Handuk miliknya masih ada di koper lupa diambil saat masuk kamar mandi tadi. Dengan terpaksa Alfian memakai handuk milik Rania yang berwarna pink.


Untung tidak ada yang melihat saat dia keluar kamar mandi. Rania sudah menyiapkan satu setel baju yang di letakkan di atas tempat tidur. Memakai baju dan meketakkan handuk warna pink di tempat tidur begitu saja, dan bergegas keluar kamar.


Sampai di ruang keluarga, Alfian kaget dan khawatir melihat Abah tergugu di samping Rania. Rania hanya mengusap pundak Abah agar bisa tenang dan mengendalikan diri, "Sabar Abah ... sabar," kata Rania.


"Rani ... mengapa Kakek menangis?"


"Abah baru saja bercerita tentang putri kandungnya."

__ADS_1


"Kakek bercerita tentang Mami, apakah Rani selama ini tidak tahu tentang putri kandung Kakek?"


"Tidak Tuan, Abah selalu menyembunyikan masa lalunya rapat-rapat."


Alfian langsung duduk bersimpuh di hadapan Abah. tangannya di letakkan di pangkuan Abah, "Kakek, Mami sudah lama memaafkan Kakek, Abang berharap kita bisa berkumpul seperti layaknya keluarga yang saling menyayangi."


Abah hanya mengangguk sambil mengusap air matanya. Rasa lega kini yang ada di dalam hati setelah mendengar ucapan cucu kandungnya. Kini saatnya memperbaiki diri dan mengubah pendirian yang selama ini selalu menghantui pikiran.


"Abah, jagan menangis lagi. Rani sayang sama Abah, Rani tidak punya siapapun kecuali Abah."


"Eee sembarangan kalau ngomong, Abang ini siapa Rani?" tanya Alfian degan cepaat.


"Suami Halu Rani ...."


"Pletak ...!" Alfian menyentil jidat Raria dengan keras.


"Aaauw ... sakit Tuan!" teriak Raia sambil mengusap jidatnya yang merah.


"Makanya kalau jawab jangan sembarangan, apa Rani lupa dua jam yang lalu kita sudah menikah?"


"Ooo iya maaf."


"Apa sekarang rencana Abang?" tanya Abah.


Alfian tersenyum dan duduk di antara Rania dan Abah. Mulai merencanakan langkah yang akan di lakukan dalam waktu dekat, "Apakah Kakek sudah siap bertemu Mami, berkunjung ke rumah Mami bersama Abang?"


Rani kaget sambil mengerutkan keningnya merasa sedih mendengar ucapan Alfian, "Apakah Rani tidak boleh ikut, menagapa hanya Abah yang di ajak?"


"Eee ...?"


BERSAMGUNG


Kali ini author promo dengan nivel sendiri ya yang asa di fizzo, jangan lupa mampir. Siapactahu beruntung mendapatkan give away.


__ADS_1


__ADS_2