Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pulang


__ADS_3

"Aku tidak mau pesan helikopter, nanti bikin heboh orang kampung, jangan juga pesan tiket dulu," kata Neng sambil mengambil napas panjang.


"Terus mau naik apa?"


"Nanti malam hari terakhir kirim doa yaitu hari ke tujuh baca doa untuk Mbah Kakung, aku tidak mungkin meninggalkannya."


"Kenapa tidak bisa di tinggal, Neng Geulis?"


"Hari ini aku mau beli kambing untuk di masak buat acara kirim doa, Mbah Kakung sudah berpesan sebelum meninggal aku akan selalu mengirim doa ubtuk beliau."


"Jadi kapan kita pulang?"


"Mungkin lusa."


"Baiklah, apakah boleh aku saja yang membeli kambing?"


"Tidak usah, Tuan; itu kewajiban aku bukan kewajiban Anda."


"Jadi kewajiban aku hanya kamu dan Alfian?"


Neng terdiam dan mengerucutkan bibirnya. Terjebak lagi karena ucapannya sendiri. Menjadi salah tingkah karena dia selalu berhasil membuatnya gugup dan hati yang tidak menentu.


"Dari kemarin kan sudah bilang jangan panggil Tuan, apakah menurutmu aku belum berubah?"


"Maaf, sudah kebiasaan!"


"Ayolah please ...!"


"Manggil apa aku bungung, panggil Papinya Al saja!"


"Baiklah, tapi kalau bisa tidak usah pakai nya, lebih gimana gitu rasanya di hati."


"Idih ngarep, aku mau tidur dulu."


"Ya beistirahatlah, semoga mimpi indah!"


Dan Alfarizi meneruskan ucapannya dalam hati, "Mimpi indahnya besamaku, bukan dengan serangga yang susah di basmi itu."


Pagi harinya Neng meminta Pakde Sarto untuk membeli kambing di Pasar Hewan. Kambing jantan dewasa yang di beli diangkut menggunkan mobil pick-up yang disewanya dari pasar. Di potong dan di masak oleh ibu-ibu dengan gotong royong dan di hidangkan dalam hari ke tujuh untuk mengirim doa Mbah Kakung.

__ADS_1


Sesaat sebelum acara doa di mulai Desi menghubungi Neng, mengabarkan setelah Desi menolak untuk membantu Rangga Siregar, dia kembali membuat ulah. Dia sengaja memposting sebuah foto seolah-olah dia sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang wajahnya di samarkan di sebuah kafe. Saat di perhatikan dengan seksama wanita itu seperti wajah Neng.


Desi mengirim postingan Rangga Siregar di ponsel Neng agar Neng melihat postingan itu. Dari sudut manapun melihatnya memang terlihat jelas bahwa yang duduk itu memang Neng. Membuat hati Neng menjadi gelisah tidak menentu.


Doa dimulai pukul tujuh malam Neng masih gelisah duduk di pojok ruang keluarga. Alfarizi hanya memperhatikan dari jauh sampai acara doa selesai. Setelah semua tetangga selesai menikmati hidangan dan berpamitan pulang, Alfarizi langsung mendekatinya, "Ada apa kamu gelisah begitu?"


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Neng menunjukkan postingan Rangga Siregar yang di kirim oleh Desi. Ibu Ani juga ikut bergabung dan melihat postingan itu dengan teliti. Mereka berdua juga yakin jika foto yang di postingan itu adalah Neng hasil editan.


Kemudian Alfarizi bercerita kepada Ibu Ani tentang dua kejadian kemarin tentang Rangga Siregar. Ibu Ani langsung memberikan saran dan analisa tentang peristiwa yang menyangkut Rangga Siregar, "Jika di biarkan dia akan semakin nekat, dia setiap hari akan berulah."


"Jadi bagaimana sebaiknya, Bu?" tanya Neng.


"Sudah saatnya kamu langsung menghadapinya, jangan menghindar terus, kamu harus tegas!" jawab Ibu Ani lagi.


"Kalau kamu tidak mau menghadapinya, aku saja yang akan melabraknnya dan menghajarnya kalau perlu!" ucap Alfarizi dengan hati kesal.


"Bagaimana jika kalian pulang sekarang?" usul Ibu Ani.


"Ibu tidak pulang?" tanya Neng dengan cepat dan khawatir.


"Ibu akan tinggal di sini sampai 40 hari, itu kalau Neng Mitha tidak keberatan."


"Jadi bagaimana kita pulang sekarang, Neng Geulis?"


"Baiklah aku mau pulang sekarang, apakah masih ada tiket malam ini?"


Alfian yang awalnya sedang asyik bermain game di ponselnya langsung berlari mendekati mami dan papinya, "Papi, apakah boleh Al naik helikopter seperti saat Papi menyusul ke sini?"


"Tentu Nak, tetapi tanya Mami juga, ok!"


"Mami pleasa, Al pingin naik helikopter seperti Papi kemarin, boleh ya?"


"Boleh Nak, sana packing dulu, nanti Mami nyusul!"


"Ya Mami love you, Papi love you to."


"Love you to, Al and Mami." jawab Al sambil tersenyum melirik Ibu Ani.


"Sudah aaah, Ibu mau panggil Marni dan Sarto dulu." Ibu Ani melenggang ke dapur berniat mengabari mereka jika anak angkatnya harus pulang sekarang karena ada urusan mendadak.

__ADS_1


Neng hanya diam menatap Ibu Ani yang berlalu sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sudah dua kali Akfarizi menyatakan cinta dalam satu minggu ini. Dia selalu saja bisa memanfaatkan situai yang ada untuk menyatakan perasaannya.


"Mengapa bengong, aku tidak minta jawaban sekarang kok tenang saja."


"Cepat urusin itu helikopter, malah ngomong yang tidak jelas, aku mau packing!" Neng langsung berbalik badan dengan wajah yang memerah karena malu.


"Tentu Neng Geulis, kamu cantik kalau sedang malu begitu." Sayangnya rayuan Alfarizi tidak di dengar Neng karena dia sudah jauh darinya.


Alfarizi langsung menghubungi Surya mengkoordinasi tentang helikopter yang akan di sewanya. Kurang dari satu jam Surya selesai memesan helikopter seperti yang di pesan kemarin. Halikopter sekarang ini posisinya ada di Surakarta, tidak sampai seperempat jam helikopter sudah stanbye.


Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga di kampung, sekarang ini Alfarizi, Neng dan Alfian bersiap-siap untuk naik helikopter yang lending di lapangan yang berada di pinggir kampung. Saat berangkat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih banyak tetangga yang sedang menyaksikan helikopter akan take off.


"Papiiii, keren Al suka!" teriak Alfian saat sudah duduk di kursi penumpang.


"Ini helikopternya hanya nyewa Al, nanti lain kali Papi beli sendiri, ok!"


"Di mana belinya, apakah di mall nya Papi ada yang jual?"


"Tidak ada dong, Nak; belinya di perusahaan yang memproduksi pesawat."


Alfarizi membantu Al memakai sabuk pengaman dan melirik Neng yang belum sempat memakai sabuk pengaman, "Neng Geulis, jangan lupa sabuk pengamannya, sini aku pasangin!" Alfarizi memasangkan sabuk pengaman sambil menatap wajah Neng dengan mesra.


Sesaat beradu pandang Neng lebih memilih mengalihkan pandangannya pada putranya yang sangat bahagia dan antusias bisa naik helikopter. Selalu saja salah tinggah jika Alfarizi mencuri kesempatan untuk merayunya.


Hanya satu jam perjalanan Ngawi Bekasi, langsung di antar menuju rumah Neng dari hanggar khusus milik perusahaan helikopternya menggunakan mobil mereka. Dalam perjalanan akhirnya Alfian tertidur pulas di pangkuan papinya. Sampai di rumah Alfarizi lagsung menggendong bridal Alfian menuju kamarnya di lantai atas.


Neng yang membukakan pintu kamar dan menyalakan lampu kamar. Alfarizi langsung di baringkan di tempat tidur, membuka sepatu, jam tangan dan menyelimutinya sampai leher. Neng keluar kamar Alfian untuk beristirahat di kamarnya sendiri, "Aku mau istirahat dulu." pamit Neng.


Alfarizi tersenyum dan mengangguk, saat Neng berjalan keluar kamar putranya, Alfarizi mengikutinya dari belakang, "Anda mau kemana?" tanya Neng.


"Tidur dong, emang mau ke mana lagi?" jawab Alfarizi tetap berjalan mengikuti Neng.


"Mangapa mengikuti aku?"


"Bukankah kita setiap hari tidur ber ...?" Alfarizi tidak melanjutkan ucapannya.


ada rekomendasi noveltoon yang sangat menarik untuk shobat


jangan lupa mampir ya

__ADS_1



__ADS_2