
Neng sedang makan siang di sebuah kafe dekat kampus bersama Rianti dan Desi, Datang mahasiswa yang yang dari kemarin selalu mermperhatikan Neng dari jauh. Dia datang tersenyum melambaikan tangannya sambil tebar pesona.
"Hai Ria, apakah aku boleh bergabung?" katanya sambil melirik Neng yang sedang berkonsentrasi pada laptopnya.
"Silahkan saja asal jangan jangan tebar pesona, modusmu mudah dibaca!" jawab Rianti dangan suara jutek.
"Kamu ini, jangan su'uzon gitu dong, kenalin dong dengan gadis cantik yang bersamamu!"
"Naah betulkan dugaanku, Mitha, Desi kenalkan temanku satu jurusan namanya Reza Suherman," kata Ria dengan terpaksa mengenalkan temannya.
"Hai Mitha pekenalkan aku Reza,"
"Hai juga Kak," jawab Neng singkat.
Reza tidak menyapa Desi yang sedang duduk di samping Neng. Membuat Rianti mengerutkan keningnya dan mengambil napas panjang. Desi hanya memandang Reza dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.
"Mengapa kamu hanya menyapa Mitha?" tanya Rianti menatap tajam kepada Reza.
"Oya maaf, hai Desi apa kabar, boleh aku duduk di sebelahmu?" Reza menunjuk kursi kosong yang berada di samping Neng.
Desi hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun. Dia mengetahui jika Reza sangat tertarik kepada Neng. Memberikan ruang agar dia bisa mendekati Neng.
Dengan tersenyum mengembang Reza duduk di samping Neng. Tanpa ragu Reza duduk mepet hampir menempel pada tubuh Neng. Neng tersentak kaget menggeser tubuhnya kearah Desi.
"Eee maaf sengaja ha ha ha," kata Reza tanpa merasa bersalah.
Neng kembali berkonsentrasi ke laptopnya tanpa menjawab candaan receh Reza. Rianti hanya menahan tawa karena melihat Reza yang kecewa karena Neng tidak meresponnya. Desi juga ikut menutup mulutnya agar tidak terdengar suara tawanya.
"Kalian tega sih menertawakan aku," kata Reza sambil mengerucutkan bibirnya dan cemberut.
"Kalau modus sana sama cewek yang biasa kamu gombalin, jangan adikku!" jawab Rianti sambil tersenyum devill.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu memiliki adik yang kuliah di sini?" tanya Reza heran.
"Tidak usah kepo, kamu jangan macam-macam dengan dia, kalau kamu berani kamu akan berhadapan langsung denganku!" ancam Rianti dengan tegas.
Sejak saat itu Reza sering mendekati Neng, bahkan dia sering bertanya kepada Desi tentang Neng. Desi hanya bisa memberikan informasi yang sesuai dengan yang diketahui. Desi tidak pernah tahu latar belakang Neng selama mereka berteman.
Neng lebih sering menghindar saat Reza mendekatinya. Reza selalu mengajak berbincang atau mengajak hang-out Neng, tetapi dia sering menolaknya secara halus. Reza tidak pernah menyerah mendekati Neng walaupun selalu ditolak.
Saat Rianti berkunjung di konfeksi milik Neng bersama putranya Zain, Neng menceritakan tentang Reza yabg selalu berusaha mendekatinya. Melihat wajah Neng yang kesal, Rianti tertawa lebar. Rianti hanya mengerutkan keningnya karena tahu jika Neng masih belum bisa move on dengan Papinya Alfian.
"Cobalah buka hatimu sedikit, Mitha; apakah kamu belum bisa move on dari Papinya Al?" tanya Rianti.
"Aku belum berniat kearah sana, Kak; aku ingin konsentrasi kuliah sampai selesai,"
"Al sudah besar sekarang umurnya sudah satu tahun lebih, apakah kamu tidak ingin disayangi oleh orang yang spesial?"
"Aku sudah memiliki orang yang selalu menyayangiku Kak, termasuk Anda, itu sudah cukup bagiku,"
"Aaah sama saja Kak,"
"Yang pasti, cobalah buka hatimu sedikit saja, setidaknya berusahalah, ok!"
Neng mengangguk ragu, hatinya masih terasa ngilu saat mengingat Tuan Al. Neng masih ingin menikmati kesehariannya dan menjadi mahasiswi. Menikmati hari-hari bersama putra dan keluarga saja sudah merasa bersyukur.
Hari Sabtu tiba-tiba Desi menghuhungi Neng mengajaknya bertemu di kafe dengan alasan untuk bertanya tentang materi yang tidak di fahami. Selama berteman dengan Neng, Desi tidak pernah mengetahui tempat tinggal Neng. Neng selalu memiliki banyak alasan jika Desi ingin berkunjung ke rumahnya.
Sampai di kafe Neng kaget ternyata Desi duduk berdua dengan Reza. Mahasiswa yang selama ini tidak berhasil mendekatinya sekarang dia mencoba memdekati lewat sahabatnya Desi. Itulah sebabnya Neng belum berani cerita tentang latar belakangnya kepada Desi.
"Hai Mitha, silahkan duduk!" kata Reza sambil menarik kursi mempersilahkan Neng untuk duduk sok romantis kepadanya.
"Terima kasih Kak."
__ADS_1
Neng duduk di kursi sambil tersenyum walau agak kecewa karena ada Reza. Neng hanya berpikir positif tidak ingin mencurigai Desi telah bekerja sama dengan Reza untuk bisa bertemu, tetapi tiba-tiba Desi berdiri dari tempat duduknya.
"Mitha, maaf aku ijin ke kamar kecil sebentar ya," kata Desi langsung meninggalkan tempat tanpa memberikan kesempatan Neng untuk menjawab perkataannya.
Setelah Desi pergi dari sana, Reza menarik kursinya mendekati kursi Neng sambil teresenyum. Neng ingin berdiri karena merasa canggung dengan Reza yang seolah memperlakukan Neng seperti kekasihnya. Neng memundurkan badannya dengan cepat, tetapi Reza semakin berani dan langsung menggenggam tangan Neng.
"Mitha aku sangat menyukai kamu," Reza semakin erat menggenggam tangan Neng.
"Maaf Kak, tolong lepaskan tanganku!"
"Aku mohon Mitha, aku hanya ingin---!"
Mata Neng menatap tajam langsung ke mata Reza. Rasanya ingin memakinya saat itu juga. Mengingat saat ini berada di tempat umum Neng langsung mengibaskan tangannya dengan kasar.
"Tolong ya Kak, jaga batasan Anda!" kata Neng degan suara tegas.
Neng langsung meninggalkan tempat itu dengan emosi yang di tahannya. Tanpa merasa bersalah Reza langsung menarik tangan Neng dan memeluknya dari belakang. Tanpa di sadari Neng teringat kata Tuan Alfarizi yang selalu mengatakan, "Tidak seorangpun boleh menyentuhmu, ingat itu kamu hanya milikku"
Dengan spontan Neng mendorong tubuh Reza sekuat tenaga. Reza terjengkang sampai mendekati kursi. Reza mencoba bangkit dan kembali mendekati Neng, di mata Reza semua wanita pasti akan mudah dirayunya.
Ingatan Neng seolah terdoktrin dengan perkataan Tuan Afarizi. Neng hanya milik Tuan Alfarizi seorang bahkan Neng dengan spontan bisa mendorong orang yang memeluknya. Suara Tuan Alfarizi terus terngiang di telinganya.
Saat Reza kembali ingin meraih tangan Neng. Tubuh Neng mengeluarkan keringat dingin. Hati, pikiran dan tubuhnya seolah berperang antara perkataan Tuan Alfarizi dan kenyataan dia sudah lama tidak bersama suami sirinya itu.
"Jangan sentuh aku, aku hanya milik Tu---!" ucapan Neng tidak selesai karena Neng langsung lemas pingsan terbaring di lantai kafe.
Desi yang baru keluar dari kamar mandi langsung berlari mendekati Neng yang sudah terkulai lemas di lantai. Reza hanya terpaku jongkok di samping Neng. Para pengunjung kafe langsung riuh saat ada seorang gadis yang pingsan.
"Kak Reza, mengapa Mitha bisa pingsan, waduuuuh tubuhnya mengapa dingin begini?"
Reza hanya menggelengkan kepalanya masih merasa bingung. Dia hanya ingin mencoba merayu seorang gadis. Biasanya rayuan mautnya selalu berhasil. Reza merasa kena batunya sekarang ini.
__ADS_1
"Kak Reza cepat lakukan sesuatu, apakah kamu tidak ingat dengan ancaman Kak Ria?"