
"Bagaimana Bu, apakah Anda ingin menemui tamu itu?" tanya karyawan itu masih menunggu jawaban Neng.
"Mbak, tamu yang datang anaknya laki atau perempuan?"
"Laki-laki Bu, mungkin seumuran dengan Abang Alfian."
"Ooo suruh tunggu saja ya Mbak, setelah pasangan calon pengantin itu selesai fitting baju, aku akan menemuinya!"
"Baik Bu, saya permisi."
"Terima kasih Mbak."
Neng bernapas lega, setidaknya bukan Rangga Siregar yang akan bertemu dengannya. Neng hanya berpikir kemungkinan yang ingin bertemu asalah pelanggan yang akan memesan baju. Dia tidak merasa khawatir lagi dan merasa tenang tidak harus bertemu dengannya lagi.
Isya yang mendengar percakapan antara kakak ipar dan pegawainya jadi penasaran dengan tamunya. Mengedipkan mata dengan tunangannya Fano agar cepat berpamitan. Ingin mengetahui siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Kak Mitha, kami pamit pulang, satu minggu lagi kesini lagi."
"Ya terima kasih, salam buat Umi Anna."
Isya keluar dari kantor sambil berbisik kepada Fano, "Bang, coba ambil foto tamu laki-laki yang akan menemui Kak Mitha!"
"Buat apa, Honey?"
"Nanti kita kirim ke Bang Al, biar dia kebakaran jenggot karena cemburu."
"Jangan jadi kompor, entar meleduk ke muka sendiri!"
"Sudah jangan bawel, Abang tinggal ikut aja!"
Fano mengangguk dan pasrah ikut saja perintah tunangannya. Mengambil ponselnya bersiap-siap menjadi paparazi mengambil foto secara diam-diam. Fano langsung membuka kamera canggih yang tersedia di ponselnya.
Saat berjalan sampai di samping kasir ada seorang laki-laki yang umurnya seumuran dengan Surya duduk di sofa panjang. Duduk di sampingnya anak laki-laki seumuran dengan Alfian sambil bermain game di ponselnya. Penampilan mereka sederhana tetapi terlihat rapi dan bersih.
Tangan Fano menggambil gambar mereka yang sedang duduk berkali-kali walaaupun tanpa di lihat. "Honey, sudah aku ambil banyak fotonya, ayo cepat keluar, nanti kelihatan pada CCTV!"
"Ayo, kita lihat kalau sudah di luar butik saja."
Isya sudah keluar butik saat Neng menemui tamunya yang sedang duduk di sofa samping kasir. "Aa Jun, ada apa?"
__ADS_1
"Nona maaf, apakah aku mengganggu?"
"Tidak Aa, ayo kita masuk ke kantorku saja!"
"Tidak usah Nona, disini saja aku tidak lama."
"Mengapa Lilis tidak ikut?"
"Dia lembur, karena besok akan cuti selama dua hari."
"Aa ada perlu apa?"
"Ini Nona, undangan dari Bibi Minah, hari selasa besok cucu Bibi Minah menikah, kemarin aku di telepon beliau."
Neng menerima undangan dari Junaidi dengan tangan bergetar. Sudah lama tidak pernah bertemu dan mendengar ceritanya, rasanya merasa sangat bersalah. Neng membaca undangan pernikahan cucu dari Bib Minah alamatnya di Bogor, bukan kampung halamannya yang dulu.
"Aa, kok alamatnya di Bogor?"
"Ya Nona, Bibi Minah sekarang tinggal di Bogor setelah Paman Tono meninggal dunia."
"Innalilahi wa Inna Ilaihi rojiun, maafkan aku Bibi!" Neng meneteskan air matanya teringat pasangan suami istri yang dulu pernah bekerja di villa.
Neng bergegas menghapus air matanya saat Alfian datang dari luar setelah membeli es krim. "Mami, ayo kita pulang!"
"Nak, mana es krimnya, Julio dibagi ya!"
"Ya Mami, Julio mau rasa apa?"
"Yang coklat saja Bang, terima kasih."
Setelah Junaidi pamit pulang, Neng dan Alfian juga pulang ke rumah. Saat sudah mendekati rumahnya Neng menginjak rem mobilnya perlahan, memastikan tidak ada Rangga Siregar parkir di depan Konfeksi AA. Parkiran kosong tandanya tidak ada lahi orang yang di maksud, membuatnya lega dan pulang dengan hati yang tenang.
Malam ini Neng termenung dan melamun di kamarnya sendiri. Teringat perhatian dan kasih sayang pasangan suami istri yang selalu mendukungnya saat masih di villa. Paman Tono sudah meninggal dunia dan tidak sempat bertemu dengan beliau.
Sekarang ini rasa sesak mulai terasa kembali Neng rasakan, padahal beberapa bulan ini hati rasanya enteng tanpa beban. Menyesal mengapa tidak berusaha untuk mencari tahu kabar keluarga Bibi Minah. Setelah Paman Tono meninggal bekum sempat minta maaf atau bertemu sehingga membuatnya sedih dan menyesal.
Neng jadi teringat Ayah Asep, apa kabarnya beliau sekarang. Bertahun-tahun tidak pernah mendengar kabarnya dan tinggal di mana juga tidak tahu. Neng seperti menjadi anak yang tidak berbakti saat ini kepada Ayah Asep. Sekarang kehidupannya sudah mulai mapan tetapi tidak pernah mencari tahu bagaimana keadaan beliau saat ini.
Ketika teringat Ayah Asep hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri dan rela mengorbankan putrinya, Neng masih merasa sakit hati. Apalah daya Neng hanya manusia biasa yang jauh dari sempurna. Sakit hati yang tertanam dalam benaknya tidak pernah diceritakan kepada siapapun semakih hari semakin menggerogoti pikiranya yang rapuh. Membuatnya masih susah dan berat untuk melangkah mencari keberadaan Ayah Asep.
__ADS_1
Lamunan Neng sampai lebih tengah malam membuatnya susah untuk memejamkan mata. Setelah dia sujud di periga malam baru bisa memejamkan mata. Seolah baru memejamkan mata sejenak pagi sudah menjelang, ada cahaya matahari yang bersinar di sela jendela kaca.
"Mami, Al sudah siap berangkat sekolah!" kata Al masuk kamar Neng.
Neng belum bangun dari tidurnya, masih berada di balik selimut tebalnya. Mengerjapkan matanya perlahan saat mendengar suara pintu terbuka. "Nak, jam berapa sekarang?"
"Baru jam enam pagi, Al mau sarapan bareng Mami."
"Maaf Nak, kepala Mami pusing sekali."
"Mami sakit, mau Al pijitin Mami?"
"Tidak usah Nak, Al sarapan saja sama Nenek ya."
"Mami perlu apa, teh hangat, bubur?"
"Tidak usah Al, Mami mau tidur sebentar lagi, Al berangkat sekokah diantar Nenek ya, Nak!"
"Iya Mi, Mami istirahat saja."
Sedangkan Alfarizi pagi ini mendapatkan kabar dari Riyadh Arab Saudi bahwa Abi Ali Zulkarnain mengalami kecelakaan lalu lintas. Umi Anna, Isya dan Fano sudah dalam perjalanan ke bandara Sukarno Hatta. Alfarizi juga harus bergegas untuk menyusul ke bandara.
Diantar oleh Surya berangkat melewati rumah Neng bersamaan dengan Alfian dan Ibu Ani keluar dari rumah akan mencari taxi untuk mengantar ke sekolah. "Surya, itu putraku di ajak sekalian!" perintah Alfarizi.
"Ya Tuan, Anda tidak usah turun, aku saja yang memanggil mereka."
Surya memarkirkan mobilnya di seberang jalan Konfeksi AA. Turun dari mobil dan menyambut mereka dan menbantu untuk menyeberang jalan. "Al di tunggu Papi di mobil."
"Nenek, ikut berangkat bareng Papi ya?"
"Baiklah ayo!"
Surya membukakan pintu mobil bagian depan untuk Ibu Ani, dan pintu belakang untuk Alfian. Saat Alfian masuk mobil ada satu koper yang berada di jok mobil bangian belakang. "Papi, mengapa ada koper, apakah Papi mau pergi jauh?"
"Iya Nak, Papi mau ke Riyadh Arab Saudi!"
Pikiran Alfian langsung kalut dan sedih, di rumah Mami sedang sakit, sekarang melihat papinya akan kembali ke Arab Saudi. Anak kecil itu sejak dulu mengira papinya bekerja menjadi TKI sekarang pasti akan meninggalkanya lagi. Alfian langsung meneteskan air matanya takut kehilangan.
"Mengapa Al menangis, Nak?"
__ADS_1
"Di rumah Mami sedang sakit, sekarang Papi akan kembali ke Arab Saudi, bekerja menjadi TKI lagi meninggalkan Al?"