Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Demam


__ADS_3

Zain hanya melongo saat di tanya oleh Mami Mitha. Matanya hanya fokus pada Dokter Atha yang mengenakan dress panjang tanpa lengan. Terlihat cantik, anggun dan mempesona.


Dilempar bantal oleh Alfian, Zain baru tersadar dan menjawab pertanyaan Mami Mitha, "Wanita cantik idaman Zain dong, Mami!"


"Di mana dia?" tanya Umi Anna.


"Di sini Oma, di hati Zain." Zain melirik Dokter Atha sambil menepuk dada.


Dokter Atha langsung masuk rumah sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya tahu betul yang dimaksud oleh Zain. Tetapi seperti biasa lebih memilih menghindar daripada memberikan harapan. Masih belum berniat membuka hati untuknya.


Empat sekawan melanjutkan obrolan setelah Mami Mitha dan rombongan masuk rumah. Hampir tengah hari Eki Darsono dan Julio pamit pulang terlebih dahulu. Zain masih enggan untuk pulang karena berharap bisa berbincang dengan pujaan hati.


Belum sempat makan siang bersama, Dokter Atha ada panggilan dari rumah sakit. Ada operasi seacar mendadak yang harus di lakukan. Dengan terpaksa harus memanggil Zain karena mobilnya terhalang oleh mobil Zain.


"Dokter Zain!" teriak Dokter Atha dari pintu.


"Ya ...." Zain berlari mendekati Dokter Atha.


"Tolong mobilnya, saya mau ke rumah sakit!"


Tanpa sengaja saat melewati mobil milik Dokter. Ban mobil bagian depan kempes. Zain tersenyum mendapatkan ide untuk mengantar dia ke rumah sakit.


"Ban mobil kempes, Dok. Sebaiknya aku antar saja, tunggu aku ambil kunci dan tas." Tanpa persetujuan Dokter Atha Zain langsung berlari masuk rumah.


Berpamitan kepada Mami Mitha dan Umi Anna dengan cepat. Melambaikan tangan kepada Alfian dan langsung keluar rumah dengan cepat. Dokter Atha masih memperhatikan Ban mobilnya yang kempes tanpa sebab.


Zain langsung menyalakan mesin mobil dan membukakan pintu yang ada di sampingnya, "Dok, ayo cepat ... operasi caesar sedang menunggu!" teriaknya.


Dokter Atha masuk mobil Zain tanpa mengucapkan kata. Mengirim pesan kepada Alfian agar Security mau mengganti ban mobil serep yang ada di dalam belakang jok mobil. Kunci mobil sengaja di tinggal di mobil.


Sampai di depan ruang operasi perawat sudah menunggu dan mempersiapkan semua. Dokter Atha masuk kantor pribadinya mengambil baju dokter. Zain ikut masuk kantor milik Dokter Atha, tiba-tiba terasa tidak enak badan setelah merasakan AC yang dingin.


Dokter Atha tidak memperhatikan wajah Zain yang terlihat pucat. Menyimpan tas di dalam laci dan berlari menuju ruang operasi. Zain tidak mengikuti Dokter Atha keluar dari kantor.


Zain merebahkan tubuhnya untuk tidur di brankar tempat tidur. Mematikan AC karena badan tiba-tiba terasa panas. Perubahan cuaca pancaroba dan pekerjaan yang menumpuk membuat sistem imun badan Zain menurun.


Zain menarik selimut dan di tambah jaket tebal miliknya. Suhu badannya terasa panas tetapi mulutnya menggigil kedinginan. Memejamkan mata mencoba untuk tidur terlelap.


Operasi caesar berjalan selama dua jam. Setelah selesai Dokter Atha bergegas masuk kantor untuk beristirahat sejenak. Perut terasa lapar karena saat di rumah Alfian belum sempat makan siang.


Berharap sudah ada menu makan siang seperti biasanya. Yang selalu di siapkan oleh Zain. Makan siang bersama Zain walau terkadang makan berdua tanpa kata.


Setelah masuk di dalam ruang pribadinya tidak menemukan sosok laki-laki jangkung yang biasa duduk di kursinya. Tidak ada menu makan tersakiti di meja. Yang ada sosok tubuh yang tertutup selimut dan bergetar kedinginan.

__ADS_1


Awalnya Dokter Atha melihat jaket yang dipakai untuk selimut. Memastikan dia adalah Zain dengan melihat wajahnya yang terlihat hanya sebagian. Memeriksa keningnya terasa sangat panas.


"Mengapa suhu tubuhnya panas begini?" monolog Dokter Atha sendiri.


Zain langsung merubah posisi tuhuhnya saat ada yang menyentuh keningnya, "Hhhmm dingin banget, Dok."


Dokter Atha mengambil termometer dan stetoskop. Meletakkan termometer di ketiak. Dan memeriksa detak jantung dengan meletakkan stetoskop di dada Zain, "Apakah terdengar?" tanya Zain dengan suara lemah.


"Terdengar apa, Dok?"


"Suara hatiku yang selalu memanggil namamu."


"Aiis, orang sakit masih merayu saja!"


Zain hanya tersenyum sambil memejamkan mata. Menunggu pemeriksaan Dokter Atha. Menikmati sentuhan tangannya menempelkan stetoskop di dada.


Terakhir meraih lengan untuk menghitung denyut nadi, "Apakah terasa, Dok?"


"Terasa apa lagi, Dok. Tidak usah merayu deh?"


"Terasa satu hati."


Dokter Atha hanya mengambil napas dalam-dalam. Panas suhu tubuh Zain 39 derajat. Mengalami demam tinggi tetapi masih saja bisa merayu dengan baik.


"Aku sudah tidak pernah merayu wanita setelah mengenalmu."


"Stop dilarang berbicara, mau di infus atau makan dulu setelah itu minum obat?"


"Maaf tidak sempat menyiapkan makan untukmu."


"Tidak apa-apa, sekarang mau makan apa, aku pesankan?"


"Terserah saja ..."


Dokter Atha langsung menghubungi kantin menggunakan ponsel. Memesan bubur ayam yang ada di kantin rumah sakit agar cepat langsung diantar. Di tambah soto Betawi dan buah melon.


Sambil menunggu pesanan datang. Dokter Atha berpamitan sebentar, untuk mengambil obat di apotek, "Aku tinggal sebentar saja mau ambil obat ke apotek!"


"Jangan ... jangan tinggalkan hatiku."


"Aisss dasar Sun Go Kong," gerutu Dokter Atha hanya dalam hati.


Bubur ayam dan soto Betawi datang bersamaan dengan Dokter Atha dari apotek. Mereka bertemu di dengan pintu kantor, "Sini Bu, saya bawa masuk sendiri saja!"

__ADS_1


"Ini Dok, silahkan."


Menu makan di letakkan di meja kerja Dokter Atha. Mendekati Zain yang sedang berbaring, "Ayo bangun dulu, Dok!"


"Aku masih kedinginan, apakah boleh hanya minum obat saja?"


"Anda sendiri Dokter, seharusnya tahu sebelum minum obat harus makan dulu!"


Dokter Atha langsung mengambil satu porsi bubur ayam dan menarik kursi mendekati Zain, "Ayo buka mulutnya!"


Zain tersenyum sambil membuka mulut. Tetap sambil berbaring sesuap demi sesuap lama-lama satu mangkuk habis pindah ke perut Zain. Minum obat dengan bantuan air mineral. Ditambah di suapi buah yang sudah di potong dadu.


"Mau aku antar ke apartemen atau rawat inap di sini?"


"Tidak perlu, aku mau tidur di sini saja sebentar. Semoga setelah minum obat panasnya turun, terima kasih."


"Baiklah beristirahatlah. "


"Tolong jangan pergi."


Dokter Atha hanya mengangguk tanpa menjawab. Menarik kursi miliknya di hadapkan ki meja kembali. Menikmati soto Betawi yang hampir di dingin.


Tidak sampai sepuluh menit Zain sudah terlelap dengan napas dengan teratur. Dokter Atha belum sampai menghabiskan soto Betawi. Zain sudah di alam mimpi.


Dokter Atha mencuri pandang saat Zain terlelap. Semakin hari hati semakin nyaman bersamanya. Semakin berharap banyak dengan kehadirannya.


Pengalaman hidup masih saja membentengi diri untuk bisa menerima hati. Rasa bersalah orang tua kepada Papi Alfarizi terus saja menghantui. Masih sering terbawa dalam mimpi.


Lamunan Dokter Atha berakhir setelah mendengar Zain seolah mengeratkan giginya karena kedinginan, "Atha tolong dingin! "


BERSAMBUNG


jangan lupa mampir Shobat sambil menunggu AST up lagi



Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )


Author: sendi andriyani


Perjodohan antara dua keluarga yang membuat Jimmy harus menikahi gadis bernama Alisa, teman sekelasnya.


Jimmy pria dingin, cuek, acuh dan datar harus di hadapkan dengan Alisa yang berkepribadian terbalik dengan Jimmy.

__ADS_1


Meski awalnya Jimmy sangat menentang perjodohan itu karena dia masih sekolah, tepatnya kelas 3 SMA, namun pada akhirnya dia mulai bisa menerima Alisa sebagai istrinya.


__ADS_2