
Peristiwa demi perstiwa datang silih berganti membuat Alfarizi semakin waspada. Setelah mendengar cerita Alfian ada seorang wanita mencari istrinya. Dia langsung memiliki ide untuk mengecek CCTV yang ada di acara resepsi Surya dan Desi.
Biasanya Alfarizi selalu mengandalkan Surya asistennya untuk melaksanakan perintahnya. Sekarang ini dia sedang duduk di pelaminan sehingga Alfarizi hanya menghubungi Junaidi. Mengirim pesa WA melalui ponsel kepada Junaidi, "Jun, coba kamu ke ruang kontrol CCTV, cari tahu identitas seorang wanita yang menemui Alfian saat istirahat tiba!"
Hanya dengan hitungan detik Junaidi menjawab pesan WA, "Siap laksanakan, Tuan."
"Nanti kalau sudah mengetahuinya cepat hubungi aku segera!" Kembali Alfarizi mengirim perintah melalui pesan WA.
Alfarizi kembali bercanda dan memijit kaki istrinya sambil menunggu kabar dari Junaidi. Neng mulai tertidur setelah beberapa saat karena dua jagoannya memijit kakinya. Alfarizi dan Alfian tersenyum dan berhenti bercerita setelah melihat Neng tertidur
"Al ikut beristirat sebelah Mami ya, Papi kembali ke resepsi pernikahan Om Surya!"
"Iya Papi ...."
Alfarizi keluar kamar hotel bersamaan mendapat pesan WA dari Junaidi. Dia bekerja dengan cepat padahal belum sampai setengah jam dia mengirim pesan dan memerintahkan penyelidikan. Langsung turun menggunakan lift dan menemui Junaidi yang sedang menunggu di lobi hotel.
"Ayo Tuan, lewat sini!"
"Ok terima kasih."
Mereka sudah di tunggu oleh dua security hotel saat Alfarizi masuk di ruang pengendali CCTV yang letaknya tidak jauh dari aula resepsi Surya. Security langsung memutar CCTV setelah Alfarizi duduk di kursi. Diikuti Junaidi dan dua security yang sedang bertugas duduk di samping Alfarizi.
Dari CCTV itu terlihat ada rombongan karyawan Konfeksi AA memasuki aula resepsi secara bersamaan. Selesai memberikan selamat kepada kedua mempelai mereka ada yang langsung mendekati menu makanan yang sudah di sediakan. Ada juga yang narsis berfoto ria dengan berselfi.
Yang paling membuat mereka tidak berkedip memperhatikan saat seorang wanita yang menggendong balita bersama wanita muda yang berdandan menor dan berpakaian seksi. Balita itu pindah ke gendongan wanita seksi kemudian ibu itu mendekati Alfian yang sedang duduk sendiri.
"Berarti wanita itu yang mencari Nona, Tuan," kata Junaidi sambil masih memperhatikan tayangan CCTV.
"Tetapi seandainya dia itu karyawan kofeksi AA seharusnya Alfian mengenali dia, Alfian tadi bercerita jika dia tidak mengenalnya."
"Anda tidak mengenal wanita seksi itu, Tuan?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Junaidi seketika membuat Alfarizi mual dan perutnya seperti diaduk. Dia hanya menjawab tangan yang dilambaikan tanda tidak mengenalnya sambil tangan satu lagi untuk menutup mulutnya. Tidak mengerti mengapa bisa mual seperti saat bertemu dengan Esih Suprihatin.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Junaidi khawatir.
"Ya aku hanya mual saja, coba kamu panggil Bang Doni saja untuk mengetahui siapa dia!"
"Baik Tuan."
Bersamaan Junaidi keluar dari ruang kontrol CCTV kembali Alfarizi mual saat melihat wanita seksi yang menggendong balita. Dia berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan itu sambil menutup mulutnya. Memuntahkan semua isi perutnya tanpa terkecuali sampai terasa pahit.
Junaidi dan Doni masuk ruang kontrol sambil berlari, mereka tidak menemukan Alfarizi di sana, "Lo ... di mana Tuan Al?" tanya Junaidi kepada Security hotel.
"Beliau ada di kamar mandi muhtah seperti orang hamil."
"Istrinya memang sedang hamil, apakah ada air putih, Pak?" tanya Doni dengan khawatir.
"Ada Pak, sebentar aku ambilkan."
Alfarizi keluar dengan wajah yang sedikit pucat, Doni langsung memberikan satu botol air mineral padanya, "Ini minumnya, Tuan."
Selesai menghabiskan satu botol air mineral Alfarizi duduk kembali setelah security kembali memutar CCTV saat kejadian, "Bang Doni, apakah kenal mereka?" tanya Alfarizi tetapi dia memalingkan wajahnya ke samping.
Doni langsung memperhatikan rekaman CCTV yang ada di depannya. Dia teringat dua minggu yang lalu ada saudara dari karyawan konfeksi AA membawa saudaranya, ibu dan putrinya yang berstatus janda ingin melamar pekerjaan di konfeksi Neng. Mereka tidak bertemu Neng karena Neng sedang meeting di Jakarta.
Neng selama ini menerima karyawan yang mayoritas seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Mayoritas mereka wanita paruh baya yang sudah tidak di terima lagi mencari pekerjaan di perusahaan besar. Kecuali karyawan yang bekerja di butik AA mayoritas gadis muda sebagai pelayan butik.
"Wanita yang itu saudara dari karyawan konfeksi AA, dan yang berpakaian seksi itu purtinya yang baru saja bercerai," cerita Doni sambil tersenyum.
"Kenapa tersenyum, Bang?" tanya Junaidi.
"Ibu itu kemarin bertanya kepada saya apa status saya, dia ingin menjodohkan putrinya kepada saya, saya bilang saya punya keluarga. Saran saya jangan terima dia sebagai karyawan dia seperti racun dunia ha ha ha." Doni tertawa dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nona biasanya gampang iba terhadap orang yang kesusahan Tuan, takutnya nanti dia mengejar Anda." Juaidi ikut memberikan pendapatnya.
Alfarizi kembali mual dan menutup mulutnya, "Aku melihatnya saja perutku mual, Bang Doni seandainya dia datang lagi ibunya saja yang boleh melamar pekerjaan di konfeksi tetapi wanita itu jangan pertemukan dia dengan istriku, kamu mengerti?"
"Baik Tuan, saya faham."
Alfarizi, Doni dan Junaidi kembali bergabung di acara resepsi pernikahan Surya dan Desi sampai pukul enam sore acaranya baru selesai. Keluarga langsung beristirahat di hotel yang sudah di reservasi oleh Alfarizi sebelumnya. Junaidi, Lilis dan putranya Julio juga ikut menginap.
Malam harinya Alfarizi menunjukkan rekaman CCTV yang di dapatnya dari security hotel kepada Neng. Dia juga bercerita juga merasa mual dan muntah saat melihat wanita seksi dan berdandan menor. Membuat Neng tertawa tidak habis pikir bisa-bisanya muntah karena wanita seksi.
"Mengapa sama wanita itu Papi muntah, tetapi saat bersalaman dengan karyawan mall Papi malah senyum-senyum tadi?"
"Papi juga tidak tahu Honey, mungkin perut Papi bisa menilai wanita racun dunia dan wanita baik-baik itu sangat berbeda," jawab Alfarizi sekenanya.
"Dilihat dari mana Papi, mereka sama-sama wanita?"
"Itu dari pakaian dan wajahnya, awas ya Mami jangan sampai menerima dia menjadi karyawan, terima saja ibunya tetapi putrinya jangan, Papi lebih memilih di lempar ke Antartika saja dari pada harus muntah terus saat melihatnya, mulut Papi pahit banget."
"Iya Papi, nanti Mami bilang sama Mpok Atun jangan khawatir."
"Mami, keluar yok Papi lapar pingin makan coto Makasar!"
Neng melihat jam tangan yang melingkar di tangannya sekarang sudah pukul sepuluh malam, "Di mana kita cari coto Makasar jam segini, Papi?"
"Ada banyak, biar nanti ada tenaga saat senjata onta Arab bergoyang. anggap saja kita melakukan malam pertama seperti Surya dan Desi."
Neng hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengambil jaket untuk persiapan keluar. Baru membuka pintu Alfariz melihat Alfian berdiri di depan pintu sambil memejamkan matanya, "Al, mengapa tidur sambil berdiri di sini?"
BERSAMBUNG
********
__ADS_1
Author promo novel yabg rekomen ya jgn lupa mampir