Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Momen Spesial Abah


__ADS_3

Alfian mengambil langkah panjang mendekati Zain yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Dari kejauhan terlihat mereka sedang tertawa sambil menikmati makan es krim berdua. Alfian langsung bertolak pinggang di depan Zain diikuti Rania ada di belakangnya.


"Apa-apaan ini, Zain?" tanya Alfian dengan suara keras.


Zain menebak Alfian mengira wanita yang di sampingnya adalah wanita yang sedang di rayu. Tadi setelah selesai acara peresmian rumah sakit Aljazeka langsung ke festival. Harus menemani pacar dari kakak kandungnya Zaqi karena kakaknya terlambat datang.


"Woi ... woi sabar dulu Adik Ipar, jangan emosi!" Zain langsung berdiri merangkul Alfian.


"Elu sudah terciduk mau mengelak dengan alasan apa?"


"Tunggu dulu dong Bro, perkenalkan dia Kak Mega pacar Abang Zaqi." Zain duduk kembali.


Wanita yang duduk di samping Zain berbisik ke di telinganya, "Zain bukankah dia putra konglomerat Perusahaan Zulkarnain itu?"


"Benar Kak. perkenalkan dia Alfian sahabat sekaligus bos gue dan istrinya Kak Rani."


" Halo Kak Rani, saya Mega."


Mega mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rania dan melipatkan tangan di dada kepada Alfian. Tanpa di duga Dokter Harry, Mama Rianti dan Zaqi datang bersamaan. Mereka bergabung dan menikmati kuliner berbagai mancam rasa.


Hampir satu jam mereka berkeliling sambil bercanda menilkmati suasana malam. Ada suara dering telpon dari Dokter Atha. Alfian langsung mengangkat dengan menekan tombol hijau, "Ya Kak ada apa?"


" ....."


"Apakah harus sekarang?"


" ...."


"Ya Kak Atha, kami ke sana sekarang."


Zain tidak mendengar pembicaraan mereka. Hanya mendengar Alfian menyebut nama Dokter Atha. Dia langsung bertanya sambil merangkul pundaknya, "Apakah elu mau ke apartemen Atha?"


"Kagak ... gue mau ke Bekasi."


"Kakak elu di mana, gue ikut dong?"


"Kakak gue ada di Bekasi. luruskan dulu otak elo kalau mau ikut ke Bekasi, dari tadi berkeliling mata elu jelalatan lihatin cewek terus."


"Cuma lihat aja Bro, gue tidak merayu mereka."


"Tetap saja elu belum bisa masuk kualifikasi standar jadi Kakak Ipar gue."


"Raja tega lu."


Alfian dan Rania langsung berpamitan dengan Dokter harry dan istrinya, "Uncle Harry ... Auntie Rianti kami pamit dulu," kata Alfian sambil mencium punggung tangan mereka berdua bergantian.


"Mengapa buru-buru?" tanya Dokter Harry.

__ADS_1


"Kami di panggil Kakek untuk datang ke Bekasi," jawab Alfian.


"Apakah Abah sehat?" tanya Mama Riaanti.


"Kata Kak Atha tadi Kakek sedag tidak enak badan."


Alfian dan Rania langsung berangkat ke Bekasi malam itu juga. Bahkan masih dalam perjalanan Mami Mitha kembali menghubungi Alfian sampai di mana. Membuat Rania menjadi khawwatir.


"Ada apa Bang, apakah Abah sakit keras?"


"Belum tahu Sayang, semoga saja tidak. Tadi siang kita bertemu Kakek masih dalam keadaan sehat waafi'at."


"Iya sih Bang. Tadi saat peresmian rumah sakit Rani masih berbincang seperti biasa."


"Berdoa saja semoga Kakek dalam lindungan Ilahi Robbi."


"Aamiin ...."


Pukul sebelas malam Alfian dan Rania tiba di rumah Papi Alfarizi. Mereka langsung bertemu dengan keluarga. Ternyata mereka sudah berkumpul semua termasuk Umi Anna, Bibi Esih dan Abi Ali yang di jemput oleh Julio.


"Papi ada apa, mengapa semua berkumpul?" tanya Alfian.


Wajah seluruh keluarga tampak sedih dan tegang. Mereka tidak ada yang berbincang. Hanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Membuat suasana semakin menegangkan dan khawatir.


Rania juga sangat khawatir langsung di peluk oleh Mami Mitha, "Sana cepat temui Kakek kalian. Beliau menunggu Rani dan Abang Al!"


"Ada Elfa bersama Kakek saja."


Alfian dan Rania bergegas masuk kamar. Hanya mereka berdua yang datang paling lambat. Mereka tidak mengetahui sama sekali apa yang telah terjadi.


"Kakek ...!" teriak Alfian.


"Abah ada apa ini?" tanya Rania sangat khawatir.


Abah terbaring lemah di tempat tidur. Berbincang sambil membelai rambut cucu kesayangan Elfa. Datang Rania dan lfian mereka langsung duduk di samping Elfa.


"Ada apa sebenarnya, El."


"Tidak ada apa-apa, Bang jangan khawatir. Kakek hanya lemas saja." Elfa mempersilahkan Abang Al dan Teteh Rania duduk di samping Abah.


Elfa pamitan keluar setelah Alfian dan Rania datang. Membiarkan mereka berbincang dari hati ke hati seperti sebelumnya kepada seluruh keluarga. Dari tadi sore keluarga satu persatu di panggil oleh Abah.


"Abah sehat, 'kan?" tanya Rani dengan mata yang berkaca-kaca.


"Abah sehat, Neng. Jangan khawatir, Abah hanya ingin bertemu dan berbincang saja."


"Tetapi mengapa seluruh keluarga di panggil dan berkumpul?" tanya Rania lagi.

__ADS_1


"Entahlah, hari ini Abah ingin mengumpulkan keluarga di Bekasi. Abah ingin berbincang satu pesatu dengan kalian."


"Kakek, bukankah kita tadi siang juga berbincang saat peresmian rumah sakit. Jangan buat Abang khawatir."


"Beda Abang, Kakek ingin momen yang spesial hari ini. Kakek ingin bertemu keluaga secara pribadi satu-satu. Kakek ingin terwujud hari ini."


"Baiklah, siapa lagi yanng ingin Kakek temui hari ini?"


"Sudah tidak ada, Kakek ingin berbincang dengan kalian berdua. Kakek sengaja memanggil kalian yang terakhir. Malam ini Kakek ingin tidur di temani kalian berdua."


"Baiklah. kami menemani Kakek malam ini."


Alfian dan Rania berbincang dan bercerita banyak hal bersama Abah. Sesekali Rania dan Alfian berbincang dengan bercanda. Membuat Abah terkadang tertawa lepas.


"Neng Rani, kemarilah ... Abah ingin mengelus perut Neng, semoga jabang bayi yang ada di dalam kandungan menjadi kebahagiaan keluarga."


"Aamiin."


"Sini tangan kalian Kakek ingin menggenggam tangan Rani sebelah kiri dan Abang Al di sebelah kanan."


Alfian dan Rania menggenggam tangan Abah dengan erat. Walau tidak tahu apa maksudnya mereka tetap melakukan keinginan Abah. Mereka menggenggam dengan perasaan yang tidak menentu.


"Kalian harus selalu menjaga seluruh keluarga agar tetap rukun. Neng Rani jangan kamu sia-siakan ibumu, walau bagaimanapun juga dia tetap ibumu."


"Iya Abah ..."


"Abang ... Kakek titip Raffa ya, bimbing dia menjadi anak yang berbakti dan pintar."


"Iya Kakek, Raffa sudah Abang anggap seperti adik sendiri."


"Neng Rani tolong paggilkan Mami dan Papi sebentar ya!" perintah Abah.


Rania keluar kamar memanggil Papi Alfarizi dan Mami Mitha untuk masuk kamar. Mereka masuk bersamaan diikuti oleh Elfa. Langsung duduk di pinggir tempat tidur sambil menusap lengan Abah.


"Bagaimana perasaan Ayah, sekarang sudah baikkan?" tanya Mami Mitha.


"Iya Neng, Ayah sudah lega sekarang, kalian jangan pergi dari sini, sebelum Abah tertidur ya!"


"Ya beristirahatlah ... kami akan menunggu Kakek, kami sangat menyayangi Kakek," jawab Alfian sambil mengusap lengan Abah.


"Tangan kiri Abah di genggam oleh Rania sedangkan tangan kanan Abah di genggam oleh Mami Mitha. Di samping kepala ada Alfian, Papi Alfarizi dan Elfa. Mata Abah mulai terpejam perlahan.


Suasana hening sesaat tanpa ada yang berani berbicara agar Abah tertidur pulas. Setelah lima menit genggaman tangan lama-kelamaan terlepas. Rania langsung memandang wajah Mami Mitha, "Mami ...?"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir di Novel terbaru author di Novel Toon ya

__ADS_1



__ADS_2