
"Tunggu dulu, Nyonya jangan marah dulu!" teriak Laki-laki berperut buncit.
Alfian berdiri mendekati sepasang laki-laki tua bersama wanita muda yang menggandeng tangannya, "Jadi apa tujuan Anda ke sini?"
Laki-laki berperut buncit bercerita jika dulu pernah membuat perjanjian kepada Almarhumah Ibu Titin Suhartin. Jika uang mahar dikembalikan ibu akan mendapatkan bonus 10%. Setelah Alfian melunasi semua uang mahar laki-laki berperut buncit ingkar janji.
Dia menghilang begitu saja tanpa ada kabar. Hampir dua bulan menghilang akhirnya Almarhumah Ibu Titin Suhartin bisa menemukan setelah dia menikah siri dengan gadis desa sebelah. Almarhumah Ibu Titin Suhartin selalu menagih janji setiap dia bertemu di desa sebelah.
Lebih dari lima bulan Almarhumah Ibu Titin Suahartin menagih janji. Selalu dihindari dan tidak pernah di tanggapi sama sekali. Hanya di berikan jandi nanti, besok ataupun lusa.
Saat Almarhumah Ibu Titin Suhartin mendapatkan nomor ponsel milik laki-laki berperut buncit. Dan sering menagih janji melalui pesan WA. Tetap saja tidak pernah di berikan uang bonus sebanyak 10% itu.
Sampai suatu saat di kabarkan ibu dari Rania itu sakit dan di rawat di rumah sakit. Dia masih belum memberikan bonus yang telah di sepakati. Dan sampai sekarang setelah Ibu Titin Suhartin meninggal dunia juga belum pernah diberikan uang itu.
Sampai laki-laki perperut buncit itu tadi malam bermimpi di datangi oleh Ibu Titin dan menagih janji. Tujuan datang ke rumah saat ini akan berniat memberikan uang itu. Dia takut tidur dan takut di datangi dalam mimpi lagi.
"Bagaimana, Sayang. Apakah uang itu akan Rani terima?" tanya Alfian setelah laki-laki berperuit buncit selesai bercerita.
Rania mengerutksan keningnya, memikirkan manfaat uang itu. Tidak ingin menjadikan masa lalu ibu digunakan untuk pertimbangan. Tidak ingin di terima uang itu, tetapi sepertinya laki-laki berperut buncit itu berniat membayar hutang.
"Terima saja uangnya, Bang. Nanti kita masukkan uang itu untuk pembangunan tempat ibadah yang ada di ujung desa sana. Kita niatkan untuk sedekah atas nama Ibu."
"Ide bagus, Abang setuju itu, Jun kamu terima uang itu dan langsung masukkan ke tempat ibadah sana!"
"Ok siap."
Tiga hari setelah meninggalnya Ibu Titin Suhartin. Keluarga Alfian kembali ke Bogor, Papi Alfarizi dan keluarga pulang ke Bekasi. Zain dan Atha tinggal di apartemen Atha untuk sementara. Mereka masih membangun rumah impian di belakang rumah sakit.
__ADS_1
Setelah tiga hari juga, Zain meminta pada istrinya untuk melanjutkan bulan madu yang gagal kemarin. Bahkan Zain langsung menghadap kepada Alfian untuk meminta izin khusus agar bisa mengulang bulan madu nanti setelah resepsi pernikahan. Hanya Atha menolaknya untuk kembali berbulan madu.
"Mengapa Kakak menolak untuk berbulan madu lagi?" tanya Alfian saat mereka berkunjung di rumah Alfian.
"Tidak perlu bulan madu, Dik. Kalau ujung-ujungnya dia hanya meminta menghabiskan waktu di kamar saja," jawab Atha kesal.
Alfian tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban jujur kakak tirinya. Bisa membayangkan kemungkinan Zain seperti dirinya selalu mengajak bermain senjata dengan istrinya saat berdua. Tahu betul otak sahabat sekaligus kakak ipar yang tergila-gila dengan istrinya.
Yang dulu rencana resepsi pernikahan diadakan dua minggu setelah akad. Zain dan Atha memundurkan resepsi satu bulan kemudian. Semua demi menghormati almarhumah Ibu Titin Suhartin.
Resepsi pernikahan diadakan di hotel bintang lima yang ada di Bekasi. Seluruh keluaga besar Papi Alfarizi dan Papa Harry berkumpul. Undangan terdiri dari kolega dan teman bisnis Papi Alfarizi, Alfian, teman dan sahabat sekolah ataupun teman kuliah.
Resepsi berjalan lancar sampai ada tamu yang tidak di undang datang. Wanita yang dulu selalu mengejar Alfian yaitu Putri Siregar. Dia datang bersama keluarga besar dari saudara Papa Mario dan Papa Rangga Siregar.
Saat Alfian melihat rombongan Putri Siregar itu datang dia langsung berbisik kepada Zain saat mereka sedang berfoto bersama, "Siapa yang mengundang wanita los dol itu?" tanya Alfian kesal.
Atha memajukan badannya menengok kearah Alfian, "Kakak yang mengundangnya, Dik. Bagaimanapun juga dia itu saudara Kakak."
"Kalian harus tahu, ibu dari Papa Mario adalah saudara kandung dari ibu Papa Rangga Siregar," jawab Papi Alfarizi memberikan keterangan.
"Oooo ...." Alfian dan Zain menjawab dengan membulatkan bibirnya.
"Tetapi jangan khawatir, Dik. Si Putri sekarang sudah menikah, seharusnya suaminya ikut datang ke sini, Kakak pernah menghadiri akad nikah dia satu tahun lalu di Australia.
"Suaminya orang Australia, Darling?" tanya Zain.
Belum sempat Atha menjawab pertanyaan Zain. Putri Siregar masuk gedung resepsi awalnya sendirian. Setelah beberapa meter berjalan, ada lelaki hampir berumur empat puluh tahun langsung berlari menggandeng tangan Putri Siregar.
__ADS_1
"Lihatlah dia menikah dengan duda beranak empat warga Australia keturunan Indonesia."
Rombongan Putri Siregar mengucapkan selamat kepada ke dua membelai. Mereka bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu di masa lalu. Semua berjalan lancar sampai akhir resepsi.
Waktu cepat berlalu, si Kasep Al hari ini berusai dua tahun. Hari ini seluruh keluarga berkumpul untuk merayakan hari jadinya. Dirayakan di kediaman Alfian yang disulap seperti rumah dinosaurus seperti binatang kesuakaan si Kasep Al.
Pasangan Zain dan Atha datang dengan dengan membawa kado istimewa. Sambil menggendong putri kecil mereka yang baru berumur lima bulan. Wajah putrinya persis seperti Zain dan matanya seperti Atha.
Pasangan Julio dan Bintang juga datang dengan membawa kado yang tidak kalah istimewa. Julio menggendong putri mereka juga yang baru berumur enam bulan. Wajah putri Julio dan Bintang hitam manis seperti ibunya Bintang.
Kehidupan keluarga mereka sangat bahagia. Saling mendukung dan saling menghargai. Perjuangan dan kerja keras kini terbayar dengan adanya keluarga yang harmonis.
Papi Alfarizi dan Mami Mitha sering meluangkan waktu untuk berkumpul dan merawat Umi Anna, Abi Ali dan Ibu Ani yang sudah menua. Sebagian perusahaan di kelola oleh Alfian dan dibantu oleh putra dari Auntie Isya dan Uncle Fano yaitu Faiz.
Setelah Papa Harry pensiun bersama Mama Rianti sebagian besar di habiskan waktu bermain dengan cucu putra Abang Zaqi dan putri dari Zain.
Hanya Elfamitha yang tidak banyak muncul dalam kebahagiaan keluarga. Elfamitha Zulkarnain saat ini sedang kuliah di Autralia. Dia sedang fokus kuliah dengan jurusan spikologi di negara Kanguru.
TAMAT
Catatan Author
Untuk cerita Elfamitha author akan buat terpisah dari novel AST. Kemungkinan nanti setelah "Khan, Kamulah Jodohku" hampir tamat baru akan publis novel Elfamitha. terima kasih untuk shobat Anna yang selalu ada mendukung author. mohon maaf jika ada salah kata dan tulisan tidak yang berkenan.
Jangan lupa untuk selalu hadir pada novel. "Khan, Kamulah Jodohku". Insyaallah tas akan di bagikan lagi bagi yang terpilih. Jangan lupa like, favorit, vote, komen, bunga, kopi ataupun iklan.
TERIMA KASIH
__ADS_1
MUDA ANNA