
Rania bergegas mengganti baju Alfian yang basah. Karena merasa khawatir tidak lagi memperdulikan keadaan dan bentuk kurma jumbo suaminya. Dia hanya sempat melirik sedikit bentuk kurma jumbo yang berbeda bentuknya saat pertama kali bertemu.
Yang di ganti bajunya hanya terdiam menggigil dan memejamkan matanya. Berusaha untuk tidak menegang kembali melihat bibirnya yang terlihar ranum dan seksi. Sampai selesai Rania memakaikan baju, Alfian tetap memejamkan mata.
"Ayo ...berbaring Abang Tuan, Rani selimuti agar badannya hangat!"
Alfian perlahan membaringkan tubuhnya perlahan. Rania memberikan selimut tebal dari kaki sampai lehernya, "Rani ... peluk Abang, masih dingin!"
"Iya Bang tidurlah!"
Antara dingin, capek dan menahan rasa, lama kelamaan Alfian bisa tertidur pulas setelah di dekap oleh Rania. Mendengar suara napas Alfian yang yang teratur, Rania juga ikut terlelap sejenak.
Hanya dalam waktu dua jam saja Rania tidur sudah terjaga lagi. Di samping karena tempat tidur yang sempit, dia juga khawatir dengan kesehatan suami. Saat mata baru terjaga, Rania langsung menempelkan tangannya di dahi suami, "Alhamdulillah keadaannnya baik-baik saja."
Rasa bersalah Rania yang membuatnya tidak bisa tidur kembali. Dia teringat sesaat setelah ayah sambung berpesan sebelum meninggalkan rumah. Suatu saat nanti jika Rania menikah carilah ayah kandung sebagai wali, karena tidak sah jika menikah saat ayah kandung masih hidup di walikan orang lain.
Rania langsung turun dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Berniat memanfaatkan waktu seperiga malam untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Khaliq seperti biasa. Memanjatkan doa agar di lancarkan semua urusan dan mohon ampunan atas kesalahan.
Melanjutkan aktifitas di dapur saat pagi menjelang. Kini harus membuat sarapan untuk suami dan Abah sebelum mereka bangun. Nasi goreng petai kesukaan Abah dan membuat pancake untuk jaga-jaga jika suami halu tidak suka petai.
"Topingnya apa nich pancake?" monolog Rania setelah selesai membuat pancake dengan menggunakan teflon kecil.
Tanpa di duga datang Alfian dengan muka sedikit pucat menyusul Rania di dapur, "Ada buah apa di kulkas bisa buat topingnya?"
"Eee Abang Tuan, mengapa wajahnya terlihat pucat?" Rania langsung memegang dahinya untuk memeriksa suhu tubuh Alfian.
Alfian mengerucutkan bibirnya teringat peristiwa tadi malamm "Abang tidak apa-apa, cuma kurang tidur saja. Ini gara-gara tadi malam."
"Maaf ...." Rania cemberut dan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan memancing Abang," jawab Alfian mendekatkan wajahnya mendekati wajah Rania.
"Abang Tuan yang memancing, ini mau ngapain wajahnya ada di depan wajah Rani?"
__ADS_1
"Ha ha ha pagi-pagi sudah melawak saja. Sini Abang yang buat toping pancakenya, ada buah apa di kulkas?" tanya Alfian dengan cepat.
"Buah dada, Eeee maaf keceplosan." Rania menutup mulutnya sambil berbalik badan memunggungi Alfian.
"Ini memancing Abang namanya." Alfian memeluk Rania dari belakang.
"Maaf .. Abang Tuan jangan bertanya cepat pada Rani. Awas Rani ambilkan mangga dan jeruk di kulkas!"
"Sebentar sebagai hukumannya Rani harus cium Abang."
Rania berbalik badan mencium pipi Alfian hanya sekilas. Berniat melangkah meninggalkan Alfian yang sudah memasang mukanya untuk di cium. Tangan Alfian langsung menarik lengan Rania dan di tarik dalam pelukan.
"Siapa suruh cium pipi, Rani harus mencium di sini!" Alfian menunjuk bibirnya yang sudah di monyongkan.
"Malu Abang Tuan ... pejamkan mata dulu!"
"Baiklah ... ini sudah cepetan!" Alfian memejamkan mata tetapi tangan masih melingkar di pinggang Rania.
Rania masih ragu dan malu, hanya memandangi wajah dan mulut Alfian yang sudah siap di cium. Alfian hanya tersenyum dan mengintip Rania yang masih terdiam. Rania tidak kunjung mencium Alfian karena belum pernah sekalipun mencium seseorang selama ini.
Kembali Rania hanya mencium sekilas bibir Alfian dan berniat kabur. Alfian bisa membaca pikiran dan gerak gerik Rania. Dengan cepat tangan Alfian bepindah dari pinggang memegangi tengkuk Rania untuk menahannya agar tidak bisa pergi.
Alfian langsung mel*mat bibir itu dengan lembut dan penuh perasaan, "Hhhmm ...!" Rania mendorong tubuh Alfian dengan sekuat tenaga sampai tautan bibirnya terlepas.
Rania berlari dengan wajah yanag bersemu merah. Sudah tiga kali ini di cium suaminya tetapi masih malu. di samping tidak mernah melakukan dengan siapapun karena belum bisa membalasnya juga.
Beda lagi dengan Alfian, walaupun dia tidak punya pacar tetapi dia mengetahui cara berciuman. Melihat ketika Julio dan Zain saat berpacaran. Dan juga sering melihat fim barat yang tidak di batasi oleh etika seperti film dalam negeri.
Ada mangga dan jeruk sudah di tangan Rania. Alfian mengambil pisau untuk mulai membuat toping pancake, "Rani ... ada susu atau sirup?"
"Susu bubuk ada Bang, tetapi sirup tidak ada, gula merah mau?"
"Ha ha ha Rani cantik, beda dong gula merah dengan sirup, Gula pasir saja sini!"
__ADS_1
Rania mengambilkan gula pasir yang ada di samping bumbu dapur. Dia sekalian membawa toples kopi di letakkan di samping Alfian, "Ini Abang Tuan ... gula pasirnya plus kopi pasangannya."
"Eee Abang tidak minta kopi."
"Yee Abang Tuan protes aja sukanya. Rani mau buat kopi buat Abah." Rania mengambil Cangkir dan meracik secangkir kopi untuk Abah.
Alfian mulai meracik toping pancake dari mangga, susu dan pula putih. Mangga yang sudah di kupas di haluskan dengan di blender bersama susu bubuk. Tidak jadi menggunakan gula pasir setelah Alfian melihat ada madu di dalam kulkas.
Setelah mangga halus di tambahkan tiga sendok madu untuk menambah manis pada adonan dan diaduk sampai rata. Disiramkan adonan di atas pancake yang sudah di letakkan di piring saji. Rania hanya melihat tangan Alfian yang membuat toping dengan bahan seadanya sampai selesai.
"Sudah selesai Rani mau coba?" tanya Alfian sambil memotong pancake menggunakan garpu dan sendok.
"Iya mau."
Alfian langsung menyuapkan satu potong pancake ke mulut Rania, "Bagaimana manis?"
"Iya manis banget, Rani suka."
"Manis seperti bibir Rani."
"Waduuuuh!" Rania langsung menutup mulutnya takut suaminya yang selalu mencuri kesempatan.
Alfian tertawa dan berjalan ke meja makan. Setelah bertemu dan menikah dengan Rania otaknya semakin ngeres. Hati yang berbunga-bunga selalu di ekspresikan dengan selalu merayunya. Kini hidupnya penuh warna dan membuatnya lebih bersemangat.
Abah datang bergabung dengan Alfian dan duduk di depannya. Rania langsung memberikan satu cangkir kopi yang baru saja di seduhnya. Nasi goreng petai juga di sajikan di tengah meja makan bersama pancake toping mangga plus madu.
"Silahkan Abah, nasi goreng petai kesukaan Abah!" kata Rania sambil memberikan piring kosong.
"Tadi sore petai habis, kok sekarang sudah ada, Neng Rani?" tanya Abah sambil mengambil nasi di atas piring.
"Tadi setelah subuh ada Akang tukang sayur yang teriak di depan menawarkan petai, jadi Rani langsung membelinya."
"Akang Gundul yang suka merayu Neng Rani itu?" tanya Abah lagi.
__ADS_1
"Eeee ... siapa itu Akang Gundul?"