Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pasien di Temukan


__ADS_3

Neng dan Alfarizi saling pandang saat mendengar ada orang yang mengalami gangguan mental merebut makanan. Mereka langsung teringat dengan Dokter Mario Sanusi yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Sampai sekarang dia belum di temukan oleh pihak yang berwajib atau petugas yang berwanang.


"Tunggu Pak, tolong jangan di sakiti, kalau memang dia lapar beri saja makanan nanti aku yang mengganti harga makanan itu," kata Neng dengan suara tegas.


"Tidak ada yang menyakiti, Nyonya. Dia saat ini sedang makan nasi padang yang di belikan oleh kepala security."


"Mengapa banyak orang yang berkerumun di sana?" tanya Alfarizi heran.


"Orang itu terlihat kelaparan, ada luka bakar di siku tangan sebelah kiri dan punggung tangan."


"Apakah dia memakai baju berwarna abu-abu, Pak?" tanya Alfarizi lagi.


"Betul Tuan, apakah Anda mengenal dia?"


"Ayo kita ke sana sekarang!"


"Tapi Tuan ...?" Salah satu security itu tidak bisa mencegah tuannya lagi.


Alfarizi berjalan dengan langkah pajang sambil menggandeng Neng. Menduga kemungkinan besar orang yang di maksud security adalah Dokter Mario. Tidak mendengarkan security yang mencegahnya agar tidak melihat orang sakit mental yang ada di depan pintu mall.


"Pak di mana Junaidi?" tanya Alfarizi dengan suara keras sambil terus merjalan mendekati pengunjung mall yang sedang berkerumun.


"Pak Jun masih dalam perjalanan menuju ke sini, Tuan."


Sampai di depan pintu mall bersamaan dengan Junaidi berlari dari jalan raya padahal Pak Min belum sempat menghentikan motornya, "Tuan, Tunggu!" teriak Junaidi yang sangat khawatir.


"Jun, apakah kamu juga menduga orang itu Dokter Mario?" tanya Alfarizi setelah Junaidi berada di dekatnya.


"Ya Tuan, karena itulah sebaiknya Anda jangan mendekati dia terlebih dahulu!"


"Papi, ayo Mami ingin melihat orang itu!"


"Bahaya Mami, tunggu dulu. Biar di pastikan oleh Junaidi terlebih dahulu, Papi tidak ingin terjadi sesuatu pada Mami."

__ADS_1


"Ya tunggu di sini dulu, saya yang melihat orang itu sebentar."


Junaidi mendekati pengunjung mall yang sedang bergerombol. dia langsung meringsek masuk sambil mengucapkan permisi kepada satu-persatu orang yang sedang berdiri, "Permisi ... permisi!"


Ada seorang laki-laki lusuh sedang duduk di lantai sedang menikmati nasi dan air mineral. Dia makan dengan lahap seolah sudah seharian tidak makan. Bahkan banyak nasi yang berjatuhan karena makan terburu-buru.


Wajahnya kotor ada luka bakar di siku dan di tangan. Celananya robek dari lutut sampai mata kaki. Umurnya tidak lebih dari dua puluh lima tahun.


Junaidi keluar dari kerumunan orang sambil menghubungi pihak yang berwenang menangani pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri. Dia bukan Dokter Mario tetapi sudah di pastikan salah satu pasien yang melarikan diri dari sana. Kembali mendekati Alfarizi dan Neng yang sedang menunggu di luar kerumunan masa.


"Tuan, orang itu bukan Dokter Mario, tetapi dia adalah salah satu pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa."


"Kamu yakin jika orang itu bukan dokter Mario, Jun?"


"Yakin Tuan, umurnya tidak lebih dari dua puluh lima tahun. sedangkan Mario umurnya lebih tua lagi."


Baiklah, Kamu hubungi pihak yang berwenang dan tingkatkan penjagaan di sekitar mall!"


"Siap laksanakan, Tuan."


"Iya Pi, terima kasih."


Alfarizi berbalik badan saat sudah sampai di pintu dan mendekati Neng. Neng yang awalnya ingin duduk di kursi kebesarannya di urungkan saat melihat Alfarizi berbalik badan, "Apa yang ketinggalan, Papi?"


"Ini yang ketinggalan," Alfarizi menarik badan Neng dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Hhmm ...!" Neng bendorong badan Alfarizi dengan sekuat tenaga.


"I love you," kata Alfarizi setelah Neng terlepas dari pelukannya.


"Tunggu Papi!" Neng mendekati Alfarizi membuat dia tersenyum devil karena berpikir istrinya itu mulai terlena dan mengira istrinya akan mengajak bergoyang.


"Apakah Mami ingin bergoyang bersama Papi di sini?"

__ADS_1


"Idih GR aja Papi ini, Mami mau mengusap bibir Papi yang belepotan lipstik." Neng mengusap bibir Algarizi dengan tangannya.


Dengan sengaja Alfarizi merapatkan tubuhnya dan menggosokkan senjata onta arab yang mulai menegang. Mengedipkan matanya memberikan kode agar Neng mau di ajaknya bergoyang sebentar, "Yok Mami kita bergoyang satu ronde saja!"


"Jangan macam-macam ya, Pi. Di sini hanya kantor tidak ada tempat untuk bergoyang, sebentar lagi Mpok Atun pasti datang karena Mami akan bertemu dengan pasangan muda yang akan memesan gaun pengantin."


Belum sempat Alfarizi menjawab dan merayu lagi pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu, "Neng Mitha ini sudah ... Eee maaf aku tidak melihatnya!" teriak Mbok Atun sambil membalikkan badan.


"Masuk Mpok, Papi sudah mau ke kantornya!" perintah Neng sambil kembali mendorong Alfarizi.


Alfarizi mengerucutkan bibirnya karena di usir secara halus oleh istrinya sendiri, "Papi ke kantor dulu, ingat jangan ke mana-mana. Sebelum pulang kita lanjutkan lagi, I love you!"


"Me too, Papi."


Melakukan pekerjaan masing-masing sampai sore menjelang. Mendapatkan laporan dari Junaidi bahwa pasien rumah sakit jiwa yang berada di depan mall sudah dibawa petugas ke rumah sakit yang di tunjuk. Masih ada dua pasien lagi yang belum tertangkap sampai sekarang termasuk Dokter Mario.


Sore hari satu jam sebelum pulang, Alfarizi menjemput Neng di butik AA. Berniat ingin melanjutkan modus tadi siang yang terputus. Bergegas masuk kantor istrinya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, "Honey, ayo kita lanjutkan ...?" Alfarizi tidak melanjutkan ucapannya.


Ada ke dua buah hati kesayangan sedang bercengkerama dengan maminya. Ada Bibi Siti yang sedang duduk di sofa sambil memperhatikan ponsel. Elfa melihat papinya masuk kantor, dia langsung tersenyum, "Pi ...pi ...pi!" teriak Elfa dengan suara keras sambil berjalan mendekatinya.


Alfarizi langsung menggnedong Elfa dan menciumi pipinya kanan dan kiri. Elfa tetawa riang dan membalas mencium papinya, "Elfa kangen Papi ya?"


"Papi mau melanjutkan apa sama Mami?" tanya Alfian.


Neng hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat suaminya gelagapan tidak bisa menjawab pertanyaan putranya, "Tadi Papi mengajak melanjutkan pekerjaan yang belum selesai," jawab Neng sambil melirik Alfarizi.


"Ooo jadi Mami dan Papi belum selesai pekerjaannya?" tanya Alfian lagi.


"Belum Bang, tetapi di lanjutkan besok lagi tidak apa-apa kok." Neng menghedipkan mata kepada suami agar mendukung jawaban yang diberikan kepada Alfian.


"Iya Bang, Mami dan Papi melanjutkan pekerjaannya besok lagi, Abang dan Elfa ke sini ada apa, mengapa tidak menelepon Papi dulu?"


"Di sekitar rumah masih banyak petugas polisi yang mondar-mandir, ada juga petugas yang mengenakan seragam putih-putih sering mengawasi rumah, Abang jadi takut. Makanya mengajak Bibi Siti dan Om Doni untuk menyusul Papi dan Mami ke sini."

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu untuk makan es krim dan fast food, kemudian berniat pulang dan berjalan ke parkiran. Ada suara keras memanggil tetapi orangnya tidak terlihat, "Sinta ... Marta!"


"Siapa yang memangil itu, Papi?"


__ADS_2