
Al sedang duduk berhadapan dengan seorang dokter ahli di rumah sakit Singapura menunggu hasil tes yang dilajukaan kemarin. Jantungnya berdegup kencang harap-harap cemas tentang kemungkinan hasilnya. Dokter ahli mulai membaca dan menganalisa hasil yang sudah ada di tangannya.
"Tuan, aku bacakan hasil pemeriksaan dari laborat ya!"
"Baik Dok, silahkan!"
"Hasilnya Anda normal tidak ada yang perlu di khawatirkan, Anda bisa memiliki keturunan sebanyak yang Anda mau."
"Apa yang menyebabkan saya belum diberi keturunan jika saya normal padahal kami sudah menikah lebih dari 10 tahun, Dok?"
"Berarti istri Anda yang bermasalah, seharusnya Anda mengajak istri untuk tes bersama."
"Ok Dok, terima kasih,"
Keluar dari rumah sakit hati Al mulai bergemuruh, tes yang di lakukan bersama Sinta dulu berbeda dengan hasil tes yang sekarang ini. Kemungkinan besar Sinta lah yang berbohong. Al memutuskan utuk menyekidiki secara diam-diam tentang istri sirinya sambil mencari keberadaan dia dan anaknya tinggal.
Al kembali ke Indonesia dengan penerbangan malam itu juga setelah membeli tiket melalui onlone. Dari bandara Sukarno Hatta Al di jemput oleh Surya langsung menuju villa miliknya yang tidak pernah dia kunjungi lagi setelah dia memutuskan untuk meninggalkan Neng dan bersama istri sahnya.
Sampai di villa yang pertama Al lakukan adalah menemui Junaidi dan istrinya. Menanyakan tentang Ayah Asep yang tinggal tidak jauh dari villa. Mereka duduk di ruang tamu villa sambil minum kopi yang dibuat oleh Lilis.
"Bagaimana Jun, apakah kamu sudah bertemu dengan Ayah Asep?" tanya Al dengan tidak sabar.
"Maaf Tuan, Ayah Acep sudah pindah ke Bandung sejak tiga tahun yang lalu," jawab Junaidi.
"Bagaimana denga rumahnya, siapa yang menempati saat ini?" Gantian Surya bertanya kepada Junaidi.
"Rumahnya sudah dijual."
"Apakah kamu tahu alamat mereka yang di Bandung?"
"Tidak Tuan, aku sudah bertanya dengan tetangga sekitar, bahkan aku mendatangi Pak RT tetapi mereka tidak ada yang tahu alamat Ayah Asep."
Selama ini villa di sewakan kepada wisatawan yang sering mengunjungi daerah wisata yang sejuk itu. Di percayakan pengelolaannya oleh Paman Tono dan Bibi Minah. Dua tahun yang lalu Paman Tono meninggal dunia.
__ADS_1
Pengelolaan villa di teruskan oleh pasangan suami adik dari Bibi Minah sampai sekarang. Bibi Minah sekarang berada di Bogor bersama keluarganya.
Akhirnya Al memanggil Bibi Tinah adik dari Bibi Minah untuk di mintai keterangan. Wanita paruh baya itu berjalan tergopoh-gopoh mendekati Tuannya. Yang selama ini dia tidak pernah bertemu dengannya, hanya cerita dan gaji bulanan saja selama ini yang Bibi Tinah ketahui.
"Anda memanggil saya Tuan?"
"Ya duduklah Bibi, aku ingin bertanya tentang Bibi Minah!"
"Teh Minah sekarang tinggal di Bogor Tuan, apa yang ingin Anda ketahui?"
"Tentang istriku Neng sebelum meninggalkan villa ini."
"Kalau tentang Nona saya tahu Tuan, Nona pergi dari villa ini hamil sedang delapan Minggu, Nona melarang Teh Minah dan seluruh pegawai di villa saat ingin menceritakan tentang kehamilannya, dan---!"
"Dan apa Bibi?"
"Saya takut Anda marah Tuan, karena ini akan menyakitkan buat Anda."
"Aku tidak akan marah Bibi, katakan saja sepahit apapun itu!"
"Apa itu Bibi?"
"Nona takut jika Anda akan memperlakukan anaknya seperti Anda melakukan Nona."
Hati Al seperti diiris pisau belati. Mengingat perlakuannya saat masih bersamanya. Selalu melampiaskan amarahnya jika dalam keadaan mabuk. Apalagi saat Al mengingat tangan Neng tanpa sengaja tersiram kopi panas dan tangannya melepuh saat itu.
"Sebentar Tuan saya ambil Handphone, saya mempunyai beberapa foto Nona bersama Teh Minah sebelum Nona pergi."
"Waah, betulkah, cepatlah Bi aku mau melihatnya!"
Bibi Tinah berlari ke villa bagian belakang. Mengambil handphone yang diltakkan di kamarnya. Saat bekerja Bibi Tinah selalu menyimpan handphone itu di kamar agar tidak mengganggu saat dia bekerja.
"Ini Tuan ada tiga foto, yang sering di banggakan oleh Teh Minah yang pertama Tuan."
__ADS_1
Bibi Minah menunjukkan tiga foto Neng, yang pertama adalah saat Neng memegang tast peck kehamilan dua garis biru kepada Bibi Minah. Yang kedua Saat Bibi Minah duduk bersimpuh mencium perut Neng yang masih rata. Dan foto yang ketiga saat Neng memeluk Bibi Minah.
Al melihat tiga foto itu dengan berkaca-kaca. Ingin rasanya kembali ke masa lalu mendukung istrinya yang sedang mengandung anaknya. Apalah daya Al hanya bisa menyesali semua yang telah terjadi.
"Surya kamu kirim foto istriku handphone dan laptopku!"
"Siap Tuan." jawab Surya singkat.
Junaidi mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Tuan Al. Dia masih menganggap Neng sebagai istrinya. Seharusnya sekarang ini Neng bukan istrinya lagi karena waktu itu perjanjian menikah hanya lima bulan.
"Apakah Anda masih menganggap Nona istri Anda, Tuan?" tanya Junaidi dengan ragu.
"Bagiku dia masih istriku, aku tidak pernah menyatakan talak padanya, apalagi sekarang aku memiliki anak darinya." Alfarizi dengan percaya diri menganggap Neng masih menjadi istrinya.
"Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?" tanya Surya lagi.
"Aku akan mencari Ayah Asep ke Bandung bersama Junaidi, kamu yang handle pekerjaan sekarang, tapi ingat jangan katakan kepada siapapun tentang ini sebelum aku menemukan istri dan anakku!"
"Baik Tuan." jawab Surya lagi.
Malam semakin larut, Al masuk kamar sendiri rasanya seperti sesak di dada. Memperhatikan seluruh kamar yang dulu di tempati bersama Neng selama empat bulan masih seperti saat dia tunggalkan dulu. Membuka lemarinya sendiri baju masih tertata rapi sama seperti dulu.
Al bergeser berdiri di depan lemari baju milik Neng. Membuka pintu lemari itu berlahan. Baju yang pernah dibelikannya ternyata masih tersusun rapi di sana. Tidak ada yang dibawa olehnya satupun saat di keluar dari villa.
Al mulai menyentuh satu persatu baju yang sering di pakai oleh Neng selama di villa. Tanpa sengaja ada satu baju yang terjatuh. Saat Al ingin mengambil baju itu ada tumpukan kertas yang ada di bawah baju lingerie.
Al langsung duduk dan mengeluarkan seluruh kertas yang ada di lemari bagian bawah itu. Diperhatikan satu persatu kertas itu banyak sekali goresan pensil desainer baju yang hampir memudar. Kertas itu kemudian di ketakkan di atas meja.
Al kembali memeriksa bawah lemari, bahkan dia mengguakan lampu senter untuk melihat isi lemari. Ada satu handphone kecil yang terselip di pojok lemari. Bergegas dia mengambilnya, berharap ada petunjuk yang bisa di gunakan untukmencari keadaan Neng saat ini.
Handphone model lama yang sering disebut model senter ternyata mati. Berencana untuk membeli charger handphone terlebih dahulu agar bisa membuka hendhone milik Neng. Rasanya tidak sabar ingin mengetahui isi dari handphone miliknya.
promo novel milik teman, ayo kepoin ya shobat.
__ADS_1