
Saat ini di kamar hotel sedang duduk berhadapan Umi Anna dan Neng. Setelah Alfian dan Alfarizi diusir oleh Umi Anna dengan alasan di panggil oleh Abi Ali. Alfarizi keluar kamar dengan setengah hati, takut depresi Neng kambuh kembali.
"Nak Mitha, maafkan Umi bukan niat kami untuk menyembunyikan identitas kami kepadamu!"
Neng hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Menatap wajah Umi Anna saja Neng tidak berani. Rasa canggung dan hati yang tidak siap untuk bertemu orang terdekat dari putranya yang membuat Neng bingung harus bersikap.
"Nak, Umi tahu putra Umi bersalah padamu, kami tidak akan memaksa atau meminta memaafkan putra kami, kami juga sangat marah padanya, Umi hanya ingin minta izin bisa dekat denganmu dan cucu kami."
"Nyonya, saya ...!" Neng seolah tercekik lehernya, kata yang terangkai di dalam hati tidak bisa di ungkapkan.
"Nak, jangan panggil itu tolong panggil Umi saja."
Neng kembali menganggukan kepalanya, mencoba untuk tidak memikirkan hal yang negatif takut kehilangan putranya. Berharap mereka hanya menyayangi putranya tanpa harus berniat mengambil hak asuh putranya.
Umi Anna faham dengan kecanggungan Neng terlihat dari sikapnya yang selalu menunduk. Dia meraih kedua tangan Neng dan menggenggamnya dengan erat, "Nak, jangan khawatir kami tidak akan memisahkanmu dengan putramu, kami tidak berhak untuk itu, kami hanya ingin menyayangi kalian."
"Terima kasih Umi." Neng merasa lega seolah tali yang menjerat lehernya terlepas dan bisa bernapas lega.
"Kamu tahu Nak, putraku itu bertahun-tahun mendapatkan karma karena menelantarkan kamu dan putra kalian."
Neng langsung mendongakkan kepalanya berani menatap wajah Umi Anna. Hanya dengan tatapan mata seakan Neng bertanya tentang karma yang di alami oleh putranya. Tanpa berani bertanya menggunakan kata, hanya ditanyakan di dalam hati.
"Baiklah, akan Umi ceritakan tentang karma yang di alami putraku, tetapi janji jangan bilang Umi yang bercerita ini rahasia antara kita berdua, ok!"
Neng mengangguk dan tersenyum tipis. Diikuti oleh Umi Anna yng tersenyum penuh arti. Sebenarnya ada niat yang terselubung dari ceritanya kali ini. Tujuan Umi Anna yaitu agar perlahan Neng bisa memaafkan putranya dan bisa menerima putranya menjadi suaminya kembali.
Umi Anna menceritakan dari awal pernikahan Alfarizi yang di jodohkan oleh putri teman Abi Ali, mendirikan perusahaan bersama. Ternyata Sinta memiliki kekasih sejak SMA, membiayai kekasihnya kuliah kedokteran dengan menggunakan uang hasil perusahaan yang di kelola Alfarizi, surat palsu tentang Alfarizi yang tidak bisa memiliki keturunan. Sampai Sinta memiliki putri kandung dengan kekasih gelapnya dan di adopsi menjadi putri Alfarizi.
__ADS_1
Yang terakhir Umi Anna menceritakan tentang pemeriksaan ulang tentang kesehatan putranya ke Singapura. Pertemuan tidak sengaja Alfarizi dengan Junaidi dan Lilis dua tahun yang lalu. Mencari Neng dan Alfian selama dua tahun sampai ke Bandung, Jakarta dan sekitarnya.
Neng langsung mengambil napas panjang setelah mendengar cerita Umi Anna. Selama ini dia merasa hanya dia yang sangat menderita sendirian setelah bertemu dengan papinya Alfian. Ternyata dia juga sangat menderita dan mengalami banyak hal yang sangat berat.
"Nak, Umi mohon jangan hukum kami karena kesalahan Alfarizi, Umi akan mendukung apapun keputusanmu, tetapi kami berharap kalian bisa bersatu kembali."
Neng kembali mengambil napas panjang tidak bisa menjawab semua pertanyaan dan permintaannya. Hanya diam terpaku, kini rasa iba, dan tidak enak hati selalu memperlakukan papi dari putranyan dengan tidak adil. Selalu memandang dia dari sudut pandangnya sendiri, selalu menggangap dia adalah sumber awal dari penderitaannya.
"Nak Mitha sebenarnya Abi juga ingin menemuimu untuk meminta maaf atas nama Alfarizi, tetapi Umi melarangnya, Abi mu itu orangnya keras dan kaku, jadi mohon jangan di masukkan dalam hati kalau Beliau suka seenaknya sendiri memerintahkan sesuatu yang memberatkanmu!"
"Ya Umi, Umi dan Abi tidak perlu meminta maaf, saya sudah lama memaafkan Papinya Alfian, hanya saja maaf saya belum bisa ...?"
"Tidak perlu kamu teruskan Nak, Umi faham maksudmu, Umi akan mendukungmu apapun keputusanya, kalau perlu kamu balas aja perlakuan Alfarizi, biar dia kapok!"
"Eeee kok ...!" Neng menutup mulutnya mendengar Umi Anna menyuruhnya balas dendam pada putranya sendiri.
Setelah Umi Anna kembali ke acara resepsi pernikahan Isya, Neng memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan kepada Alfarizi ataupun Alfian. Dia pulang diam-diam tanpa sepengetahuan Surya, Desi ataupun keluarga Alfarizi, dia hanya menitipkan kunci kamar hotel milik Alfarizi ke lobi hotel.
Neng mengirim pesan WA kepada Desi setelah sudah sampai di rumah. Neng hanya berpesan jika akan pulang nanti ajak Alfian pulang sekalian. Neng langsung masuk kamar untuk mengistirahatkan badan dan fikirannya yang sangat lelah.
Desi langsung menunjukkan pesan WA dari Nemg kepada Surya, "Bang, Bu Mitha sudah pulang sendiri, ini pesan WA coba baca sendiri!"
Surya membaca pesan WA dari Neng, "Desi, sekarang ini aku sudah sampai rumah, jika kamu nanti pulang tolong ajak Alfian pulang, sekarang ini dia masih bersama papinya!"
Surya langsung meneruskan pesan WA itu kepada tuannya. Setelah menunggu hampir lima menit WA tidak di read. Dia langsung berlari menemui Alfarizi yang sedang bercanda dengan putranya dan Abi Ali.
"Tuan, saya mengirim pesan WA dari Bu Mitha, apakah Anda sudah baca?" bisik Surya di telinga Alfarizi.
__ADS_1
"Belum, ada apa?"
"Silahkan Anda baca dulu, Tuan!"
"Ok, tunggu sebentar."
Alfarizi langsung mengambil ponsel dari dalam kantong jasnya. Membuka pesan WA dari Surya yang dikirim lima menit yang lalu. Setelah Alfarizi membaca pesan itu dia langsung mencari Umi Anna, sedangkan Alfian masih asyik berbincang dengan Abi Ali.
Umi Anna belum terlihat bergabung di atas panggung pelaminan sampai sekarang setelah Alfarizi meninggalkannya bersama Neng di kamar hotel. Terpaksa Alfarizi memutari baroom hotel untuk mencarinya. Hanya sayangnya dia tidak menemukan Umi Anna sama sekali.
Dengan terpaksa Alfarizi berjalan dengan langkah panjang mencari Umi Anna ke kamar hotel tempat beliau bertemu empat mata dengan Neng. Sampai di depan kamar hotel Alfarizi berkali-kali menekan bel pintu, tetapi tidak ada tanda-tanda ada penghuninya akan keluar. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya ke lobi hotel.
"Permisi Bu, mau tanya, apakah istri atau ibu saya tadi menitipkan kunci di sini?"
"Kamar nomor berapa, Tuan?"
"Kamar nomor 71."
"Setengah jam yang lalu seorang wanita cantik dan anggun yang menitipkan kunci kamar nomor 71, Tuan."
"Itu berarti istri saya, boleh saya ambil kuncinya?"
"Tentu Tuan, silahkan ini kuncinya."
"Terima kasih."
Alfarizi kembali ke kamar hotel dan segera membukanya, "Umi ... apakah Umi masih di dalam?"
__ADS_1
Alfarizi mencari Umi Anna ke setiap sudut kamar, dan kamar mandi. Ternyata Umi Anna juga tidak di temukan juga, "Aduuuh, Umi ke mana sih, apakah Umi ikut Neng Geulis pulang?"