
Rania masih dalam posisi nungging dan memegangi perutnya. Menjawab pertanyaan suaminya sambil meringis, "Abang Tuan ... mana bisa tamu bulanan Rani di usir, bisanya diobati."
"Eee mana ada tamu tidak diundang diobati, yang ada ya diusir," jawab Alfian yang masih belum faham apa yang terjadi.
Rania mengubah posisi badannya miring menekukk kaki menghadap Alfian tetapi masih memegangi perut. Perutnya kembali sakit dan pinggang terasa nyeri. Jika tamu bulanan datang Rania sering mengalami itu, bahkan terkadang seharian baru akan hilang setelah minum jamu gendong.
Alfian baru mulai menyadari saat melihat Rania memegangi perutnya miring dan menekuku kakinya, "Sayang tamu bulanan makasudnya sakit peut?"
"Iya Bang, Rani lagi datnag bulan ini. Sakit perut dan pinggang rasanya nyeri," jawab Rania sambil memejamkan matanya.
"Ooo maaf ... kita ke dokter saja ayok!"
Rania menggelengkan kepala dam matanya masih terpejam. Alfian duduk jongkok di samping tempat tidur mendekati wajahnya. Mengusap pipinya degan lembut, "Apa yang bisa Abang lakukan untuk mengurangi sakitnya."
"Rani biasanya minum jamu yang dijual oleh bibi jamu. Apakah Abang Tuan bisa membelikan jamu?"
Alfian langsung mengerutkan keningnya memikirkan permintaan Rania. Jika saat ini sedang berada di Indonesia pasti akan mudah menemukan jamu gendong. Sekarang ini berada di Belanda mana mungkin ada bibi jamu gendong yang menjajakan jamunya di negara ini.
"Sayang ... kita ini sekarang ada di Belanda, tidak mungkin ada bibi jamu yang berjualan di sini."
"Pesan aja lewat online food, cepat Bang ... perut Rani sakit sekali."
"Sayang tidak ada yang sanggup menerima orderan jamu online food sampai sini. Nanti motornya legrek dan orangnya bengek naik motor kelamaan."
"Kita pulang saja kalau begitu!"
"Eee sayang ... dikira Belanda dekat dengan Indonesia?"
"Ada yang dekat Bang, Belanda Depok."
"Ha ha ha sakit juga masih melawak, Abang belikan yang sejenis jamu gendong saja ya, mau?"
"Di mana belinya, Bang?"
"Sebentar Abang cari di media sosial."
__ADS_1
Alfian mencari informasi tentang jamu atau obat untuk pereda nyeri dan sakit saat sedang datang bulan. Ada banyak merk jamu yang di jual bebas di supermarket atau mall yang terkenal di belanda. Alfian bingung harus memilih yang mana karena ada berbagai jenis rasa dan berbagai macam merk.
"Sayang, mau yang rasa apa ini ada banyak semacam jamu pereda nyeri haid!"
Tanpa melihat Rania langsung menjawab, "Rani maunya jamu bibi gendong, Abang Tuan."
Alfian mencium lembut dahi Rania dan mengusap perutnya perlahan. Duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap pundaknya, "Dicoba dulu ya!"
"Hhhmm ...."
"Ok tunggu sebentar!"
Alfian menyambar dompet dan ponsel yang di letakkan di meja. Berniat membeli sendiri jamu yang akan sudah di kemas menjadi kekinian. Saat Alfian akan membuka pintu, "Abang Tuan!" Rania berteriak memanggilnya membuat dia spontan berbalik badan dan mendekatinya.
"Ada apa lagi, apanya yang sakit, Sayang?"
"Tidak ada Abang. Rani hanya mau nitip tolong belikan ...!" Rania tidak melanjutkan ucapannya. Mulutnya langsung di tutup karena merasa malu.
"Mau nitip apa, mengapa tidak di lanjutkan ucapannya?"
"Rani takut nanti Abang Tuan malu, tidak jadi deh."
"Itu e ... e ... pembalut."
"Ooo sebentar! "
Kembali Alfian mencari informasi tentang pembalut di internet. Mencari tahu tentang fungsi, ukuran dan bentuk dari pembalut. Alfian kembali menemukan ada banyak sekali macam bentuk, ukuran dan merk dari pembalut.
"Sayang Abang bingung mau beli yang mana, coba dilihat sebentar!"
Rania hanya membuka satu matanya saat Alfian menunjukkan ponsel yang ada banyak macam pembalut. Rasa sakit yang di rasakan membuatnya enggan untuk membuka mata dan malas berbicara, "Terserah Abang Tuan saja, yang penting cari yang panjangnya 25 cm."
"Panjang banget padahal itunya Rani kecil saja, "jawab Alfian sambil menahan tawa.
"Hhhmm ... dan jangan lupa jangan yang ada sayapnya!"
__ADS_1
Alfian mulai bingung setelah mendengar pembalut yang tidak ada sayapnya. Tidak memahami apa maksud sayap pada pembalut. Mau mencaari tahu melalui internet pasti akan memerlukan waktu yang lama.
"Untung tidak mencari yang tidak ada sayapnya, kalau pakai sayap nanti terbang pasti Abang akan susah menyedot tenaga Rani!"
"Aaah Abang Tuan, jangan bercanda dulu, Cepat sana berangkat!" teriak Rania dengan kesal.
"Aduuuh iya ... iya Sayang, galak banget sih, Abang berangkat sekarang."
Alfian berlari keluar kamar sambil menggelengkan kepala. Tujuannya menghibur agar dia tidak merasa kesakitan gagal total karena tidak berkurang sakitnya. Berjalan keluar kamar hotel sambil mencari supermarket terdekat yang menyediakan dua barang yang dicari.
Ada dua supermarket besar di lantai dasar samping hotel yang ditemukan di goegle map. Alfian juga membaca informasi ternyata salah satunya yang pemilik supermarket adalah orang Asia tenggara tepatnya warga negara Malaysia. Alfian langsung memasuki supermarket dan mencari dua macam barang yang di carinya dengan teliti.
Awalnya dia dengan mudah mendapatkan jamu pereda nyeri haid di etalase khusus obat tardisional dan apotik. Mengambil langsung sepuluh botol kecil dan di masukkan ke dalam keranjang belanjaan. Berpindah ke gerai yang bertuliskan kebutuhan khusus wanita.
Berjalan perlahan memperhatikan pembalut satu persatu yang ada di etalase dengan tertata rapi. Tanpa di sadari banyak wanita dan ibu-ibu memperhatikan Alfian dengan penuh curiga. Ada juga yang tersenyum devil melihat Alfian mengambil satu merk, membaca dan mengembalikan lagi tanpa malu.
Alfian melenggang keluar area etalase tanpa memperdulikan tatapan mereka yang curiga. Tujuannya hanya satu untuk segera bertemu dan memberikan jamu pereda nyeri dan pembalut kepada istri tercinta.
Sampai di kamar, Alfian tidak menemukan Rania di kamar. Dia berlari menuju kamar mandi yang ada di pojok kamar. Di kamar mandi ternyata tidak ada Rania di sana.
Kembali keluar kamar mandi, dan berniat menghubungi dia menggunakan ponsel. Niat itu di urungkan saat melihat ponsel Rania tergeletak diatas tempat tidur. Rasa khawatir kini ada di dalam hati, selama bulan madu tidak sedetikpun berpisah dengannya.
Alfian mengambil napas panjang untuk menenangkan diri, "Tenang ... Al tenang dulu pikirkan kemungkinan dia akan pergi ke mana?" monolog Alfian sendiri sambil mengusap dadanya.
Mengingat pilot dan para kru juga di pesankan kamar tidak jauh dari kamar miliknya walaupun berbeda kelas. Tidak semua kru yang di kenal Rania, membuat dia lebih mudah mencari keberadaan Rania. Kembali Alfian membuka ponsel untuk menghubungi kepala bagian yang sering menangani perjalanan pribadi atau perjalanan bisnis.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Alfian dengan cepat setelah ponsel tersambung.
"Saya sedang berkumpul bersama semua kru di kafe lantai lima, Tuan."
"Apakah ada istriku di situ?"
"Tidak ada, Tuan?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Hai Shobat yok mampir di novel author yang di sebelah masih sepi di sana, novel author yg ikut lomba, doakan menang ya