
Hari Sabtu pagi ini Neng lebih sibuk dari biasanya. Pagi-pagi dia harus masak opor ayam pesanan putranya Alfian dan Zain. Setelah pulang sekolah Al akan kerja kelompok di rumah Zain untuk mengerjakan prakarya.
Dua hari yang lalu Zain sudah reques opor ayam buatan Neng, beserta sambel terasi dan krupuk udang. Semenjak Al sering membawa bekal opor ayam kesukaannya, Zain sering dibawakan juga oleh Neng. Sebelum berangkat Al mempersiapkan sendiri kotak bekalnya untuk dibawa ke rumah Zain.
"Mami, apakah sambal terasinya sudah jadi, sini Al yang bungkus sendiri aja?"
"Sabar Nak, ini baru Mami haluskan, Al bungkus kerupuk udang aja dulu, ok!"
"Baiklah."
"Pintar Putra Mami, ayo cepat nanti terlambat sekolahnya, nanti pulang kerja kelompok jam berapa?"
"Kemungkinan sebentar saja, Mami ada acara?"
"Mami ada janjian dengan pelanggan baru yang mau membuat gaun pengantin."
"Semoga sukses ya Mi; oya Mi kok Al belum pernah lihat foto Mami pakai gaun pengantin saat menikah dengan Papi, sih?"
Neng langsung menutup mulutnya karena hampir keceplosan bercerita saat menikah dengan papinya, dia memakai baju toga bukan gaun pengantin. Berpikir dengan cepat apa cerita yang membuat putranya itu tidak akan bertanya lagi. "Mami tidak memakai baju pengantin waktu itu karena acaranya mendadak."
"Mami pakai baju apa dong jadinya?"
"Bakai baju kebaya, sudah ah ceritanya, ayo berangkat nanti terlambat!"
"Iya Mi, Nenek Al berangkat ya!" pamit Al sambil mencium punggung tangan Ibu Ani.
"Iya cucu Nenek ganteng, belajar yang rajin, ok!"
Neng mengantar sekolah menggunakan mobil sendiri setiap pagi, jika tidak repot dia juga menjemputnya saat pulang sekolah. Jika Neng tidak sempat Ibu Ani akan menjemput Al menggunakan taksi online. Hanya saja hari ini Al akan ikut mamanya Zain yaitu Rianti untuk kerja kelompok.
Pukul dua siang Al dan Zain dalam perjalanan pulang menuju rumah Zain. Di dalam mobil Zain berkali-kali mengerutkan keningnya sambil menandang wajah Al. Ada yang mengganjal di hati Zain karena hampir satu bulan ini papanya merawat teman sekolah SMP nya di rumah, tetapi setelah di perhatikan wajahnya mirip dengan Alfian.
Sampai di rumah Zain langsung mengajak Al untuk masuk kamar, ingin membicarakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh mamanya. "Al, ayo ke kamarku, aku mau bicara sesuatu rahasia!" bisik Zain menarik Al masuk dalam kamar.
"Ada apa sih Zain, kamu mau cerita tentang Dhea lagi?"
"Bukan itu, ini tentang teman Papa yang menginap di rumahku."
"Ada apa memangnya?"
"Ada teman Papa yang menginap di ruang tamu, kata Papa dia sedang sakit, tetapi setelah aku perhatikan wajahnya mirip dengan wajahmu."
__ADS_1
"Yang benar, namanya siapa?"
"Aku tidak tahu nama lengkapnya, nama panggilannya sama denganmu, aku sering memanggil dia Om Al."
"Orangnya sekarang di mana?"
"Kamu disini saja, aku lihat dulu ya!"
"Baiklah, aku tunggu di kamar saja."
Zain keluar kamar setelah berganti baju dengan baju santai. Awalnya Zain mengintip kamar tamu karena pintunya terbuka sedikit dan tidak ada penghuninya di sana. Zain berlari ke belakang rumah, ada gazebo kecil yang berada disamping kolam renang. Dia sedang berbaring sambil melamun dengan pandangan mata yang sayu.
Zain langsung belari kembali ke kamar. "Al orangnya ada di gazebo dekat kolam renang, kamu mau lihat?"
"Boleh, ayo ke sana, Eee tunggu aku ambil opor ayam dulu!"
Setelah opor ayam di serahkan kepada mamanya Zain. Mereka langsung berlari ke belakang rumah menuju gazebo. Alfian mendadak berhenti berlari setelah melihat orang yang sedang berbaring di gazebo.
"Papi ...!" teriak Alfian kaget.
Alfarizi yang awalnya melamun tersentak kaget setelah mendengar suara yang lama tidak di dengarnya. Rasa rindu yang di pendamnya selama ini terobati setelah ada putranya berdiri di hadapannya. Alfarizi langsung bangun dan duduk di pinggir gazebo.
"Al dia Papimu, pantas saja mukanya mirip?" tanya Zain dan di jawab oleh Alfian dengan anggukan kepala saja.
"Tidak, Al ke sini mau kerja kelompok bersama Zain."
Rianti dan Dokter Harry berlari menghampiri mereka dengan khawatir. Sudah hampir satu bulan ini Dokter Harry tidak bercerita kepada siapapun jika Alfarizi ada di rumah. Hari ini putranya sendiri yang mengetahui keberadaan papinya.
"Al ...!" teriak Dokter Harry dengan khawatir.
"Ya ..." jawab Alfarizi dan Alfian bersamaan.
"Waah kompak!" Rianti tersenyum menggoda ayah dan anak yang menjawab bersama."
"Al, apakah kamu sudah makan siang?" tanya Dokter Harry lagi.
Kembali duo Al menjawab besamaan, "Belum ..."
"Apakah Papi mau Al suapin?, kalau Al sakit biasanya Al selalu disuapin Mami."
"Mau dong, Nak; dari mana Al tahu Papi sakit?"
__ADS_1
"Dari televisi; Auntie, Al ambil makan buat Papi boleh ya?"
"Tentu dong sayang."
Alfian mengambil menu nasi opor ayam, sambal terasi dan kerupuk undang di bantu bibi. Dibawanya menggunakan nampan plus air mineral satu botol miliknya yang dibawanya dari rumah. Rasa ingin berbakti kepada papinya membuatnya lupa dengan tugas prakarya yang akan di kerjakan.
"Ayo makan dulu Pi, ini opor ayam buatan Mami, uncle apakah Papi boleh makan memakai sambal terasi dan kerupuk?" tanya Alfian.
"Tentu boleh, tidak ada yang melarang!" jawab Dokter Harry dengan tersenyum.
Seketika Alfarizi meneteskan air matanya teringat saat masih di villa makan opor ayam buatan Neng tetapi dinikmatinya sendiri, Neng hanya berdiri di depannya tanpa kata. Alfarizi bergegas menghapus air matanya tidak ingin putranya mengetahui duka yang dirasakan. Mencoba tersenyum agar bisa melihat putranya tersenyum.
"Ayo buka mulutnya, Pi!" Alfian menyuapi papinya sesuap demi sesuap.
Tetap saja Alfarizi tidak kuasa menahan air matanya. Rasa masakannya masih sama seperti dulu. Dokter Harry langsung duduk di samping Alfarizi dan menepuk pundaknya.
"Apakah masakan Mami tidak enak Pi, mengapa Papi menangis?" tanya Alfian bingung melihat papinya meneteskan air mata.
"Enak Nak, masakan Mami Al sangat lezat, Papi menangis karena bahagia Al mau merawat Papi, terima kasih."
Suapan demi suapan terus Alfian suapkan kepada papinya dengan telaten. sampai habis nasi opor ayam dalam piring. Akfarizi lebih banyak diam, hanya mendengarkan Dokter Harry, Rianti dan Zain berbincang dengan lirih.
"Al ayo cepat buat prakarya kita, apakah sudah selesai?" tanya Zain kepada Alfian.
"Tunggu sebentar lagi Zain, setelah Papi minum obat, ok!"
Alfian menbukakan air mineral untuk papinya. Alfarizi mengambil obat yang ada di pinggir gazebo. Segera meminum obat dengan air yang di berikan oleh putranya.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama Pi, semoga Papi cepat sembuh."
"Amiin."
Ada tamu datang disambut oleh bibi dan diantar ke belakang rumah untuk menemui tuan rumah yang sedang berkumpul di belakang rumah. "Bu Ria ada tamu!" kata Bibi.
"Siapa Bibi, suruh masuk saja!" tanya Rianti.
"Ada yang mau jemput Alfian pulang!"
" ... ?"
__ADS_1
promo novel punya teman laginya shobat jangan lupa mampir