
"Al, mengapa buka pintu seperti maling lagi di kejar warga, Nak?" tanya Neng sambil mengusap air matanya mendekati Alfian yang memegang es krim di kanan dan kiri.
"Al tidak bisa buka pintu Mami, dari tadi teriak dari luar minta tolong bukain tidak ada yang buka, memangnya lagi pada ngapain siiih, Al kan jadi kesal!" gerutu Alfian sambil memperhatikan satu persatu orang yang di dalam kantor Alfariizi.
"Maaf kami tidak dengar, Nak." Alfarizi ikut menjawab.
Alfian memandangi lekat-lekat Doni yang masih bersujud di kaki Bu Ani. IBu Ani juga belum jadi membantu Doni dari sana langsung mendekatinya, "Om ngapain sembahyang di situ, atau mau minta makan sama nenek, ini bangunlah Al kasih es krim rasa vanilla?"
Yang awalnya semua tegang dan mengeluarkan air mata menjadi tersenyum sambil menghapus air matanya. Doni duduk di samping kaki Ibu Ani sambil mengusap air matanya, "Terima kasih Ganteng, Om sudah kenyang."
"Bangunlah Doni, Ibu sudah memaafkan kamu!" kata Ibu Ani sambil membantu Doni untuk berdiri.
"Sebaiknya Ibu dan Bang Doni berbincang berdua di sini, ayo Papi, Al kita makan es krimnya di luar aja!"
Selama dua jam Ibu Ani berbincang dari hati ke hati dengan putra tirinya setelah itu Doni berpamitan pulang. Doni tidak mau di bantu sama sekali oleh Ibu Ani walaupun sudah di desak dan di paksa. Dia mengatakan hanya murni ingin meminta ampun dan meminta ridho darinya.
Malam ini terpaksa Alfarizi pulang terlambat karena sedang mempersiapkan transportasi untuk bulan madu yang akan berangkat setelah Alfian menerima rapor hari Jum'at siang. Malam ini adalah pembayaran pembelian pesawat pribadi yang di beli oleh Alfarizi yang di urus oleh Surya satu minggu yang lalu. Mereka meeting bertemu dengan pilot, pramugari dan kru pesawat yang sudah resmi menjadi karyawan Alfarizi.
Pukul sembilan malam Alfarizi baru tiba di rumah, langsung mandi dan membersihkan diri di kamar mandi. Neng lansung menyiapkan baju ganti dan turun ke lantai satu untuk mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Selesai mandi Alfarizi langsung turun menyusul Neng yang ada di ruang makan.
"Masak apa Mi?"
"Ini opor ayam, sambal terasi dan krupuk udang kesukaan Papi, ayo makanlah!"
"Terima kasih, Papi mau dua potong ya Mi, opor ayamnya?"
"Tentu Papi, silahkan!"
"Nanti yang tiga di kamar aja."
"Papi mau nambah lagi dibawa ke kamar?"
"Yang ke tiga itu makan Mami, karena tadi siang gagal."
"Mulai lagi nich mesumnya." Neng mengerucutkan bibirnya sambil menuangkan air putih dan di letakkan di depan Alfarizi yang tersenyum sambil menyuapkan nasi opor kesukaannya.
__ADS_1
"Sudah siap untuk bulan madu, Mami. Kita berangkat hari Jum'at sore?"
"Kemana Pi dan berapa hari?"
Alfarizi hanya tersenyum teringat kemarin dia sudah berbincang dengan Umi Anna dan Abi Ali tentang rencana bulan madu. Tentang keinginan Neng yang mengajak putranya dan berganti wisata keluarga. Semua di susun rapi oleh Umi Anna walaupun di sebut wisata keluarga tetapi tidak akan mengganggu bulan madu berdua.
"Waktunya sih selama Al libur, hari pertama kita ke Riyadt karena sekalian mengantar Umi dan Abi pulang, beliau sudah lama meninggalkan rumah dan bisnisnya di sana, setuju kan?"
"Ya Pi, setelah itu ke mana lagi, Papi beli tiket pulang pergi atau berangkatnya dulu?"
"Kalau yang itu Papi belum bisa jelaskan, yang penting Mami bersiap aja untuk selalu bergoyang bersama senjata onta arab sampai pagi, ha ha ha."
"Gombal, mana bisa begitu Pi, Mami kan minta Al ikut, Papi harus bersabar."
"TIdak cuma Al yang ikut Mami, Umi Anna, Abi Ali, Ibu Ani, Ibu Yuni, Isya dan Fano juga ikut."
"Wuuuih asyik banyak yang ikut, mengapa Mpok Atun, Desi dan Surya tidak di ajak sekalian?"
"Mereka yang menjalankan perusahaan, nanti bisa gantian setelah kita pulang dari bulan madu, Mami senang?"
"Ya Papi sangat senang dan bahagia."
"Nak, ada apa kok menangis, apanya yang sakit?"
"Mami perut Al sakit, rasanya seperti di aduk-aduk."
"kasihannya putra Papi, kita berobat ke rumah sakit, ok!"
"Tidak mau Papi, Al mau minum obat aja, pahit juga mau!"
"Ayo kita ke kamar, Nanti Mami telepon Dokter Tanti saja untuk datang ke sini, Al mau?"
"Iya Mi, Al mau."
Dalam rumah semua bingung dan khawatir karena Alfian sakit perut. Dari kecil jika Alfian sakit semua akan di repotkan olehnya. Al selalu minta perhatian lebih saat dulu belum ada papi bersamanya, bahkan para karyawan konfeksi juga ikut bingung saat Al sedang sakit.
__ADS_1
Umi Anna dan Ibu Ani sedang membuat bubur perintaan Al. Neng selalu memeluk dan mengusap perutnya. Alfarizi ikut duduk di sampingnya sambil di pegang oleh Alfian tangannya.
Selama ini Alfarizi belum pernah melihat saat Al sedang sakit. Setelah melihat putranya manjanya keluar saat sedang sakit dia hanya bisa menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecut, "Mi, alamat gagal lagi nich senjata onta arab bergoyang, manja banget ternyata kalau Al sedang sakit." bisik Alfarizi di telinga Neng.
"Sama kayak Papi, Papi juga manja saat sakit."
"Kapan Papi sakit?"
"Saat di villa, apa sudah lupa?"
"Eee iya betul juga."
Dokter Tanti datang setelah setengah jam di telepon oleh Neng. Dokter paruh baya itu sangat menyayangi Neng dan Alfian seperti anak dan cucunya sendiri. Dokter Tanti adalah dokter anak yang sering memberikan obat pahit kepada Alfian tetapi obat itu sangat manjur dan cocok untuknya.
"Malam Ganteng, apanya yang sakit?"
"Malam Dokter, perutnya sakit seperti di aduk katanya," jawab Neng sambil tersenyum.
"Si Ganteng ini sudah punya Papi apakah masih manja seperti dulu, nanti kalau punya adik bagaimana, Dokter mau tanya hari ini Al makan apa saja?"
"Makan es krim banyak sekali." jawab Al lirih.
"Pantas aja, lain kali jangan makan es krim terlalu banyak, ini jadi perutnya sakit, nanti setelah makan lalu minum obat besok pagi sudah sembuh ok!"
"Iya Dok, terima kasih."
Setelah dokter pamit pulang, Alfian masih penasaran tentang pertanyaan Dokter Tanti tadi "Kapan Al punya adiknya, Papi?"
"Papi juga belum tahu, Nak, sekarang ini Al akan memiliki adik kok tenang aja, tetapi bukan dari Mami, Mami masih berusaha, Al sabar ya!"
Neng memandang Alfarizi dengan melotot dan kesal. Alfarizi hanya terkekeh sambil menunjukkan tanda cinta dengan jempol dan telunjuk yang di silangkan.
"Adik dari siapa Papi?" tanya Alfian.
"Adik dari mantan ya Pi?" tanya Neng berbisik di telinga suaminya.
__ADS_1
"Bukan Mami, itu masa kalu jangan di sebut lagi."
"Jadi adik dari siapa Pi?" tanya Neng dan Alfian bersamaan.