Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ke Bogor


__ADS_3

Rania berlari masuk kamar mandi tanpa menutupi tubunya yang masih polos. Alfian hanya menggelengkan kepalanya sambil memakai kaos dan celana pendek. Membukakan pintu kamar sebelum Elfa mengetuk dan berterik lagi.


"Abang ...!" teriak Elfa lagi.


Alfian menoyor dahi Elfa sambil tersenyum devil, "Berisik El, Abang tidak tidur. Abang di kamar mandi."


"Teteh di mana?" tanya Elfa sambil melongok ke dalam kamar.


"Dia juga ada di kamar mandi, Elfa."


Elfa membuka mata dengan lebar. Heran karena ke kamar mandi harus berdua, "Abang sama Teteh masuk kamar mandi bersama?"


"Jangan berpikir macam-macam, Abang dan Teteh bergantian menggunakan kamar mandi!"


Elfa nyengir kuda dan mengusap dahinya karena di toyor oleh Alfian. Nyelonong masuk kamar tanpa permisi sambil menggeser Alfian yang masih berdiri di depan pintu. Melihat tempt tidur yang berantakan Elfa kembali gagal fokus.


"Iiiih Abang jorok banget sih, mengapa tempat tidur berantakan begini?"


"Eeee Elfa berpikir macam-macam lagi, tadi Abang dan Teteh sedang bercanda sambil perang badan Eee salah perang bantal."


"Oooo .. ya sudah, nanti kalau Teteh sudah keluar kamar cepat turun di tunggu Mami dan Papi di ruang makan!"


"Ya sana ... Elfa duluan."


Makan siang bersama siang itu dengan seluruh keluarga. Setelah itu mereka berkumpul dan bercengerama di ruang keluarga. Papi Alfarizi kembali menceritakan tentang pertemuan dengan Putri Siregar yang akan berkunjung ke Ansterdam.


"Berapa hari dia di sana, Papi?" tanya Mami Mitha.


"Katanya sih sepuluh hari, memangnya ada apa, Mami?" tanya Papi Alfarizi.


"Mami ingin mengadakan pesta pernikahan Abang."


"Eee tidak usah, Mami. Nanti uang Mami habis yang penting akad nikah resmi bagi Rani sudah cukup."


Papi Alfarizi tergelak mendengar ucapan Rania. Teringat saat pertama kali bertemu Mami Mitha. Dia lugu dan jujur seperti menantunya sekarang ini.


Rani, jangan khawatirkan uang Mami. Masih banyak kalu cuma untuk membuat pesta pernikahan. Rani mau pesta di mana?"

__ADS_1


"Abang maunya di Bogor saja."


"Apakah Rani setuju?" tanya Abah.


"Terserah saja, apakah Abah juga setuju?"


Abah mengerutkan keningnya, teringat dulu saat menikahkan Neng Mitha putrinya. Hanya menikahkan dengan nikah sirri. Akan seperti membayar lunas saat pernikahan akan di adakan di Bogor.


"Iya Abah setuju, sebaiknya mengadakan pesta pernikahan di Bogor dan ...!"


Papi Alfarizi langsung memotong jawaban Abah, "Tunggu Ayah, jangan minta pesta pernikahan mandadak seperti kemarin!"


Abah tergelak dan menggelengkan kepalanya. Tidak berniat membuat Julio, Surya dan Junaidi kelimpungan bekerja untuk memenuhi permintaan tuannya. Di samping acara itu tidak mendesak, pesta penikahan memerlukan persiapan yang banyak.


"Tidak kali ini Ayah meminta waktu yang lebih lama karena memerlukan banyak persiapan."


Setelah melakukan rundingan, mereka akan mmengadakan pesta pernikahan tiga bulan lagi. Akan diadakan di hotel bintang lima di bogor. Dan tidak akan di publikasikan sampai satu minggu sebelum hari-H.


Masalah Putri Siregar yang kemungkinan akan mengacaukan acara pernikahan. Papi Alfarizi menyerahkan cara menangannanya kepada Julio dan Zain. Mereka percaya ke dua pemuda itu sering memiliki ide gila yang bisa membuat Putri Siregar tidak bisa mendekati Alfian.


Sedang asyik berbincang datang Doni sambil mengandeng Raffa yang masih memakai seragam sekolah. Ibu Ani yang awalnya duduk sambil memeluk Elfa cucu kesayangan. Dia langsung mengajak Raffa duduk di sampingnya.


"Raffa ke sini sendiri naik ojek."


"Ya Allah, nekat banget ada apa Raffa sampai nekat begini?" tanya Abah kaget.


"Raffa ingin bertemu Bapak, Raffa kemarin mendapat tugas mengarang berwisata dengan Ayah. jadi Raffa ingin mengajak Bapak jalan-jalan agar Raffa bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya bisa berwisata."


"Raffa pamit sama Mama tidak?" tanya Ibu Ani lagi.


Raffa menggelengkan kepalanya sambil cemberut. Wajahnya terlihat sedih karena takut di marahi, "Jangan marahi Raffa ya Nenek dan Abah!"


Alfian hanya melihat wajah Raffa dengan sendu. Memahami betul perasaan Raffa karena dia pernah mengalami saat kecil, "Tidak Raffa, tidak akan ada yang marah, tetapi lain kali Raffa harus izin kepada Mama. Pasti Mama Raffa akan sangat khawatir jika tahu Raffa ke sini sendiri." Alfian menasehati dengan bijak.


"Iya Abang, maaf Raffi tidak akan mengulangi lagi."


Alfian rencana sore hari akan kembali ke Jakarta. Akhirnya memiliki ide mengajak seluruh keluarga untuk ke Bogor. Disamping ingin mengajak berwisata Raffa, Alfian berniat menyelesaikan niat untuk membantu Raffa dan mamanya.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka berangkat menuju restoran tempat Esih bekerja. Ini adalah pertemuan Mami Mitha dan Papi Alfizi dengan Esih. Pertemuan yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya karena dari dulu Mami Mitha tidak suka mencari masalah.


Sampai di restoran Raffa lansung berlari dan mencari keberadaan mamanya di dalam restoran. Ada teman Esih yang menganal Raffa langsung mendekati dia, "Raffa kamu di sini?"


"Raffa cari Mama, apakah Mama masih bekerja?"


"Mama kamu sudah pulang tadi siang."


Alfian dan Papi Alfarizi yang awalnya ingin memesan makanan dan private room mengurungkan niatannya. Kemungkinan Esih akan kebingungan saat mengetahui putranya belum pulang sampai sore hari. Sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk memesan.


"Raffa ayo kita pulang, mungkin Mama Raffa sudah sampai di rumah!" teriak Alfian dari lobi restoran.


"Iya Bang ...."


Mereka mengurungkan niatnya untuk makan di restoran. Pasti seorang ibu akan merasa khawatir jika putranya belum pulang sekolah. Padahal waktu sekarang sudah menunjukkan sore hari.


Wajah mereka terlihat khawatir saat perjalanan menuju rumah Esih. Beda dengan Rania yang membayangkan bagaimana perasaan ibunya saat dia pergi tanpa pesan. Bahkan sampai sekarang Rania tidak berani pulang.


Kini mata Rania berkaca-kaca karena merasa bersalah dengan ibunya. Alfian yang sedang menyetir melirik istrinya kaget dan mengusap pipinya, "Kenapa Sayang?"


"Rani jadi teringat Ibu."


Mami Mitha yang duduk di belakang bersama Papi Alfarizi dan Elfa langsung mengusap pundak menantunya, "Nak ... jangan bersedih, masalah kamu dengan Raffa itu beda. Jadi jangan merasa bersalah."


"Tuuuh dengarkan Mami, nanti Abang antar bertemu Ibu kalau Rani mau."


Rania menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air mata. Rasa trauma saat akan di nikahkan dengan laki-laki tua berperut buncit. Membuatnya tidak berani bertemu dan pulang ke sana.


"Kenapa?" tanya Alfian lagi.


"Rani masih takut bertemu Ibu, nanti kalau akan di nikahkan lagi bagaimana?"


Alfian tersenyum menggenggam erat dan menautkan jemarinya dengan sempurna. Tidak mungkin akan membiarkan istrinya diambil oleh bandot tua berperut buncit. Pasti akan melakukan apapun agar semua itu tidak terjadi.


"Nanti Abang yang akan menghadapi bandot tua berperut buncit itu."


"Bagaimana caranya, Bang?"

__ADS_1


"Di tebas aja senjatanya biar tidak lagi mencari gadis yang tidak berdosa."


"Waduuuh."


__ADS_2