
"Maaf ... maaf!" Dokter Atha hanya bisa melipatkan tangannya di dada.
Zain yang baru saja datang setelah mendengar seluruh keluarga masuk di ruang dokter Atha. Apalagi melihat dokter cantik itu hanya menunduk dan melipatkan tangannya, "Ada apa ini sebenarnya, apakah hanya aku yang tidak mengenal dokter kandungan ini?"
"Elu diam dulu, gue masih menunggu jawaban dia!" teriak Alfian mulai emosi.
"Maafkan saya, saya tidak memiliki muka untuk bertemu. Semenjak perbuatan Almarhum Papa membuat ulah dulu, saya semakin tidak punya keberanian. Apalagi Papi terus membiayai kuliah Atha."
"Kakak ...!" Alfian langsung memeluk wanita cantik yang ada di depannya.
"Eee Abang, mengapa memeluk dia?" tanya Rania.
Alfian terkekeh melihat Rania terlihat cemburu dan bingung. Dia berusaha memisahkan pelukan Atha dan suaminya. Berdiri di tengah keduanya dengan bertolak pinggang.
"Sini gantian Abang peluk." Alfian menarik Rania dan di peluknya dengan erat.
Mami Mitha mendekati Dokter Marta Inayah, putri angkat dari Papi Alfarizi. Putrii kandung dari istri pertama dari suaminnya, "Kami tidak pernah dendam kepada siapapun, Nak. Jangan kamu berkecil hati yang penting kamu bisa mengambil pelajaran dari semua itu."
"Maaf Mami, Atha sangat malu. Atha selalu belajar dari kesalahan Papa. Atha ingin jadi putri Mami yanga selalu bisa di banggakan.
Gantian Atha memeluk satu persatu dari keluarga yang datang. Bahkan dia bisa menyebutkan satu persatu nama mereka masing-masing. Selama ini dia selalu mengikuti perkembangan keluarga yang di banggakan. Apalagi saat mencium punggung tangan Papi Alfarizi.
"Maafkan Atha, Papi. Maafkan almarhum Papa Mario dan Mama Sinta."
"Kami sudah memaafkan mereka tanpa kamu minta, hanya Papi minta Atha menjadi putri yang selalu di banggakan keluarga,
"Iya Papi trima kasih."
Selama ini Papi Alfarizi tetap mendanai sekolah dan kuliahnya walau tanpa di minta. Kebaikan keluarga Papi angkatnya selalu dibuat Marta sebagai cerminan kehidupannya sehari-hari. Menjadi kebanggaan walau tidak pernah di temui karena kejahatan yang di lakukan oleh papanya sendiri.
Rania yang baru pertama dan tidak kenal siapa dokter yang baru saja di peluk Alfian. Dia berbisik di telinga Alfian yang masih memeluknya, "Bang siapa dokter cantik itu?"
"Dia putri dari istri Papi yang pertama."
"Putri kandung, Bang?"
__ADS_1
"Bukan Sayang, hanya putri angkat."
Zain juga mulai faham dan mengenali dokter Atha dia hanya gergumam lirih, "Pantas saja tidak mau di gaji." Zain berjalan mendekati Alfian berdiri di sampingnya,
"Elu tidak ingat dengan Kakak gue?" tanya Alfian berbisik.
"Gue dari tadi pagi mengingat dia tetapi lupa, tetapi memang tidak terlalu asing."
Zain tersenyum sendiri teringat saat pertemuan pertama tanpa sengaja tadi pagi. Dia memperhatikan wanita yang memiliki wajah yang tegas, serius dan tidak banyak bicara. Itu adalah tipe wanita idamannya yang dicarinya selama ini.
Dengan usil Zain berbisik di telinga Alfian, "Siap-siap elu memanggil gue Kakak Ipar."
Alfian langsung merangkul pundak Zain sambil berbisik, "Elu harus ikut uji kelayakan dulu sebelum menjadi Kakak Ipar gue."
"Apa lagi yang akan di uji. Elu tidak lihat kualitas bibit unggul gue?"
"Unggul dari mana, setiap wanita elu rayu, mau gue gibeng mainin Kakak gue?"
Rania merasa di cuekin oleh Alfian. Dia lebih mendengarkan cerita Kakak yang baru di temui hari ini. Alfian juga lebih memilih bercanda dengan Zain sambil berbisik.
"Waaah iya sampai lupa, Atha masih bekerja, nanti kita lanjutkan lagi ceritanya sekarang bekerja dulu."
Sebagian keluarga keluar dari ruang praktek Dokter Atha, Yang masih ada di dalam hanya Rania, Alfian, Mami Mitha dan Umi Anna saja. Dibantu oleh dua perawat Rania mulai diperiksa dari tensi darah, suhu tubuh, dan tinggi badan. Semua normal tanpa ada kendala.
"Kita cek USG dulu ya untuk mengetahui umur dan keadaan kandungan!"
Rania berbaring di brankar tempat tidur yang berada samping meja dokter dibantu oleh Alfian. Dua perawat mempersiapkan peralatan mulai dari jel yang dioleskan di perut Rania. Menyelimuti dari pinggang sampai kaki Rania agar lebih nyaman.
Sambil dipersiapkan USG Rania bertanya karena baru pertama kali di perksa, "Apa maanfaatnya USG ini Kakak Dokter?"
Dokter Atha menjawab sambil tersenyum, "Saat hamil, diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan USG, Ini adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambaran bagian dalam tubuh, sehingga bisa mengetahui kondisi dan tumbuh kembang janin dalam kandungan."
"Apakah aman walau janin yang ada didalam perut belum besar masih kecil?"
"Aman ... pemeriksaan USG umumnya dilakukan sebanyak 4 kali selama kehamilan. Yakni satu kali saat trimester pertama, satu kali saat trimester kedua, dan dua kali saat trimester ketiga. Namun, jumlah ini bisa saja berubah, tergantung dengan kondisi kehamilan dan indikasi medis tertentu."
__ADS_1
Rania mengangguk faham degan keterangan Dokter Atha. Lebih tenang dan mulai memahami tentang USG. Sangat berharap bisa mengetahui tentang keadaan janinnya yang baru tumbuh di dalam perut.
"Sebelum di mulai USG-nya ada pertanyaan lagi Adik Cantik?"
"Rani ingin mengetahui lebih tentang apa saja yang bisa di ketahui saat USG."
"Bisa mengkonfirmasi kehamilan, memeriksa detak jantung janin, menentukan usia kehamilan dan estimasi waktu lahir, memeriksa kondisi plasenta, uterus, ovarium, dan serviks. Bisa juga mengidentifikasi kelainan pada janin, sudah faham sekarang?"
"Iya Kakak Dokter."
"Baik kita mulai!"
Dokter Atha mulai menggerakkan mouse kecil ke kiri dan ke kanan di perut Rania. Mencari posisi janin yang lebih jelas. Ada juga suara detak jantung yang terdengar jelas.
"Detak jantungnya normal, umur janin sekitar enam minggu. Bisa di lihat titik kecil itu janinnya."
"Mengapa kecil begitu janinnya?" tanya Alfian.
"Memang masih sebesar biji kurma, tetapi sudah ada tanda-tanda kehidupan sekarang dengan ditandai suara detak jantung yang teratur."
Dokter Atha kembali menggerakkan mouse berpindah di perut Rania bagian bawah. Mencari informasi plasenta dan memastikan janin berada di dalam rahim, "Semua sudah sesuai dengan umur janin, jangan lupa makan makanan yang bergizi seimbang dan banyaklah beristirahat."
Perut Rania dibersihkan dari jel yang tadi dioleskan oleh perawat. Turun dari brankar tempat tidur dibantu Alfian kembali, "Apa perlu di gendong Sayang?"
Rania menggelengkan kepalanya, "Mau turun sendiri bantu pegangin tangan aja Bang."
"Iya ayo hati-hati."
Rania duduk kembali di kursi yang ada di depan Dokter Atha di samping Mami Mitha, "Hati-hati, Nak!"
"Terima kasih, Mami."
"Oya adik Kakak yang ganteng, satu lagi Kak Atha pesan, ini adalah kehamilan trimester pertama. Jangan terlalu banyak di tengok dulu dekbay yang ada di rahim. Kalau mau menengokpun harus hati-hati, mengerti maksud Kakak, 'kan?"
"Waduh mana tahan!"
__ADS_1