Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Abang Tuan ... Stop!


__ADS_3

Rania menjawab dengan menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya. Baru pertama kali tidur dalam pelukan suami rasanya sangat canggung. Otaknya sudah treveling entah ke mana membuatnya gelisah dan tidak bisa tidur.


Alfian sudah berusaha untuk tidak mengikuti kata hati. Mencoba untuk meredam hasrat yang ada di hati. Berusaha mengajak tidur mata dan kurma jumbo agar bisa mengabulkan permintaan Rania. Otaknya yang treveling di buang jauh-jauh agar tetap sesuai rencana.


Hanya sayangnya setelah Rania tidak bisa tidur karena sudah terbiasa melihat foto berdua yang tanpa sehelai benangpun. Otak Alfian kembali traveling dan kurma jumbo terbangun tanpa di komando. Mau di perintahkan untuk tidur kambalipun kurma jumbo tetap menegang lagi.


"Eee mengapa memejamkan mata, mau lihat kurma jumbo tidak nich?" Alfian mengangkat kepalanya di atas wajah Rania.


"Abang Tuan ... jangan bikin Rani malu!" Rania semakin gugup dan menutup wajahnya dengan ke dua tangan.


"Buat apa malu, toh Rani setiap malam selalu melihatnya, iya kan?" tanya Alfian cepat.


"Iya sih ... Eeee mengapa Rani keceplosan?"


Alfian menarik tangan Rania dan menggengamnya. Dia langsung melahap bibir mungil Rania. Yang awalnya tidak ingin mengikuti kata hati kini otaknya tidak bisa mengendalikan diri.


Alfian penuh gairah mengabsen seluruh rongga mulut Rania tanpa terkecuali. Aksinya berhenti saat pasokan oksigen Rania hampir habis, "Hhff ... Abang Tuan, Rani hanya ingin melihat saja mengapa malah mencium Rani lagi?"


"Rani yang membuat Abang terpancing, boleh Abang lanjukan lagi?"


Tanpa menunggu jawaban dari Rania, Alfian melanjutkan aksinya kini dia mulai menyusuri lehernya yang jenjang. Menelusuri dari atas sampai di dada bagian atas. Memberikan tanda kissmark di setiap incinya tanpa terkecuali.


Antara geli dan merasakan sensasi yang berbeda menbuat Rania tidak sanggup menolak aksi suaminya. Sambil terus beraksi memberikan tanda di sekitar leher jenjangnya, tangan Alfian membuka satu persatu kancing baju tidur istrinya. Mulai turun secara perlahan mendekati gunung kembar yang masih tertutup bra.

__ADS_1


Awalnya Rania masih menikmati sensasi yang di lakukan suaminya. Semakin lama dia memakin terhipnotis dan tidak bisa menolak semua aksi Alfian. Saat Alfian menangkup salah satu gunung kembar dan meremasnya tanpa sadar Rania menggeliat dan mengeluarkan suara ******* yang menggoda. Membuat Alfian semakin bergelora menggapai dua gunung kembar mendaki naik turun di balik bra yang masih terpasang sempurna.


Keduanya sudah terbawa suasana dan gairah hati sampai Alfian mulai berada di atas Rania dengan sempurna. Membuat Rania tersadar dang berteriak, "Abang Tuan ...!"


"Hhhmm ...?"


"Stop ya jangan di teruskan, bukankah Abang Tuan sudah berjanji akan mengabulkan syarat Rani?"


"Rani yakin?"


Rania termenung sejenak, sensasi yang di rasakan sangat memabukkan hati. Hati kecilnya ingin melanjutkan dan ingin lebih merasakan sensasi yang membuatnya semakin melayang bagai di atas kayangan. Saat mengingat sekarang ini hanya menikah secara sirri tekat hati kembali menggebu untuk melanjutkan rencana semula.


"Maaf ya Abang Tuan, Rani sangat yakin."


"Apa yang membuat Rani yakin?"


Gantian Alfian yang termenung, antara kagum dengan pendirian Rania dengan gelora yang sudah memuncak. Membuatnya susah berpikir menggunakan logika dan akal sehat, "Rani tidak percaya dengan cinta Abang?"


"Iiih Abang Tuan ini, Rani percaya 100% sama cinta Abang Tuan, tetapi Rani perempuan. Ikatan pernikahan ini sah di mata agama tetapi belum resmi secara hukum, akan banyak merugikan Rani sebagai perempuan."


Kembali Alfian termenung, masa kecil bersama Mami Mitha langsung terlintas di ingatannya. Hidup tanpa di dampingi Papi Alfarizi sangat berat di lalui saat itu. Kerinduan memiliki papi seperti teman sekolahnya dulu sangat membuat hati Alfian tidak pernah bisa lupa dalam ingatan.


Perjuangan Mami Mitha yang luar biasa untuk dirinya kini membuatnya bisa berpikir logis. Bisa membayangkan betapa beratnya jika gadis yang baru saja di nikahi secara sirri dan bernasib sama seperti mami dan dirinya saat kecil. Membuat Alfian merasa ngilu dan miris jika suatu saat nanti keturunanya mengalami hal yang sama.

__ADS_1


"Maaf sekali lagi maaf Abang Tuan, Rani hanya berpikir ke de ...!"


Alfian langsung mengecup bibir Rania sekilas, "Abang mengerti, seharusnya Abang yang meminta maaf. Abang ke kamar mandi dulu, sebaiknya cepat sana melihat foto kita sebelum Abang keluar kamar mandi."


"Terima kasih ... Abang Tuan, Anda suami yang Rani idamkan selama ini. Rani semakin bangga bisa menikah dengan Abang Tuan."


Alfian tidak menjawab rayuan Rania, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Gelora hati yang sudah memuncak membuatnya bergegas mengambil langkah panjang ke kamar mandi. Terpaksa menuntaskan di kamar mandi, ingin berendam air hangat di bath-up seperti saat di kamarnya sendiri.


Sayangnya kamar mandi tidak ada buth-up, membuat Alfian hanya bisa bermain solo. Mengguyur tubuhnya menggunakan shower dengan air dingin. Bahkan dinginnya air tidak di rasakan lagi karena hasrat yang semakin memunjak.


Sudah setengah jam berlalu Rania mengunggu Alfian tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Ada rasa bersalah dalam hati saat menghentikan gairah yang sudah meninggi. Keteguhan hati seolah berbanding terbalik dengan raut wajah suaminya yang kecewa menahan hasrat hati.


"Ya Allah semoga Rania tidak berdosa besar, menolak melayani suami, Rani masih ragu tentang pernikahan sirri ini. Rani ingin pernikahan yang langsung di hadapan ayah. Ampuni Rani ya Allah, ampuni Rani Abang Tuan," monolog Rania dengan lirih.


Yang awalnya Rania hanya berbaring di tempat tidur menunggu Alfian keluar dari kamar mandi. Kini dia turun dari tempat tidur mondar-mandir gelisah tak menentu. Rasa bersalah semakin besar ketika suaminya tak kunjung keluar dan menampakkan diri.


Langkah kaki awalnya hanya memutari sekitar tempat tidur dan meja rias. Kini Rania mondar-mandir mendekati kamar mandi. Sesekali telinganya di tempelkan di pintu kamar mandi mendengarkan aktivitas dari balik pintu.


Terkadang tangannya di angkat ingin menetuk pintu. Di turunkan tangannya dan di urungkan saat hati merasa ragu dan bimbang. Kembali berjalan mondar-mandir semakin gelisah tidak menentu.


"Ya Allah ... Abang Tuan, ini sudah satu jam mengapa belum keluar juga?" Kembali Rania bermonolog sambil berjalan mendekati pintu kamar mandi.


Tangan Rania terangkat dan ingin mengetuk pintu. Sayangnya kembali ragu dan menggerutu sendirian, "Abang Tuan ... lama sekali sih, apa yang harus Rani lakukan?"

__ADS_1


Pintu terbuka saat tangan tangan Rania terangkat ingin mengetuk pintu. Untung Rania tidak mengetuk dahi suami yang sudah berdiri sempurna di hadapannya. Rania tersentak kaget saat melihat Alfian basah kuyup tetapi baju masih menempel di badan.


Alfian tampak menggigil kedinginan membuat Rania langsung membimbingnya berjalan ke kamar, "Ya Allah ... Abang Tuan mengapa sampai menggigil kedinginan begini?"


__ADS_2