
Pagi ini saat Neng sedang memeriksa pesanan di konfeksi AA, banyak karyawan yang berteriak melihat tanyangan televisi, ada yang marah, memuja dan ada juga yang berteriak penuh damba. Neng langsung berlari melihat sikap absurt karyawannya dan ikut melihat tayangan televisi yang menayangkan siaran langsung wawancara para wartawan dengan Alfarizi di dampingi pengacara setelah mendaftarkan gugatan cerai di Pengadilan Agama.
"Memang laki-laki idamanku!"
"Aku padamu Tuan Al."
"Waah tampan sekali dia, sudah di sakiti masih sabar aja, Tuan nikah sama aku aja!"
"Jadi menantuku saja Tuan Al!"
Masih banyak lagi teriakan mereka saat melihat Alfarizi sedang wawancara duduk di kap mobil terlihat gagah bersih dan rapi. Al juga banyak tersenyum membuat para wanita terpesona dan histeris. Ibu Ani yang mengenal Al hanya menggelengkan kepalanya mendekati Neng.
"Neng Mitha, lihatlah karyawanmu mengagumi Papinya Al semua," bisik Ibu Ani di telinga Neng.
"Ibu, mengagetkan saja, tidak penting aaah, aku mau kerja lagi."
Neng melenggang pergi dari Ibu Ani dan para karyawan yang masih histeris mengagumi penampilan Alfarizi. Setelah pertemuan di kantor dan pingsan waktu itu Neng belum pernah bertemu dengannya lagi. Sekarang penampilannya berbeda, terlihat ramah dan bersahaja,
"Aaah sudahlah, ngapain aku mikirin penampilan Pohon Pisang itu, ayo kerja lagi," monolog Neng sambil memukul keningnya sendiri.
Neng kembali menyelesaikan pekerjaan sampai isturahat siang. Datang Alfian berlari mendekatinya. Ini seharusnya belum waktunya pulang untuk Al dari sekolah.
"Mami .... Mami di mana?"
"Mami di sini, Nak; kok sudah pulang, dengan siapa Al pulangnya?"
"Itu Mi, Ayahnya Putri, dia ada di depan nunggu Mami."
"Ooo baiklah, ayo kita temui mereka untuk mengucapkan terima kasih!"
"Al tadi tidak mau diantar Mi, tapi Ayahnya Putri memaksa gitu, terus saat dalam perjalanan tanya tentang Mami terus," cerita Al dengan sedikit kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, lain kali di tolak aja jika mau diantar pulang, dari pada ngedumel begitu, sekarang harus tetap mengucapkan terima kasih, ok!"
"Iya Mi."
"Mengapa pulang cepat?"
"Guru dan staf sedang menghadiri undangan ulang tahun yayasan."
__ADS_1
Neng bertemu dengan Ibu Ani yang akan beristirahat makan siang. Melihat Al sudah pulang, membuat Ibu Ani bingung. Dia mengira jam tangannya yang rusak karena sudah waktunya Al pulang sekolah.
"Cucu ganteng, kok sudah pulang?"
"Iya Nek, pulang cepat hari ini."
Neng tersenyum melihat ada Ibu Ani mendekatinya. Neng memiliki ide agar tidak perlu menemui Rangga Siregar yang menunggunya di luar. Hanya membuat alasan yang tepat dan masuk akal.
"Waaduh!" teriak Neng sambil memegang keningnya sendiri.
"Ada apa Mi?" tanya Al kaget.
"Ada apa Neng Mitha?" Ibu Ani tidak kalah terkejutnya.
"Mami ada meeting online dengan pelanggan seharusnya sepuluh menit yang lalu," jawab Neng sambil menunjuk kearah jam tangan.
"Bu, tolong temui Ayahnya Putri dan ucapkan terima kasih kepadanya karena sudah mengantar Al pulang!"
"Baiklah, ayo Al kita ke depan, Mami biar langsung ke kantor!"
"Terima kasih, Bu; namanya Rangga Siregar ya Bu Ayahny Putri."
Neng berlari menuju kantornya dengan tersenyum devil. Masih teringat Rangga Siregar yang berusaha mengakrabkan diri saat di toko buku membuatnya tidak nyaman. Neng memilih lebih baik menghindar dari pada terjadi seperti yang pernah di alaminya saat berteman dengan Reza teman Kak Rianti.
"Selamat siang Pak, perkenalkan saya Bu Ani, Neneknya Al," kata Ibu Ani mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat siang Bu," jawab Rangga Siregar menyambut uluran tangan Ibu Ani.
"Maaf merepotkan Pak Rangga, terima kasih sudah mengantar Al pulang."
"Sama-sama Bu, kemana Maminya Al, Bu?"
"Maminya Al sedang meeting, Pak, silahkan duduk saya buatkan minum dulu Pak!"
"Terima kasih Bu, tidak usah repot-repot, kami pamit pulang dulu."
Di kantor Neng hanya duduk termenung seorang diri. Sudah beberapa orang ingin dekat dan mengenal dirinya, tetapi selalu saja berakhir dengan kondisinya yang trauma teringat masa lalu. Sudah tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan siapapun bahkan dengan papinya Alfian sekalipun.
Hari demi hari berita tentang perselingkuhan Sinta dan Dokter Mario mulai menghilang seiring jalannya persidangan perceraian antara Sinta dan Alfarizi. Neng hanya sesekali mendengar berita itu saat berada di konfeksi AA karena para karyawan yang mengidolakan Alfarizi yang semakin hari semakin terkenal. Di samping karena terlihat masih gagah, Al sangat ramah dan selalu menjawab setiap pertanyaan para pewarta berita.
__ADS_1
Persidangan sudah berlangsung tiga minggu, saat ini memasuki tahapan mediasi. Pengadilan memberikan waktu satu bulan karena mengingat Sinta seorang publik figur dan tidak pernah ada berita miring ketika mereka berumah tangga. Alfarizi selalu mengikuti semua prosedur yang ada walau harus menunggu satu bulan dia tetap sabar dan tidak banyak berkomentar.
Selama mall beralih kepemilikan dari pemilik lama menjadi milik Alfarizi, Neng jarang ke Butik AA lebih memilih berlama-lama di konfeksi AA. Dia ke butik jika ada pesanan atau bertemu dengan pelanggan saja. Neng memilih menghindar karena banyak pertimbangan, salah satunya tidak ingin terlihat ada diantara dua orang suami istri Alfarizi dan Sinta yang sedang menghadapi masalah.
Rasa rindu Alfarizi seolah tak terbendung lagi, selama ini hanya bisa melihat Neng melalui CCTV mall yang sering dilewati Neng. Memutar otak bagaimana cara bisa bertemu dengan dia tanpa disengaja tetapi tidak juga menemukannya. Hanya Surya yang paling memahami gundah gulananya seorang Alfarizi Zulkarnain.
"Tuan, ada apa, mengapa Anda gelisah begitu?"
"Aku ingin bertemu dengan istriku, bagaimana caranya, aku bingung?"
"Anda masih ingin bertemu dengan Nyonya Sinta?"
"Kamu ini ngawur aja, bukan Sinta tetapi ....!"
"Bu Mitha maksud Anda?"
Alfarizi hanya mengangguk dengan lemah. Berharap Surya memiliki ide brilian untuk bisa sekedar mendengar suaranya saja. Atau bisa berbincang walau hanya satu kata.
Surya tersenyum penuh arti, kedekatannya dengan Desi sering memberikan keuntungan baik untuk dirinya sendiri ataupun Tuannya. Surya baru saja makan siang bersama dengan Desi di restoran siap saji di lingkungan mall. Hubungan mereka sekarang ini sudah pacaran hampir berjalan dua bulan.
Desi bercerita hari Minggu besok Al akan mengadakan kunjungan ke Musium Satria Mandala beserta teman sekelasnya. Kemungkinan besar Al akan di dampingi oleh maminya karena Ibu Ani sedang tidak enak badan. Pasti akan menyenangkan jika bisa bertemu disana.
"Tuan, aku tahu kemungkinan jadwal Bu Mitha hari Minggu besok."
"Waaah betulkah, kemana?" tanya Al dengan antusias.
"Musium Satria Mandala bersama Alfian dan teman satu kelasnya."
"Berarti Dokter Harry akan ikut rombongan itu juga dong?"
"Kalau yang itu saya tidak tahu, Tuan!"
"Aku akan menghubungi Dokter Harry sekarang!"
Alfarizi langsunng menghubungi Dokter Harry menggunakan ponselnya, "Halo Bro, hari minggu besok Zain akan mengadakan wisata?"
" ... "
"Mengapa kamu tidak bisa?"
__ADS_1
Author promo lagi novel teman ya, ayo mampir