
Rania memundurkan badannya sampai mepet sandaran sofa karena Alfian semakin mendekatkan wajahnya, "Apa yang setiap malam Rania bayangkan saat memandang foto kita berdua?"
"Rani ... e ... e ...!"
"Apa yang Rani lihat kurma jumbo atau wajah suami yang tampan?"
"Dua-dua nya .. ups keceplosan!" Rania langsung menutup mulutnya tidak bisa mengendalikan ucapan jujurnya.
"Ha ha ha ...!" Alfian tertawa terbahak-bahak.
Rania Kirana gadis sederhana yang mempunyai kelemahan jika di tanya dengan cepat dia akan menjawab dengan jujur. Hanya dalam satu jam lebih Alfian mulai bisa mengenali sifatnya. Jika di ajak bicara perlahan dia akan berbincang seperti biasa.
Alfian semakin memajukan wajahnya bahkan hidungnya sudah menempel pada hidung Rania. Rania sudah tidak bisa mundur lagi, dia hanya bisa terpaku dengan napas yang memburu. Mata saling memandang dengan tatapan mata yang mendamba.
Alfian menambah memajukan bibirnya ingin mencium. Bersamaan pintu terbuka Abah datang bersama dua laki-laki paruh baya teman Abah. Rania langsung mendorong tubuh Alfian menjauhi wajahnya. Dengan spontan Alfian juga bangun dan menjauhi Rania.
"Abang, apakah sudah siap?" tanya Abah.
"Tunggu sebentar Kakek, asisten Abang masih mempersiapkan semuanya."
"Baiklah, Kakek tunggu sampai sore hari akad nikah akan di lakukan jam lima sore," jawab Abah dengan tegas.
"Waduh ... Abah, berarti dua jam lagi dong, Tuan Halu bagaimana ini?"
Dengan sengaja Alfian mendekati telinga Rania dan berbisik di telinganya, "Berarti dua jam lagi kita bisa melanjutkan lagi yang tadi tertunda dong?"
Rania menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Jantungnya mulai berdegup kencang teringat hampir terjadi ciuaman pertama terjadi seandainya Abah tidak datang.
"Neng Rani sana kamu istirahat dulu, sampai persiapan selesai!" perintah Abah.
"Iya Bah ... terima kasih."
Di sela waktu yang sedikit, Alfian selalu berkoordinasi dengan Julio. Mulai dari baju untuk akad, mas kawin, petugas yang akan menikahkan sampai perias pengantin. Tugas awal Julio sangat berat, tetapi dengan semangat Julio mengerjakannya.
__ADS_1
Hanya dalam satu jam Julio datang bersama perias pengantin, Penghulu. Membawa baju setelan jas dan kebaya untuk ke dua mempelai. Serta membelikan mas kawin yang akan di berikan untuk akad nikah nanti.
"Bang, apa lagi yang di perlukan?" tanya Julio setelah memeriksa satu persatu keperluan yang sudah di persiapkan.
"Sudah cukup, Jul. Elo lulus menjadi asisten Abang, tugas pertama sukses. Setelah akad nikah selesai Abang akan memberikan bonus untuk elo."
Julio tersenyum mengembang karena kerja kerasnya hampir satu minggu ini terbilang sukses. Pengalaman yang di ajarkan oleh ayah Junaidi dan bimbingan Paman Surya di balik kesuksesan Julio. Walaupun tugas yang di kerjakan adalah tugas rahasia, Julio tetap meminta bimbingan kedua mentornya.
Julio hanya meminta bimbingan dan bantuan kepada ke dua mentornya tanpa menceritakan permasalahannya. Dengan alasan mempersiapkan diri menjadi asisten yang handal untuk Alfian. Sehingga semuanya berjalan lancar pekerjaan yang di tugaskan untuknya.
Perias pengantin langsung di antar ke kamar Rania. Membawa satu stel kebaya modern rancangan Mami Mitha yang di beli Julio langsung ke butik AA melalui kurir. Hanya saja pembelian kebaya menggunakan nama dan alamat kurirnya langsung.
Rania meminta perias untuk merias hanya dengan sederhana, dia tidak suka dengan riasan yang tebal dan mencolok. Kepribadiannya yang sedehana membuatnya tidak mercaya diri jika berpenampilan yang mewah dan glamour seperti remaja pada umumnya. Walaupun dengan riasan sederhana tetapi hasilnya membuat yang melihat kagum kepada kecantikan alami yang di miliki Rania.
Pukul empat sore semua persiapan sudah selesai, Alfian dan Julio berada di ruang keluarga kembali memeriksa semua yang di lakukan, "Abang yakin tidak menghubungi Tuan Al dan Nyonya Mitha?"
"Abang yakin, ini strategi Abang untuk mengikat Kakek."
"Pengalaman Kakek saat menikahkan sirri Mami dan Papi sampai sekarang masih menghatui Kakek. Beliau merasa sangat bersalah sampai sekarang sehingga tidak mau menemui Mami."
"Bukankah Mami Abang sudah memaafkan Abah, mengapa sampai sekarang tidak pernah mau menemui keluarga Abang?"
"Maka itu Jul, Abang akan mempertemukan Kakek dengan Mami baru Abang akan menikah secara resmi, tujuan Abang agar Kakek berpikir dua kali jika masih tidak mau menemui Mami, resikonya Abang akan mengulur waktu menikah resmi."
"Berarti Abang hanya memanfaatkan Nona Rania saja Dong?"
"Tidak juga sih, Abang ini susah jatuh cinta. Abang juga tidak bisa move on dari dia, tetapi apa salahnya jika Abang memanfaatkan kesempatan ini untuk mempersatukan Mami dan Kakek yang sudah lama terpisah.
"Bagaimana jika Nona Rania mengetahui Abang memanfaatkan dia?"
"Semoga saja dia tidak salah faham, ini Abang lakukan demi kebaikan bersama."
"Seharusnya Abang berterus terang agar tidak terjadi kesalah-fahaman."
__ADS_1
"Semua serba mendadak, Abang belum sempat berbincang banyak, yang jelas Abang yakin jika dia benatr-benar mencintai Abang."
"Idih Abang PD banget."
Alfian hanya tersenyum keyakinannya semakin besar setelah melihat dua foto yang baru saja di ponsel Rania. Kejujuran dan keluguan hatinya membuat Alfian semakin yakin untuk menikahinya walaupun sementara menikah sirri terlebih dahulu. Padahal baru mengenal dia tidak ada sepermpat hari namun hati dan keyakinannya sudah bulat.
Abah mendatangi Alfian dan Julio yang berkonsentrasi pada laptopnya, "Bang, sudah saatnya akad nikah di mulai. Abang yakin akan melakukan pernikahan ini?"
"Ya Kakek, Abang sangat yakin, apakah Kakek juga yakin setelah ini bertemu dengan Mami?"
Awalnya Abah mengangguk ragu, kenangan masa lalu melintas di benaknya. Mengingat sekarang umurnya tidak muda lagi dan tidak sekuat dulu lagi akhirnya Abang mengangguk yakin, "Ya Bang, Kakek sudah yakin. Setelah akad nikah Kakek ingin berkunjung ke Bekasi."
"Alhamdulillah, ayo kita lakukan akad nikah sekarang?" Alfian berdiri berjalan ke ruang tamu tempat akad nikah akan di langsungkan.
Penghulu dan saksi sudah duduk di ruang tamu menunggu Alfian dan pengantin wanita di rias. Sebelum mempelai wanita datang. Penghulu masih bertanya tentang data wali dari pengantin wanita kepada Alfian dan Abah.
Alfian meminta untuk wali hakim karena Rania belum tahu di mana ayahnya tinggal. Abah kaget mendengar keterangan Alfian, "Abang tahu tentang latar belakang Neng Rani?" bisiknya di telinga Alfian.
Alfian tersenyum dan mengangguk, merasa bersyukur pertemuan singkatnya dengan Rania. Dia sempat mengetahui dari syarat yang diajukan olehnya sebelum akad nikah berlangsung. Membuat Abah semakin yakin memang cucu angkatnya adalah jodoh dari cucu kandungnya.
"Sebentar Abah panggil pengantin wanitanya dulu." Abah meninggalkan penghulu yang masih mencatat dan meminta keterangan tentang identitas diri Alfian.
Sambil berbincang Julio merogoh saku celananya bagian samping yang kosong, "Bang perhiasan yang akan di pakai mas kawin sudah Abang pegang?"
"Belum dong Jul, elo belum memberikan kepada Abang."
"Kok tidak ada di kantong, Bang. Kemana ya mengapa gue lupa?"
BERSAMBUNG
Shobat mampir yok di novel teman suthor yang rekomen banget, jangan lupa ya sambil menunggu AST up besok
__ADS_1