
Di saat Umi Anna sedang bingung dan khawatir melihat Mbah Buyut sedang duduk di pinggir kolam renang dan kakinya masuk sedang asyik menyiramkan air kolam dengan gayung tempat peralatan sabun. Umi Anna langsung berjalan dengan langkah panjang menghampirinya. Mbah Buyut dengan santainya berdiri kemudian membelakangi kolam renang dan menaikkan kain jarik yang di kenakannya. Datang Alfian dan Neng sambil berteriiak, "Mbah Yuuuuuut!"
"Opo to cah bagus, Mbah Buyut, arep pup iki wes ora tahan?" (Ada apa sih anak ganteng, Mbah Buyut mau BAB nich sudah tidak tahan)
"Ampun woten meriku Mbah, Wonten kamar mandi mawon, monggo!" (jangan di situ Mbah, di kamar mandi saja, ayo silahkan!) jawab Neng sambil menahan tawa dan diikuti Alfian yang tertawa terbahak-bahak.
"Emoooh, WC mu duwur banget, mengko Mbah Yut ke jelungup" (Tidak mau, WC kamu tinggi nanti Mbah Yut terjengkang)
Afian semakin tertawa lebar sambil memegangi perutnya. Umi Anna jadi semakin bingung Mbah Buyut ngomong apa dan harus cerita apa, "Al bagaimana ini, gara-gara Al mengajari Oma menjawab injih Mbah Buyut mandi dan cuci baju di kolam renang?"
"Tadi Mbah Buyut ngomong apa Oma?"
"Mana Oma tahu, itu sekarang mau ngapain Mbah Buyutnya?"
"Ha ha ha, Mbah Buyut mau Pup di kolam renang." jawab Alfian kembali tertawa lebas.
"Aaaa Al berarti mengajari Oma tidak benar ini, sesat jadinya."
Neng ikut tertawa lepas sambil menuntun Mbah Buyut, "Di pabrik wonten WC jongkok Mbah, ampun khawatir." (Di konfeksi ada WC jongkok Mbah, jangan khawatir).
Sementara Neng mengantar Mbah Buyut ke konfeksi AA, Alfian masih tertawa karena dipeluk oleh Umi Anna dan di acak-acak rambutnya karena gemas. Alfarizi yang baru turun dari lantai atas bingung pagi-pagi sudah ramai dan tertawa lepas, "Ada apa Nak, pagi-pagi sudah ramai banget?"
"Itu Papi, Mbah Yut, mau produksi kuning ngambang di kolam renang, ha ha ha!"
"Kok bisa, kenapa begitu?"
Neng datang menceritakan apa yang terjadi karena saat berjalan ke konfeksi AA tadi di ceritakan oleh Mbah Yut kejadian saat berbincang dengan Umi Anna. Alfarizi jadi ikut tertawa lepas bersama. Apalagi di tambah Kang Sarto ikut bergabung mendengar cerita Neng.
Hari ini hari Sabtu persiapan resepsi sudah 100%, tinggal menunggu hari H besok. Neng menghabiskan waktu untuk melakukan perawatan di rumah, Salon di panggil oleh alfarizi karena Neng memang tidak mau keluar rumah sebelum acara resepsi di adakan. Umi Anna dan Ibu Ani juga ikut melakukan perawatan.
Siang hari seluruh keluarga sedang makan siang bersama karyawan butik AA. Termasuk Alfarizi yang saat ini sedang menyuapi Neng karena dia sedang melakukan perawatan kuku dan akan menggunakan hena rias tangan. Sampai para pegawai salon baper karena Alfarizi sangat romantis pada istrinya.
"Mau tambah lagi, Mi?" tanya Alfarizi tapa memperdulikan para pagawai salon yang sibuk bekerja.
__ADS_1
"Sudah Papi kenyang, mau minta minum aja Pi!" Neng langsung minum di gelas yang di sodorkan oleh suaminya perlahan.
"Apakah Papi sudah mengetahui orang yang kemarin di mall?"
"Belum Honey, tapi yang jelas dia bukan Ayah Asep."
"Jadi siapa dong?"
"Papi juga tidak tahu, apakah Ibu Ani mempunyai anak atau keluarga di sini, Honey?"
Neng teringat saat pertama kali bertemu dengan Ibu Ani di Tangerang saat dia di dorong oleh putra tiri bersama menantunnya, "Ada Pi, Ibu Ani memiliki satu putra tiri yang bernama Doni."
"Kemana dia sekarang?"
Kemudian Neng bercerita tentang kejadian saat itu, Alfarizi langsung menceritakan tentang Doni kepada Surya. Alfarizi semakin khawatir setelah mendengar cerita Neng tentang sifat putra dari Ibu Ani. Dia berharap Surya bisa menindak lanjuti untuk mencari sosok laki-laki lusuh yang kemungkinan adalah putra dari Ibu Ani.
"Selain dia, siapa lagi kemungkinannya, Honey?"
"Ya sudah lanjutkan perawatannya, Papi mau menghubungi Dokter Harry sekarang!"
Alfarizi langsung menghubungi teman SMP nya untuk bisa bertemu dengan istrinya Ria dan menanyakan tentang cerita Reza yang pernah menyukai Neng saat kuliah. Dokter Harry dan keluarga langsung berkunjung ke rumah Alfairizi sekalian bertemu dengan keluarga yang datang dari desa. Mereka langsung berbincang di ruang tamu setelah menemui keluarga Ibu Ani.
"Mana Al, foto laki-laki yang kamu ceritakan itu?"
"Ini Bro, apakah kalian mengenalinya?" jawab Alfarizi sambil menunjukkan foto yang di simpan di galeri ponselnya.
"Bukan Bro, dia bukan Reza, aku tidak mengenal dia, kamu mengenal dia Mama?" tanya Dokter Harry kepada istrinya Rianti.
"Tidak mengenalnya juga, kok penampilanya seperti tuna wisma begitu?" tanya Rianti.
"Entahlah, berarti kemungkinannya dia putra tiri Ibu Ani." jawab Alfarizi lagi.
Ibu Ani yang mendengar namanya di sebut, yang baru datang dari rumah lama milik Neng lansung bergabung dan duduk di samping Rianti, "Ada apa menyebut nama Ibu?"
__ADS_1
"Ini Bu, aku sedang menyelidiki seorang laki-laki yang kemarin pernah menemui aku di parkiran mall." jawab Alfarizi dengan hati-hati.
"Apakah orang yang pernah menyukai Neng Mitha?"
"Belum tahu Bu, saat itu dia berkata ingin bertemu dengan Maminya Alfian dan Ibu."
"Bertemu dengan Ibu, maksudnya dia kenal dengan Ibu?"
Kemudian Alfarizi bercerita kepada Ibu Ani tentang laki-laki lusuh yang di temuinya kemarin di parkiran mall sampai selesai. Analisa Surya, Neng dan Dokter Harry mengatakan kemungkinan dia adalah keluarga dari Ibu Ani. Membuat Ibu Ani mengerutkan keningnya berpikir keluarga yang mana yang di maksud Alfarizi.
"Ini Bu, foto laki-laki yang pernah menemuiku kemarin di parkiran mall!"
Alfarizi menunjukkan foto yang ada di galeri fotonya kepada Ibu Ani. Awalnya Ibu Ani menerima dengan sikap yang biasa saja, menatapnya lekat-lekat foto itu sampai tidak berkedip. Tangannya mulai bergetar saat Ibu Ani mulai mengenali wajah itu walaupun sekarang ini terlihat lusuh dan kurus.
Ibu Ani mulai meneteskan air matanya sambil menggelengkan kepalanya. Kini ingatannya berkelana sekitar sembilan tahun yang lalu saat dia mengusirnya dari rumahnya sendiri. Saat dengan kejam dia mendorong tubuhnya sampai jalan raya tanpa belas kasihan.
"Ini Nak ponselnya, tidak usah di selidiki lagi dia Doni putra tiri Ibu yang durhaka."
"Sabar ya Bu." Rianti memeluk Ibu Ani dan mengusap pundaknya.
"Terima kasih Nak." Ibu Ani mengambil napas panjang dan mengembuskan dengan perlahan.
"Bu, apakah aku boleh menemui dia jika dia ingin bertemu dengan aku lagi?"
Rasanya sakit hati itu kembali datang tiba-tiba, tidak ingin lagi bertemu dengan anak durhaka itu. "Usir saja Nak jika dia datang, putra seperti dia lah yang seharusnya di lempar ke Antartika, seperti kata Umi!"
"Eeee ...."
jangan lupa mampir ya
promo hari ini dari teman yg rekomen banget
__ADS_1