
[Maaf ya shobat author semua untuk part ini author lagi absurt, jangan di tahan tertawanya]
Mitha dan Ibu Ani langsung berlari dari dapur setelah dipanggil oleh bude yang mengatakan jika ada suaminya yang datang, rawuh dalam bahasa jawa halus artinya datang. Neng terpaku sambil menutup mulutnya melihat si Pohon Pisang berdiri gagah sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Ibu Ani lah yang membalas lambaian tangan Alfarizi.
"Mitha ...!" teriak pakde mengagetkan Mitha.
"Oo injih Kang Sarto," jawab Mitha kaget.
"Ayo, bojomu ben ngaso sek ono kamar, monggo Mas Onta Arab!" ( Ayo, suamimu biar istirahat di kamar, mari Mas Onta Arab!)
Pakde Sarto menarik tangan Alfarizi dan menarik koper miliknya menuju ke kamar Neng. Alfarizi yang tidak tahu dia ngomong apa hanya pasrah ditarik tangannya oleh Pakde Sarto. Berjalan sambil melirik Neng yang bingung harus bicara apa tidak mungkin akan menolak Al tinggal satu kamar lagi dengan papi dari putranya.
"Kono Mitha, di openi sek bojomu!" (Sana Mitha, di layani dulu suamimu!) perintah Bude.
Dengan terpaksa Neng mengangguk dan mengikuti langkah Pakde dan Alfarizi. Sambil melirik Ibu Ani yang menahan tawa karena lagi-lagi Neng tidak bisa menolak harus satu kamar dengan papinya Alfian. Pakde Sarto hanya mengantar mereka sampai pintu dan meletakkan kopernya di depan pintu.
"Monggo Mas, silahkan masuk!"
"Terima kasih." jawab Alfarizi singkat.
Setelah Pakde Sarto pamit dan meninggalkan kamar. Alfarizi masuk kamar sambil tersenyum berharap bisa bicara dari hati ke hati. Neng masuk dan bergegas langsung menutup pintu.
"Tuan, mengapa menyusul ke sini?"
"Aku ingin mewujudkan impian putra kita wisata bertiga."
"Kami masih berkabung,Tuan; tidak mungkin bisa mengajak Alfian wisata."
"Tidak sekarang juga dong Neng Geulis, masih ada waktu satu minggu lebih."
"Tapi tidak harus nyusul ke sini juga dong, Tuan!
"Aku ... aku merindukan kamu dan putra kita, Neng Geulis!"
"Eeee saya ...! Neng tidak sempat melanjutkan ucapannya karena pintu langsung terbuka lebar. "Papiiiiiiii ...!"
Alfian langsung memeluk papinya dengan erat. Rasa bahagia yang memuncak di hati Alfian bisa melihat papinya menyusul ke kampung. Alfarizi memeluk putranya sambil melihat Neng yang berdiri sambil menarik napas panjang.
"Papi mandi dulu, Al boleh main lagi, ok!"
__ADS_1
"Papi, enakan mandi di sungai belakang rumah Mbah Kakung, seger banget, tapi kadang Al geli!"
"Mengapa geli, Al?" tanya Alfarizi heran.
"Terkadang lagi asyik-asyiknya Al mandi, ada kuning-kuning ngambang melewati Al," jawab Al sambil cengar-cengir.
"Ha ha ha ...!" Neng tertawa terbahak-bahak tidak bisa di tahan.
Alfarizi yang bingung apa yang di maksud oleh putranya, tersenyum bukan karena ada kuning-kuning ngambang tertapi tersenyum karena baru pertama kali melihat Neng tertawa lepas tanpa di tahan, "Apa itu Al kuning-kuning ngambang?"
Kembali Alfarizi dan Neng tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Alfarizi. "Aah Papi katro dan kudet, nanti aja Papi mandi dulu dan ganti baju, nanti Al tunjukin langsung aja, ha ha ha!" jawab Alfian langsung berlari keluar kamar.
"Mandi dulu saja Tuan, kamar mandi itu paling pojok!"
"Neng ...."
"Ya Tuan!" spontan Neng menjawab.
"Kamu cantik kalau tertawa seperti tadi." Al langsung berlalu masuk kamar mandi dengan tersenyum bahagia.
Neng mengerucutkan bibirnya dan cemberut. Hanya menjawab dan bergumam kesal dalam dalam hati, "Nyusul tidak memberi kabar sekarang malah berani merayu, dasar Pohon Pisang."
Neng yang duduk termenung di pinggir tempat tidur langsung berlari mendengar panggilannya, "Ya Tuan...!"
"Aku tidak bawa handuk bisa minta tolong ambilkan!"
"Di mana handuknya?"
"Di koper dong, Neng Geulis."
Dengan ragu Neng membuka koper milik Alfarizi perlahan. Langsung mengambilnya karena berada di tumpukan baju yang paling atas. dan kembali lagi ke kamar mandi, sambil membelakangi pintu, Neng mengulurkan handuk dari luar, "Nich handuknya!"
Alfarizi dengan usil mengambil handuk sambil mengenggam tangannya, "Maaf Neng Geulis sengaja!"
Spontan Neng berbalik badan memandang Alfarizi yang sudah melilitkan handuk di pinggangnya, "Aaah Tuan, parno tau!" dengan kesal Neng meninggalkan kamar mandi dan menuju pintu ingin keluar kamar.
"Tunggu atuh Neng Geulis, jangan keluar kamar dulu, aku ingin ke sungai melihat kata Alfian tadi!"
"Eee, itu ....itu!" Kembali Neng tidak bisa menahan tawa karenanya.
__ADS_1
"Malah tertawa lagi sih?"
"Nanti Al saja yang mengantar." Neng langsung keluar kamar tetap saja tertawa.
Berjalan keluar kamar sambil tertawa tanpa melihat jalan yang ada di depannya akhirnya Neng menabrak Ibu Ani yang datang dari ruang tamu.
"Brrruk ... aduh!"
"Maaf Bu, aku tidak lihat," kata Neng cepat.
"Mengapa kamu tertawa sampai segitunya, bahagia karena ada yang datang ya?" goda Ibu Ani.
"Tidak Bu, itu karena Papinya Al pingin lihat ...!" Neng langsung menutup mulutnya agar tidak keceplosan.
Alfarizi tanpa merasa bersalah dan tidak tahu artinya lansung melanjutkan ucapan Neng, "Pingin lihat kuning-kuning ngambang di sungai, Bu."
"Neng Mitha, mengapa mengajak Papinya Al melihat kotoran manusia di sungai, jahil banget sih?" gerutu Ibu Ani sambil memukul bahu Neng,
"Ha ha ha bukan aku Bu yang mengajaknya, dia sendiri yang mau lihat, ini gara-gara Al yang cerita."
"Apa Bu, kotoran ma ...?" Alfarizi tidak melanjutkan ucaapannya, justru dia ikut menahan tawa dengan menutup mulutnya.
"Sudah jangan bahas itu lagi, ayo banyak tamu di luar, semua ingin bertemu dengan Papinya Al, gara-gara dia ke sini tadi menggunakan helikopter yang landing di lapangan di ujung kampung."
Neng langsung menatap Alfarizi dengan kesal. Takut ada media infotaiment yang meliput kegiatan selama dia di kampung. Yang di pandang malah tersenyum tenang tanpa merasa bersalah.
Mereka langsung bergegas keluar menuju ruang tamu. Di ruang tamu, teras dan halaman rumah Almarhum Mbah Kakung penuh dengan tetangga yang berkunjung. Mereka ingin melihat papinya Alfarizi yang wajahnya campuran Arab.
Dengan berdesak-desakan para tetangga ingin bersalaman dengan Alfarizi. Sampai Alfarizi terdorong meringsek masuk ke dalam ruang tengah. Alfarizi dengan cepat menggenggam tangan kanan Neng dan ditautkan jemarinya dengan sempurna.
"Aku saja yang bersalaman dengan mereka, kamu cukup menganggukkan badannya, mengerti!" bisik Alfafizi di telinga Neng, dan diikuti anggukan kepala oleh Neng.
"Alon-alon ya Bapak dan Ibu, tertip semua bisa bersalaman dengan Mas Onta Arab!" kata Pakde Sarto.
Satu persatu tetangga bersalaman dengan Alfarizi. Hampir satu jam mereka bersalaman akhirnya semua bisa bertemu Alharizi. Hampir satu jam juga Neng hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengulurkan tangannya karena di genggam oleh Alfarizi.
Ada tetangga yang nyeletuk dari barisan belakang, "Mas Onta Arab, oleh-olehnya mana?"
Neng dan Alfarizi saling pandang sekilas, memahami suanana yang riuh, Al langsung berbisik ke Pakde Sarto, "Bilang saja oleh-olehnya nanti dibagikan!"
__ADS_1
"Injih Luuur, oleh-oleh dibagikan setelah kirim doa, wes saiki bubar!"