
Neng hanya tersenyum saat mendengarkan Ibu Ani berkali-kali bercerita tentang putranya dengan antusias, tetapi Neng masih terbayang tentang tayangan infotaiment yang mewawancarai pasangan suami istri yang terlihat bahagia dengan putri cantiknya.
Saat Neng keluar dari villa rasa ikhlas yang selalu di tanamkan dalam hati ternyata sangat sulit untuk di laksanakan setelah mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah menikahinya secara siri itu, ilmu ikhlas yang di dapatnya dari guru SMK saat masih sekolah ternyata ilmu tingkat dewa hanya bisa di pelajari tetapi susah sekali di praktekkan.
Rasa sakit yang di rasakan di hati Neng terus saja menggerogoti pikirannya, jangankan ikhlas hanya membayangkan saat dia tersenyum memandangi putrinya saja sudah menusuk tepat di jantungnya, dia sangat mencintai istri dan putrinya.
Neng kembali meneteskan air mata saat mengingat itu semua, tidak memperdulikan Ibu Ani yang menghkawatirkannya, rasa sakit hati melihat Tuan Al sangat mencintai istri dan putrinya, sedangkan dia meninggalkan dirinya bersama putra yang baru saja di lahirkannya.
"Neng Mitha, sebenarnya ada apa, berceritalah agar hatimu bisa ringan!" kata Ibu Ani duduk di sampingnya.
Neng hanya menggelengkan kepalanya, dari awal Neng hanya menceritakan kisah masa lalunya kepada Ibu Ani tetapi Neng tidak pernah membuka identitas suami sirinya.
Semakin lama Neng semakin tergugu, saat inilah titik terendah kesabarannya diuji, selama ini dia tidak pernah berpikir negatif sedikitpun kepada ayah dari putranya, tetapi saat mengingat kembali bahwa dia memiliki putri bahkan umurnya hanya berbeda empat bulan dengan putranya membuat Neng semakin sakit, rasa iri karena tidak pernah dianggap ada membuatnya semakin sedih.
Sudah tiga hari Neng selalu murung dan sering menangis, bahkan dia belum di pindahkan dari ruang pengawasan, masih dalam observasi dokter, Ibu Ani dan seluruh karyawan tidak henti memberikan semangat kepada Neng agar lebih bersabar dan tidak bersedih lagi, mereka juga tidak tahu apa yang menyebabkan Neng bersedih dan selalu murung karena Neng tidak mau bercerita kepada siapapun.
Sore ini akhirnya Dokter Obgyn merekomendasikan agar Dokter ahli psikiater untuk bisa menemui Neng, agar dia bisa terbuka dan mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Tetapi Dokter ahli itu bertemu dengan Ibu Ani dan karyawannya terlebih dahulu untuk bahan pertimbangan saat bertemu dengan Neng, Ibu Ani yang paling banyak bercerita kepada dokter itu dan berharap bisa mengubah pikiran Neng yang sedih menjadi lebih bersemangat.
"Selamat sore, hai Neng Mitha perkenalkan namaku Dokter Harry Turmudzi," kata Dokter yang seumuran dengan Alfarizi.
"Selamat sore, Dok,"
"Aku boleh duduk?"
__ADS_1
Neng hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanpa menjawab, walaupun baru pertama bertemu tetapi dokter itu sok akrab dan sok kenal.
"Neng Mitha, apakah masih perih dan ngilu bekas operasinya?" Neng menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Lebih perih perasaan yang terluka ya?, bercanda Neng, aku boleh bertanya?"
"Silahkan Dok,"
"Bagaimana perasaan Neng Mitha setelah menjadi orang tua?"
Neng mengambil napas panjang, pikirannya rasanya buntu, belum bisa berpikir jernih sehingga rasanya lidahnya kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Dokter Harry.
"Tidak usah dijawab kalau masih bingung,"
Dokter Harry mengeluarkan handphone miliknya yang berada di balik jas kerjanya, menunjukkan kepada Neng sebuah foto bayi laki-laki menggemaskan berumur satu bulan.
Yang awalnya Neng mendengarkan cerita Dokter Harry dengan setengah hati, mata Neng langsung menatap wajahnya saat dia menggantungkan ceritanya.
"Sejak saat itu aku berusaha untuk tidak tidur saat baby Zain bangun di tengah malam, aku tidak ingin putraku mengalami apa yang pernah aku lalui saat masih kecil, cukup aku saja yang merasakan hidup susah dan harus beruang sendiri untuk meraih cita-cita,"
"Maksud Anda Dok?" tanya Neng semakin tertarik mendengar cerita Dokter Harry.
"Aku saat kecil hidup susah Neng Mitha, harus berjuang dengan keras untuk meraih cita-cita, tetapi cukup aku saja yang mengalaminya, aku tidak ingin putraku seperti aku, aku akan melakukan apapun agar putraku mendapatkan yang terbaik untuk masa depannya nanti,"
Neng mengangguk mulai memahami apa yang di maksud olehnya, Neng mencoba bangun ingin duduk dan lebih serius mendengarkan cerita Dokter Harry.
__ADS_1
"Setiap orang memiliki masalah dan cobaan hudup yang berbeda-beda tetapi satu yang pasti Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya,"
"Apakah Anda pernah mengalami cobaan yang membuat Anda menyerah Dok?"
"Berkali-kali aku mengalami itu, aku sering menyalahkan takdir, nasib dan marah dengan melampiaskan apa saja yang ada disekitarku, tetapi akhirnya aku sendiri yang rugi, barang hancur orang yang ada disekitarku marah dan sakit hati,"
Neng tersenyum mendengar Dokter Harry bercerita dengan berapi-api mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.
"Eee ngomong-ngomong mengapa malah aku yang curhat pada Neng Mitha, aku ini ingin mewawancarai Ibu muda nan cantik setelah memiliki putra yang baru saja dilahirkan?"
Neng tersenyum kembali tanpa sadar mereka berbincang hampir setengah jam.
"Baiklah besok pagi aku akan menemui Neng Mitha lagi, tetapi kalau bisa Neng sudah pindah ke ruang rawat inap, disini waktu berkunjungnya terbatas, ok!"
"Iya Dok terima kasih,"
"Seharusnya aku yang berterima kasih, aku yang curat, baru kali ini ada seorang Dokter curhat kepada pasiennya, terima kasih ya, besok gantian Neng Mitha yang curhat kepadaku agar aku merasa tidak bersalah,"
Neng hanya mengangguk dan tersenyum kembali, setelah Dokter Harry keluar dari ruangannya, rasanya hatinya mulai kembali seperti saat keluar dari villa waktu itu, hatinya terasa ringan, tiba-tiba dia sangat merindukan bayi yang berada jauh darinya.
Rasa sesak dan sakit hati di dadanya masih terasa nyeri saat mengingat ayah dari putranya tetapi Neng tidak ingin putranya akan mengalami apa yang dia rasakan, tidak ingin orang yang ada di sekitarnya akan mengalami imbas dari sakit hatinya, ingin sekali membuang jauh jauh-jauh pikiran yang selalu menghantuinya.
Neng merenung dan memikirkan semua perkataan Dokter Harry yang mencoba membuka hatinya bahwa cobaan yang dilaluinya saat ini pasti akan bisa dilewati dengan kesabaran dan mencoba untuk Ikhlas, walaupun berat jika mau berusaha pasti akan bisa dilaluinya.
Tujuan awal saat keluar dari villa mulai diingatnya kembali untuk menyemangati hatinya agar tidak larut dari kesedihan, berusaha untuk menerima kenyataan memang dirinya hanya wanita yang tidak diinginkan oleh ayah dari putranya.
__ADS_1
Neng mulai kembali menata hati, hari lahirnya putranya akan dia kenang sebagai hari dimana seperti dia dilahirkan kembali untuk memperjuangkan putranya agar bisa hidup lebih baik dan tidak akan mengalami penderitaan seperti yang dialaminya.