Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kalah Telak


__ADS_3

"Ayah mengapa wajah Abang kecil ini mirip dengan Tuannya Ayah yang di sana?" tanya Julio putra Junaidi.


"Mana orangnya, ayo antar aku!" kata Al penasaran.


Al menggandeng Julio berjalan kearah tempat yang ditunjukkan Julio sambil berpamitan kepada Neng, "Mami Al mau ke sana sebentar!"


"Ya jangan jauh-jauh, Nak!"


"Ya Mami."


Alfian berjalan dengan cepat mendekati Alfarizi dan Surya yang berdiri di balik lift mall. Bahkan Alfarizi dan Surya tidak sempat menghindar atau pergi dari tempat itu. Alfian berdiri tepat di depan Alfarizi menatap tajam seolah tepat menghunus dan menghujam pada jantungnya.


Awalnya Alfian hanya diam saja hanya memandangi wajahnya tanpa kata. Ada rasa bahagia, marah, emosi bercampur di hati Alfian berdiri di depan Alfarizi. Ingin rasanya mengajukan banyak pertanyaan yang akan ditujukan untuknya.


Alfarizi juga seperti sedang bermimpi, putra yang dirindukannya berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya, sorot matanya semua persis bak pinang dibelah menjadi dua. Lutut Alfarizi seakan lemas tak bertulang, dia langsung berjongkok menekuk lututnya mensejajarkan tubuhnya pada Alfian.


"Nak...!" panggilnya singkat, lidahnya terasa kelu, rangkaian kata-kata yang sudah dua hari ini disusunnya seoalah lenyap hilang dari pikirannnya.


"Apakah Anda Papi Al?" tanya Al dengan suara lirih dan ragu.


"Ya Nak, aku adalah Papi kandungmu."


"Kemarin saat Mami bercerita jika Mami bertemu Papi, Al merengek minta ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki Papi, tetapi setelah Al membaca tentang Papi di media sosial yang bahagia bersama istri dan Kakak Cantik putri Papi, Al mengurungkannya."


Hati Alfarizi seolah di sayat-sayat pedang yang sangat tajam tetapi tak berdarah. Kata-katanya sederhana tetapi menunjukkan kebijaksanaan dalam ucapannya. Tatapan matanya seolah ada banyak pertanyaan yang ingin di sampaikannya.


"Mengapa Nak?" tanya Alfarizi sambil berderai air mata.


"Al tidak ingin merebut kasih sayang milik Kakak Cantik putri Papi, kata Mami setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang sesuai dengan haknya, Al mungkin hanya berhak mendapat sayang dari Mami."


Alfarizi mengambil napas panjang, seakan oksigen tidak bisa masuk dalam paru-parunya. Deraian air mata terus saja mengalir deras. Alfarizi ingin meraih tangan putranya, sayangnya dia mundur beberapa langkah.


"Apakah Al boleh bertanya satu hal, Papi?"


"Tentu saja Nak, katakanlah!"


"Apakah salah Mami, Al sering melihat Mami menangis saat Al bertanya tentang Papi?"

__ADS_1


"Mami tidak salah Nak, Papi lah yang salah, maafkan Papi ... maafkan Papi, hiks hiks hiks!"


Bagi Alfarizi lehih berat menghadapi Alfian dari pada menghadapi Neng, Neng sering memendam perasaannya sendiri dengan rapat. Putranya Alfian berkata sesuai apa yang dirasakannya. Bahkan ingin memegang tangannya saja dia menghindar, Alfarizi seperti menjadi orang yang tidak berguna untuk putranya sendiri.


"Nak, maafkan Papi, apakah Papi boleh memelukmu?"


"Jika Papi memeluk Al, apakah berarti Al merebut sayangnya Papi pada Kakak cantik?"


"Tidak sayang tidak, Papi ingin menyayangi Al juga, kemarilah Nak, Papi sangat merindukanmu!"


Alfarizi merentangkan tangannya. Alfian berjalan perlahan walaupun dengan perasaan yang ragu. Keduanya berpelukan melepaskan kerinduan yang memuncak di hati masing-masing.


Neng yang melihat dari kejauhan putranya bertemu dengan papi kandungnya juga menangis dengan tersedu. Ada Junaidi dan Lilis yang berdiri di samping Neng juga berlinang air matanya. Mereka hanya mengawasi dari jauh tanpa berani mendekat.


Alfian melepas pelukan Alfarizi. Mata tajam Alfian seolah masih ingin bertanya tentang banyak hal. Hanya Alfarizi yang terasa kelu dan tidak bisa berucap betapa dia sangat menyayangi putranya.


"Terima kasih Papi, Al sudah bisa merasakan memiliki seorang ayah, bagi Al sudah cukup, silahkan jika Papi ingin kembali ke keluarga Papi, Al pamit takut Mami cari Al nanti." Alfian meraih tangan Alfarizi mencium punggung tangannya, sebagai tanda bakti kepada papinya yang selalu di rindukannya.


Alfian berlari kearah Butik AA tanpa menoleh kebelakang. Alfarizi semakin tergugu dan bersujud di lantai. Air mata yang menganak sungai tidak bisa mengobati rasa bersalahnya kepada istri dan putranya sendiri.


"Iya Mi." Al memeluk Neng denga erat.


"Al baik-baik saja?" Al hanya megangguk tanpa menjawab sepatah katapun.


"Aa Jun, Lilis aku ada meeting dengan pelanggan, silahkan mampir ke butik!" ajak Neng masih memeluk Al dengan erat.


"Terima kasih, Nona kami harus bekerja, lain kali saja kami mampir lagi," kata Junaidi sambil membunggukkan badannya.


"Baiklah kami permisi dulu." Neng mengandeng tangan Alfian berjalan masuk Butik AA tanpa menoleh.


Sampai di kantor Neng langsung mengajak putranya duduk di sofa. Ingin menanyakan tentang informasi data keluarga papinya. "Dari mana Al mendapat informasi tentang Kakak Cantik dan keluarga Papi?"


"Baca di media sosial, itu dengan mudah bisa kita dapat Mami."


"Bagaimana perasaan Al saat ini?"


"Sebetulnya Al ingin marah Mi, Papi tidak adil pada Al, dia hanya menyayangi putrinya saja, tetapi kemarin Al sudah janji sama Mami tidak boleh marah."

__ADS_1


"Kalau Al masih ingin bertemu dengan Papi, Mami tidak melarang kok, Nak; itu haknya Al untuk nendapatkan kasih sayang Papi."


"Tidak Mi, setelah Al tahu punya saudara perempuan, dia mungkin yang lebih membutuhkan, bagi Al cukup kasih sayang Mami saja."


"Memangnya ada apa dengan saudara perempuan Al?"


"Al baca dari media sosial, Mami dari Kakak Cantik itu sering bekerja sampai luar negeri dan jarang pulang, Papi juga sering ke luar kota, jadi Al menyimpulkan lebih beruntung Al dari pada Dia, Al selalu berdua sama Mami, Al sayang Mami!"


"Mami juga sayang Al."


Keduanya berpelukan dengan erat, setiap peristiwa atau cobaan pasti ada hikmah yang bisa diambil hikmahnya. Yang dulu Al sering marah karena tidak nendapatkan kasih sayang papinya. Sekarang merasa bersyukur ada mami tang sangat menyayanginya dan ada juga karyawan mami juga sangat menyayangi juga.


Sementara di kantor milik Alfarizi, dia masih menangis tergugu. Ucapan putranya masih terngiang di telinganya. Bahkan Surya dan Junaidi tidak mampu menenangkan tuannya yang terus menangis tergugu.


Alfarizi tetap saja tidak bisa memahami putranya yang wajahnya mirip dengannya, tetapi sifatnya sama sekali tidak seperti dirinya. Sabar, tenang dan tidak menggunakan emosi saat bicara persis seperti Neng.


"Tuan bersabarlah, berpikirlah positif jangan seperti ini terus. berjuanglah!" Surya menepuk pundak Alfarizi.


"Aku benar-benar kalah telak dengan putraku sendiri, Surya; bagaimana istriku itu mendidik dia sampai seperti itu?"


"Seharusnya Anda bersyukur Tuan, jangan terus menangis seperti ini!" Junaidi juga ikut menasehati.


"Aku sangat menyesal, seandainya waktu bisa diputar, aku ingin memperbaikinya!"


"Semua penyesalan memang datang selalu terlambat Tuan, jika datang lebih awal itu namanya pendaftaran." Junaidi nyeletuk sambil cengar-cengir.


"Garing tahu Jun!" kata Surya sambil tersenyum.


"Surya, kamu lakukan rencana kita kemarin, kirim surat kaleng kepada wartawan infotaiment tentang Sinta dan dokter itu!"


"Ok Tuan, it's show time."


\*\*\*


Selamat membaca shobat, maaf author lagi baper saat menulis jadi menangis bombay, lanjut baca novel milik teman ini saja biar tidak iku baper


__ADS_1


__ADS_2