
Dokter Atha masih berbincang dengan dua orang wanita beda usia di dalam rumah. Zain berbincang dengan putra dari bibi yang tadi menyambut mereka, "Bang boleh aku tanya?"
"Silahkan saja, panggil saya Bang Dul!"
"Namaku Zain, Apa hubungannya Dokter Atha dengan keluarga ini, Bang Dul?"
"Elu Naksir sama Neng Atha ya, ayo ngaku?"
Zain tersenyum penuh arti, tidak di jawabpun masti bisa menilai dengan melihat sikapnya. Semakin hari sikap dan pendirian Dokter Atha yang kuat semakin membuat Zain jatuh cinta lagi dan lagi. Yang membuat Zain semakin mengejarnya adalah dia tidak seperti wanita kebanyakan yang di rayu langsung klepek-klepek.
Dokter Atha semakin di dekati dia semakin menghindar. Semakin di rayu dia semakin menjaga jarak. Tipe wanita seperti itulah yang Zain cari wanita yang susah di takhlukkan.
Bang dul bercerita jika yang sedang dirawat oleh Dokter Atha adalah ibunya Bang Dul yang bernama Prapti. Dokter Atha memanggil dengan sebutan Bibi Prapti. Sejak Bayi mungil yang dibawa dari Australia ke Indonesia menjadi anak angkat Papi Alfarizi dan Mama Sinta langsung di asuh oleh Bibi Prapti.
Dari sejak bayi Dokter Atha tidak pernah perpisah dari asuhan Bibi Prapti. Sampai Mama Sinta berpisah dengan Papi Alfariizi. Menikah lagi dengan Papa Mario juga di asuh oleh Bibi Prapti. Mereka berpisah setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Mama Sinta dan berpindah ke Australia.
Saat sesekali Dokter Atha berkunjung ke Indonesia. Pasti dia akan mampir bertemu dengan pengasuh yang sudah di anggap sebagai pengganti ibunya selain Mami Mitha. Mereka selalu bertemu untuk melepas rindu walau terkadang hanya beberapa jam bertemu.
Lima tahun lalu saat Papa Mario menghembuskan napas terakhir di RSJ adalah pertemuan terakhir antara Dokter Atha dengan Bibi Prapti di pemakaman umum. Bibi Prapti saat itu masih sehat dan masih bekerja. Sekarang ini anak asuhnya menjadi seorang dokter dan Bibi Prapti menderita penyakit diabetes.
Kesehatan Bibi Prapti akhir-akhir ini turun karena juga memiliki penyakit mag akut. Lambungnya sudah luka, susah makan, dan tidak mau berobat ke rumah sakit. Berkali-kali Dokter Atha merayu untuk mengajak berobat tetapi Bibi Prapti menolaknya.
"Mengapa tidak mau berobat ke rumah sakit, Bang Dul?" tanya Zain setelah mendengarkan cerita Bang Dul.
"Ibu takut biaya rumah sakit akan membengkak."
"Apakah Dokter Atha tidak bercerita jika di rumah sakit Aljuzeka ada program bagi yang tidak mampu?"
"Sudah cerita, tetapi Ibu tidak mau, beliau lebih memilih di rawat di rumah saja."
"Apakah Papi Alfarizi tidak pernah mengingat jasa Bibi Prapti?"
"Tuan satu itu seperti dewa penolong bagi kami. Walaupun Tuan Alfarizi tidak pernah mengunjungi kami, tetapi beliau masih memberikan unag belanja setiap bulan."
__ADS_1
Zain hanya mengangguk dan termenung sesaat. Orang tua dari sahabat sekaligus pengusaha terkenal itu selalu saja bisa di jadikan contoh. Selalu memperhatikan kesejahteraan seluruh karyawan.
"Apakah rumah ini rumah sendiri?"
"Iya ini rumah sendiri, kami nyaman tinggal di sini, dulu pernah kami gadaikan untuk modal usaha. Bangkrut dan hampir di sita oleh Bank, Tuan Alfarizi yang menebusnya kembali."
Pembicaraan mereka berdua berakhir setelah Dokter Atha keluar rumah dan menghampiri mereka, "Bang Dul, Atha pulang dulu. Jangan lupa jaga pola makan Bibi!"
"Siap Neng, terima kasih."
"Abang Dul tidak kerja?"
"Masuk malam, Neng."
Zain mengikuti langkah Dokter Atha sambil bertanya, "Apa pekerjaan Bang Dul itu, Dok?"
"Bagian produksi perusahaan Papi."
"Oooo ..."
"Kita makan dulu ya, Dok. Aku juga lapar."
"Tidak usah, Saya punya satu bungkus nasi padang."
"Aku juga lapar, tega banget sih makan cuma sebentar."
"Makan saja nasi padang saya kalau Dokter Zain lapar."
"Boleh ... tetapi suapin karena aku lagi nyetir, kalau perlu satu bungkus berdua biar terlihat romantis."
"Iiiiiih ngarep banget." Dokter Atha lebih memilih melengos melihat lalu-lalang kendaraan.
"Berarti setuju kita makan dulu kalau tidak mau nyuapin." Zain langsung membelokkan mobilnya di rumah makan sea food yang kebetulan langganan dan favorit ke dua orang tua.
__ADS_1
"Eeee mengapa ...?" Dokter Atha tidak melanjutkan pertanyaan karena mobil sudah terparkir sempurna.
Zain turun dari mobil, memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Dokter Atha, "Silahkan turun, Nona Cantik!"
Dokter Atha turun sambil mengerucutkan bibirnya sambil turun dari mobil. Dengan terpaksa mengikuti makan malam dengan Zain. Berjalan mengikuti Zain masuk rumah makan sea food.
Baru masuk pintu rumah makan ada yang menyambut dengan celetukan yang membuat telinga Dokter Atha panas, "Dokter Zain, cewek mana lagi yang Anda gebet hari ini?"
"Huuus ... diam lo, jangan brisik!" bisik Zain di telinga teman yang baru di temui.
Dia tersenyum melenggang meninggalkan Zain disertai wajah Dokter Atha yang cemberut. Tanpa memperdulikan Zain yang salah tingkah kembali berjalan masuk rumah makan. Dia langsung duduk tetap dengan wajah yang di tekuk.
Zain mulai bingung dan salah tingkah padahal sudah tahu bagaimana Dokter Atha mengetahui masa lalunya. Tetap saja rasanya ingin menyembunyikan hal yang sudah banyak orang tahu tentang sepak terjangnya. Bisanya hanya mengalihkan perhatian dengan bertanya tentang menu makanan yang ingin di pesan.
"Mau pesan apa?"
Tanpa melihat buku menu dan fokus pada ponsel Dokter ata menjawab, "Nasi goreng sea food dan es jeruk."
Zain memesan sesuai permintaan Dokter Atha dan cumi saos padang. memesan juga salad sayuran dan es krim durian untuk makanan penutup. Sesekali sambil melirik Dokter Atha yang masih cemberut.
Tanpa disadari oleh Dokter Atha dengan sikap seperti itu justru Zain bisa menilai sudah ada rasa cinta atau cemburu di hatinya. Zain tersenyum bahagia tanpa kata ada harapan untuk terus memperjuangkan. Seorang pakar cinta tidak pernah meleset saat menilai rasa cinta di hati.
Pesanan menu makanan datang dan tersaji di meja. Dengan sok sibuk Zain mulai mendekatkan nasi goreng sea food di depan Dokter Atha. Mengambilkan sendok dan garpu serta mendekatkan es jeruk pesanannya.
Dokter Atha masih sibuk dengan ponsel tanpa memperdulikan apa yang dilakukan oleh Zain, "Ayo dimakan dulu, cemburu juga memerlukan tenaga lo!" Zain memandangi wajah Dokter Atha yang langsung mendongak mendengar ucapan Zain.
"Siapa yang cemburu, Dok?" tanya Dokter Atha pura-pura mencari orang yang ada di sekitarnya.
Zain juga pura-pura mencari orang yang ada sekitarnya sambil tersenyum. Kemudian matanya langsung tertuju pada Dokter Atha sambil mengedipkan mata, "Orangnya ada di depan mata," jawab Zain asal.
"Idiiih ngarep!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa mampir ya Shobat sambil menunggu AST up