
Pesta pernikahan Alfian dan Rania tinggal dua hari lagi. Persiapan sudah 100% tinggal pelaksanaan hari H. Kabar di media sosial semakin ramai dan masih belum terungkap semua sosok pasangan pengantin wanita.
Julio saat ini sedang mengabarkan pada Alfian tentang Putri Siregar yang berangkat ke Belanda pagi hari tadi pukul enam. Dia juga sudah menemukan identitas dua laki-laki yang membantu Putri Siregar saat memapah Eki Darsono masuk kamar hotel. Tinggal menunggu Eki Darsono apa yang akan di lakukan kepada dua laki-laki itu.
"Sudah elu kirim ke Eki identitas laki-laki itu?"
"Belum Bang, nanti sore saja."
"Bagaimana perkembangan rumah sakit yang di bangun, Jul?"
"Pembangunan baru berjalan 20%, targetnya saat Zain lulus kuliah profesi, rumah sakit sudah selesai."
"Kapan mulai menerima kartawan dan tenaga medis?"
Zain kemarin meminta setelah 80% pembangunan rumah sakit, bisa mulai mencari karyawan dan tenaga medis."
Sore harinya Alfian pulang kerja pukul lima pagi. Tidak menemukan istrinya di rumah. Dia sedang membantu Bibi Esih pindah rumah dari tempat kontrakan ke rumagh Abah.
Rania hanya berpesan kepada Bibi Tiwi jika suaminya sudah pulang kerja meminta untuk menjemput di rumah Abah. Sengaja tidak menghubungi suaminya agar tidak mengganggu pekerjaan saat di kantor. Alfian hanya berganti baju langsung menyusul istrinya ke rumah Abah.
Masuk di halaman rumah Abah, ada sopir angkot milik Abah yang duduk di teras. Mereka membantu Bibi Esih sedang pindahan. Alfian melihat Rani sedang bercanda dengan salah satu sopir.
Alfian melihat sopir itu mengusap pundak Rania sambil bercanda. Mata Alfian langsung terbelalak dan merasa kesal. Bergegas mendekati Rania dengan wajah yang jutek san kesal.
"Rani ...!" panggil Alfian dengan suara keras.
"Eee Abang, bikin kaget saja."
Rania mendekati Alfian, tetapi Alfian berjalan meninggalkan dia sambil menunjukkan wajah yang di tekuk masuk rumah Abah, "Abang ...!" Gantian Rania yang berteriak memanggilnya.
Alfian tetap saja berjalan tanpa memperdulikan panggilan istrinya. Hatinya masih kesal dan cemburu. Langsung masuk kamar Rania dan menutup pintu dengan keras.
"Duuuaar ...!"
Rania kaget sambil memegangi dadanya. Tidak mengetahui apa menyebabkan kemarahan suaminya. Rania hanya menduga karena tanpa pamit pergi ke rumah Abah.
"Abang, mengapa marah tadi Rani sudah berpesan pada Bibi Tiwi sebelum berangkat ke sini?" tanya Rania ingin memeluk Alfian dari belakang.
"Bukan karena itu Abang marah." Alfian menepis tangan Rania maju beberapa langkah.
"Rani salah apa, mengapa Abang marah sama Rani?"
"Pikir aja sendiri!"
__ADS_1
Rania mengerutkan keningnya, mencoba memikirkan apa yang membuat Alfian semarah itu. Tidak menyadari dan mengetahui sama sekali apa yang saja terjadi.
"Rani salah apa, Abang?"
"Tahu ... Abang masih marah. Sana berduaan saja sama sopir itu, Abang mau tidur!"
Rania baru menyadari kesalahan dirinya tentang Paman sopir yang mengusap pundaknya. Rania langsung naik tempat tidur dan sengaja naik diatas perut Alfian yang sedang tidur telentang.
"Abang cemburu gara-gara Paman Sopir?"
"Pikir saja sendiri." Alfian masih jutek dan memalingkan wajahnya ke samping tidak ingin melihat wajah Rania yang sekarang ada diatas perutnya."
"Kalau kurma jumbo Abang sekarang sedang santai atau berpikir sendiri?"
"Jangan tanya kurma jumbo Abang, dia juga ikut marah seperti Abang."
Dengan sengaja Rania memutar badan. Dia menghadap kearah kurma jumbo yang masih tertutup celana. Mentowel kurma jumbo berkali-kali, "Kamu ikut marah seperti Abang?"
"Rani ...!" teriak Alfian.
Rania kembali mentowel kurma jumbo sambil tersenyum devil, "Rani minta maaf, Rani hanya berbincang saja sama Paman Sopir. Dia sudah Rani anggap seperti ayah sendiri, yok baikan!"
Berkali-kali Rania mentowel kurma jumbo sampai dia berubah bentuk. Yang awalnya sedang tertidur dan anteng kini mulai menegang. Sambil kembali tersenyum devil membalikkan badannya kearah Alfian.
Alfian langsung menarik tubuh Rania dan mencium bibirnya dengan penuh gairah. Yang awalnya hanya ingin marah dan ingin perang mulut. Sekarang menjadi perang badan dan menyedot tenaga Rani sampai puas.
"Abang sudah tidak marah, 'kan?"
"Tidak, asal jangan diulangi. Ingat boleh saja berbincang tetapi jangan pakai pegang punggung segala, mengerti? "
"Iya Bang. Ayo kita pulang!"
Sampai di rumah, Alfian sudah di tunggu oleh Eki Darsono dan Julio. Setelah di kirim identitas dua laki-laki itu, Eki Darsono mengajak untuk bertemu kembali di rumah Alfian. Hanya sayangnya Zain tidak bisa ikut karena sedang berada di rumah sakit.
Rania langsung naik ke lantai atas untuk membersihksn diri di kamar mandi. Alfian ikut duduk dengan tamunya, "Apakah ada perkembangan tentang Putri? "
"Belum Bro. Gue mau minta izin pinjem Julio untuk bertemu dengan dua laki-laki itu," kata Eki Darsono.
"Silahkan saja, dia sudah di luar jam kantor. Harganya tiga kali lipat." Alfian tersenyum melirik Julio yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Tega banget sih, teman sedang kena musibah malah di komersilkan."
"Itu bukan musibah, elu merasakan enak di goyang sama Putri."
__ADS_1
"Sembarangan aja, gue lagi mabok tidak merasakan enaknya sama sekali."
"Jangan-jangan elo hanya di kerjain aja sama si Putri. Dia hanya modusin kamu saja dia tidak ngapa-ngapain elu." Julio memberikan analisa yang masuk akal.
"Gue harap seperti itu, Jul. Jadi gue tidak terkontaminansi dengan wanita tidak jelas itu."
Eki Darsono dan Julio berangkat ke alamat laki-laki yang telah membantu Putri sore itu bersama Julio. Alfian langsung masuk kamar mencari Rania yang seharusnya sudah selesai mandi, "Sayang ... Rani di mana?"
"Rani masih di kamar mandi, Bang!"
"Mengapa lama sekali di kamar mandinya?"
"Rani sakit perut, Bang. Tunggu dulu ya sebentar lagi!"
Alfian menunggu Rania hampir setengah jam. Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan hanya meliitkan handuk pada tubuhnya. Masih memegangi perutnya yang melilit dan mulas.
"Mengapa wajah Rani pucat begitu, Sayang?"
"Rani lemas, Bang. Tadi siang Rani makan bakso mercon."
Alfian langsung mengangkat Rania dan di baringkan di tempat tidur. Dioleskan minyak kayu putih di perut. Dan membantu untuk memakai baju.
"Lain kali jangan suka makan yang telalu pedas, dua hari lagi kita mengadakan resepsi di hotel. Tidah lucu dong kalau penngantin wanitanya mencret dan sakit parut!"
"Iya Bang, maafkan Rani."
"Nanti kalau tidak sembuh berobat ke dokter, ok!"
Rania menggelengkan kepala paling takut jika harus berobat. Dia paling takut jika di suntik oleh dokter. Apalagi jika di suntik di bagian lengan ataupun ****** yang mebuat terasa ba'al dan mengeras.
"Kenapa tidak mau berobat?"
"Rani paling takut kalau di suntik, Rani pilih di suntik oleh Abang saja."
"Eee Rani maunya di suntik menggunakan kurma jumbo Abang?"
"Ho'o ... Eee ...!"
BERSAMBUNG
jangan lupa mampir juga di sebelah ya Shobat insyaallah akan di buat give away juga, tapi belum di pikirkan model tasnya
__ADS_1