
Alfarizi sedang menggendong Elfa, Alfian di gandeng oleh Neng. Doni berjalan paling depan dan Bibi Siti berjalan paling belakang saat mendengar suara orang berteriak memanggil nama Sinta dan Marta. Suasana parkiran terlihat lengang dan tidak banyak aktivitas.
Alfarizi dan Doni langsung melindungi Neng dan yang lain. Mata mereka menyapu area parkiran untuk mencari sosok suara yang terdengar tetapi tidak terlihat penampakan wajahnya. Surya langsung berteriak keras memanggil security, "Paaaak ... kemarilah!"
Belum sempat security datang, muncul sosok laki-laki memakai seragam warna abu-abu dari balik tiang parkiran. Ada luka bakar di dahi dan pipinya, celana bagian bawah juga terlihat hitam karena terkena api. Tangannya memegang pisau dapur besar, dengan cepat laki-laki itu mendorong Alfarizi dan Doni dengan keras.
Alfarizi terjatuh sambil mempertahankan Elfa di atas badannya agar tidak terbentur lantai parkiran. Siku Alfarizi terluka, Elfa menangis dengan kencang. Doni terjatuh kepalanya membentur pagar besi pinggiran parkiran dan darah mengalir deras.
"Papi ... Elfa!" teriak Neng.
Dengan secepat kilat setelah mendorong Alfarizi dan Doni, laki-laki itu menarik tangan Neng dan mengalungkan pisau itu di leher Neng. Dia berdiri di belakang tubuh Neng untuk melindungi dirinya sendiri.
Sambil tertawa terbahah-bahak laki-laki itu memandang remeh Alfarizi, "Jangan kamu rebut Sinta-ku lagi, bod*h!" teriaknya sambil tersenyum devil.
Dokter Mario...!" teriak Alfarizi.
Laki-laki itu adalah Dokter Mario terlihat lusuh tetapi badannya kekar dan gemuk. Kekuatan tangan sangat besar sehingga membuat Alfarizi dan Doni langsung terjatuh. Pikirannya belum sepenuhnya sehat sehingga menganggap Neng sebagai istrinya yaitu Sinta.
Alfarizi langsung berdiri memberikan Elfa yang menangis kepada Bibi Siti. Doni memeluk Alfian yang mulai ketakutan dan menangis, "Bang Doni ajak minggir Bang Al dan Elfa dari sini!" perintah Alfarizi.
Doni memeluk Alfian sambil berjalan ke pinggir parkiran. Membantu bibi Siti untuk melindungi Elfa dengan menghalangi pandangan karena sesekali Dokter Mario melirik Elfa.
Dua security datang dengan untuk mengamankan lokasi karena banyak pengunjung mall yang melihat dan berkerumun, "Pak ... cepat panggil Junaidi dan Pak Min ke sini, aku akan mengulur waktu!" Kembali Alfarizi memberi perintah.
"Siap Tuan." Salah satu security berlari masuk mall dengan kecepatan tinggi untuk mencari Junaidi yang berada di ruang istirahat security.
Neng mulai berkeringat dingin dan tubuhnya menggigil. Seumur hidupnya dia jarang kontak secara langsung dengan seorang laki-laki kecuali dengan suami putra dan ayah kandungnya. Dia memandang wajah Alfarizi yang sangat khawatir.
"Dokter Mario dia bukan Sinta, lihatlah wajahnya. Tolong letakkan pisau itu sekarang juga!" pinta Alfarizi perlahan sambil bersiaga penuh.
__ADS_1
"Ha ha ha kamu memang dari dulu bod*h, selamanya Sinta itu milikku, kamu tahu itu?"
Orang yang pemikirannya tidak seratus persen sehat harus di hadapi dengan hati-hati. Apalagi sekarang ini sedang memegang pisau yang tajam, "Ok, jika memang Sinta hanya milikmu mengapa kamu tega mengancamya, ayo tolong lepaskan dia!" Alfarizi mencoba berbicara dengan suara pelan.
Dokter Mario semakin tertawa dan menekan pisau mendekati leher Neng, "Sinta memang pantas di berikan ini karena dia selalu membandingkan aku dengan kamu."
Alfarizi mengerutkan keningnya bagaimana lagi caranya membujuknya agar mau melepaskan Neng, "Sinta selalu setia padamu, Mario. Cepat lepaskan dia!"
"Aku tahu itu, dia ini hanya mau uangmu saja. Kamu saja yang bod*h mau di bohongi Sinta terus."
Alfarizi berpikir keras sambil memandangi wajah istrinya yang sudah pucat pasi, "Sabar Honey ... Papi akan segera menolong Mami," Alfarizi perlahan mendekati Neng.
Dua security langsung mengawal langkah Alfarizi, tetapi Dokter Mario menarik Mundur Neng untuk menjauhi mereka, "Jangan kamu mendekat Al, lebih baik Marta bawa ke sini!" perintah Dokter Mario dengan suara keras.
"Di mana Marta, Dokter Mario?" tanya Alfarizi sambil menghentikan langkahnya.
"Gadis kecil yang kamu gendong tadi putri kandungku, bukan putrimu, bod*h!"
Alfarizi tidak bisa menunggu Junaidi dan Pak Min lebih lama lagi, Harus cepat menyelamatkan Neng yang semakin pucat pasi. Alfarizi langsung nekat mendekati Dokter Mario dari samping.
"Tuan ... jangan!" teriak Security.
Dua tangan Alfarizi langsung menarik tangan Dokter Mario yang memegang pisau sambil menarik badannya dengan keras. Badan Dokter Mario menabrak security yang akan membantu Alfarizi sampai terjatuh. Neng terdorong ke depan dan hampir terjatuh, "Honey menjauhlah, cepat!" teriak Alfarizi.
Dengan spontan Dokter Mario memutar tangannya. Pisau yang di pegangnya langsung tertancap di perut Alfarizi di bagian kanan, "Aaarrgh!"
"Papi ...!" teriak Neng.
Alfarizi roboh dan terbaring di lantai parkiran. Security yang tadinya terjatuh langsung bangkit dan memukul tengkuk Dokter Mario sampai dia terkabar dan pingsan. Security langsung mengikat tangan Dokter mario agar tidak membahayakan lagi.
__ADS_1
"Papi bangun .... Papi tetaplah buka mata, bertahanlah!"
Neng menarik pisau yang menancap di perut Alfarizi. Membuka blezernya untuk menekan agar darah tidak terus mengalir, "Bang Doni .. rumah sakit cepat!"
"Ya siap!" Doni berlari mengambil mobil yang terpakir di tempat khusus.
Neng memangku kepala Alfarizi setelah darah mulai berkurang keluar dari luka. Air mata Neng terus menetas sampai di pipi suaminya. Alfian berlari mendekati ke dua orang tuanya di ikuti oleh Bibi Siti yang menggendong Elfa yang menangis kencang.
"Papi .... Papi bangunlah, Papi janji tidak akan meninggalkan Abang, Mami dan Elfa, kan!"
Alfian juga menangis tersedu-sedu melihat perut papinya bersimbah darah. Baju dan tangan Neng juga terkena darah bahkan sampai pipi maminya itu terkena noda darah. Semakin membuat Alfian sangat takut kehilangan papinya.
Belum lama mendapatkan kasih sayang orang tua secara lengkap. Rasa cinta yang selama ini di terima dari papinya dengan tulus. Rasanya baru kemarin Alfian rasakan.
Kini papinya tidak berdaya terkulai lemas dalam pangkuan maminya. Membuat Alfian semakin tergugu dan terus menangisi papi yang sangat di sayanginya. Alfian selalu mengusap darah yang mengalir dengan baju blezer milik maminya agar tidak terlalu basah.
"Papi ... jangan pergi, jangan tinggalkan Abang lagi."
Alfarizi tersenyum sambil meringis menahan sakit, "Pa ... pi tidak ke mana-mana Nak,"' jawab Alfarizi lemah dan memejamkan matanya.
"Papi, tetaplah bersama kami, jangan tidur. Bang, ajak Papi berbincang jangan sampai tertidur atau hilang kesadarannya!" perintah Neng sambil menepuk pipinya dengan keras.
"Papi. Abang sangat sayang sama Papi, bertahanlah."
Alfarizi hanya mengangguk dan kembali memejamkan matanya, "Bang, Mami ... I love you!" Tangan Alfarizi yang semula meraih pipi Neng langsung terjatuh dan terkulai lemas.
"Papi ... Papi bangun!" teriak Neng dengan kencang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya di sebelah