
Alfarizi saat ini sedang memeluk Alfian dengan erat di dalam mobil yang sedang melaju ke sekolah Alfian. Isakan tangis anak kelas dua Sekolah Dasar itu tidak terbendung lagi. Baru merasakan kasih sayang seorang ayah, dia berpikir akan di tinggalkan lagi.
"Jangan menangis Nak, Papi tidak akan bekerja menjadi TKI lagi, Papi hanya tiga hari di sana."
Alfian langsung mengusap air matanya, melepaskan pelukan dari papinya. Memandang wajah Alfarizi yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mencari kebenaran ucapannya melaui tatapan mata.
"Papi janji tidak akan lama di sana?"
"Papi janji Nak, papi ke sana hanya akan mengunjungi Opa yang sedang sakit."
"Opa, siapakah Opa itu, Papi?"
"Opa itu Ayah kandung dari Papi, jadi Opa Ali adalah Opanya Alfian."
"Ooo jadi Al punya Opa juga seperti teman-teman di sekolah."
Alfian hanya mengangguk, teringat teman sekolahnya sering bercerita jika mereka sering bermain bola dengan kakeknya di rumah. Membuatnya penasaran seperti apa rasanya bisa bermain dengan opa atau oma seperti yang teman-temannya ceritakan. Al hanya merasakan kasih sayang dari nenek Ani atau karyawan yang sudah berumur.
"Tentu saja Al punya opa, namanya Opa Ali, bagaimana kalau kita berdua buat vedio agar Opa Ali bisa melihat Al dan cepat sembuh?"
"Boleh Pi, apa yang harus Al katakan untuk Opa Ali?"
"Terserah Al saja, perkenalan juga boleh agar Opa Ali cepat sehat, ok!"
"Kita minta tolong Nenek yang mengambil vedio ya!"
"Ok sini Nenek bantu."
Alfarizi dan Alfian membetulkan duduknya. Alfarizi memeluk Alfian dari samping. Alfian melambaikan kedua dua tangannya, "Halo Opa Ali, perkenalkan namaku Alfian Alfarizi, aku putra dari Papi Alfarizi, apa kabar Opa, Al doakan semoga Opa cepat sehat, Al ingin bertemu dengan Opa setelah sehat."
Alfarizi bergantian melambaikan tangannya dan menyambung ucapan Alfian, "Abi, sudah lihat putraku kan, semoga setelah melihat vedio ini Abi lebih bersemangat dan cepat sehat."
Selesai membuat vedio bertepatan posisi mobil sampai di depan sekolah. Alfian berpamitan kepada papinya, "Al sekolah dulu Pi." Alfarizi kembali memeluk Alfian dengangan erat.
__ADS_1
"Jaga Mami ya Nak, nanti kalau Al sudah pulang sekolah tolong berikan pelukan hangat Al untuk Mami mewakili Papi agar Mami cepat sehat!"
"Iya Pi, jangan lama di sana, ok!"
"Iya belajar yang rajin!"
Sebelum Ibu Ani turun dari mobil, Alfarizi meminta nomor ponselnya agar sewaktu-waktu bisa menghubungi putranya atau sekedar untuk bisa mengetahui kabar keadaan Neng. Rasa lega Alfarizi rasakan bisa bertemu dengan putranya sebelum terbang ke Riyadh Arab Saudi. Hanya terasa berat dalam hatinya setelah mengetahui ibu dari putranya itu sekarang ini sedang sakit.
Dengan langkah berat Alfarizi harus terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam area bandara Sukarno Hatta untuk bergabung dengan Isya, Fano dan Umi Anna untuk berangkat ke Riyadh. Meninggalkan putranya yang baru di temukan beberapa bulan ini. Meninggalkan Neng yang sekarang sedang sakit.
Rasa khawatir semakin Alfarizi rasakan saat mengingat jika Neng masih belum bisa terlepas dari kejaran Rangga Siregar. Dia hanya bisa berpikir positif jika Neng tidak menyukai dan selalu menghindar dari laki-laki itu. Al hanya bisa berdoa semoga selama di tinggal tiga hari ini tidak akan terjadi sesuatu yang membuat istri dan putranya kesulitan.
Dari pagi hari setelah Alfian berangkat sekolah, Neng hanya berbaring di tempat tidur sambil memeriksa email dan dokumen pekerjaan yang menumpuk. Hari ini berniat untuk tidak datang ke butik atau ke konfeksi, hanya akan bekerja di dalam kamarnya saja. Agar besok pagi badan bisa fit dan sehat kembali, dan bisa menghadiri undangan pernikahan cucu dari Bibi Minah.
Sampai waktunya Alfian pulang sekolah Neng tidak keluar kamar. Al langsung berlari masuk ke kamar maminya tanpa berganti baju ataupun melepaskan tas sekolah dan sepatunya. Sampai kamar Al lansung memeluk maminya saat dia sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Ada apa Al, mengapa langsung memeluk Mami belum ganti baju?"
"Ini titipan dari Papi, Mi."
"Tadi pagi Al bertemu Papi, dia pamit mau ke Arab Saudi tetapi tidak untuk bekerja, naaah Papi berpesan titip peluk dari Papi untuk Mami lewat pelukan Al."
"Eee, apa maksudnya, emang ada pelukan di titipkan?"
"Ada Mi, caranya Papi memeluk Al, dan Al memeluk Mami."
"Apa gunanya titip peluk untuk Mami?"
"Kata Papi, biar Mami cepat sehat kembali."
Neng hanya tersenyum dan bergumam dalam hati, percaya diri banget itu si Pohon Pisang siapa yang mau dipeluk olehnya. Al terus saja memeluk Neng dengat erat, putranya itu sangat percaya kepada papinya karena dia baru saja bertemu. Membuat Neng hanya diam saja dan membiarkan Al meyakini apa yang di lakukannya.
"Apakah Mami sudah sehat sekarang?" tanya Al setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Neng semakin terkekeh dengan tingkah Al, sangat mempercayai bahwa pelukannya barusan adalah pelukan tranferan dari papinya. Neng tidak ingin membuat putranya kecewa, dia hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Senyum mengembang di bibir Al saat maminya tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang Al ganti baju, letakkan tas dan sepatu sekolah di tempatnya setelah itu makan, ok!"
"Iya Mami."
"Tolong panggilkan Nenek untuk menemui Mami, Al bisa?"
"Tentu Mami, Al keluar dulu ya, Mami istirahat lagi!"
"Iya Nak."
Alfian keluar dari kamar Neng setelah sepuluh menit, Ibu Ani yang masuk ke kamar, "Neng Mitha, apakah kamu sudah sehat?"
"Sudah enakan kok, duduklah aku ingin bertanya, Bu!"
"Iya tanya tentang apa, Nak?"
"Tadi pagi Al bertemu dengan Papinya?"
"Iya Neng Mitha, kebetulan saat keluar dari rumah Papinya Al kewat."
Ibu Ani nenceritakan tentang pertemuannya dengan papinya Al dari di depan rumah sampai sekolahnya Al. bercerita tentang opanya yang sedang sakit. Dan ketakutan Alfian kehilangan ayah yang baru saja di kenalnya.
Keesokan paginya hari Selasa adalah hari libur nasional, Neng bersiap-siap untuk berangkat ke Bogor menghadiri acara resepsi pernikahan cucu dari Bibi Minah. Neng tidak hanya mengajak Alfian, dia mengahak Ibu Ani, Desi, Ibu Yuni dan Mpok Atun. Alasan mengajak mereka adalah Bibi Minah sudah di anggap sebagai keluarga sehingga Neng juga mengajak keluarganya untuk menghadiri acara itu.
Sebelum berangkat Neng mengajak mereka untuk berbicara sebentar di ruang tamu. "Aku ingin bercerita sebentar sebelum kita berangkat."
Neng bercerita sekilas tentang hal yang selama ini di sembunyikan yaitu tentang siapa sebenarnya papinya Alfian. Wakaupun kaget tetapi mereka tidak banyak bertanya mengingat Neng sering sakit dan depresi. Dan Neng juga tidak memberikan mereka kesempatan untuk bertanya.
"Aku hanya bercerita, tidak ada yang boleh bertanya mengapa aku melakukan ini, ayo kita berangkat!"
Mereka berangkat dalam satu mobil, yang duduk di depan samping Neng, Al dan Ibu Ani. Di jok tengah Ibu Yuni, Desi dan putri dari Mbok Atun dan di jok belakang Mbok Atun. Mereka belum semua duduk sempurna, ada mobil masuk ke halaman di samping mobil Neng, Neng tahu siapa yang datang, sehingga Neng langsung tancap gas.
__ADS_1
"Aaaarhg!" teriak mereka pada nyunsep jatuh di jok mobil.