
Waktu cepat berlalu sekarang ini baby Al sudah berumur 10 bulan, semakin hari wajah baby Al semakin mirip Papinya, wajah itu semakin membuat Neng selalu teringat saat bersamanya, terapi dari Dokter Harry tidak semua berhasil semakin mendengar nama Al disebut tetapi semakin membuat hatinya trauma berlebihan, terkadang malam hari sering mimpi buruk tentang laki-laki dimasa lalunya itu.
Neng selalu menutup rapat tentang apa yang terjadi pada dirinya, semakin hari Neng semakin tertutup, jika ada orang yang bertanya dimana Papinya Alfian dia selalu menjawab sedang bekerja menjadi TKI di Arab Saudi, agar tidak mendapatkan cemoohan memiliki putra tetapi tidak memiliki suami.
Neng masih melakukan terapi dengan Dokter Harry sekali dalam satu bulan, karena Neng tidak pernah memberikan keterangan yang jelas membuat Dokter Harry hanya bisa memberikan nasehat dan obat depresi setiap Neng mengalami tekanan pikiran yang berlebihan.
Hari ini Neng diminta mendampingi Ibu Sumi ke hotel ternana di Bekasi untuk menemani putrinya yang sedang wisuda kelulusan SMU, Ibu Sumi tidak memiliki suami, tidak pernah masuk hotel. Baby Al di rumah bersana Ibu Ani, mereja berangkat pukul delapan pagi dengan mengendarai mobil pic-up andalannya.
Awal Neng melihat putrinya Ibu Sumi memakai baju kelulusan yaitu baju toga, hanya diam seribu bahasa, saat dia duduk di samping kemudi jejer dengan Neng saat perjalanan menuju hotel, keringat dingin mulai mengucur di seluruh badannya. Neng masih bertahan dan tetap melajukan mobil pic-up nya menuju hotel yang di tuju.
Setelah tiba di hotel Neng semakin berkeringat dingin dengan kaki bergetar setelah melihat ada anak SMU duduk berjajar menggunakan baju toga, bayangan masa lalu saat Neng pulang wisuda harus duduk bersanding menikah siri dengan Tuan Alfarizi selalu terbayang di pelupuk mata, tetap memaksakan untuk melangkah masuk ke dalam aula hotel mendampingi Ibu Sumi yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke hotel.
Tidak ingin mengecewakan Ibu Sumi dan Putrinya, Neng terus berusaha tenang menata hati dan menenangkan hati dengan berpikir dan menyebut nama putranya Alfian berkali-kali, tetapi apadaya tubuh tidak bisa sejalan dengan pikiran dan hatinya, setelah bisa bertahan duduk di tempat para undangan keluarga sesaat acara menyerahkan ijasah secara simbolik diadakan, serta putri Ibu Sumi turun dari panggung, Neng tidak tahan lagi terkulai lemas pingsan di kursinya karena bayangan Tuan Alfarizi mengucap kata ijab qobul selalu tergiang di telinganya.
Ada kepanikan orang yang ada di sekitar Neng terutama Ibu Sumi, mereka berdiri dan membaringkan tubuh Neng yang dingin seperti es dan tidak bergerak sama sekali.
"Neng Mitha bangunlah, ya Allah mengapa badannya dingin begini?" Ibu Sumi menepuk pipi Neng merasa khawatir karena tiba-tiba pingsan tidak tahu apa sebabnya.
"Tolong beri ruang sedikit, agar oksigen leluasa masuk kesini!" kata Bapak paruh baya yang duduk di samping Ibu Sumi.
"Panggil petugas hotel, ada yang pingsan, ayo cepat dibawa ke rumah sakit!" teriak seorang Ibu yang memakai kebaya warna merah maroon.
Setengah jam kemudian Neng sampai di UGD rumah sakit masih dalam keadaan pingsan, Ibu Ani sambil menggendong Alfian tergopoh-gopoh menyusul Neng di rumah sakit saat mendapatkan kabar jika Neng sedang pingsan saat sedang duduk di aula hotel.
Kondisi Neng persis seperti saat dia pingsan setelah selesai syukuran acara tujuh bulan kehamilannya waktu itu, sehingga Dokter jaga UGD langsung menugaskan Dokter Harry untuk menangani Neng, setelah Neng di pindahkan di ruang rawat inap sesaat setelah tersadar dari pingsannya, datang Dokter Harry duduk di samping branker tempat.
__ADS_1
"Ada apalagi adikku yang cantik ini mulai mengalami peristiwa seperti dulu lagi?" tanya Dokter Harry.
"Dokter Harry, tolong aku!" kata Neng sambil memegangi kepalanya yang pusing.
"Aku sudah menanggapmu seperti adikku sendiri, sudah hampir satu tahun kita kenal, panggil aku Abang saja ok!"
Neng hanya menatap sayu Dokter Harry saat terlihat khawatir, bahkan mengangguk saja seakan enggan, rasanya kepalanya terasa berat.
"Ada apa Neng Mitha, apakah kamu bertemu dengan Pohon Pisang saat di hotel?"
Neng hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis tergugu dan pandangan mata yang kosong.
"Ayolah adikku yang Geulis, ceritakan dengan Abangmu yang Ganteng ini!"
"Ayolah cerita, Abang janji akan mengajak istri Abang dan Zain kesini, Abang kenalkan dengan mereka, dari kemarin Abang bercerita kepada Mamanya Zain jika Abang mempunyai pasien yang Geulis dan sudah seperti adik sendiri,"
"Apakah Anda bercerita tentang aku, Dok?"
"Aku tidak mau jawab kalau kamu masih memanggil dengan sebutan Dokter, panggil Abang Harry Ganteng!"
"Dasar narsis, baiklah Abang Ganteng, mulai sekarang aku mempunyai Abang,"
"Naaah gitu dong, Abang tidak pernah bercerita tentang pasien saat di rumah, itu adalah privasi antara dokter dan pasien tenang saja."
Neng mengambil napas panjang, rasanya hati selalu saja sesak dan tidak bisa bernapas apalagi saat teringat masa lalu, seragam toga itu seperti barang yang sangat menakutkan padahal setiap hari Neng selalu berkutat dengan jahitan baju.
__ADS_1
"Masih belum bisa bercerita?, Abang tidak memaksa kamu menyebutkan nama Pohon Pisang itu, Abang hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan Si Pohon Pisang itu sehingga membuat adikku seperti ini?"
"Aku melihat anak SMU memakai seragam toga,"
"Seragam toga, ada apa dengan seragam toga itu?"
"Saat aku menikah siri dengan Pohon Pisang, aku masih mengenakan seragam seperti itu, hiks hiks hiks,"
Neng kembali menangis tergugu, ingatan kejadian itu membuatnya tidak bisa menahan perasaan yang sangat menyakitkan, saat Dokter Harry ingin memberikan saran, ada suara bayi menangis kencang masuk ruang rawat inapnya, Ibu Ani masuk sambil menggendong Alfian.
"Maaf Dok, Al menangis terus ingin bertemu dengan Maminya," kata Ibu Ani dengan wajah yang sangat khawatir.
"Tuuuh putramu saja rewel karena mengetahui Maminya sakit, pasti dia kontak batin, bersemangatlah demi putramu!" nasehat Dokter Harry.
"Kemarilah Nak, maafkan Mami ya, apakah Al haus?"
"Baiklah, Abang keluar dulu, berilah hak putramu dengan baik, nanti sore Abang kembali kesini bersama istri dan putraku, ok!" pamit Dokter Harry keluar ruang rawat inap.
"Apakah Al haus, sini Nak!" tanya Neng memeluk putranya memberikan ASI ekslusif sambil tiduran di brankar tempat tidur.
"Nak, mengapa kamu selalu seperti ini, tolong jangan membuat aku selalu khawatir, kita semua sangat menyayangi kamu, apalagi Alfian sangat membutuhkan kamu, semangatkah Nak!" nasehat Ibu Ani berkaca-kaca melihat Neng yang terlihat pucat dan bersedih.
"Maafkan aku Bu, maaf aku selalu membuat ibu khawatir."
Mata Neng menatap kosong ke langit-langit ruang rawat inap, masih menerawang ke masa lalu yang sangat menyakitkan hati, mengingat titik awal mula dia terjerembab dalam dekapan Papi dari putranya selama empat bulan, padahal peristiwa itu sudah hampir dua tahun berlalu, tetapi seolah baru terjadi tadi pagi saat melihat seragam baju toga.
__ADS_1