Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kesal


__ADS_3

Dua mobil berhenti di jalan kecil samping kontrakan milik Esih. Raffa langsung berlari mencari mamanya. Mendorong pintu rumah sambil berteriak, "Mama ...!"


Raffa kembali keluar rumah sambil menangis. Esih tidak ada di rumah membuat Raffa menangis keras. Doni langsung berlari mendekati Raffa, "Ada apa, Raffa?"


"Mama tidak ada di rumah, Bapak." Raffa memeluk Doni dengan erat.


Abah dan keluarga yang lain ikut turun dari mobil. Ingin membantu mencari keberadaan mama dari Raffa. Bertanya tetangga yang ada di sebelah rumah kontrakan.


Esih berlari dari gang saat melihat ada dua mobil yang terparkir di sebelah kontrakannya. Dia langsung berteriak pemanggil putranya, "Raffa ...!"


Raffa langsung berlari memeluk Esih sampil tetap terisak, "Mama ... maafkan Raffa."


"Raffa ke mana saja, Mama mencari sampai sekolah Raffa?"


"Raffa ingin bertemu dengan Bapak."


"Lain kali, Raffa harus bilang Mama agar Mama tidak khawatir."


"Iya Ma ...."


Esih langsung beralih dan mendekati Abah, mencium punggung tangannya. Dia juga melihat ada Mami Mitha dan Papi Alfarizi yang berdiri sambil bergandengan tangan.


Esih hanya tertunduk dan terdiam setelah di perhatikan dengan seksama oleh mereka. Rasa rendah diri karena pernah menyakiti mereka. Membuat Esih tidak berani mendekat.


"Esih ... ayo temui putri kandung Ayah, kamu harus meminta maaf padanya!"


"Esih tidak berani, Ayah. Esih banyak salah."


"Mereka tidak pernah dendam padamu, cepat sana!"


"Baik Ayah."


Esih mendekati Mami Mitha dengan ragu. Meraih dan mencium tangannya sambil terisak. Ada rasa bersalah yang amat sangat kini dalam dada.

__ADS_1


"Maafkan Esih, Teteh. Maafkan Almarhumah Ibu juga."


Mami Mitha tersenyum dan menepuk pundak Esih, "Semua sudah berlalu, tidak perlu di pikirkan lagi. Yang penting Esih menyesali dan berusaha merubah diri."


"Iya Teteh terima kasih."


Esih kemudian melipatkan tangan di dada kepada Papi Alfarizi sambil tersenyum. Esih tahu betul bagaimana abang iparnya bersikap dengan seorang wanita. Dia juga pernah terkena muntah saat pertama kali bertemu dengannya.


Rania yang berinisiatif mendekati Esih meraih dan mencium punggung tangannya bergantian dengan Alfian serta Elfa. Karena rumah Esih yang sempit, Abah mengajak mereka makan di rumah makan Padang. Tempat makan yang pernah di minta oleh Raffa saat mereka bertemu pertama kali.


Selesai makan Mami Mitha memberikan waktu Abah dan Esih untuk berbincang berdua. Raffa bermain dengan Elfa, Doni, Ibu Ani dan Rania. Mami Mitha, Papi Alfarizi dan Alfian berbincang membicarakan banyak hal.


Setelah satu jam Abah mengajak keluarga pulang ke rumah Alfian yang ada di Bogor. Dalam perjalanan pulang Abah bercerita. Niatan untuk Esih menempati rumah Abah yang ada di Bogor.


Esih menolak tawaran Abah karena tidak ingin merepotkan lagi. Berkali-kali Abah meyakinkan kepada Esih tetapi dia belum menerima. Sampai akhirnya Abah memberikan waktu untuk memikirkan tawaran Abah.


Abah memberikan waktu kepada Esih sampai besok pagi. Harus sudah memberikan jawaban saat bertemu besok pagi. Besok berencana akan ke Kebun Raya Bogor untuk menemani Raffa berwisata.


Sayangnya pagi hari Papi Alfarizi dan Alfian harus bertolak ke Jakarta. Ada pekerjaan penting yang menunggu mereka sudah di tunggu oleh asisten. Mami Mitha ikut ke Jakarta pagi itu karena Papi Alarizi meminta di dampingi.


Di saat Raffa bermain dan berjalan-jalan melihat di area Kebun Raya Bogor. Doni dan Rania duduk di kursi panjang dibawah pohon yang rindang, Ayah kemarin bertemu ibumu, Nak."


"Bagaimana kabar Ibu, Yah?"


"Dia masih seperti dulu, tidak pernah berubah dan masih seperti dulu pandangan hidupnya."


"Sampai sekarang Rani tidak berani menemui Ibu, takut nanti Rani di jodohkan lagi."


"Rani tidak usah khawatir, Ayah yang akan bicara dengan ibumu."


"Bagaimana nanti saat Abang mengadakan pesta pernikahan, Rani takut Ibu membuat ulah?"


"Suamimu itu laki-laki yang bertanggung jawab, pasti akan mudah mengatasi suatu masalah.

__ADS_1


Setengah hari menghabiskan waktu bersama ayah. Rania semakin mengenal sifat dan kebaikan ayah. Rasa bahagia bisa bertemu dan berkumpul ayah kandung.


Sampai makan siang tidak ada kabar dari Alfian. Rania menjadi gelisah, berkali-kali mengirimi pesan WA tetapi tidak ada balasan. Sambil menggerutu sendiri, Rania memasukkan ponselnya di kantong.


Setelah makan siang Abah kembali menanyakan kepada Esih tentang rencana kemarin. Esih mau berpindah ke rumah Abah yang sekarang kosong. Dengan syarat Esih akan mengabdi dan bekerja di rumah Abang Alfian, Esih tidak minta diberikan gaji, yang penting diberikan makan dengan kenyang.


"Kamu tidak minta digaji. bagaimana dengan pendidikan Raffa?"


"Esih bisa sambil jualan di rumah."


"Baik nanti Ayah akan bicara dengan Abang Al, masalah pendidikan Raffa nanti Ayah yang akan membiayai."


"Eee tidak Ayah ... Esih tidak mau Ayah bekerja keras lagi, sudah waktunya Ayah beristirahat dan seharusnya Esih yang merawat Ayah."


"Ayah sudah lama tidak bekerja, tetapi Ayah memiliki lima angkot yang Ayah sewakan. Angkot itu yang akan membiayai pendidikan Raffa."


"Baiklah Ayah, tetapi Esih tidak mau yang memegang uang pendidikan untuk Raffa, harus tetap Ayah yang memegang sampai Raffa cukup umur dan bisa mengelola sendiri."


"Baiklah nanti Ayah minta pendapat Neng Mitha dan Abang Alfian.


Rania bergumam tidak karuan karena kesal. Sudah setengah hari Alfian tidak menghubunginya sama sekali. Abah yang melihat Rania kesal langsung mendekatinya, "Ada apa wajah di tekuk begitu?"


"Abang tidak ada kabarnya, Rani kirim pesan tetapi tidak dibaca, Rani jadi kesal."


"Abang sedang kerja, mungkin sibuk belum sempat mmembaca pesan Neng Rani, sabar saja!"


Sampai sore hari rombongan yang berwisata pulang ke rumah. Rania belum juga mendapatkan kabar dari Alfian. Membuat dia uring-uringan dan marah di dalam kamarnya.


Malam harinya, Doni dan keluarga berpamitan pulang kembali ke Bekasi setelah mengantar Raffa dan Esih. Kini Rania hanya sendirian di kamar sambil merah-marah pada ponselnya. Semua hanya karena Alfian tidak mengabari sama sekali sampai sekarang.


Pesan WA hanya centrang satu, dihubungi tidak menyambung. Berkali-kali berusaha menghubungi tetapi tetap saja tidak tersambung. Emosi semakin memuncak dan marah-marah sendiri.


Ingin bertanya kepada Mami MItha atau Papi Alfarizi, tetapi Rania tidak berani walaupun sudah menyimpan nomor ponsel mereka. Ingin bertanya kepada ayahnya pasti beliau belum sampai rumah, Pasti juga tidak tahu di mana Alfian berada.

__ADS_1


Rania akhirnya menghubungi Elfa yaag baru saja pulang bersama ayahnya. Mengirim pesan pada adik iparnya siapa tahu dia tahu di mana suami dan ke dua mertuanya, "Elfa cantik, apakah tahu di mana Abang Al?"


Elfa langsung menjawab pesan dari Rania, "Teteh ... Elfa dari tadi siang menghubungi Mami dan Papi tetapi ponselnya tidak bisa dihubungi."


__ADS_2