
Ibu Titin Suhartin menangis tersedu-sedu saat melihat Ayah Doni memasukkan semua bajunya ke dalam koper. Bibi Esih yang hanya berdiri tidak melakukan perintah Ayah Doni. Akhirnya Ayah Doni melakukan sendiri memasukkan semua milik mantan istrinya.
Sambil tetap marah dengan kasar Ayah Doni memasukkan semua barang yang ada di lemari. Pintu terbuka masuk Alfian Zain sambil bercanda dan tertawa.
Alfian langsung kaget melihat Ibu Titin Suhartin menangis. Bibi Esih bengong sambil berdiri. Dan Ayah Doni marah sambil memasukkan barang ke dalam koper.
"Ada apa lagi ini?" tanya Alfian.
"Bang Al, ini Ayah akan melempar wanita yang tidak tahu diri ke rumah sakit jiwa!"
Ibu Titin Suhartin turun dari tempat tidur mendekati Alfian, "Ampuni Ibu, Bang Al. Ibu yang salah." Ibu Titin Suhartin terus menangis tanpa henti.
Bibi Esih juga ikut berlinang air mata ikut mendekati Alfian, "Bibi Esih juga salah, Bang. Maafkan Bibi."
"Bibi ... Ibu duduklah dulu. Ayah stop jangan lagi dimasukkan dalam koper baju Ibu. Ayo duduk dulu!"
Mereka duduk di sofa diikuti Zain dan Alfian. Ibu Titin Suhartin kembali duduk di tempat tidur masih terisak. Bibi Esih duduk sambil menunduk tidak berani menatap wajah Alfian.
"Semua sudah terjadi, yang penting Rani baik-baik saja, untuk kali ini Abang maafkan Ibu." Alfian melihat Ibu Titin Suhartin mulai menghentikan tangisannya.
"Terima kasih, Bang."
"Tetapi ingat jika Ibu mengulangi sekali lagi Abang akan membiarkan Ayah Doni melakukan apapun terhadap Ibu."
"Buat apa masih diberi kesempatan sama orang gila seperti dia, Bang?" Ayah Doni masih emosi dan kesal.
"Jangan emosi terus Yah, nanti cepat tua," jawab Alfian sambil bercanda.
Akhirnya Ayah Doni bisa tersenyum dan mulai mereda emosinya. Alfian berpindah memandangi wajah Bibi Esih yang pucat dan tertunduk, "Bibi ... Abang tidak marah sama Bibi, justru Abang berterima kasih sudah menjaga Ibu, masih sempat memperhatikan Rani. Kalau ada sesuatu terjadi bisa menghubungi Abang atau Julio."
"Iya Bang."
"Setelah kejadian ini, Abang harap jika Ibu marah jangan membanting dan melempar barang yang berbahaya!"
"Kalau diulangi sekali lagi Ayah dan Bapak Endang Kusnandar yang akan menangani dia."
"Naaah dengar, Bu. Semoga Ibu tidak mengulangi lagi, jika ingin sesuatu harus sabar tunggu Bibi Esih melaporkan keingin Ibu."
"Iya Bang, terima kasih."
Malam harinya terpaksa Rania harus menginap di rumah sakit. Alfian tidak mengizinkan Rania pulang atau turun dari tempat tidur. Ada perawat siap membantu kapan saja.
Rania jadi sewot dan uring-uringan karena hanya duduk dan berbaring di tempat tidur, "Abang ...!" teriak Rania kesal.
__ADS_1
Alfian yang awalnya masih berkutat dengan dokumen yang menumpuk langsung berlari menuju kamar, "Ada apa Sayang?"
"Rani bosan ... Rani mau turun," jawabnya dengan suara manja.
"Mau ngapain turun, ingat kakinya masih sakit."
"Tidak enak tidak ada yang di kerjain, Bang."
"Ya sudah kerjain Abang aja!" Alfian membuka kancing kemejanya, tidur terlentang di samping Rania.
"Ogah ... dari tadi Abang bekerja pasti kurma jumbo Abang sedang tertidur pulas."
"Ya dibangunkan dong, Sayang!"
"Ogah Rani lagi tidak nafsu. Rani ingin ngerjain orang!"
"Eee jangan macam-macam ya, Rani hanya boleh ngerjain Abang aja!"
"Bukan itu maksud Rani, Bang."
"Ya apa maksudnya, atau Abang yang ngerjain Rani?"
"Ogah juga, Rani maunya ngerjain orang."
"Tadi sore Babe masih tertidur pulas di depan kamar pemulasaran jenazah lo Sayang, yok kita lihat lagi!"
"Bagaimana lihatnya, Rani tidak boleh jalan?"
"Gampang ada CCTV, tunggu sebentar Abang ambil laptop."
Alfian keluar kamar dan kembali membawa laptop dan dibuka di samping Rania. Menghubungkan laptop dengan CCTV dan menggerakkan mouse untuk mencari lokasi yang diinginkan. Tepat di lantai dasar dan berada didepan pintu kamar pemulasaran jenazah.
Tidak di temukan sosok laki-laki tua yang duduk di sana, "Tidak seru, Bang. Babe sudah tidak ada di sana," Rania tidak bersemangat setelah tidak melihat CCTV.
"Tunggu dulu, Sayang. Abang cari jam berapa dia pulang!"
Alfian menggerakkan mouse kembali ke satu jam yang lalu. Rania tertawa terbahak-bahak saat melihat rekaman itu. Peristiwa yang membuat Rania kembali ceria dan tidak borring lagi.
Mulai dari Babe yang baru bangun tidur. Duduk dan melihat sekeliling area dia duduk. Bersamaan ada sebuah brankar tempat tidur yang di dorong dari dalam kamar pemulasaran jenazah.
Brankar yang di atasnya ada sosok tubuh yang di tutup dengan kain putih berhenti tepat di tengah pintu. Yang mendorong tidak terlihat dari luar. Membuat Babe ketakutan dan mengira brankar itu jalan sendiri.
Babe langsung lari terbirit-birit meninggalkan kamar pemulasaran jenazah. Sampai sendal Babe tertinggal satu dan tidak diambil. Babe keluar rumah sakit dengan hanya memakai satu sendal.
__ADS_1
Alfian melihat CCTV yang ada di parkiran. Kembali Rania tertawa terbahak-bahak. Berkali-kali Babe salah mengenali motornya. Sampai motor ke empat dia baru bisa menstater motor dan meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana sekarang masih ingin ngerjain orang?" tanya Alfian setelah selesai melihat rekaman CCTV.
Rania menjawab dengan menggelengkan kepala, "Kalau begitu sekarang gantian Abang yang ngerjain Rani."
Alfian langsung menarik tubuh Rani dan mencium dengan penuh penghayatan. Karena kaget tangan Rani menyenggol kurma jumbo yang masih anteng dan belum terbangun, "Abang, kurma jumbo belum bangun!"
"Dia baru menggeliat, sebentar lagi juga bangun."
Alfian belanjutkan aksinya berpindah ke leher dan sekitarnya. Tidak lupa memberikan tanda di setiap incinya. Bibir dan tangan beraksi bersamaan tanpa henti.
Rania yang masih penasaran dengan kurma jumbo yang tadi belum terbangun sempurna. Dia tidak menikmati sentuhan Alfian kali ini. Dia memilih meraba dan mentowel berkali-kali kurma jumbo.
"Sayang ... jangan mengganggu konsentrasi Abang, dari tadi dia sudah bangun hanya saja masih minta dimanja sama Rani."
Rani tergelak karena protes Alfian. Konsentrasi suaminya buyar otomatis dia akan semakin menambah durasi permainan. Kembali mulai dari awal dengan mengabsen yang ada di dalam mulutnya.
Jika Rania sudah terbawa suasana dengan aksi Alfian. Suasana akan semakin syahdu saat keduanya saling memberi dan menikmati. Karena semakin menikmati tanpa sengaja kaki Alfian menyenggol luka yang ada di telapak kaki.
"Eee maaf Sayang, apakah sakit?"
"Tidak apa-apa, tanggung nich ayo lanjut lagi."
Alfian tersenyum mendengar Rania yang mulai tidak tahan, tetapi masih ingin menggodanya, "Abang takut melukai kaki Rani."
"Yang sakit kaki Rani, Bang. tetapi itu tidak sakit, Bang."
"Iya Sayang, ayo kita lanjut, tetapi benar ya tidak akan melukai kaki Rani?"
BERSAMBUNG
yo mampir Shobat jangan lupa ini rekomen banget lo
Sambil menunggu AST up lagi besok
Nikah Dadakan Dengan Musuh
Blurb:
Digerebek saat mojok bersama pacar itu sih biasa. Bagaimana ya, kalau kena gerebek saat tak sengaja bersama musuh?
__ADS_1
Penasaran? Ikuti kisah selengkapnya hanya di Nikah Dadakan Dengan Musuh