
Selama ini Neng hanya hidup berdua dengan putranya dan di dampingi oleh orang baik di sekitarnya. Tidak mempunyai saudara kandung juga sudah lama memutuskan hubungan dengan ayah kandungnya sendiri. Saat suster menanyakan keluarga atau orang tua untuk di minta mendonorkan darah, Alfarizi langsung mengatakan jika istrinya anak tunggal.
Seluruh keluarga Alfarizi tidak bisa mendonorkan darahnya karena golongan darah yang berbeda. Neng mendapatkan donor darah dari karyawan mall yang sesuai dengan golongan darahnya. Donor darah ini di dapat dari usaha Surya yang menghubungi grup karyawan mall dengan cepat. Sehingga operasi berjalan dengan lancar setelah Neng nendapatkan dua kantong dari dua orang pendonor.
Pukul sebelas Neng keluar dari ruang operasi langsung di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Perasaan lega saat ini di rasakan oleh Alfarizi dan keluarga setelah operasi berjalan lancar. Hanya saja Dokter melarang Neng untuk tidak bangun dari tempat tidur selama tiga minggu.
Larangan dari dokter di manfaatkan oleh Umi Anna untuk segera menyatukan keduanya dengan ide jahilnya. Saat Neng beristirahat di temani Alfarizi dan Alfian, Umi Anna mengumpulkan keluarga Dokter Harry Ibu Yati, Desi dan Surya.
"Jangan ada yang membantu Al untuk menggantikan merawat Mitha, termasuk Rianti, jangan dulu menghubungi Ibu Ani di kampung, biarkan mereka semakin dekat dulu!"
"Maksud Umi apa, Isya kurang faham?"
"Umi ingin mereka segera menikah secara sah, terutama untuk Dokter Harry tolong jangan banyak di bantu oleh suster, biar semua Al yang merawat Mitha!"
"Baik Umi." jawab Dokter Harry.
"Silahkan menjenguknya tetapi di larang membantu menjaga Mitha saat malam hari." Umi Anna menegaskan kembali.
pukul dua siang Alfian pulang dengan Isya dan Abi Ali. Umi Anna ke supermarket untuk membelikan keperluan Neng selama di rumah sakit. Neng dan Alfarizi berada di ruang rawat inap berdua, Neng yang awalnya tidur mengerjapkan matanya hanya melihat ada Akfarizi yang duduk di sebelahnya memandangi tanpa berkedip.
"Kemana Al, kok sepi?"
"Ini Al ...." jawab Alfarizi menunjuk dirinya sendiri.
"Alfian maksudnya bukan Anda."
"Iiiih mengapa saat tidak ada orang malah tidak romantis manggilnya?"
Neng hanya meringis, mengalihkan perhatian Alfarizi agar tidak membicarakan tentang hubungannya. Neng masih belum bisa menerima sepenuhnya Alfarizi karena status yang tidak jelas. Hatinya tetap terbentengi dengan kokoh walaupun berkali-kali Alfarizi menyatakan cinta.
"Eee maaf, apakah masih sakit sekali?"
Neng tidak menjawab pertanyaan Alfarizi, dia kembali menangis sambil memalingkan wajahnya. Membuat Alfarizi panik dan bingung harus berbuat apa, "Ada apa Honey, apakah sakit sekali, aku panggil dokter ya?"
"Hiks hiks aku mau Ibu, aku mau Ibu datang ke sini!" sambil terus meneteskan air mata Neng berkata.
__ADS_1
"Ibu masih di kampung, untuk apa memanggil Ibu, ada suamimu di sini?"
"Hiks ... aku mau buang air kecil, aku mau Ibu datang ke sini!" Kembali Neng menangis dan meminta agar Ibu Ani datang.
Alfarizi malah terkekeh setelah mengetahui alasan Neng meminta Ibu Ani datang. Dia langsung teringat saat sakit di villa dan di rawat oleh Neng saat dia ingin buang air kecil harus di pancing dulu dengan menyiramkan sedikit air agar bisa keluar. Hanya saja situasinya terbalik sekarang Neng yang sakit dan dia yang merawatnya.
"Ayo aku bantu, nanti jika tidak bisa keluar biar aku yang memancingnya." kata Alfarizi sambil tersenyum devil.
Neng semakin menangis dan menggelengkan kepalanya, " Aku tidak mau, aku mau Ibu saja, aku tidak mau, Hiks hiks hiks."
"Honey, aku ini suaimu, ayolah aku tidak akan melihatnya jika kamu tidak mengizinkan!"
"Suami apa, siapa yang bilang, pokoknya aku tidak mau, huuuuuuu!" semakin kencang Neng menangis.
Umi Anna masuk ruang rawat inap menjadi heran mendengar Neng menangis keras. Dia langsung meletakkan belajaan di sembarang tempat, "Ada apa ini, mengapa menantu cantik umi menangis, Al apakan dia?"
"Huuuuu Umi, aku mau Ibu aku mau Ibuku datang!"
"Untuk apa memanggil Ibu, Mitha. Di sini ada kami toh sama saja?"
"Dia mau buang air kecil Umi, tetapi tidak mau aku bantu." jawab Alfarizi cepat.
"Ooo Umi kira Al menyakiti Mitha, untung belum Umi ketok kepalanya, Al keluar sana, Umi yang akan membantunya!"
"Yaaaah Umi ..." Alfarizi dengan gontai keluar ruang rawat inap sambil melirik Neng yang mulai tenang.
Setelah selesai Umi Anna membantu Neng buang air kecil langsung menanggil putranya untuk masuk ruangan, "Al masuklah, Umi mau ngomong!"
"Ya Mi ..."
"Nanti malam kalian harus menikah ulang secara resmi, agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali!"
"Tapi Umi ...!" Neng ingin menjawab ucapan Umi Anna, tetapi dengan capat beliau memotong kembali ucapan Neng, "Umi belum selesai Mitha dengarkan Umi terlebih dahulu!"
Neng lansung terdiam dan mengaggukkan kepalanya. Ketegasan Umi Anna membutnya teringat dengan ibu kandungnya yang telah lama meninggal dunia. Neng hanya melirik Alfarizi yang tersenyum sambil memandang wajahnya.
__ADS_1
"Kalin harus menikah di sini nanti malam, Umi tidak mau ada alasan atau penolakan dari kalian, ini semua Umi lakukan demi kebaikan kalian sendiri dan kebahagiaan cucu Umi."
Kembali Neng hanya melirik Alfarizi yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Menunggu apa reaksi papi dari putranya, tetapi dia justru menyilangkan jempol dan telunjuknya simbul tanda cinta untuknya. Akhirnya Neng hanya mengerucutkan bibirnya dan nemalingkan wajahnya pada Umi Anna.
"Umi, Surya dan Desi yang akan mempersiapkan semuanya, sebentar lagi Dokter Harry dan Rianti yang akan mengatur ruang rawat ini untuk acara akad nikah!"
Neng kaget mendengar ucapan Umi Anna, ingin sekali bangun dari tempat tidur hampir tidak sadar dia baru saja selesai operasi, "Aaauuw, aduuuuuh punggungku!" teriak Neng kembali terbaring, memejamkan mata menahan sakit.
"Honey ...!"
"Mitha ...!
Ibu dan putranya kompak berteriak saat Neng teriak kesakitan sambil meringis. Keduanya menahan tubuh Neng agar dia tidak bebul-betul bangun dari tempat tidurnya.
"Mitha harus percaya sama Umi, tolong jangan menolak permintaan Umi kali ini saja, Umi mengerti kamu masih ragu, karana putra Umi bisanya hanya merayu aja, tetapi lambat bertindak."
Alfarizi hanya mengambil napas panjang saat uminya mengatakan lambat bertindak. Dari awal Neng minta tidak ingin di paksa, sehingga dia hanya berusaha dan berusaha. Untuk hasilnya hanya akan di pasrahkan pada ketentuan yang maha kuasa.
"Baiklah, Umi anggap kalian berdua setuju tentang rencana Umi. persiapkan diri kalian saja!"
"Eeee Umi mengapa ...?"
"Mitha, percayalah Nak, Umi sudah menganggap Mitha seperti putri Umi sendiri, Umi yang akan menjamin kebahagiaanmu, jika putra Umi ini menyakitimu lagi, Umi sendiri yang akan menebas lehernya."
"Eee Umi, tega banget, leherku sebagai jaminan." gerutu Alfarizi sambil memegangi lehernya.
"Mitha katakan Nak, mumpung masih ada waktu sedikit, mas kawin apa yang kamu inginkan saat ini?"
{Apa ya mas kawinnya, ada yang tahu ...?}
jangan lupa mampir ya shobat karya teman
rekomen banget lo
__ADS_1
sambil menunggu Apa Salahku Tuan? up lagi