Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Menghilang Sementara


__ADS_3

"Gue tahu betul jika Dokter Atha sangat hormat dan selalu menuruti nasehat Tuan Alfarizi dan Nyonya Mitha, elu datang dan langsung minta petunjuk." Julio memberikan ide cemerlang kepada Zain.


"Maksudnya Zain langsung melamar ke Mami dan Papi?" tanya Alfian cepat.


"Bukan melamar, Bang. Lebih tepatnya Dokter Atha pasti akan mendengarkan nasehat ke dua orang tua Abang agar bisa merubah pikiran untuk tidak menikah."


"Gue tidak akan setuju kalau Zain langsung melamar Kak Atha pada Papi dan Mami."


"Mengapa tidak setuju, Bro?" tanya Eki Darsono.


"Gue tidak mau trauma Kak Atha semakin parah jika dipaksakan. Selama ini kakak gue sudah mulai terbuka dengan kami, silahkan saja meminta Papi atau Mami menasehati Kak Atha, tetapi jangan di paksakan dan Zain harus benar-benar membuat Kak Atha jatuh cinta."


"Sebenarnya gue tahu dalam hati kakak elu itu sudah ada gue, Al. hanya saja dia masih tidak mau mengakui dan mungkin karena dia takut untuk menjalin hubungan," kata Zain saat melihat wajah Dokter Atha cemberut karena kesal banyak orang berkomentar tentang wanita yang ada di sampingnya.


"Naaah tuh elu sudah yakin Dokter Atha suka sama elu, palingan elu kurang sabar aja, Zain!" teriak Julio.


"Kurang sabar gimana lagi, Bro. Sudah lebih dari dua bulan gue dekati dia, biasanya tidak lebih dari satu minggu gue selalu berhasil menakhlukkan wanita?"


"Dasa dodol lu, siapa dulu dong yang dihadapi, elu mau main-main sama keluarga Zulkarnain." Alfarizi melempar gulungan tisu kearah Zain.


"Iya sorry Adik Ipar." Zain langsung menangkap gulungan tisu yang dilempar kearahnya.


Zain semakin bersemangat setelah mendapatkan masukan dari sahabatnya. Bertekat untuk bisa mengubah pendirian dan mengobati trauma yang dialami Dokter Atha sejak kecil. Lebih baik berusaha sendiri terlebih dahulu dan pantang menyerah.


Setelah sahabat berpamitan pulang Rania mendekati Suaminya sambil membawa mangga muda. Mangga yang sudah di kupas dan di potong-potong oleh Bibi Tiwi. Di letakkan di meja depan Alfian.


"Mau mangga, Bang?" Rania menikmati mangga dengan santai.


Alfian yang masih konsentrasi melihat ponsel langsung mengambil mangga satu potong dan di masukkan ke dalam mulutnya. Baru sekali gigit mangga itu di keluarkan dari mulutnya dengan cepat oleh Alfian.


"Sayang, Rani ngepreng Abang ya, asam banget begini?"

__ADS_1


Rania tertawa terbahak-bahak sambil menikmati mangga dengan lahap, "Tidak asam ini, Bang. Segar banget lo rasanya, Rani suka banget."


"Lidah Rani terbalik ya. ini asam banget kok dibilang segar?"


Umi Anna yang baru datang dari pasar tersenyum sambil duduk samping Alfian, "Orang ngidam ya begitu itu, Bang. Bukan terbalik lidahnya."


Alfian hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya. Rasa asam di mulut tidak hilang juga walau satu gelas air putih di minum. Sampai ngilu rasanya melihat Rania makan dengan lahap satu piring mangga muda.


"Apakah semua bumil seperti itu, Oma?" tanya Alfian.


"Orang ngidam itu berbeda-beda, Bang. Sebagian besar mereka memang suka makanan yang asam-asam."


Alfian sampai terus menggelengkan kepala saat Rania masih saja mengunyah mangga muda tanpa henti, "Lihatin aja sih, mau lagi?"


"Abang sampai ngilu lihatnya, tidak mau."


"Enak ini, Bang."


Di rumah sakit Aljazeka, Zain sedang mendapatkan surat resmi dari persatuan dokter. Meminta tenaga ahli forensik untuk mmembantu musibah di daerah Sulawesi. Ada korban longsor yang terjadi karena hujan lebat.


Dengan mendadak Zain sendiri yang harus berangkat. Di rumah saakit hanya dirinya sendiri dokter forensik yang memilik kemampuan diatas rata-rata. Hari itu juga dia berangkat dan tidak sempat beremu dengan siapapun.


Hanya berpamitan dengan Papa Harry dan Mama Rianti dalam perjalanan ke bandara. Mereka berdua yang mengantar Zain ke bandara. Berpamitan kepada dua sahabatnya hanya dengan mengirm pesan WA.


Saat mengirim pesan kepada Juio, dan Zain sudah bersiap ke bandara tinggal menunggu Papa Harry di parkiran. Tanpa sengaja bertemu dengan Julio, "Elu sudah kirim pesan WA pamitan kepada Dokter Atha?"


"Belum sih, ini rencana setelah kirim WA elu sama Al, gue baru akan kirim pesan kepada dia."


"Lebih baik elu jangan kirim pesan WA padanya dan menghilanglah sementara. Coba di lihat dulu, dia akan mencari elu atau tidak?"


"Ide bagus, terima kasih. Tolong jaga dia untuk gue dan kabari jika nanti dia mencari gue."

__ADS_1


"Ok siap ..."


Zain langsung naik mobil milik Papa Harry setelah beliau datang. Pekerjaan yang bisa di kerjakan oleh Asisten Leo, akan dikerjakan olehya selama tiga hari. Jika tidak bisa oleh Asisten Leo di laporkan kepada Julio atau langsung ke Alfian.


Hari pertama bekerja sebagai relawan di Sulawesi. Zain disibukkan dengan penelitian pengenalan wajah, identitas korban, dan mencocokkan DNA keluarga. Tanpa terasa seharian ini Zain dan tim bekerja sama dengan baik.


Malam hari Zain langsung tidur karena terlalu capek seharian bekerja keras. Tanpa sempat memikirkan pujaan hati yang masih digantung. Tanpa sempat mengabari keluarga atau sahabatnya, bak hilang di telan bumi.


Hari kedua mulai dari pagi buta setelah bangun tidur dan sarapan. Zain dan tim dokter langsung kembali berkutat pada jenazah. Banyaknya korban membuat tim harus bergerak cepat menyelesaikan tugasmya. Bahkan hari kedua ini mereka bekerja sampai pukul sepuluh malam.


Kembali malam ini Zain tidak sempat untuk menghubungi keluarga dan sahabat. Seharian ponsel di matikan untuk lebih konsentrsi dalam menjalankan tugasnya. Malam sampai pagi dipergunakan untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Di hari terakhir hanya dalam waktu tengah hari, Zain dan tim bisa menyelesaikan tugas. Seluruh jenazah sudah teridentifikasi dan sudah di ambil oleh keluargaanya masing-masing. Setengah hari sisanya digunakan untuk membuat laporan.


Malam hari digunakan untuk beristirahat. Saat inilah Zain baru teringat sang pujaan hati. Rasa rindu tiba-tiba sangat menyesakkan jiwa.


Yang pertama Zain menghubungi Papa Harry dan Mama Rianti. Berbincang dengan menggunakan VC. Bercerita panjang lebar tentang keadaan di Sulawesi.


Yang kedua menghubungi Julio dan Alfian secara bersamaan juga menggunakan VC. Berbincang dan bercerita tentang kegiatan masing-masing.


Zain bertanya kepada mereka berdua tentang keadan sang pujaan hati. Alfian hanya menanggapi dingin dan cenderung cuek. Tidak mau bercerita bagaimana keadan kakaknya selama tidak ada Zain di rumah sakit.


Hanya Julio yang selalu menggoda Zain dengan candaan. Julio juga tidak banyak menjawab pertanyaan Zain tentag Dokter Atha. Dia lebih memberikan teka-teki agar Zain semakin penasaran.


Selesai VC dengan dua sahabatnya. Sekarang ini Zain mulai gelisah dan tidak tenang. Ponsel hanya diputar berkali-kali, ingin menghubunginya tetapi ragu.


"Apa sebaiknya aku hubungi dia sekarang, ya?" monolog Zain sendiri.


BERSAMBUNG


yok mampir Shobat jangan lupa.

__ADS_1


sambil menunggu AST Up besok



__ADS_2