Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Resepsi Al dan Rani


__ADS_3

pukul sepuluh pagi hari ini acara resepsi pernikahan di gelar menggunakan adat Sunda. Pengantin di rias dari pukul tujuh pagi kini sudah selesai. Saat ini Pengantin Wanita sudah duduk di pelaminan di dampingi Bapak Endang Kusnadar dan Ayah Doni


Prosesi akan di mulai dari acara penjemputan mempelai pria dari luar gedung. Yang menjemput mempelai pria adalah Abah dan Opa Ali. Sesampainya di depan pernikahan mempelai wanita juga ikut menyambut mempelai pria.


Mempelai pria disambut Ibu Siti sebagai wakil dari ibu mempelai wanita. Doni tidak mengijinkan Titin Suhartin sebagai pendamping mempelai wanita. Ibu Siti mengalungkan bunga melati pada Alfian prosesi ini disebut Ngabageakeun.


Karena akad nikah sudah dilaksanakan tiga bulan lalu. Acara langsung di lanjutkan dengan acara Sungkeman kepada orang tua. Diantaranya keluarga inti dari Papi Alfarizi sampai Endang Kusnandar dan istri di tambah Titin Suhartin. Sungkeman ini bertujuan untuk meminta maaf akan khilaf dan kesalahan. 


Dengan posisi duduk di kursi sambil dipayungi, upacara penyaweran pun dilakukan pada pengantin. Orang tua memberikan nasehat diiringi kidung. Nasehat diwakili oleh Abah Asep sebagai yang di tuakan.


Pemberian nasehat diiringi pelemparan uang logam, beras, kunyit yang diiris tipis-tipis, dan permen. Uang logam dan beras melambangkan kemakmuran. Kunyit sebagai simbol kejayaan, sedangkan permen melambangkan manisnya kehidupan rumah tangga.


Dilanjutkan prosesi upacara Meuleum Harupat. Mempelai wanita yaitu Rania membakar batang harupat. Di bantu mempelai pria Alfian dengan menyalakan lilin sampai menyala. Dimasukkan ke dalam kendi berisi air yang dipegang Rania.


Batang harupat diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang. Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai diharapkan senantiasa memecahkan persoalan rumah tangga bersama-sama. Rania yang memegang kendi berisi air menggambarkan peran istri. Peran yang mendinginkan setiap persoalan yang membebani hati dan pikiran suami.


Dilanjutkan prosesi Nincak Endog atau menginjak telur. Mempelai pria menginjak telur hingga pecah. Kemudian sang istri akan membersihkan kaki sang suami. 


Kemudian melepas burung merpati putih yang dilakukan oleh Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Ini berarti orang tua melepas tanggung jawab karena kedua pasangan sekarang sudah mampu hidup mandiri.


Prosesi yang terakhir adalah Huap lingkup dan Pabetot bakakak hayam. Huap lingkup yaitu dengan menyuapi Alfian dan Rania oleh Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Ini melambangkan tidak ada perbedaan antara kasih sayang terhadap anak dan menantu.


Kemudian pabetot bakakak hayam dilakukan Alfian dan Rania yang saling tarik-menarik ayam bakar utuh. Alfian yang mendapat bagian lebih besar harus berbagi dengan pasangannya. Prosesi ini berarti rezeki yang diterima harus dinikmati bersama. 


Prosesi dari penjemputan sampai pabetot bakakak hayam di lakukan selama satu jam. Titin Suhartin hanya diizinkan dalam prosesi sungkeman. Rania masih menghomati dan menganggap sebagai orang tua. Selebihnya Titin hanya duduk dan bolak-balik menikmati hidangan yang sudah di sediakan.

__ADS_1


Para tamu hadir satu persatu silih berganti. Dari kolega, rekan bisnis, teman dan tetangga serta karyawan turut mengucapkan semoga samawa. Semua berlangsung dengan suka cita dan bahagia.


Hanya Eki Darsono yang masih gelisah saat istirahat siang. Harap-harap cemas karena belum mendapatkan kabar dari Putri Siregar. Dua hari yang lalu Putri bertolak ke Belanda seorang diri sambil mengantongi cek kosong.


Acara hampir selesai saat Eki Darsono mendapatkan pesan WA mengabarkan jika Putri Siregar dalam perjalanan menuju Bogor. Eki Darsono langsung duduk bersama Julio dan Zain, "Bro lihatlah pesan WA dari Putri Siregar!"


"Apa pesan dia, bacakan saja!" perintah Zain.


Eki Darsono membaca pesan dari Putri, "Kita akan membuat perhitungan karena elo telah menipu gue. Cek itu kosong, terpaksa gue memakai uang orang untuk membeli tiket pulang pergi. Gue menuju pesta pernikahan Al sekarang!"


"Tunggu dulu, kapan dia berangkat ke Belanda?" tanya Julio.


"Dua hari lalu," jawab Eki Darsono.


"Perjalanan Jakarta ke Belanda 14 jam, pulang pergi 28 jam. Apakah mungkin jam lima sore dia sampai di sini?" analisa Julio.


"Apakah bisa nanti tolong temani gue?" tanya Eki Darsono.


"Cemen lo, berani berbuat kagak berani tanggung jawab." Zain meledek sambil tergelak.


"Tega banget sih, gue tidak selicik kalian, bisa lobi sana sini." Eki Darsono memela diri.


"Licik bagaimana maksud lo. Gue cuma cari jalan keluar, jutru elu yang licik tidak cerita yang di rumah." Julio emosi karena perkataan Eki Darsono.


"Maaf jangan emosi, Bro. Iya gue yang salah, yang penting tolongin gue."

__ADS_1


Tanpa di duga datang Putri Siregar datang di jam terakhir acara Alfian dan Rania. Bahkan saat dia datang Eki Darsono dan yang lainnya tidak menyadari. Mereka masih berbincang sambil bercanda.


Putri Siregar lngsung mendorong Eki Darsono dan terjengkang dari kursi, "Breng sek lo, berani elu tipu gue!"


Eki darsono tidak sempat mengelak. Dia terjengkang bersama kursi yang di dudukinya. Kepalanya terbentur lantai dan siku terluka terkena kaki kursi.


"Apa-apan elo, Put?" tanya Zain sambil teriak.


"Diam lo, jangan kut campur urusan gue dengan laki-laki cemen seperti dia!" teriak Putri sambil menunjuk Zain.


Eki Darsono berdiri cepat dan mendekati Putri Siregar dengan tatapan mata yang memerah. Egonya langsung naik karena di lecehkan. Apalagi di depan teman dan para tamu yang hadir.


"Apa elu kata, gue cemen. Elu tidak nyadar elo yang gila berani memeras gue!" Eki Darsono ikut berteriak berdiri mendekati Putri Siregar.


Dengan terpaksa Putri Suregar mundur karena Eki Darsono terus memandang wajah Putri dengan tatapan mata yang tajam. Tangan Eki Darsono mengambil foto yang ada di dalam tas slempangnya. Foto itu dilembarkan di wajah Putri Siregar dengan penuh emosi.


"Elo lihat itu ... sekarang tidak bisa lagi elu meras gue!" Foto itu berhamburan jatuh setelah menatap wajah Putri Siregar menggores pipinya yang mulus.


"Auw ...! pekik Putri Siregar memegangi pipinya yang perih.


"Silahkan elu perkarakan ke polisi, gue juga bisa melaporkan balik dengan tuduhan pemerasan!"


Purti Siregar menunduk melihat foto satu persatu yang berhamburan di lantai. Matanya langsung terbelalak ada foto dua laki-laki suruhannya yang sedang memapah Eki Darsono yang sedang mabuk. Ada juga foto Eki Darsono bertemu dengan dua laki-laki itu.


Eki Darsono mendirikan kursi yang tadi di duduki. Dia kembali duduk di samping Julio dan Zain yang hanya memperhatikan tanpa kata. Julio dan Zain hanya mengacungkan jempol secara persamaan.

__ADS_1


"Breng sek elu Eki, gue laporkan elu ke polisi. Gue tidak jadi opersai virgin sekarang pipi gue luka lagi!" kembali Putri Siregar berteriak.


__ADS_2