
Zain gugup untuk menjawab pertanyaan Dokter Atha. Mulutnya tanpa sengaja mengucap tentang pengintaian Dokter Atha beberapa hari lalu. Padahal masih di rahasiakan karena belum ada waktu untuk menyelikinya.
"Aku hanya asal bicara saja, Dok."
"Waaah, mencurigakan nich, elu suka nguntit Kakak gue ya?" tanya Alfian.
"Tidak bagus lo curiga dengan Kaka Ipar sendiri," bisik Zain di telinga Alfian.
"Kakak Ipar gundulmu!"
"Dik ... ini di rumah makan Padang langganan Kakak ada gulai kepala ikan kakap, mau pesan berapa porsi?" tanya Dokter Atha sambil konsentrasi melihat ponsel.
"Aku juga mau, Dok." Zain daftar pertama kali.
"Empat porsi, sekalian untuk Kakak." Alfian juga menginginkan gulai kepala ikan Kakap.
"Apakah kali ini Abang ikut ngidam?" tanya Rania.
"Tidak Sayang, Abang lapar."
Rania teringat dengan Raffa yang sangat menyukai nasi pedang yang berada tidak jauh kontrakannya dulu, "Oooo ... Eeee apakah nasi padangnya boleh di tambah 3 bungkus, Abang?"
"Buat siapa banyak betul?" tanya Dokter Atha.
"Buat Bibi Esih, Ibu dan Raffa."
Alfian tersenyum teringat pesan Almarhum Kakek sebelum meninggal. Ini perhatian pertama setelah kepergian beliau. Harus lebih memperhatikan anak yatim itu karena dia pernah mengalami seperti dirinya. Bedanya dirinya lebih beruntung bisa menemukan Papi Alfarizi.
"Sepuluh bungkus sekalian Kakak, nanti bisa sekalian untuk Julio dan Leo!"
"Ok ... Kakak pesan lewat online saja."
"Diambil sendiri saja, Dok. Biar cepet aku yang mengantar!" usul Zain sambil melirik Alfian.
"Tidak perlu."
Hanya kurang dari satu jam pesanan sudah datang. Tanpa di duga oleh Zain ternyata sebelumnya Dokter Atha sudah memesan 150 bungkus seperti biasa. Dan langsung di antar ke rumah sakit plus sepuluh bungkus pesanan terakhir.
Yang 150 bungkus dimasukkan ke dalam mobil Dokter Atha bagian belakang. Bertepatan jam kerja selesai. Dokter Atha tidak ikut bergabung makan bersama.
__ADS_1
"Dik, maaf tidak ikut makan bersama ya. Ada hal yang harus Kakak kerjakan."
"Ya hati-hati Kakak, ini nasi padang Kakak dibawa pulang!"
"Oya terima kasih."
Hanya Rania dan Alfian yang makan berdua di kantor sekaligus tempat kamar pribadi. Sisanya dibagikan termasuk milik Ibu Titin Suhartin dan Bibi Esih serta Raffa. Hanya milik Zain yang belum diambil nasi padangnya masih ada di kantor Alfian.
Dokter Atha langsung berjalan menuju parkiran setelah keluar dari kantor pribadi. Baru duduk di jok kemudi, Zain membuka pintu mobil dan langsung duduk menggeser Dokter Atha, "Aku yang akan menyetir dan membantu mendistribusikan nasi padang itu!"
Dengan spontan Dokter Atha menggeser duduknya sambil melihat wajah Zain bingung. Dia sampai terpaku dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Antara bingung dan gugup, Dokter Atha hanya diam melihat Zain yang mulai menyalakan mesin mobil.
"Tidak perlu terpana begitu, Aku dari lahir sudah tampan." Dengan percaya diri Zain mulai menjalankan mobilnya dan membetulkan kerah menunjukkan bahwa dirinya tampan.
"Saya tidak terpesona dengan ketampanan Dokter Zain, Tampan tetapi kalau di jual murah percuma."
"Eeee ...?"
"Tidak perlu jual tampang di hadapanku, darimana Dokter Zain tahu saya akan mendistribusikan nasi padang?"
Zain hanya nyengir kuda, selalu saja wanita tegas di hadapannya bisa menjawab dengan diplomatis. Dia tidak mudah di modusin seperti wanita kebanyakan.
"Sudah bisa di tebak, kemudian Dokter Zain mengikuti saya begitu?"
"Tepat sekali." Akhirnya Zain mengakui.
Zain terus melajukan mobil ke tempat pertama kali Dokter Atha berhenti saat mengirim nasi padang. Hampir setengah jam mereka terdiam dan dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang berbicara karena enggan dan malas untuk berdebat.
Dokter Atha termenung mengingat pernah melihat postingan Dokter Zain di media sosial. Dia sangat tahu sepak terjang Zain dalam menakhlukkan wanita. Lebih baik membatasi diri agar tidak terjebak dalam pelukannya.
Tanpa di sadari mobil sudah berhenti pada titik pertama. Dokter Atha masih melamun dan tidak menyadari. Zain hanya tersenyum bisa lama-lama memperhatikan wajah yang cantik dan mempesona.
Zain menjentikkan jari di depan wajah Dokter Atha setelah sepuluh menit berlalu tetapi dia masih saja melamun, "Sudah sampai Nona Cantik, jangan memikikan Zain tampan terus, nanti jatuh cinta lo!"
"Idih PD banget sih, terbalik tuuh. Saya tidak tertarik." Dokter Atha membuka pintu dan mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Ya cepat ke sini!" Dokter Atha langsung mematikan ponselnya setelah menghubungi seseorang.
Dokter Atha menghubungi menggunakan ponsel lagi sambil menunggu orang mengambil nasi padang yang dibawanya, "Halo ... saya sudah otw di tempat biasa!"
__ADS_1
Dokter Atha langsung mematikan ponselnya kembali, setelah seorang memuda tanggung berlari mendekatinya. Zain juga ikut turun dan membantu Dokter Atha membuka kap bagasi mobil bagian belakang.
"Yang mana yang mau di ambil!" teriak Zain bertanya kepada Dokter Atha.
"Yang ada tulisannya Panti Bunda."
Zain langsung mencari tulisan nasi padang yang di maksud, "Ini Bro silahkan!"
"Terima kasih, Kakak Dokter siapa Kakak ganteng ini?" tanya Pemuda Tanggung.
"Dia atasan Kakak di rumah sakit, sudah sana pulang!" perintah Dokter Atha.
"Terima kasih, Kak."
Sampai di tempat ke empat pendistribusian nasi padang. Dokter Atha lebih banyak diam dan tidak menyawab pertanyaan Zain. Berkali-kali Zain mencoba ingin berbincang tetapi hanya ditanggapi ala kadarnya oleh Dokter Atha.
Sampai di tempat Terakhir Dokter Atha mendatanagi rumah kecil. Zain langsung memarkirkan mobilnya sama persis seperti yang dilakukan Dokter Atha beberapa waktu lalu. Dokter Atha langsung turun dan membawa tas kerja.
Zain ikut turun dari mobil dan membawa nasi padang yang hanya ada beberapa bungkus. Mengikuti langkah panjang Dokter Atha yang baru saja di sambut oleh orang yang sama. Zain hanya tersenyum menyapa laki-laki yang menyambut Dokter Atha.
"Selamat sore, Bibi." Dokter Atha tersenyum dan duduk di tempat tidur di samping seorang wanita tua yang berbaring lemah.
Zain hanya memandangi wanita tua itu seksama. Mata terlihat sayu, badan kurus dan selang infus terpasang di tangan kanan. di dampingi oleh dua orang yang kemungkinan besar pasangan suami istri.
"Sore, Neng. Apakah Neng ke sini membawa calon suami?"
"Bukan Bibi, Dia ini Atasan Atha di rumah sakit." Dokter Atha mulai memeriksa wanita yang dipanggil bibi.
Zain hanya tersenyum dan memperhatikan Dokter Atha memerisa dengan teliti. dari tensi darah, denyut nadi, detak jantung. Terakhir Dokter Atha mengambil darah di ujung jari untuk mengetahui kadar gula, kolestrol dan asam urat.
"Sekarang mulai turun gula darahnya, infus Atha lepas, tetapi ingat harus di jaga pola makan. Kalau Bibi masih bandel akan Atha bawa ke rumah sakit, itu yang punya rumah sakit sudah Atha bawa ke sini galak lagi orangnya!"
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
Author promo novel temen yang rekomen banget lo
__ADS_1