
Dokter Atha langsung menutup mulut setelah mengetahui ada Zain di ruang kantor Alfian. Tidak menyangka dan memprediksi ada dia di sana, "Mengapa Anda di sini, Dok?" pertanyaan Zain di jawab dengan pertanyaan juga.
Tanpa memperdulikan ada Alfian di sebelahnya Zain langsung mendekati Dokter Atha. Rasa cemburu membuat kesabaran Zain mulai hilang, "Mengapa pertanyaan di jawab dengan pertanyaan juga, siapa yang masih setia menunggu Dokter Atha?"
Alfian menggeplak kepala Zain dengan map yang di pegang. Pertanyaan Zain yang terdengar seperti orang marah. Tidak seharusnya Zain cemburu karena belum ada status apapun di antara mereka.
"Memangnya mengapa kalau ada yang setia menunggu Kakak gue?" tanya Alfian jutek.
"Gue cemburu dong," jawab Zain dengan terus terang.
"Makan tuuh cemburu, Dik ... Kakak balik ke kantor dulu." Dokter Atha berbalik badan dan keluar dari kantor Alfian hanya dijawab dengan acungan jempol saja.
Saat Zain ingin mengikuti Dokter Atha. Alfian kembali menggeplak kepalanya, "Mau ke mana lu, selesaikan laporan. Ini jam kerja bukan jam mengejar Kakak gue!"
"Tega banget sih, Bro. Gue belum berhasil menakhlukkan hatinya, bagaimana jika dia di gebet orang, matilah gue jadinya."
"Kerja saja dulu, nanti gue ceritakan!"
Dengan terpaksa Zain kembali melanjutkan laporan pekerjaan kepada Alfian. Harus bersikap profesional saat jam kerja. Berniat bertanya setelah jam kerja selesai.
Rania keluar dari kamar, melihat ada suaminya dan Zain yang sedang memeriksa dokumen. Rania tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka. Dia memutuskan untuk mengunjungi Ibu Titin Suhartin di ruang rawat inap.
"Bang, Rani ke kamar rawat inap Ibu, menengok Ibu sebentar ya!"
"Ya ... Sayang, hati-hati."
Teringat sudah hampir lima bulan Ibu Titin Suhartin dirawat. Kesehatannya semakin hari semakin membaik. Setelah Ibu Titin melakukan kemoterapi dalam dua bulan terakhir.
Rambut Ibu Titin Suhartin mulai rontok. Satu bulan yang lalu Rania membelikan wig untuk Ibu Titin Suhartin untuk pakai. Ibu Titin Suhartin sangat menyukai wig yang dibelikan Rania.
Baru masuk pintu ruang rawat inap Ibu Titin Suhartin, Rania sudah di sambut guling melayang mengenai mukanya. Dan suara keras teriakan Ibu Titin. Guling hanya Rania tangkis dengan tangan kiri.
Rania belum sempat bertanya, kaki berniat melangkah mendekati ibunya kembali dia terkena sial menginjak pecahan gelas dan kaki langsung terluka, "Auuw kaki Rani sakit!" teriaknya.
__ADS_1
"Neng Rani ...!" Bibi Esih langsung berlari mendekatinya.
Bibi Esih langsung memeriksa kaki Rania yang berdarah. Mata Bibi Esih memerah memandangi Ibu Titin yang terdiam. Tidak menyangka akan ada yang masuk saat Ibu Titin Suhartin sedang mengamuk.
Pecahan gelas yang tajam menembus sepatu dan melukai telapak kaki Rania. Darahnya terus mengalir, Bibi Esih metekan menggunakan tangan agar darah tidak terus mengalir. Membuat Bibi Esih ketakutan dan berkeringat dingin.
"Bibi ... kaki Rani sakit." Rania meringis menahan perih.
"Maafkan Bibi Esih ya, Neng."
Ibu Titin turun dari tempat tidur dan mendekati Bibi Esih dan Rania, "Maafkan Ibu, Neng. Ibu sedang kesal, Ibu hanya ...!"
"Ibu diam ... Esih mau menghubungi Abang Al!" teriak Bibi Esih.
Yang selama ikut Alfian, Bibi Esih tidak berani menghubungi keponakan yang sangat disegani. Terpaksa sekarang harus menghubungi dia. Membuka ponsel walau tangan sudah terkena noda darah, "Abang cepat ke mari, Neng Rani terluka!" teriak Bibi Esih dengan bibir bergetar karena takut.
Tanpa menunggu jawaban dari Alfian, Bibi Esih mematikan ponsel. Ponsel sudah terkena darah dan diletakkan di sembarang tempat. Bukan cuma Bibi Esih yang terlihat pucat, Ibu Titin Suhartin juga terlihat ketakutan.
Rania duduk meluruskan kakinya. Luka yang tidak lebar tetapi menancap dalam. Sehingga darah tidak berhenti mengalir.
Ibu Titin berulang kali meminta maaf. Bibi Esih semakin kesal dan emosi, "Sekarang Esih harus bagaimana kalau begini, Bu?"
Ibu Titin Suhartin menggelengkan kepalanya, "Maaf ... Ibu tidak berniat melukai siapapun."
"Esih sudah selalu bersabar, Ibu selalu membanting dan melempar barang jika marah. Esih tidak bisa lagi menolong Ibu jika Bang Al marah."
Rania terus merintih, Ibu Titin tidak lagi berani menjawab omelan Bibi Esih. Wajah ke duanya terlihat pucat karena sangat ketakutan. Tidak mungkin terhindar dari amukan Alfian saat melihat istrinya terluka.
Suasana semakin terlihat mencekam karena kamar berantakan. Tanpa sadar berkali-kali mengusap keringat yang terus bercucuran. Sehingga darah juga ada di wajah dan rambutnya.
Alfian langsung mendorong pintu ruang rawat inap. Setelah berlari sekencang mungkin saat mendengar istrinya terluka. Masuk ruang rawat inap ibunya dan Rania duduk meneteskan air mata.
Melihat darah yang bececeran pikirkan Alfian hanya tertuju pada bayi laki-laki yang ada di dalam kandungan, "Sayang ... apa yang terjadi, bagaimana dengan putra kita?"
__ADS_1
Alfian langsung menggendong bridal Rania tidak memperdulikan perkataan siapapun. Bahkan Rania yang berteriak ingin menjelaskan tetap tidak di dengarkan. Dia terus berlari menuju kantor pribadinya sendiri.
"Zain cepat panggil Kak Atha!" teriak Alfian sambil tetap berlari menuju kantornya.
"Abang ... dengarkan Rani dulu!" Rania terus berusaha menjelaskan tetapi Alfian tidak mendengar.
Zain yang datang belakangan berlari mengikuti Alfian juga berpikiran seperti Alfian. Mengira Rania mengalami perdarahan. Mencari Dokter Atha sambil menghubungi seluruh keluarga.
Dari Papi Alfarizi dan Mami Mitha, Oma Anna dan Abi Ali. Ayah Doni dan keluarga Bapak Endang Kusnandar. Bahkan Papa Harry dan Mama Rianti juga Zain kabari.
Sampai di kantor Dokter Atha sayangnya tidak ada seorangpun yang ada di kantor itu. Zain langsung menghubungi menggunakan ponsel. Zain mencari Dokter Atha sedang berada di ruang bersalin setelah mendapat jawaban darinya.
Dokter Atha langsung berlari setelah mendengar kabar dari Zain, "Ayo cepat, Dok. Ini darurat!"
Bersamaan tersebar berita istri owner rumah sakit pendarahan. Suasana semakin mencekam saat Alfian berteriak dari pintu kantornya, "Dokter ... Suster, kemari cepat!"
Belum juga ada yang datang, mereka masih berlari, Alfian kembali berteriak, "Bo*oh ... apa sih pekerjaan kalian lambat semua?"
Hampir seluruh perawat dan Dokter yang mendengar mendekati Alfian. Bersamaan dengan Dokter Atha yang datang berlari sambil bergandengan tangan dengan Zain. Bukan bergandengan tepatnya di tarik tangannya oleh Zain.
Hanya dua perawat dan Dokter Atha yang di perbolehkan masuk. Sisanya berdiri stanbye di depan pintu kantor Alfian. Semua terdiam dan menunduk.
Zain berdiri dan bingung harus berbuat apa, "Cepat elu cari tahu ke ruang rawat inap ibu mertua gue, jangan menunggu perintah!" teriak Alfian sebelum masuk ruang untuk menyusul Dokter Atha.
BERSAMBUNG
sambil me AST up mampir yok
Pradha Ratnamaya seorang model ternama terpaksa menggantikan adik kembarnya untuk menikah, karena sang adik meninggal dunia. Sebelum pernikahan berlangsung, Pradha menemui Abipraya (calon suaminya) untuk membuat sebuah kesepakatan.
Keduanya menjalin hubungan tanpa cinta. Satu bulan setelah pernikahan, Abirama (kakak kandung Abipraya) pulang dari luar negeri. Rama adalah cinta pertama Pradha. Seiring berjalannya waktu, cinta yang lama terpendam pun kembali mencuat ke permukaan. Akhirnya, keduanya menjalin hubungan terlarang di belakang Abi.
__ADS_1
Akankah cinta terlarang Pradha dan Rama dapat bersatu? Atau Pradha berubah pikiran dan memilih mempertahankan rumahtangga demi karir?