
Dengan penampilan yang baru Alfarizi keluar menggunakan mobil milik Dokter Harry menuju rumah yang akan di beli olehnya di dampingi Dokter Harry dan Rianti. Melewati rumah Neng dan konfeksi AA, Al melihat rumah itu tanpa berkedip sayangnya Neng dan Alfian ada di Butik AA. Mereka langsung berbelok kiri menuju rumah yang di tuju setelah beberapa meter dari rumah Neng.
Alfarizi langsung melunasi rumah itu, karena letaknya yang bergandengan dengan konfeksi AA. Al berdiri di tembok tinggi bagian belakang rumah yang baru dibelinya membayangkan suatu saat tembok tinggi ini akan hancur seiring waktu Neng bisa menerimanya kembali. Matanya tertuju pada tingginya tembok penghalang seperti perjuangannya yang akan dilakukannya.
Sementara di Butik AA Neng selesai bertemu dengan pelanggan setianya yang memesan baju pengantin lengkap para keluarga pengantin. Datang lagi dua orang wanita cantik beda generasi dengan membawa koper. Mereka datang langsung dari bandara Internasional Sukarno Hatta dengan menggunakan taxi online.
"Selamat sore!" kata mereka bersamaan.
"Selamat Nyonya, Nona; ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai butik.
"Saya ingin bertemu dengan owner butik ini Mbak, saya ingin memesan gaun pengantin."
"Baik Nona, silahkan duduk dulu, akan saya sampaikan pada Bu Mitha!"
Pegawai butik meninggalkan mereka untuk bertemu dengan Neng di dalam kantornya. "Permisi Bu!"
"Ya mbak ada apa?"
"Ada dua orang yang ingin bertemu Anda, katanya ingin memesan baju pengantin."
"Baik, antar kesini saja!"
"Ya Bu, permisi."
Pegawai bergegas memanggil tamu yang sedang menunggu. "Nyonya, Nona mari Anda sudah di tunggu oleh Bu Mitha!"
Mereka mengikuti pegawai butik dari belakang masuk di ruang kantor khusus milik Neng. "Selamat Sore dan selamat datang di Butik AA, perkenalkan namaku Mitha!" kata Mitha mengulurkan tangannnya untuk berjabat tangan.
"Selamat sore, namaku Isya dan Beliau Umi Anna, apakah aku boleh memanggil Anda Kak Mitha?" kata Isya menyambut uluran tangan Neng bergantian bersalaman dengan Umi Anna.
Umi Anna memandangi wajah Neng dengan lekat yang dianggap putranya masih tetap istrinya. Ternyata ibu dari cucunya terlihat cantik, anggun dan terlihat elegan. Padahal awal Alfarizi bercerita jika Istri siri dari putranya itu lugu dan sederhana.
"Dengan senang hati, silahkan saja."
"Kak Mitha cantik dan anggun, apakah aku boleh memelukmu, Kak?"
__ADS_1
Neng tersenyum mendengar pujian gadis muda yang ceria dan selalu tersenyum. Dia seperti langsung mengakrabkan diri padahal baru kenal dan bertemu pertama kali. Tetap Neng menyambutnya dengan senang dan tersenyum.
"Tentu, kamu juga sangat cantik, kemarilah!" Neng memeluk Isya dengan hangat.
"Umi, ayo peluk Kak Mitha juga?" perintah Isya setelah melepas pelukannya dari Mitha.
"Apakah boleh Nak, Umi memelukmu?" tanya Umi Anna dengan tatapan yang sendu.
"Tentu Nyoya, dengan senang hati." Neng bergantian memeluk Umi Anna walaupun sudah tua tetapi masih terlihat cantik.
"Nak Mitha panggil Umi saja seperti Isya, ok!"
"Baiklah Umi terima kasih, apa yang bisa aku bantu?"
"Tunggu sebentar Kak, aku ambil modelnya dulu di koperku." Isya membuka kopernya mencari kertas yang di printnya satu jam yang lalu dari ponselnya di sebuah toko foto kopi yang berada di mall.
"Mengapa membawa koper, apakah Isya mau ke luar kota?" tanya Neng penasaran.
"Tidak Kak, kami baru pulang dari Riyadh Arab Saudi, Umi dan Abiku tinggal di sana."
"Oooo!" Neng hanya mengangguk dan membulatkan mulutnya.
"Baiklah coba aku lihat terlebih dahulu."
Neng memperhatikan dua lembar kertas yang diberikan oleh Isya, Dia mengerutkan keningnya goresan tangan dalam kertas itu dengan seksama seperti tidak asing rancangan itu. Rancangannya terlihat sudah detail baik warna, manik-manik dan brokat yang sudah terlihat cantik.
Isya tersenyum melihat Neng tertegun dan bingung. Isya bergumam dalam hati semoga Kak Mitha tidak mengenali rancangannya sendiri. Rancangan itu dikirim oleh Alfarizi dua bulan lalu melakui pesan WA. Kemudian Isya menambahkan detail seperti gaun pengantin yang diinginkannya.
"Ini kain brokatnya, Kak; satu warna pink untuk yang acara resepsi dan warna putih tulang untuk acara akad nikah."
Neng masih tertegun menunduk memandangi dua rancangan dua kertas yang diberikan Isya. Goresan tangan itu seperti rancangan lama miliknya tetapi sudah ada detail corak dan warnanya. Ada rasa ragu di hati Neng karena dia belum pernah langsung memberi detail dengan model brokat tertentu.
Kembali Isya bertanya, "Kak Mitha, ini kain brokatnya, yang warna pink untuk acara resepsi dan yang putih tulang untuk acara akad nikah! "
"Eee, iya maaf, ini bukan brokat buatan Indonesia?" tanya Neng gugup.
__ADS_1
"Iya Kak, Umi yang membelinya di Riyadh Arab Saudi."
"Ok, aku usahakan ya, tetapi waktunya bagaimana?"
"Tenang Kak, masih ada waktu sekitar dua bulan lagi."
Umi Anna yang dari tadi hanya memperhatikan Neng dan Mitha berbincang, masih saja diam dan tertekun. Pikirannya masih berputar-putar ingin mencari cara bagaimana bisa bertemu langsung dengan cucu kandungnya. Ingin bertanya langsung tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Umi Anna dan Isya datang dari Riyadh ke Butik AA tanpa menghuhungi Alfarizi terlebih dahulu. Mereka tahu jika Alfarizi sedang menghinadari kejaran wartawan tentang masakah dengan istrinya Sinta. Mereka juga memutuskan untuk tidak pulang ke Jakarta dan langsung ke Bekasi untuk menghindari kejaran infotaiment.
Umi Anna dan Isya berhasil sampai di mall dan masuk ke Butik AA tanpa diendus oleh media masa. Sampai sekarang para pencari berita masih mencari informasi tentang keluarga Alfarizi Zukarnain. Sudah satu bulan bergulir berita itu belum ada satupun yang mengkonfirmasi atau membantah beritanya.
"Umi ... Umi ... mengapa melamun, sekarang giliran Umi?" Isya mengagetkan Umi Anna yang sedang termenung sambil memandangi wajah Neng.
"Umi mau buat gaun juga?" tanya Neng mendekati Umi Anna.
"Tidak Nak, Umi ingin baju kebaya saja, nanti kembaran dengan calon Besan, ini kain brokatnya."
"Baiklah Umi, bagaimana dengan ukuran untuk calon Besan?" tanya Neng lagi.
"Nanti orangnya menyusul ke sini, rumahnya Bekasi kok dekat saja."
"Ok, akan ada yang datang untuk mengukur ya." Neng mulai mempersiapkan keperluan untuk mesanan baju pengantin dan dua ibu dari mempelai.
Pintu terbuka tanpa diketuk bersamaan datang anak laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah bersama seorang wanita yang seumuran Umi Anna. Mata Umi Anna dan Isya saling pandang setelah ada anak laki-laki yang di tunggu sebenarnya dari tadi masuk ruangan itu. Mereka tersenyum dan pura-pura tidak mengenal anak laki-laki itu.
"Mami ... eee maaf apakah meetingnya belum selesai?" tanya Al karena melihat masih ada dua tamu bersama Neng.
"Tidak apa-apa Nak, sini peluk Mami dulu!"
"Eeee cucu Oma sudah pu ...!" kata Umi Anna tanpa sadar.
" ... "
Hari ini author promo novel bagus logi lho ..
__ADS_1
jangan lupa mampir