Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Slogan 3D


__ADS_3

Alfarizi mengerucutkan bibirnya karena mendengar pertanyaan Neng jika tidak bisa bangun karena cidera akan meninggalkan keduanya lagi seperti dulu. Ungkapan rasa cinta yang setiap saat di ucapkan dan di tunjukkan ternyata belum sepenuhnya meyakinkan istrinya. Harus lebih berusaha lagi untuk bisa meyakinkan apapun yang terjadi cintanya akan tetap bersemi di hati.


"Jangan berpikir begitu dong Honey, kita baru menikah lagi beberapa jam yang lalu, mana mungkin aku akan meninggalkan kalian, hidupku sekarang ini hanya untuk istri dan putraku, apapun yang terjadi padamu aku akan tetap cinta mati padamu!"


"Gombal aja."


"Eee, tidak gombal Honey, sangat serius bahkan dua rius," jawab Al sambil mencium tangan Neng dengan gemas.


"Aaah, aduh ... aduh!"


"Maaf ... maaf ada apa Honey, apakah aku menyakiti kamu, aku cuma mencium tangan doang belum yang lain?"


"Aku mau ke kamar kecil." Neng menjawab dengan suara lirih.


Al terkekeh dan menggelengkan kepalanya, selalu saja teringat waktu dulu dengan tingkah absurtnya saat takut di pancing dengan kail yang tajam padahal hanya di pancing dengan air, "Tunggu sebentar aku ambil piss pot!"


Setelah mengambil piss pot dan air satu gayung, Alfarizi mendekati Neng dan ingin membantunya untuk buang air kecil. Alfarizi hanya tersenyum tipis agar Neng tidak merasa canggung. Neng mengikuti setiap gerakan Alfarizi dengan wajah yang cemas.


"Kenapa, apakah masih malu dengan suami sendiri, atau takut aku pancing pakai kail yang tajam?"


"Papi, jangan melihatnya ya, please!"


"Eee mana bisa, tenang aja kailku sudah tumpul tidak tajam, ha ha ha!"


"Tidak jadi kalau gitu." Neng mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya kesamping, rasa malu dan canggung masih saja dirasakan.


"Iya baiklah, Mami cantik, Papi tampan ini tidak akan melihatnya tanpa izin, ayo aku bantu!"


Alfarizi mulai menurunkan CD dari balik selimut yang menutup tubuh Neng, tetapi matanya menatap Neng dengan tersenyum. Kemudian meletakkan piss pot di tempat yang semestinya. Dengan jahil tangannya merapa tepat di atas yang seharusnya tidak boleh dilihat atau dilarang olehnya.


"Papi, mengapa malah merabanya?" teriak Neng kaget area intimnya diraba dengan lembut.


"Fftt Honey, dilihat tidak boleh, berarti juga tidak bisa diterawang, ya Papi raba saja," jawab Alfarizi sambil menahan tawa.


Neng kesel melempar bantal kearah wajah Alfarizi yang cengar-cengir, "Memangnya slogan 3D diterawang, dilihat diraba, dasar gelo!"


"Waduh, Mami my Honey, Papi bukan gelo tetapi tergelo-gelo padamu!"


"Iih bikin kesel aja, jauhkan tangan Papi, nanti basah!" teriak Neng dengan suara jutek.


"Eee susah di tarik, tunggu ha ha ha!" Alharizi mengeluarkan tangannya dari balik selimut.

__ADS_1


Setelah menunggu sesaat, Alfarizi mengambil gayung yang berisi air yang ada di bawah brankar tempat tidur, "Jadi bagaimana ini, dilihat atau diraba, takutnya nanti airnya tumbah mengenahi tempat tidur?"


"Tidak dua-duanya, di kira-kira aja!"


Akhirnya Alfarizi mengalah, menyiramkan air perlahan tanpa melihat dan merabanya. Setelah selesai menaikkan kembali CD di tempat semula. Mengembalikan piss pot dan gayung di kamar mandi.


Hari demi hari di lalui berdua, keluarga ataupun karyawan membesuk di saat jam besuk tiba. Alfian datang setiap sore bersama Umi Anna dan Abi Ali sampai menjelang senja. Surya dan Desi datang setiap hari setelah istirahat siang untuk meminta tanda tangan berkas penting.


Setelah satu Minggu berlalu dirawat, Neng mulai bisa bergerak walapun hanya miring ke kiri ataupun ke kanan. Semua aktivitas Neng bergantung pada Alfarizi. makan, minum, urusan kamar mandi bahkan ganti baju juga Alfarizi sendiri yang melakukannya. Walapun terkadang ada drama kecil tetapi semua berjalan lancar sesui dengan rencana Umi Anna, keduanya semakin dekat dan kompak.


Awal minggu kedua Neng di rumah sakit hari ini Umi Anna dan Abi Ali terpaksa harus kembali ke Riyadh Arab Saudi, Isya harus mendampingi suaminya ke Australia. Alfian ulangan kenaikan kelas, Ibu Ani juga belum pulang dari kampung membuat Neng sangat khawatir.


"Papi, tolong panggilkan Abang Harry!"


"Untuk apa panggil Abang Harry, di sini ada Abang Papi tampan?"


"Mulai lagi gelo nya, Al mau ulangan umum, dia terbiasa belajar bersama maminya, izinkan Al ikut menginap di sini!"


"Apa tidak bisa belajar dengan Surya arau Desi gitu?"


"Tidak Papi, atau aku minta pulang ajalah, di rawat di rumah saja ya?"


Alfarizi menemui Dokter Harry di ruang prakteknya yang berada di lantai dasar. Kebetulan Dokter Harry baru selesai visit di ruang rawat inap bersama suster yang membantunya. Menceritakan keinginan istrinya tentang Alfian yang tidak ada yang menemani dia di rumah.


"Tidak apa menginap, yang penting Al sehat dan jangan lupa beri vitamin, di rumah sakit rawan penyakit!"


"Baiklah Bro, apa boleh aku minta tolong satu lagi?"


"Apalagi?"


"Sekalian ajak putraku kalau kamu jemput Zain di sekolah!"


"Ok, nanti aku bilang Ria kalau dia yang jemput, ngomong-ngomong sudah ssmpai mana hubunganmu dengan Mitha?"


"Baru satu minggu Abang Ipar, baru bisa pegang dikit, itupun harus curi-curi dulu."


"Ha ha ha, kamu belum bisa cium bibir gitu?"


"Boro-boro, tidur aja dia waspada banget, mau baring dikit di sampingnya, dia takut nyenggol luka punggungnya."


"Tapi sudah lihat semua kan?"

__ADS_1


"Iya sih, dilihat dan diraba dikit, sisanya harus menuntaskan di kamar mandi pakai sabun mandi rumah sakit."


"Ha ha ha, dasar Onta Arab gelo!"


"Sudah, aku pamit, tidak bisa ninggalin dia lama-lama."


Hampir satu minggu ini Alfian, Neng dan Alfarizi mengisi hari-harinya berama dari belajar, merawat luka punggung, makan bersama dan bercanda. Alfarizi jadi terbatas merayu Neng saat ada Alfian, dia bisa merayu saat Alfian sudah berangkat sekolah.


Siang ini Alfarizi selesai meeting online bersama klien dan Surya selama satu jam. Langsung bergegas mempersiapkan makan siang dan obat untuk istrinya. Sudah hampir satu minggu belakangan ini makan selalu hanya satu piring untuk berdua.


"Ayo makan dulu, maaf agak telat makannya gara-gara harus meeting!"


"Bosen Papi, makannya selalu tidak ada rasanya!"


"Terus maunya makan apa?"


"Pingin makan bakso atau seblak yang pedas gitu dong?"


"Kalau Papi pinginnya makan Mami cantik boleh tidak?"


"Tidak boleh, Mami pahit!" jawabnya jutek.


"Eeee galak banget, coba Papi icip-icip sedikit pahitnya seperti apa?"


Alfarizi memonyongkan bibirnya ingin mencium bibir Neng.


Bersamaan pintu terbuka Alfian masuk pulang sekolah tanpa mengetuk pintu diikuti oleh Dokter Harry, "Papiii ...!" teriak Alfian mendekati mami dan papinya.


Alfarizi spontan menarik badannya menengok arah datangnya Alfian diikuti gelak tawa Dokter Harry dan Neng yang terkekeh. Alfian merentangkan tangannya ingin memeluk papi tercinta. Alfarizi memeluk putranya dengan wajah yang di tekuk.


"Gagal maning ... gagal maning!" ledek Dokter Harry dengan tersenyum devil.



Hai shobat jangan lupa mampir ya


novel teman yang rekomen banget


sambil menunggu up lagi besok


trims

__ADS_1


__ADS_2