Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Neng, Maafkan Aku


__ADS_3

"Kamu sudah siap bertemu dengan Pohon Pisang itu sekarang, Mitha?" tanya Dokter Harry.


Neng mengangguk dengan ragu, pandangan matanya kosong. Suasana kamar yang seperti villa membuatnya sadar, semua harus di hadapi dengan sabar dan ikhlas. Tidak mungkin bisa lari dari kenyataan seumur hidup.


"Mitha, kamu yakin?" Sekali lagi Dokter Harry meyakinkan Mitha agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ya Bang."


"Baiklah, Mama, Ibu Ani ayo kita keluar kamar, sudah waktunya mereka berbicara!"


Dokter Harry, Rianti dan Ibu Ani meninggalkan kamar membiarkan Neng untuk menyiapkan diri untuk bisa bertemu dengan Alfarizi. Sampai di kantor Al, Harry mendekati Al yang termenung dengan pandangan mata yang kosong. "Al, aku mau ngomong, ke sini sebentar!"


"Ya Harry, apakah aku boleh bertemu dengan istriku?"


"Jangan halu, Al; ngarepnya jangan ketinggian."


Al hanya menundukkan kepalanya, masih berharap bisa mendapatkan kesempatan kedua. Dokter Harry menepuk pundak Al perlahan. "Kamu boleh menemui Mitha, tapi ingat jangan kamu paksa dia untuk bisa menerima kamu!"


"Benarkah terima kasih, aku janji tidak akan memaksanya."


"Ingat, kalau kamu menyakiti dia, kamu akan berhadapan langsung dengan ku, kamu faham itu!"


"Baiklah Kakak ipar!"


"Kakak ipar kepalamu!"


"Maaf Bro, aku masuk dulu, terima kasih banyak."


Perlahan Al membuka pintu kamar. Melihat Neng yang terbaring di tempat tidur dengan pandangan mata yang kosong. Al berjalan perlahan mendekatinya dan duduk di samping tempat tidur dan berjongkok.


Al memandang Neng dengan tatapan yang sendu, Mereka berdiam tanpa kata hampir seperempat jam lamanya. Rasa canggung sudah lama tidak menyapa membuat keduanya tidak tahu harus berbicara apa, rangkaian kata yang dulu sering Al rancang seolah terlupa.


"Neng, maafkan aku."


Neng hanya mengambil napas panjang. Pandangan matanya terarah ke langit-langit kamar. Mulutnya seolah terkunci, terbiasa diam dan jarang bicara saat dulu masih menjadi istrinya.


"Maafkan aku, ampuni aku Neng, tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua kesakahanku di masa lalu."


Air mata Neng langsung merembes dan mengalir. Dulu ucapannya terdengar arogan dan ketus. Dia yang sekarang suaranya terdengar lebih enak di dengar.


"Neng, ayolah lihatlah aku, aku sangat berharap bisa bicara dari hati ke hati denganmu, maafkan aku, please!"


"Aku sudah memaafkan Anda, Tuan."

__ADS_1


"Eee, Neng ... ?" Al menutup mulutnya tidak jadi melanjutkan ucapannya.


Al ingin semuanya mengalir seperti air, berniat tidak akan memaksakan apapun padanya. Mendengar suaranya saja seperti telah mendapatkan oase di gurun yang gersang. Hatinya seperti mendapatkan siraman es yang sangat sejuk.


"Boleh saya minta satu hal Tuan?"


"Tentu katakanlah, aku akan berusaha melakukan apapun itu."


"Aku mohon tolong jaga keluarga Anda, jangan biarkan ada gosip tentang keluaga harmonis Anda, aku tidak ingin jadi pelakor, tolong jangan temui aku kecuali urusan bisnis!"


Al mengangguk sambil meneteskan air matanya, rasa nyeri di dada kembali di rasakan. Sesak di dada itu seolah semakin kuat menghimpit hatinya. Tidak mungkin akan bercerita tentang masalah pribadinya.


"Apakah aku boleh bertemu dengan putraku?"


"Nanti setelah aku bercerita padanya silahkan saja, Tuan; tetapi aku mohon tolong jagalah perasaan putraku, Anda tidak perlu mengumumkan jika dia putra Anda ke publik."


Semakin terasa nyeri Al rasakan saat ini, tetapi kepalanya tetap mengangguk setuju, Ingin rasanya memeluknya, berteriak mengeluarkan rasa yang ada di dalam hati. Ingin meluapkan rasa rindu dengan putra yang di rindukan, tetapi hanya dipendamnya dalam hati.


"Tuan ...!"


"Ya ada apa?"


"Kepalaku pusing, apakah aku boleh pulang?"


"Ya beristirahatlah, aku akan memanggil Harry dan Istrinya."


Al bergegas berdiri dan keluar kamar mencari Dokter Harry. Melihat wajah mereka yang sangat khawatir Al menunjukkan wajah berseri agar mereka tidak khawatir. Walaupun hati kecewa tetapi tidak ingin di tunjukkan kepada mereka.


"Harry, Neng eee salah, Mitha kepalanya masih pusing, dia ingin pulang."


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Dokter Harry dengan khawatir.


"Ya dia tidak kurang suatu apapun."


Neng keluar dari kamar dipapah oleh Rianti dan Ibu Ani. Neng berjalan dengan menunduk, melirik Al pun tidak. Al hanya berdiri terpaku menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Setelah mereka keluar, Al langsung terduduk dan menangis tersedu. Baru menyadari karena kesalahannya membuat ibu dari putranya menderita, trauma dan tidak berdaya. Lebih parahnya lagi mengira dirinya bahagia dengan istri dan putrinya.


Selama ini publik mengetahui jika Marta adalah putri kandung Alfian dan Sinta. Publik juga hanya mengabarkankan kehidupan yang bahagia bersama kekuarga kecilnya. Tidak ada yang mengetahui kehidupan mereka sebenarnya.


Surya langsung berlari masuk kantor saat melihat Neng dan yang lainnya keluar kantor. Melihat tuannya menangis tergugu dia langsung mengambil tisu dan di berikan padanya. "Ini Tuan, hapus air mata Anda, sekarang saatnya Anda bertindak, bukan meratapi penyesalan kesalahan masa lalu."


"Ya terima kasih, aku akan menyelesaikan satu persatu."

__ADS_1


"Apa langkah pertama yang akan Anda lakukan?"


"Aku akan menyelesaikan tentang Sinta terlebih dahulu."


"Maksud Anda Tuan?"


"Aku akan menceraikan dia terebih dahulu."


"Jangan Tuan, jika Anda langsung menceraikan Nyonya, Anda pasti akan di salahkan dan di tuduh berselingkuh!"


"Aku harus bagaimana, Surya?"


"Sebaiknya kita pakai cara halus saja."


"Cara halus, maksudnya?"


Surya mengusulkan untuk memberikan surat kaleng kepada wartawan yang sering meliput berita infotaiment. Memberikan foto saat Sinta Zulkarnain sedang berdua dengan Dokter Mario. Alfarizi pura-pura tidak mengetahui perselingkuhan itu.


Surya juga memberikan saran agar tuannya itu pura-pura menjadi korban. Menjadi suami yang setia dan mempercayai istrinya. Sisanya Infotaiment yang akan mencari infomasi dengan sendirinya.


Al hanya menambah sedikit bumbu agar terlihat menjadi orang di khianati. Pengkhianatan yang sudah lama terjadi tetapi baru terungkap sekarang ini. Jika bisa Al harus menghilang dari sementara agar terlihat semakin dramatis.


"Bagaimana Tuan, apakah Anda setuju?"


"Aku sangat setuju, tetapi jangan sekarang!"


"Kenapa Tuan?"


"Putraku masih cidera, pasti Maminya akan fokus untuk merawatnya, kemungkinan dia akan jarang nonton infotaiment."


"Betul juga sih, Nyonya Sinta juga sedang merawat Marta yang juga mengalami cidera."


Saat Al mengingat Marta, dia juga teringat dengan Lilis dan Junaidi. Inilah saatnya mengabarkan kepada mereka tentang Neng. Disamping ingin mempertemukan dua sahabat, ini adalah cara bisa bertemu dengan Neng tanpa merasa bersalah.


"Surya kamu jemput Junaidi dan Lilis, sebelum berita perselingkuhan Sinta beredar di infotaimet, aku akan mempertemukan mereka!"


"Waaaah ide bagus Tuan, sambil menyelam bisa minum air, melalui mereka Anda bisa mendapatkan informasi keseharian Bu Mitha tanpa di curigai."


"Jangan lupa diajak juga putra dari Junaidi, nanti aku bisa sedikit demi sedikit mendekati putraku melalui putra dari Junaidi!"


"Siap Tuan, laksanakan."


promo lagi shobat, jangan lupa mampir punya teman

__ADS_1



__ADS_2