
Hari ini Ibu Ani datang dari kampung membawa oleh-oleh sangat banyak untuk seluruh keluarga terutama untuk Alfarizi dari Kang Sarto. Dia menitipkan ramuan jamu tradisional yang di buat oleh salah satu masyarakat di sana. Dari bandara di jemput langsung oleh Mpok Atun menuju rumah baru.
"Ibu ... lama sekali, aku sangat merindukan Ibu?"
"Ibu juga sangat merindukanmu Neng Mitha, selamat ya Nak, semoga selalu bahagia maaf Ibu tidak bisa hadir di akad nikahnya."
"Iya Bu yang penting doanya dan Ibu selalu sehat."
"Aamiin, sekarang Ibu bisa melihat putri Ibu wajahnya berseri-seri."
"Aah Ibu bisa aja, tapi saat aku cidera punggung, mengapa Ibu tidak pulang?"
"Buat apa Ibu pulang, ada yang lebih mengkhawatirkan putri Ibu?"
"Gara-gara Ibu tidak pulang, aku jadi mendadak menikah tanpa kehadiran Ibu."
Ibu Ani hanya tersenyum simpul, sebenarnya ketidak hadirannya saat akad nikah bukannya dia tidak bisa hadir tetapi memang di larang oleh Umi Anna. Selama ini kesuksesan rencana Umi Anna mempersatukan kembali Neng dan Alfarizi karena ikut campur tangan Ibu Ani yang selalu mendukung dan memberikan banyak masukan tentang langkah dan cara mempersatukan mereka.
Ibu Ani tahu betul bagaimana perasaan Neng selama ini. Dia bisa menilai bagaimana sebenarnya perasaan Neng walaupun selalu di tutup-tutupi dengan rapat oleh Neng. Ibu Ani bahkan hampir setiap hari menghubungi Umi Anna untuk mengetahui perkembangan hubungan antara anak angkat dan menantunya. Setelah mendapatkan kabar satu bulan lagi akan mengadakan resepsi pernikahan Neng, Ibu Ani bergegas pulang kembali ke Jakarta.
Hanya Ibu Ani yang mengetahui impian Neng salama ini, wanita yang tertutup itu selama ini hanya kepada ibu Ani saja dia bercerita. Dia hanya berkeluh kesah tentang dirinya saat Neng sedang kalut dan galau berat. Hanya saja lebih banyak di pendamnya di dalam hati jika kemungkinan tidak mungkin bisa mewujudkannya.
Malam ini saat makan malam bersama seluruh keluarga, Alfarizi jadi bahan tertawaan terutama oleh putranya Alfian. Pasalnya laki-laki berwajah tegas dan tampan itu tidak tahan yang namanya jamu terutama yang rasanya pahit. Jamu titipan Kang Sarto khusus untuk Alfarizi direbus oleh Bu Ani dan di hidangkan di gelas.
"Ini apa manfaatnya Ibu, baunya kok begini?"
"Ibu juga tidak tahu, kata Sarto obat kuat."
Alfarizi berbisik pada Neng di telinganya, "Honey mau aku goyang setiap jam setelah Papi minum obat ini?"
"Idiiih ogah, nanti Mami jadi gempor." Neng ikut berbisik diikuti Alfarizi yang terkekeh.
"Cepat di minum Papi, Al aja kalau sakit obat pahit di paksa minum oleh Mami biar cepat sembuh!"
__ADS_1
"Papi tidak sakit Al, Papi tidak tahan kalau minum pahit, Abi aja yang meminumnya!"
"Yee ogah, nanti Umi ngamuk diajak goyang dompret oleh Abi."
"Abi jangan macam-macam ya, mau Umi lempar juga ke Antartika?"
"Iidih Umi maaah, nanti judulya bukan ibu kandung lebih kejam dari ibu tiri, tetapi istri lebih kejam dari suami."
Semua tertawa bersama kebahagiaan sangat terasa di keluarga setelah Neng menemukan belahan jiwa. Alfian mendapatkan cinta keluarga utuh seperti impiannya selama ini. Apalagi Alfarizi yang mendapatkan cinta sejati dari istri dan putranya hidupnya semakin lengkap.
"Maaf ya Bu, bukannya tidak mau menerima oleh-oleh dari Kang Sarto, aku paling tidak bisa minum yang pahit, tanpa minum itu aku sudah kuat kok tenang saja aku mampu mengajak istriku bergoyang semalam suntuk kalau perlu."
"Yeeee enak aja ...!" Neng dan Umi Anna kompak melempar tisu kepada Alfarizi yang cengar-cengir.
"Jadi buat apa jamu ramuan sebanyak itu nanti?" tanya Ibu Ani.
"Nanti aku bagi untuk Junaidi dan Surya saja."
"Tidak lah Abi, maksudnya obatnya untuk ayah dari Surya."
"Ah kamu bisanya ngeles aja!" gerutu Abi Ali, disertai Alfarizi yang cengar-cengir.
Persiapan demi persiapan pernikahan antara Alfarizi dan Neng di lakukan dengan teliti oleh WO dan diawasi langsung oleh Umi Anna dan Ibu Ani. Mereka merencenakan pernikahan impian Neng berdasarkan cerita Ibu Ani. Neng hanya mendesain baju pengantin dan baju untuk keluarga dari rumah sisanya seluruh karyawan yang mengerjakannya.
Semenjak menikah Alfarizi saat makan siang selalu pulang ke rumah untuk makan siang bersama keluarga terutama untuk bertemu istri tercintanya. Cidera punggung Neng semakin hari juga semakin membaik. Rencanaya sebelum acara resepsi Neng dan Alfarizi akan pindah di lantai atas, kamar yang di lantai dasar akan di kembalikan fungsinya zseperti sedia kala yaitu kamar tamu.
Sore ini Neng sedang berada di kamar utama yang ada di lantai atas yang luasnya lebih besar dari yang di lantai dasar. Dia sedang merapikan kamar dengan serius, datang Alfarizi yang baru pulang kerja. Belum mandi dan masih memakai jas kebesarannya memeluk Neng dari belakang.
"Serius banget sih, Honey. Lagi ngapain?"
"Eee Papi bikin kaget aja, jangan peluk-peluk bau acem mandi dulu sana!"
"Mami sudah Mandi?" tanya Alfarizi semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Sudah dong emang Papi malas, sana mandi dulu!"
"Apakah kamar mandi yang ada di kamar ini sudah siap?"
"Sudah, tadi kamar mandi yang pertama Mami rapikan cepat sana mandi!"
"Baiklah ayo temani Papi mandi!" Alfarizi langsung menggendong bridal Neng ke kamar mandi.
"Aaaaah Papi tidak mau, palingan hanya modus aja."
"Mami memang paling tahu, senjata onta arab sudah siap bergoyang." Alfarizi langsung membuka pintu kamar mandi dan menutup dengan kaki.
Alfarizi langsung di masuk buthup bersama Neng tanpa membuka baju terlebih dahulu. Tangan kiri Alfarizi membuka kran air hangat tetapi tangan kanannya sudah menyusup menelusuri dari lembah gunung memutarinya dan memanjat sampai puncak. Setelah air mulai merendam keduanya, bergegas Al membuka satu persatu bajunya dan juga milik Neng tanpa kata.
Hanya aksi dan reaksi di antara ke duanya, mandi yang harusnya membuat badan segar, tetapi ini mandi yang membuat keringat mengalir deras. Bercinta di tempat yang tidak biasa sampai keduanya terpuaskan tetap berada di dalam buthup tanpa pindah tempat.
"Ayo Honey, Papi bantu bilas di shower saja!"
"Iya Papi nggak jelas, ini air jadi tercemar!" jawab Neng sekenanya.
Alfarizi hanya terkekeh, membimbing Neng turun dari buthup dan membantu membilas dengan air bersih yang mengalir. Membantu memberikan sampo dan menggosok badannnya dengan sabun aroma terapi sampai bersih. Mengeringkan dangan handuk besar untuk badannya dan handuk kecil untuk rambutnya.
Keluar dari kamar mandi berdua saling membantu untuk berganti baju. Alfarizi mengandeng Neng keluar kamar berniat ingin bertemu dengan putranya di kamar yang berada di sampingnya. Ada di depan pintu Umi Anna sedang bertolak pinggang. "Apa anak kandung yang berasa anak tiri berulah lagi, Umi mengetuk pintu dan menunggu sampai lumutan tetapi pintu tidak kunjung di buka?"
" ...?"
Ayo mampir dong di sana, gratis juga lo
awaas ya kalau tidak mampir nanti di lempar
sama Umi Anna ke Antartika
__ADS_1